
Adam keluar dari dalam kamar, dan mencari keberadaan Disya dan ternyata ada di dapur, sedang apa wanita itu disana?
Adam mendekati Disya, dan memeluk wanita yang sedang berdiri didepan tungku masak.
"Sedang apa Hm."
Disya yang terkejut langsung ingin menyingkir tapi Adam tidak melepaskan pelukan tangannya di perut ramping sang kekasih, menurut Adam Disya adalah miliknya dan otomatis adalah kekasihnya.
"Minggir.." Disya berontak untuk dilepaskan.
"Kita mau ke pesta Sya, disana banyak makanan. Kenapa kamu malah bikin omelette." Ucap Adam yang melongokan kepalanya dari bahu Disya.
"Sejak pulang kantor aku belum makan, aku kelaparan." Ucap Disya dengan ketus. Secara tidak langsung dia memberi tahu Adam.
Adam mengulum senyum, jika lapar sepertinya Disya akan banyak bicara.
"Lagian kenapa kamu datang menjemput begitu cepat bahkan aku tidak sempat istirahat." Kesal Disya lagi, sambil membalik omelette yang dia buat.
Benar dugaan Adam, jika Disya lapar pasti akan mengoceh. "Aku hanya tidak ingin Dinosaurus lebih dulu menjemput kamu, kamu seharusnya tahu." Jawab Adam yang sedikit melonggarkan pelukannya.
Disya menaruh omelette yang sudah matang keatas piring yang sudah dia siapkan. Mendengar ucapan Adam, Disya mengingat sesuatu.
Disya membalik tubuhnya dan kini berhadapan dengan Adam. Adam tersenyum menatap wajah Disya yang cantik meskipun dengan tatapan kesal.
"Satu lagi, kenapa kamu menyuruh Dimas untuk memata-matai ku." Disya mendelik menatap Adam dengan penuh kekesalan, bisa-bisa Dimas menjadi mata-mata untuk pria menyebalkan seperti Adam.
Kedua tangan Adam berada disisi tubuh Disya, jarak mereka tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat, tapi mereka bisa merasakan aroma tubuh keduanya masing-masing.
Disya melipat kedua tangannya di dada, sambil menunggu jawaban Adam tentang Dimas yang menjadi mata-matanya.
"Aku hanya membantunya saat dia butuh bantuan saja." Jawaban Adam membuat Disya mengerutkan keningnya.
"Bantuan apa?" Tanya Disya yang tidak mengerti dengan ucapan Adam.
Dimas membutuhkan apa hingga membuat pria itu rela dibayar hanya untuk memata-matai dirinya.
"Ck, kamu tidak perlu tahu urusan orang. Lagipula dia tidak berbuat jahat kan sama kamu." Adam sedikit mendekatkan tubuhnya pada Disya.
Disya yang menyadari pergerakan Adam sedikit menghindar tapi ternyata Adam tidak melakukan apapun padanya.
Tangan Adam menjulur kebelakang tubuh Disya, ternyata Adam memotong omelette yang Disya buat, dan menusuknya mengunakan garpu.
"A.." Ucap Adam yang sudah berhasil memotong omelette, dan memberikannya pada Disya, lebih tepatnya menyuapi Disya.
Disya belum membuka mulutnya, tiba-tiba tubuhnya mematung melihat apa yang Adam lakukan.
"Cepat makanlah, sebentar lagi waktunya pesta dimulai." Ucap Adam yang masih menyodorkan garpu didepan bibir Disya.
Mau tidak mau, Disya pun membuka mulutnya dan Adam memasukkan potongan omelette tadi.
Disya mengunyahnya pelan dengan pandangan menatap pergerakan Adam lagi.
"Aku juga lapar, seharian ini rasanya kepalaku mau pecah." Tutur Adam sambil menyuapkan potongan omelette kemulutnya sendiri.
Disya hanya diam mendengarkan apa yang Adam katakan.
"Apalagi setelah rapat dengan dewan direksi yang selalu menuntutku untuk menjadi pemimpin yang sempura, terkadang aku merasa lelah dengan semuanya, tapi mau bagaimana lagi. Daniel belum mau membantuku dikantor. Adik sialan itu memilih bergelut di bidang sepak bola m" Tutur Adam yang merasakan beban yang dia pikul terlalu berat.
Ingin mengeluh kepada ibunya, Adam takut jika malah membuat sang ibu kepikiran, apalagi sekarang papanya memiliki darah tinggi setelah usianya yang tidak lagi muda.
