
Sakit itulah yang dirasakan Dino, berbeda dengan apa yang di alami 2 sejoli yang sedang di mabuk asmara setelah menikah.
Adam selalu memberikan perhatian kepada Disya saat dirumah ataupun di kantor, pria itu terbilang pria yang cukup romantis untuk ukuran suami. Tapi siapa sangka di balik sifat perhatian saat dengan istrinya, justru berbanding balik dengan sifat Adam saat di luar rumah atau saat berdua dengan Disya.
Siang ini Disya mengajak Adam untuk makan diluar, wanita itu menunjukan tempat yang bernuansa pedesaan seperti makan di saung dengan pemandangan sungai buatan untuk menonjolkan suasana pedesaan.
Adam hanya menuruti apa yang ingin Disya lalukan, selagi tidak membahayakan.
"Aku boleh pesan apa saja?" tanya Disya saat keduanya sudah duduk di saung yang terasa sejuk dengan angin yang semilir.
"Apa saja, terserah." Adam fokus pada ponselnya saat Arfin mengirim pesan.
Mendengar itu, Disya begitu senang dan antusias memesan apa yang dia inginkan.
"Sayang.." Disya memanggil Adam dengan panggilan baru, hanya untuk menyita perhatian Adam dari ponselnya.
Dan benar saja, Adam langsung mendongak mendengar panggilan 'sayang' Disya.
"Kamu panggil aku apa?" Tanya Adam dengan penuh rasa penasaran, bahkan Adam sampai memasang telinganya untuk mendengar Disya memanggilnya lagi.
"Adam." Jawab Disya dengan wajah cuek.
"Ck, bukan. Kamu tadi tidak memanggilku seperti itu." Adam masih kekeh menyuruh Disya untuk mengulangi panggilnya tadi. "Katakan kau panggil aku apa?"
Disya hanya tersenyum, melihat wajah Adam yang antusias menunggu jawaban darinya membuat Disya semakin ingin menggoda sang suami.
"Adammmm.." Suara Disya dibuat selembut mungkin, dengan gaya yang terlihat genit.
"Ck, menyebalkan." Ketus Adam yang kesal karena merasa di kerjai Disya.
Disya tertawa melihat wajah kesal Adam hanya karena perkara panggilan saja.
"Hey, yang pantas disebut menyebalkan itu kau, dasar tuan pemaksa." Balas Disya.
Adam mendengus, mendengar Disya yang meledeknya. "Sudahlah aku tidak ingin melihatmu merajuk, lebih baik sekarang makan." Kebetulan makanan yang Disya pesan datang.
Melihat menu makanan yang penuh di atas meja membuat Adam geleng kepala.
"Padahal perut kamu itu ada baby, tapi kenapa malah banyak makanan yang masuk, itu berarti perut kamu semakin besar karena makan kamu banyak."
Uhukk.. uhukk..
"Pelan-pelan Sya, aku tidak akan meminta." Adam menepuk punggung Disya pelan.
"Ini karena kamu. Aku ini hamil anak kamu. Kalau aku tidak makan anak kamu tidak akan tumbuh dengan baik." Kesal Disya dengan manatap Adam sengit.
Bisa-bisanya Adam mengatakan hal itu pada ibu hamil, jelas yang keluar adalah mood singa.
"Iya Sorry, sekarang makan ya." Adam memilih mengalah dari pada harus bertengkar di tempat umum, karena ibu hamil jika sudah kesal tidak tahu tempat di mana.
"Mau itu." Tunjuk Disya pada piring Adam.
"Apa?" tanya Adam sambil menatap Disya.
"Itu aku mau cicipi yang kamu makan." Pinta Disya lagi saat Adam bertanya.
Adam mengulurkan tangannya yang sudah membawa sesuap nasi untuk menyuapi Disya.
"Emm, enaak.." Ucap Disya dengan mulut sambil ngunyah.
"Hm, lumayan enak. Mau lagi."
Disya mengangguk saja, dan Adam kambali menyuapi Disya untuk beberapa kali.
Disebelah mereka sejak tadi sepasang mata sedang memperhatikan keduanya, tampak begitu romantis jika dilihat.
"Kenapa? kamu kenal mereka?" Tanya teman nya yang duduk satu meja denganya.
"Oh, tidak. Hanya saja dia-"
"Ah pasti pria kaya."
Bianca tersenyum. "Pria terkaya di Asia, pembisnis sukses di negara kita."
"Wow, menakjubkan bukan." Puji temannya itu.
"Hm, tapi sayang. Wanita itu istrinya." Bianca melirik kearah Disya yang begitu manja dengan Adam, dan Adam begitu bahagia melayani istrinya yang manja.
"Dih, Udah punya bini. Bukan tipe lu kali."
Bianca hanya tersenyum, senyum yang terlihat begitu banyak arti.