
Mengetahui sahabatnya masuk rumah sakit. Dina dan Vivi setelah pulang kantor mampir menjenguk Disya.
ruang rawat Disya seketika ramai kedatangan keduanya. Diana yang menunggu Disya memilih pamit dulu untuk pulang sebentar, dan menitipkan putrinya kepada dua sahabatnya.
"Sya, serius kamu hamil?" tanya Dina dengan tidak percaya.
Disya memang belum memberi tahu keduanya tentang dirinya yang waktu itu liburan di London, Disya juga belum cerita jika sekarang dirinya sedang hamil.
"Hu'um, kalian akan punya ponakan." Ucap Disya dengan senyum mengembang.
"OMG, Sya. ponakan gue kecebong sultan dong!!" Kata Vivi dengan berteriak heboh
"Bibit unggul si Bos datar."
"Premium limited edition."
Hahahah
Ketiganya tertawa. mereka tidak menghakimi Disya yang melakukan kesalahan, justru keduanya begitu senang jika Adam yang sudah membobol gawang sahabatnya. Sungguh aneh mereka-mereka itu, Disya sampai tidak percaya jika mereka malah senang mendengar cerita dirinya dan Adam.
"Aku yakin, kamu akan diratukan oleh bos datar itu kalau bisa mengambil hatinya." Kata Vivi dengan senyum lebar.
"Nah, ngomong-ngomong kamu sudah berhasil mendapatkan kecebongnya yang sudah berubah menjadi berudu, lalu apa kamu juga sidah mendapatkan kartu saktinya?" Tanya Dina sambil menaik-turunkan alisnya.
Disya geleng kepala, dirinya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dina.
"Jangankan kartu saktinya, aku lebih tertarik dengan-"
Ceklek
Disya tidak melanjutkan ucapanya karena pintu terbuka dari luar, dan masuklah Adam yang dengan penampilan yang masih rapi saat pulang dari kantor.
Dina dan Vivi yang duduk di sisi ranjang Disya memilih berdiri melihat wajah datar Adam yang mendekati Disya.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Disya tersenyum saat melihat Adam mendekat padanya.
Dina dan Vivi saling lirik melihat cara Disya menyambut wajah datar Adam, dan mereka penasaran dengan reaksi Adam yang terkenal Anti dengan wanita.
Adam tersenyum dan langsung mendekatkan wajahnya dengan Disya, tanpa di duga Adam mengecup bibir Disya sekilas. Dina dan Vivi sontak membulatkan kedua matanya terkejut.
"Sudah, aku bawakan pesanan kamu." Jawab Adam setelah menunjukan pemandangan yang tak senonoh pada kedua karyawannya.
Disya mengerjapkan matanya beberapa kali, setelah merasakan bibir kenyal Adam menciumnya.
"Kamu tidak melihat mereka disini?" Tanya Disya yang sepertinya heran dengan perlakuan Adam yang menciumnya di depan kedua sahabatnya.
Adam menoleh sebentar kebelakang, dan menatap Dina dan Vivi datar.
"Memangnya kenapa? mereka bukan anak kecil." Jawab Adam sambil menatap Disya. "Apa dia rewel?" Tangan Adam mengusap perut Disya dengan lembut.
Dina dan Vivi semakin di buat tak percaya dengan sikap Adam yang manis, dibalik wajah datar dan dingin ternyata Adam begitu sweet.
"Tidak, dia tidak rewel tapi-" Disya menjeda ucapanya saat dirinya mengingat sesuatu, bahkan Disya sampai mengigit bibir bawahnya saat menatap wajah Adam.
Kening Adam mengerut tanda tidak tahu apa yang Disya maksud. "Katakan apa?" Ucap Adam yang tidak sabaran.
"Din, Vi. tolong kalian balik badan." Ucap Disya dengan wajah memohon untuk kedua sahabatnya.
Adam semakin bingung, mendengar ucapan Disya.
"Loh, kok gitu. memangnya kenapa?" Tanya Vivi.
Dina yang tanggap dengan raut wajah Disya langsung berkata. "Ngak usah deh, aku sama Vivi balik aja. Aku tahu kok kamu kepengen-" Dina menyatukan kedua jarinya yang sudah dibentuk seperti kerucut dan saling bersentuhan.
Adam pun menoleh kebelakang dan Dina langsung menyengir karena tertangkap basah.
"Heee, mungkin bawaan bayi pak. Turuti saja enak kok." Ucap Dina yang merasa kikuk.
Akhirnya Dina dan Vivi memilih pamit tanpa cipika cipiki karena tidak enak ada Adam di samping Disya. Mereka pulang dengan masih membawa keterkejutannya karena perlakuan Adam.
