
Setelah acara pemakaman selesai, semua pelayat pamit pulang, hanya tinggal kerabat dan saudara Rantika yang masih berada dirumah Rantika.
Sedangkan Dino ikut membaur dengan keluarga Rantika yang mengajaknya bicara atau hanya sekedar bertanya ada hubungan apa Dino dan Rantika.
Sedangkan di dalam kamar Rantika duduk bersandar di bahu ranjang dengan pikiran menerawang berkelana, setelah ini bagaimana nasibnya dan keluarga jika bapaknya sudah tidak ada, selama masih ada saja Rantika yang membantu kehidupan ke-tiga keluarganya dan sekarang dirinya sudah tidak bekerja lagi seperti dulu, otomatis dirinya sudah tidak memiliki penghasilan.
Ingin bekerja, tapi bekerja apa? dirinya yang sudah berbadan dua pasti tidak akan mendapat pekerjaan, apalagi rasa mual yang dia rasakan tidak bisa dikondisikan.
Emmp
Rantika menutup mulutnya saat perutnya kembali bergejolak, rasa mual kembali hadir.
"Emphh.."
Rantika keluar kamar dan berlari menuju kamar mandi yang ada diluar kamar, karena berlari semua yang melihatnya menatap Rantika terkejut.
hoekk...hoekk...
Rantika memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya, hanya air yang terasa begitu pahit yang bisa dia keluarkan sampai sudut matanya basah sangking sesaknya muntah yang dia lakukan.
"Ranti kamu kenapa?" ibunya datang dan mengusap punggung putrinya, yang masih muntah dan tidak mengeluarkan apapun.
"Kamu belum makan?" Tanya ibunya yang berpikir jika putrinya pasti masuk angin.
Rantika hanya menggeleng sambil membasuh mulutnya. Dirinya memang belum makan apapun, hanya minum air putih saja, eskrim yang tadi dia beli saja belum sempat di makan dan sudah jatuh lebih dulu.
"Kamu masuk angin, karena belum makan. Perjalanan kamu cukup jauh." Ibunya membantu Rantika berdiri.
Sedangkan di luar para kerabat sudah kasak kusuk dengan tingkah Rantika yang tiba-tiba muntah. Apalagi Rantika pulang di antar dengan pria tampan dan menggunakan mobil mewah. Mereka semua tampak bertanya-tanya ada hubungan apa keduanya.
Dino yang duduk di ruang tamu telinganya terasa panas saat mendengar kasak kusuk orang-orang yang mengatakan Rantika sedang hamil. Tapi itu memang kenyataanya hanya saja mereka mengatakan jika di kota Rantika sampai menjual diri, dan hal itu membuat Dino ingin rasanya marah.
Rantika keluar dari dapur mendapat banyak tatapan mata yang seperti mencomoohnya, padahal mereka adalah kerabat keluarga sendiri.
"Mbak Ranti kenapa?" Tanya salah satu kerabat yang bertanya, mewakili mereka yang juga penasaran.
"Masuk angin, sejak pagi dia belum makan dan langsung pulang kesini." Jawab ibunya Ranti yang baru saja keluar dari kamar, untuk menagmbil alat kerokan.
"Alah, paling-paling juga hamil. Mana ada jaman sekarang wanita tinggal di kota metropolitan masih ada yang perawan. Huh mustahil." Ucap salah satu dari mereka yang sepertinya netizen maha benar.
"Sttt, jangan suuzon mbak. Mbak juga punya anak perempuan yang sekolah di kota." Jawab salah satu dari mereka yang tidak suka mendengar orang julid.
Wanita yang suka menjuliti itu hanya menjep melirik wanita itu sinis.
Didalam kamar Rantika yang mendengarnya menangis terisak, kata-kata mereka tidak ada yang salah, dirinya memang sedang hamil di luar nikah. Dan Rantika tidak menyangka jika mendengar ucapan dari orang-orang yang melihatnya sebelah mata rasanya sesakit ini.
Rantika mengusap air matanya saat sang ibu masuk kedalam kamarnya dengan membawakan alat untuk mengerok tumbuhnya.
"Ikhlaskan, insyaallah bapak mu sudah sudah tenang di sana." Ibunya yang melihat Rantika menangis karena berfikir masih belum rela ditinggalkan bapaknya, tapi siapa sangka jika wanita itu menangis karena meratapi nasibnya yang sekarang.
"Iya Bu." Hanya itu yang bisa Rantika katakan. Rasanya begitu sesak mendapat cobaan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, ini adalah kemauanya yang menyerahkan semua kepada pria yang dia cintai.
Malam hari dikediaman Rantika mengadakan tahlilan, rekan kerjanya saat dikantor juga sudah sampai, Dimas dan beberapa teman Rantika yang lain mengikuti tahlilan yang berlangsung hingga selesai mereka juga ikut pamit.
"Tika yang sabar ya." Dimas tersenyum dan mengusap lengan Rantika.
Mereka sering makan siang bersama saat masih bekerja dan keduanya juga terlihat akrab.
