
Sejak malam dimana dirinya merasa bersalah, sejak saat itu Disya tidak lagi meminta hal-hal yang dia inginkan tapi terasa berlebihan. Disya akan memikirkan lebih dulu apa yang sedang dia inginkan, dirinya lebih berhati-hati. Yang dikatakan Adam memang benar, dirinya terlalu berlebihan.
Hari ini Disya kembali ke kantor setelah dua hari mengambil libur, wanita dengan perut buncit yang memasuki 4 bulan itu sedang berjalan menuju ruanganya.
Adam tidak bisa mengantarnya seperti hari-hari biasa, karena suaminya itu pagi ini ada rapat penting sehingga Adam hanya mengantarnya sampai lobby kantor.
Siang nanti dirinya akan bertemu dua sahabatnya yang katanya ingin mengunjunginya di kantor, dan Disya sudah bicara dengan suaminya tenteng hal itu. Hidup bersama di satu atap selama beberapa bulan membuat Disya mulai membiasakan dengan saling terbuka.
Sampainya di ruangan Disya melihat Dimas yang sudah menunggunya, pria itu seperti memendam sesuatu dengan rasa penasaran.
"Ya ampun, aku nungguin kamu masuk berasa nunggu duren jatuh kali Sya." Ucap Dimas dengan wajah antusias.
Disya hanya tersenyum, "Kenapa sih? lagian ini masih pagi, dan aku hanya libur dua hari. Tapi sepertinya kamu tidak sabar menunggu ku datang." Disya duduk dikursi kerjanya sambil menaruh tas yang dia bawa.
Selain mengantar berkas, Dimas juga ingin menanyakan sesuatu, sejak saat itu dirinya dihantui rasa penasaran.
"Sya, kamu tahu kemarin saat kami datang kerumah Tika?" Ucap Dimas yang ikut duduk di seberang Disya.
Disya menggeleng. "Tidak, memangnya kenapa?" tanya Disya balik.
Disya sambil mengecek laporkan dari Staf bawahannya yang memberikan data keuangan anggaran setiap hari.
"Sumpah deh Sya, dari kemarin aku tu di bikin mati penasaran, makan tak enak tidur tak nyaman. Dunia seperti mau kiamat."
"Kenapa? kenapa sampai bisa membuat seorang Dimas galau." Disya menaruh tangannya diatas meja dan saling bertautan, meninggalkan sejenak pekerjaannya dan mendengarkan apa yang akan Dimas katakan.
"Pak Dino mantan wakil direktur, kemarin saat Tika sedang berduka, beliau sudah ada disana sejak pagi."
Disya mengerutkan keningnya. "Di kampung Tika?"
"Hu'um." Dimas menggaguk mantap. "Bibir ku gatel pengen tanya, tapi aku masih punya akal kalau Tika sedang berduka, dan aku tidak mau seperti agen interogasi."
Disya tertawa. "Mungkin pak Dino tahu kabar tentang Rantika, jadi beliau datang untuk memberi ucapan bela sungkawa, bagaimana pun mereka dulu atasan dan sekretaris yang cukup lama kan." Tutur Disya.
Dimas hanya mengaguk. "Tapi kalau mereka memang benar ada hubungan apa-apa, aku seneng kok. Kasian Tika sudah tidak punya bapak yang memberi nafkah mereka, apalagi Tika yang sudah resign."
Disya setuju dengan apa yang dikatakan Dimas, Rantika wanita yang baik, begitu juga dengan Dino. Walupun Dino adalah masa lalunya, tapi Disya selalu mendoakan agar Dino mendapatkan wanita baik melebihi dirinya.
.
.
"Tio, kosongkan jadwal saya untuk minggu depan, karena weekend ini saya mau mengunjungi Rantika
"Baik tuan, akan saya atur jadwal anda."
Dino memberikan berkasnya pada Tio, dan lagi aku tidak mau menerima tamu siapapun kecuali rekan bisnis." Ucap Dino sambil bersandar di kursinya.
"Baik." Tio hanya menunduk.
"Dan kamu jangan lupa untuk mengurus keperluan saya besok."
"Semua sudah saya persiapkan tuan, tidak ada yang kurang."
Dino tersenyum, dirinya tidak sabar menunggu weekend besok untuk menemui wanitanya di kampung.
Ya, Rantika adalah wanitanya. Karena dirinya sudah menyentuh wanita itu sampai membuatnya hamil.
Mengingat itu Dino tersenyum sendiri, dan hal itu tidak luput dari pengawasan Tio.
"Tuan kenapa?" tanya Tio yang melihat Dino tersenyum.
Dino yang sadar jika masih ada Tio langung merubah ekspresinya.
"Tidak apa, sudah tidak ada yang penting sana keluar." Dino mengusir Tio.
Tio hanya bisa menurut, pria itu pergi meninggalkan Dino yang kembali tersenyum kala mengingat sesuatu.
"Tidak di sangka bibit kecebong ku manjur juga." ucapnya dengan tersenyum mengembang dan berubah menjadi tawa kecil.
Di kampung Rantika baru saja pulang dari pasar dengan ibunya, adiknya yang masih sekolah sedangkan ibunya hanya buruh setrika bagi tetangga yang mau menggunakan jasanya.
Rantika mengeluarkan beberapa belanjaan yang tadi ibunya beli, dia hanya ingin mengambil sesuatu yang dia beli tadi.
"Nah ini." Rantika mengeluarkan bungkusan makanan yang dia beli.
Wanita itu langsung mengambil duduk untuk memakannya, kedua matanya berbinar.
"Ranti, kamu pagi-pagi makan rujak!" Ibunya datang dan langsung membuat Rantika mengentikan tanganya untuk menyuapkan irisan buah yang dilumuri sambal.
"Sebenarnya kamu kenapa? selain muntah setiap pagi, dan sekarang kamu pagi-pagi sudah makan makanan seperti ini? apa kamu hamil!."
Deg