"Emm, ini-" Disya memajukan wajahnya dan menyambar bibir Adam untuk di cium.
Tapi saat Disya ingin memundurkan kepalanya, Adam justru menahan tengkuk Disya untuk memperdalam ciumannya.
Adam melumatt lembut benda kenyal yang sudah menjadi candunya, pria itu seperti mendapatkan kembali energinya setelah terkuras di kantor, Adam yang memiliki banyak pekerjaan dan masalah kantor meluapkan bebannya lewat sebuah ciuman yang Disya berikan. Untuk pertama kali Disya menciumnya lebih dulu.
"Emphh." Lenguhan Disya semakin membuat Adam semangat, hingga membuat seseorang yang ingin masuk menjenguk mengurungkan niatnya.
Dino menatap kedua insan yang saling bercumbu bibir, pria itu bisa melihat bagaimana Disya begitu menggebu bercumbu dengan Adam.
Dadanya terasa sesak hingga Dino tidak bisa lagi merasakan sakit hatinya melihat wanita yang dia cintai kini sudah berpaling darinya. Dino tidak menyangka jika Adam atasanya yang telah mengambil hal berharga Disya.
Tangan Dino terkepal erat dengan dada bergejolak, saat Disya terseyum setelah cumbuan mereka terlepas.
"Sial..!!"
Menyesal telah melihat hal yang semakin menyakiti hatinya, Dino memilih pergi untuk menangkan hatinya kembali.
Disya terseyum malu setelah Adam menatapnya dengan intens.
"Jangan menatapku seperti itu." Ucap Disya dengan wajah cemberut.
Adam malah tersenyum. "Lain kali jangan hanya minta di cium." Ucap Adam dengan senyum mesum.
"Apa? aku kan lagi hamil, jadi pengen nya bukan kemauanku." Elak Disya dengan memasang wajah kesal.
"Apapun itu, tapi aku semakin suka jika kamu meminta menjenguk junior."
Disya membulatkan kedua matanya melotot. "Kamu itu benar-benar ya, di kasih diikit otak mesumnya langsung bekerja." Ucap Disya dengan bibir bersungut-sungut.
Adam malah terbahak mendengar ucapan Disya, melihat reaksi wajah Disya saja membuat Adam tertawa.
"Tapi enak kan sayang, buktinya kamu selalu mendes-"
"Cukup Dam!" Disya langsung membungkam mulut Adam karena malu, jika diingatkan bagaimana saat dirinya menikmati permainan Adam, sungguh Disya merasa malu.
Adam masih dengan sisa tawanya saat tangan Disya terlepas. Dan Adam mengambil makanan yang dia bawa, itupun permintaan dari Disya.
"Pangsit yang kamu mau." Adam membuka bungkus pangsit yang masih meninggalkan uap didalamnya.
"Woahh," Mata Disya langsung berbinar melihat makanan yang sejak tadi membuat ludahnya ingin menetes.
Adam hanya geleng kepala melihat reaksi Disya yang begitu senang, hanya makanan sederhana tapi Adam selalu bisa melihat binar bahagia diwajah Disya, apakah sesimpel itu membahagiakan seorang wanita, karena menurut Adam sebelum bertemu Disya mahluk bernama wanita hanya akan membuatnya pusing karena banyak mau.
Karena Adam hanya melihat sebagian wanita yang dekat dengan temannya, yang menurut Adam mereka kaum wanita banyak menuntut.
"Enak?" tanya Adam saat Disya menguyah pangsit yang dia suapi.
"Enak, kamu coba gih." Disya meraih supit yang Adam pegang, dan sekarang gantian Disya yang menyuapi Adam.
"Enak kan?" Disya bertanya dengan senyum saat Adam mulai menikmati rasa enak dari makanan itu.
"Ini makanan favorit aku sejak sekolah, dan aku sangat menyukainya." Ucap Disya sambil memasukkan lagi kedalam mulutnya, tapi karena tidak pelan-pelan ujung bibir Disya terdapat saus.
Ingin meraih tisu, Adam mencekal tangan Disya, dan tanpa lama Adam menyapu sudut bibir Disya dengan lidahnya.
"Manis." Ucap Adam dengan senyum.
"Gombal, yang ada pedes." Jawab Disya ketus.
Adam tertawa, begitu juga Disya. Saat ini keduanya sedang menikmati kebersamaan yang membuat mereka bahagia, tidak tahu esok, lusa dan hari-hari selanjutnya.
.
.
jangan lupa jejak kalian tinggalkan. LIKE..KOMEN Kalian author tunggu 🤣🤣😴