"Terima kasih Dim, Titip salam buat ibu Disya." Jawab Rantika dengan senyum tipis. "Terima kasih sudah memberikan bantuan untuk keluarga ku disini, katakan kalau kami senang dan sangat berterima kasih."
Dimas hanya mengagguk. "Pasti aku sampaikan, ngomong-ngomong itu kenapa pak Dino ada di sini." Dimas melirik pria yang sedang berbicara dengan rekan kerjanya yang juga bawahan Dino saat masih bekerja, dan Dimas cukup penasaran kenapa mantan wakil direktur itu berada di kampung Rantika sebelum dirinya.
"Em, pak Dino yang mengantarku pulang pagi tadi." Jawab Rantika jujur.
Dimas hanya mengaguk saja, tanpa ingin tahu lebih lanjut.
"Kami pulang ya, jika butuh sesuatu hubungi aku tidak apa-apa siapa tahu aku bisa bantu." Ucap Dimas sambil terkekeh.
Rantika hanya tersenyum dan mengaguk. "Hm, terima kasih."
Perhatian Dino sejak tadi tertuju pada Dimas dan Rantika yang saling bicara dan tersenyum, entah kenapa dirinya tidak suka melihat kedekatan mereka. Apalagi saat Dimas pamit, pria itu memeluk Rantika membuat Dino mengepalkan tangannya.
"Dahh, hati-hati..." Rantika melambaikan tangan saat mobil perusahaan yang membawa rekannya dulu pergi meninggalkan kediamannya.
Rantika melambikan tangan dan tersenyum, sedangkan Dino hanya melihat dari kursi teras yang sedang duduk dengan Tio.
"Tuan kita tidak ikut pulang?" tanya Tio yang melihat bosnya belum ada tanda-tanda untuk pulang.
Dino berdiri dan berjalan mendekati Rantika tanpa menjawab pertanyaan asistennya itu.
Padahal Tio menunggu Dino mengajaknya pulang, karena besok ada pertemuan penting dengan klien.
"Sepertinya kamu senang sekali mendapat pelukan dari Dimas." Dino berdiri di samping Rantika yang sedikit masih tersenyum.
Rantika menoleh pada Dino yang juga sedang menatapnya. "Apa yang anda katakan, kami memang berteman." Jawab Rantika dengan kesal.
Pertanyaan Dino seperti seorang pria yang cemburu kepala kekasihnya, padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun.
"Lepas pak! saya tidak ingin menjadi bahan omongan tetangga." Rantika menatap Dino kesal.
"Tapi kenyataannya kamu sudah menjadi bahan omongan tetangga, karena kehamilan kamu."
Rantika membulatkan kedua matanya. "Bukan urusan bapak..!"
"Jelas urusan saya, karena kamu sedang hamil darah daging saya!!" Ucapan Dino penuh dengan ketegasan dan penekanan.
"Kenapa? kenapa kamu tidak berkata jujur jika wanita itu adalah kamu." Dino menyentuh kedua bahu Rantika.
Wanita itu sudah menagis terisak dengan derai air mata. Dino yang melihatnya langsung membawa Rantika kedalam pelukannya.
"Maaf karena aku tidak mengingat kejadian itu, aku tidak mengingat siapa wanita yang bercinta dengan ku malam itu."
Rantika semakin terisak mendengar penuturan Dino, dirinya tidak tahu jika pria yang dia cintai menerima kehadiran buah hatinya.
"Aku akan bertanggung jawab, aku tidak ingin anakku lahir tanpa seorang ayah." Dino mengeratkan pelukannya pada Rantika yang masih terisak.
Sedangkan di belakang mereka ada Tio yang melihat adegan lumayan membuat syok jantungnya.
"Si bos Udah nyicil bocil aja." Ucap Tio sambil geleng kepala.
Siapa sangka jika Dino yang terkenal pria baik dan tidak neko-neko malah sudah lebih dulu menyicil, dan Dino yang tidak pernah dekat dengan wanita kecuali Disya malah mengahamili wanita lain, yaitu mantan sekretarisnya.
"Sudah jangan menagis." Dino mengusap kedua pipi Rantika yang basah, "Tidak memikirkan apapun, karena kamu dan keluargamu akan menjadi tanggung jawab saya."
Rantika menatap wajah Dino yang tersenyum tipis. "Saya tahu hari-hari yang kamu jalani tidak mudah setelah tahu keadaan kamu, maaf jika dia menyusahkan kamu." Tatapan Dino tertuju pada perut Rantika. "Karena dia kamu rela resign dari kantor dan karena dia kamu rela setiap hari merasakan mual dan muntah."
Rantika malah terharu mendengar ucapan Dino, tidak menyangka jika Dino begitu mudah percaya dan menerima kehamilannya.
"Malam ini saya pulang, karena besok ada pertemuan penting dengan klien, secepatnya saya akan menyelesaikan pekerjaan saya, agar segera datang untuk menikahi kamu."
Rantika tersenyum haru, dirinya kembali memeluk Dino dan m ngucapkan terima kasih. "Terima kasih pak, terima kasih sudah mau menerima kehadiran saya." Ucap Rantika dengan air mata haru.
"Hey, kamu bicara apa? justru saya yang berterima kasih karena kamu mau mengandung darah daging saya." Dino mengusap punggung Rantika.
