
Setalah melakukan percintaan di rooftof untuk pertama kali, dan memiliki sensasi yang sangat berbeda. Adam membawa Disya keaparteman memiliknya, yang terletak dipusat kota. Apartemen ternama yang hanya dimiliki oleh orang yang memiliki kantong tebal.
Disya menoleh pada Adam yang baru saja menghentikan mobilnya di basement. Cukup sepi hanya ada beberapa mobil yang terparkir disana, karena bangunan apartemen itu tidak memilki banyak flat.
"Kenapa?" Tanya Adam yang menyadari tatapan Disya padanya. "Apa kau mau lagi?" Lanjutnya dengan tatapan mesum.
Bugh
"Pikiranmu mesum sekali." Ketus Disya dengan wajah memerah antara marah dan malu.
Adam hanya mengakat kedua bahunya. "Karena jika dekat-dekat denganmu, otakku memang hanya bekerja bagaimana untuk membuatmu mendes_"
Brak
Disya membanting pintu dengan keras, sebelum Adam menyelesaikan ucapannya, wanita itu tidak tahan dengan ucapan Adam yang kelewat mesum, Disya memilih keluar mobil dan membanting pintu dengan kuat.
Adam yang melihat Disya berjalan dengan sedikit kesusahan mengulum senyum.
"Kamu memang tidak mudah ditaklukkan, maka jangan sebut namaku jika tidak bisa membuatmu menjadi milikku." Ucapnya yang langsung keluar mobil mengikuti wanitanya yang entah mau berjalan kemana.
"Dasar pria tidak bermoral, otaknya hanya ada sela*kang*an saja." Gerutu Disya sambil berjalan kesusahan karena Intinya terasa tidak enak, setelah percintaan kedua yang mereka lakukan.
Jika seperti ini, Disya tidak yakin jika dirinya tidak akan hamil cepat.
"Hey, rubah betina. Kau mau kemana." Teriak Adam dari jarak yang lumayan jauh dari Disya.
Langkah kaki Disya berhenti, dan berbalik kebelakang melihat Adam yang berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.
Sungguh jika saja Adam tidak menyebalkan dan pemaksa, mungkin melihat pria itu dengan penampilan seperti itu akan membuat Disya jatuh cinta. Rambut yang sudah tidak serapih tadi pagi, lengan kemeja panjang yang sudah dilipat sampai kesiku, bahkan dua kancing paling atas terlepas dari tempatnya, memperlihatkan dada bidangnya yang terlihat sedikit. Disya menahan napas sejenak.
"Jangan berpikir macam-macam. Dia itu pria pemaksa yang sangat menyebalkan." Gumam Disya menyadarkan dirinya sendiri.
Adam melihat Disya yang berjalan pelan menuju kearahnya, pria itu tersenyum tipis melihat wajah wanitanya yang ditekuk dan bibir komat-kamit tidak jelas.
Hap
"Ah, turunkan..!" Disya menggoyang kakinya dan tangannya memukuli pugung Adam yang tiba-tiba langsung menggendongnya seperti karung beras.
"Jalan mu seperti pinguin aku tidak suka melihatnya, kerena aku merasa ingin kembali membuatmu mendes_"
"Stop!! bisa tidak mulut dan otakmu itu tidak bicara mesum." Kesal Disya yang jengah mendengar ucapan mesum Adam.
Plak
"Ahh, apa yang kau lakukan." Pekik Disya saat boko*ngnya di pukul Adam.
"Auwss, Adam.. kau gila..!" Pekiknya lagi saat Adam mengigit bokon*gnya dan terasa ngilu.
"Kau itu jadi wanita tidak ada lembutnya, pembangkang." Ucap Adam yang sudah berada didepan pintu lift dan menekan angka yang ada disana.
"Turunkan aku..!" Disya masih berontak, saat mereka masuk kedalam lift.
Adam Pune menurunkan Disya ketika sudah didalam lift, dirinya merasa tidak tega jika kepala wanita itu pusing karena dia gendong.
Disya membenarkan atasan bajunya, kepalanya sedikit terasa pusing.
Adam yang melihat wajah Disya sedikit pucat, membuatnya menyentuh dagu wanita itu untuk menatapnya.
"Kamu sakit?" Tanya Adam yang langsung khawatir melihat wajah Disya yang sedikit pucat.
"Perduli apa." Ketus Disya sambil menepis tangan Adam yang menyentuh keningnya.
Adam yang geram dengan sifat Disya, membuatnya tidak tahan.
"Mau apa..hey kau_ Eumm." Disya tidak jadi bicara karena bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh Adam.
"Apa bibir mu hanya bisa diam saat aku cium saja hm." Suara Adam terdengar dingin, dengan tattajam.