Memasuki usia hampir kepala tujuh, membuat Nathan sering mengalami darah tinggi.
Dan sekarang Adam adalah pengantin sang ayah yang kembali membuat perusahaan Adhitama melambung tinggi.
Adam sendiri tidak yakin bisa berdiri terus seperti ini, apalagi beban sebagai pemimpin semakin berat seiring berjalannya waktu.
Adam masih dalam posisi yang sama, menyuapi Disya dan dirinya sendiri hingga omelette itu habis tak tersisa.
Disya sendiri tidak tahu harus menjawab apa, dirinya belum mengerti dengan kehidupan yang Adam jalani, dan Disya tidak bisa memberi masukan apapun untuk Adam, rasanya terlalu canggung.
Ting
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Adam yang berada di sakunya.
Adam mengambil ponselnya yang ternyata dari Arfin.
"Tiga puluh menit lagi acara dimulai." Ucap Adam pada Disya.
Disya menegakkan tubuhnya, dan berdehem untuk mengurangi perasaan yang baru saja dia rasakan.
"Hm, kita berangkat sekarang." Ucap Disya yang sedikit gugup.
Adam tersenyum, tangannya terulur untuk menyentuh sudut bibir Disya, mengunakan ibu jarinya.
"Malam ini kamu sangat cantik Sya." Ucap Adam terdengar tulus.
Disya tersenyum kaku, menanggapi ucapan Adam, walaupun jantungnya kian bertalu-talu.
Disya tidak yakin jika dirinya masih kuat dengan benteng yang dia bangun, dan dia sendiri tidak yakin.
Adam menggandeng tangan Disya saat keluar dari apartemen, hingga naik lift dan sampai di mobil pun tangan Disya tidak lepas dari genggaman tangan Adam.
Mereka diam tanpa kata selama perjalanan menuju hotel Adhitama yang letaknya di jantung kota. Selain ingin memberi penghargaan untuk Disya, Adam juga akan mengumumkan siapa Disya.
Walaupun akan terdengar egois dan pemaksa, tapi yang namanya Adam tidak akan berubah dan membatalkan apa yang sudah dia rencanakan.
Hingga 15 menit kemudian mobilnya sampai didepan hotel bintang lima miliknya yang paling besar.
Jantung Disya sendiri sudah tidak aman, bahkan telapak tangan Disya sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Disya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, dimana didalam sana ada Dino yang sudah menjadi kekasihnya satu bulan ini. Dan Disya akan merasa menjadi wanita paling jahat telah menyakiti pria sebaik Dino yang sejak dulu menyayangi dan mencintainya.
"Boleh aku masuk lebih dulu?" Tanya Disya, dengan tatapan memohon.
Adam menatap Disya dengan tatapan tidak suka, Disya yang mengerti arti tatapan Adam langsung menjelaskan. "Aku tidak ingin membuat heboh pesta saat kita masuk bersama, setidaknya bairkan aku berbaur dengan sahabatku dulu sebelum kau yang akan menentukan semua." Ucap Disya lirih dengan kepala menunduk.
Adam mencerna ucapan Disya, bahkan Adam bisa mendengar hembusan napas berat Disya.
"Apa kamu tidak suka dengan apa yang akan aku lakukan?" Tanya Adam menatap Disya yang masih menunduk.
Disya mendingan, dan tatapan keduanya bertemu. "Aku masih butuh waktu untuk menjelaskan pada Mas Dino yang_"
"Panggil saja Dinosaurus, tidak usah pakai Mas." kesal Adam yang mendengar panggilan Disya untuk Dino.
Disya mengernyit bingung, tapi tetap melanjutkan ucapanya. "Aku akan bicara dengan Mas_ Em Dino lebih dulu." Ralat Disya karena Adam menatapnya tajam.
"Satu jam aku beri waktu satu jam." Ucap Adam yang terdengar tegas.
"Tapi mana cukup untuk_"
"Satu jam setengah atau tidak sama sekali." Sarkas Adam lagi.
Disya akhirnya mengalah, dari pada tidak sama sekali. "Dasar pria menyebalkan.." Disya melirik Adam sinis dan keluar dari mobil Adam dengan membanting pintu dengan kuat.
Brak..!!!
"Astaga Disya, mobil gue belasan milyar." Pekik Adam yang terkejut.
.
.
Kembang kopi sayang jangan lupa πππ