"Mungkin satu minggu kalau bisa lebih cepat, saya akan kembali datang kesini." Ucap Dino sebelum masuk kedalam mobil untuk pulang.
Dino sudah berpamitan pada ibunya Rantika, dan Dino sebenarnya ingin bicara jujur dengan ibunya Rantika, tapi Rantika sendiri tidak mau. Karena takut jika ibunya akan syok mendengar apa yang Dino katakan, apalagi hari ini keadaan mereka cukup menyedihkan karena baru saja kehilangan seorang ayah.
Rantika hanya mengangguk. "Hati-hati pak." Rantika tersenyum tipis.
Dino ikut tersenyum dan mengaguk, "Sepertinya mobil ini akan menjadi mobil sejarah munculnya si Dino junior."
Sontak Rantika membulatkan kedua matanya, sedangkan Dino malah tertawa melihat ekpresi Rantika.
"Jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa hubungi saya."
Rantika melambikan tangan saat mobil Dino melaju pergi, wanita itu tersenyum dan cukup lega dengan apa yang Dino katakan. Meskipun rasa kehilangan masih mendominasi, tapi si balik itu dirinya mendapatkan pertanggung jawaban dari pria yang sudah membuatnya hamil.
Rantika yang tidak memilih untuk menuntut dan memberi tahu Dino, tapi justru Tuhan yang menujukan kebenaran tanpa dirinya yang harus menunjukkan, Tuhan maha adil untuk umatnya yang merasa bersyukur, dan kini Rantika sudah lebih tenang. Hanya saja dirinya harus mulai berpikir bagaimana caranya bicara pada ibunya.
.
.
Disya menghempaskan tubuhnya di sofa depan TV. Hari ini dirinya ijin tidak ke kantor lantaran pagi-pagi perutnya begitu mual hingga membuatnya harus bolak balik ke kamar kecil untuk memuntahkan isi perutnya.
Adam yang memiliki jadwal pertemuan penting dengan terpaksa dirinya meninggalkan Disya di apartemen sendiri.
Meskipun tidak tega, tapi pertemuannya dengan klien itu sangat penting dan tidak bisa di wakilkan, Disya yang mengerti tidak masalah dengan pekerjaan Adam, hanya satu pinta Disya. Jika pulang Adam harus membawakan makanan yang dia lewati saat pulang.
Konyol, tapi itulah permintaan Disya yang semakin membuat Adam merasa pusing, padahal saat awal-awal Disya tidak cerewet dan banyak mau seperti sekarang.
"Em, kenapa jam nya lama sekali." Disya mendesahh kasar, mulutnya sudah ingin memakan sesuatu, tapi Adam tak kunjung pulang.
Disya beranjak dari duduknya dan membuka lemari pendingin, mencari makanan yang bisa dia makan dan menggugah seleranya.
"Bosan.." Disya menutup kembali pintu lemari pendingin itu.
Dan saat melihat rak kitchen di atas, Disya ingat sesuatu.
"Mie kari spesial." Ucapnya dengan mata berbinar melihat bungkusan mie instan yang sangat menggoda lidahnya.
Padahal jika ada Adam, dirinya tidak boleh memakan makanan yang instan, dan kali ini sepetinya Disya ingin membuat dan memakannya.
Di kantor Adam baru saja menyelesaikan pekerjaannya setelah bertemu klien 2 jam yang lalu, Adam sengaja kembali ke kantor untuk menyelesaikan berkas-berkas penting yang harus ditandatangani hari ini. karena dirinya ingin pulang cepat mengingat Disya yang dia tinggalkan di apartemen sendiri dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Saat awal-awal kehamilan Disya tidak pernah mengeluh ataupun merasa mual dan muntah, tapi sekarang kehamilannya yang menginjak 4 bulan Disya malah sering mengeluh mual dan muntah hal itu membuat Adam cukup khawatir dan hari ini niatnya ingin membawa Disya ke rumah sakit untuk periksa.
"Fin, gue pulang dulu. Sisanya lu handel." Adam bicara pada Arfin di ambang pintu ruangan Arfin.
"Oke." Arfin hanya mengangkat jari jempolnya tanda setuju.
Diperjalanan Adam teringat pesan dari istrinya di rumah, dirinya harus pulang membawa makanan apa saja yang dia lewati saat pulang. dan Adam setiap ada penjual makanan di pinggir jalan dia selalu berhenti dan memesan apa saja yang belum dia beli dan hal itu cukup membuatnya merasa heran dengan permintaan sang istri, meskipun Adam bisa membelikan apapun untuk istrinya tapi kali ini rasanya permintaan Disya begitu aneh, semua makanan yang dia lewati harus dibeli dan apakah istrinya itu akan menghabiskan makanan sebanyak ini, dan rasanya itu tidak akan mungkin.
"Kita lihat apa yang akan kamu lakukan melihat makanan sebanyak ini." Ucap Adam yang malah tertawa melihat jok mobil belakangnya banyak makanan yang terbungkus, dan Adam ingin melihat bagaimana reaksi istrinya nanti saat melihat makanan sebanyak itu.