Disya yang menyadari itu memilih diam sambil membuang wajahnya. Entahlah kenapa dadanya terasa sesak mendengar ucapan Adam, dan matanya rasanya sudah gatal ingin menjatuhkan air mata.
Ting
Disya tidak protes ataupun menolak, kepalanya pusing dengan tubuhnya yang lelah. Mungkin efek dirinya belum sarapan dan digagahi Adam lagi, ditambah pria itu yang seenaknya menggendongnya seperti karung beras.
"Tolong tekan kode passwordnya." Ucap Adam yang masih mengendong Disya.
Disya menatap Adam, yang juga menatapnya. Adam yang mengerti langsung menyebutkan angka passwordnya.
"05xxxx"
Deg
Jantung Disya berpacu dengan cepat, tatapan matanya menatap wajah Adam yang juga menatapnya.
"Kenapa? kamu ingat tanggal dan bulan saat kita pertama kali bertemu?" Tanya Adam yang melihat Disya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Disya membuang wajah, lalu tangannya terulur untuk menekan angka yang Adam sebutkan tadi.
Ceklek
Pintu terbuka, Adam pun masuk dengan masih gendong Disya. setelah menutup pintu Adam kembali berjalan menuju kamarnya.
"Aku mau diluar saja." protes desa saat dia tahu ada membawanya masuk ke kamar apartemen miliknya.
"Kamu butuh istirahat, dan menurutlah." Ucap Adam dengan tegas. "Selain banyak bicara kau juga banyak mau." Ketus Adam membuat Disya mencebik.
Adam menidurkan Disya diatas ranjang king size miliknya.
Disya melirik keseluruh kamar Adam, terlihat besar dan lengkap dengan fasilitas, bahkan ada pintu kaca besar yang sepertinya menghubungkan pemandangan luar.
"Istirahat dulu, aku keluar sebentar." Ucap Adam setelah menyelimuti tubuh Disya.
Cup
Adam meninggalkan ciuman dikening Disya, membuat wanita itu sedikit terhenyak, tapi hanya sebentar, karena setelahnya Disya memilih masa bodo.
"Aku tidak mengantuk, tapi lapar." Keluhnya setelah melihat Adam keluar menutup pintu.
Disya gengsi jika harus minta makan pria menyebalkan itu, tapi tubuhnya butuh asupan makanan.
Karena tidak ingin tidur, Disya memilih untuk bangun dan berjalan menuju pintu kaca besar disana.
Saat membuka pintu angin langsung menerpa wajah Disya. Wanita itu tersenyum melihat pemandangan yang terlihat indah. Ternyata apartemen Adam terletak paling atas, dan Disya melihat keindahan kota dari balkon apartemen Adam yang cukup besar.
"Mungkin kalau aku wanita mata duitan, jelas akan begitu bahagia mendapatkan pria seperti dia. Tapi aku wanita seperti itu." Ucapnya pada diri sendiri.
Disya yakin, diluar sana Adam adalah incaran para wanita, tapi sepertinya ada tidak pernah gosip sedang berdekatan atau jalan dengan seorang wanita. karena desa juga sering melihat Adam yang tampil di layar televisi dalam acara bisnis ataupun acara amal lainnya. Ada rasa kagum dan juga bangga melihat jiwa kemanusiaan Adam begitu besar. Karena yang orang tau orang tua Adam juga memiliki yayasan untuk orang-orang yang tidak mampu.
Disya duduk di kursi santai yang ada di balkon itu, kursi yang memang Adam sediakan untuk dirinya bersantai jika senggang.
Disya melihat asbak yang ada diatas meja kecil itu. "Ternyata dia perokok." Ucapnya yang melihat sisa putung rokok didalamnya.
Karena tubuhnya merasa lelah, tanpa sadar kedua mata Disya terpejam, dan melupakan rasa laparnya yang tergantikan dengan pemandangan indah itu tadi.
Setelah kurang lebih 30 menit, Adam kembali ke dalam kamarnya dan tidak melihat wanitanya berada di atas ranjang. Pada saat dia pergi Adam yakin jika Disya tiduran di atas ranjangnya.
"Kemana dia?" pikirnya sambil berjalan menuju meja kecil disamping ranjang.
Adam menaruh nampan berisikan makanan yang dia buat untuk Disya.
Pria itu menuju pintu balkon yang terbuka lebar. Disana Adam melihat Disya yang sedang terlelap dikursi santai.
"Kenapa kamu begitu keras kepala." Ucap Adam yang sudah berjongkok didepan Disya yang tidur terlentang.
Wajah cantik, hidung mancung dan bulu mata yang lentik, Adam mengakui kecantikan Disya yang natural.
.
.
NEXT...