
Weekend Arfin selalu datang untuk memantau perkembangan resort dan juga beberapa aset hotel yang dikelola papanya. Walaupun dirinya belum begitu mau memegang bisnis yang papanya geluti, tapi Arfin sebagai anak tertua harus siap kapanpun untuk memegang bisnis orang tuanya.
Maka dari itu Arfin harus mencari pengganti dirinya untuk menemani sahabatnya sekaligus bosnya dalam pekerjaan, Adam adalah sahabat sekaligus kerabat yang mengajarinya banyak pengalaman.
Mereka tubuh besar bersama dengan dididik bersama hingga saat masih sekolah keduanya sudah bergelut dengan bisnis.
Setiap weekend Arfin akan menyempatkan untuk mengurus resort yang berada diluar kota tempat tinggalnya, pria itu jarang sekali pulang kerumah saat weekend karena pekerjaan.
Sampainya di resort Arfin selalu bertemu dengan penjaga keamanan yang menurutnya semakin memuakkan.
"Selamat datang tuan." Pria itu menyapa Arfin.
Arfin kembali melajukan mobilnya memasuki perkarangan resort yang memang ramai saat weekend.
Arfin keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam resort menuju ruanganya. Siang nanti dirinya ada pertemuan dengan investor yang akan bekerja sama dengan resortnya.
Pekerjaannya tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini dirinya kerjakan dan Arfin tidak terlalu kesulitan untuk menguasai pekerjaan nya.
"Minumannya pak." Seorang karyawan membawakan minuman untuk bosnya yang datang.
"Hm, Arfin hanya berdehem sambil mengecek laporkan mingguan yang sudah ada di mejanya.
Sebelum dirinya yang memegang, Ando papanya memberikan kepercayaan kepada salah satu keryawan yang dipercaya. Dan orang itu yang akan membantunya untuk mengelola semua bisnis di resort.
"Selamat pagi tuan." pria yang sudah berusia 35tahun itu masuk keruangan Arfin.
"Pak Andi apa kabar." Arfin menyapa orang kepercayaan papanya.
"Baik tuan, semua baik." Beliau duduk didepan meja kerja Arfin.
"Bagaimana perkembangan resort pak, sepertinya saya akan sering datang kesini beberapa hari dalam seminggu, karena telinga saya terasa panas jika harus mendengar ocehan papa." Tuturnya pada pria bernama Andi yang dekat dengannya.
Pak Andi hanya terkekeh. "Tuan Ando sudah lelah dan ingin anaknya mulai membatunya, tapi jika beliau mendengar kabar ini pasti akan senang." Ucapan Andi membuat Arfin mendengus kesal.
"Satu lagi, apa pria penjaga didepan tidak bisa diganti?" Tanya Arfin.
Pak Andi mengerutkan alisnya. "maksud Anda pak Herman?"
"Entahlah siapa namanya."
"Beliau orang yang di segani di daerah sini, dan beliau cukup membantu dalam masalah warga yang mau berbuat macam-macam di resort, memangnya kenapa tuan, apa beliau membuat masalah?" Tanya pak Andi.
Arfin hanya menggeleng. "Tidak, kalau begitu saya keluar, ada investor yang tertarik untuk memajukan resort kita." Arfin memilih pergi karena memang ada janji di sebuah kafe yang tidak jauh dari resortnya.
"Baiklah, hati-hati tuan."
Sampainya di kafe dan bertemu dengan investor yang Arfin maksud, mereka cukup lama membicarakan bisnis tentang usaha yang Arfin geluti sekarang.
Hingga satu jam lebih keduanya berdiskusi, sampai selesai. Arfin yang ingin beranjak pergi, tiba-tiba tidak jadi lantaran kedatangan pria yang membuatnya jengah.
"Ada apa lagi?" Tanya Arfin to the poin.
Arfin sedang duduk dengan punggung yang bersandar di kursi. pria itu menatap pria paruh baya yang lagi-lagi datang padanya setelah dua kali di resort milik keluarganya.
Kini pria paruh baya itu kembali berani menemuinya hanya untuk kembali meminjam uang, apalagi. Karena sebelumnya hal itu yang membuat pria itu berani datang padanya.
"Tolong tuan muda, saya benar-benar tidak ada cara lain lagi." Ucap pria paruh baya yang menunduk itu.
Tanpa bertanya Arfin sudah tahu apa yang pria itu maksud.
"Apa anda pikir saya ini memiliki pohon uang, pertama saya menolong anda karena kasihan, kedua karena anak anda sedang sakit keras, dan sekarang apalagi alasan anda?" Arfin menatap jengah pria paruh baya itu.
"Tapi kali ini saya benar-benar membutuhkannya tuan, kalau tidak saya akan berakhir hari ini." Mohon nya lagi dengan wajah memelas.
"Saya punya seorang putri, dan saya-"
"Jadi anda ingin menukar putri Anda dengan uang?" Tanya Arfin lebih dulu.
Dengan cepat pria itu mengangguk. "Hanya dia yang saya punya, selain anak saya yang sedang sakit." Ucapnya lagi.
Arfin terkekeh geli. "Apa anda pikir saya seperti seorang pria nakal yang mau memberikan uang dan ditukar dengan seorang wanita." Ucap Arfin sambil menghidupkan korek untuk membakar tembakau yang ada di tangannya.
"Saya mohon tuan, berikan saya uang dan saya akan menjadikan anak saya sebagai jaminan hutang saya."
Hah yang benar saja..
.
.
Waktu begitu cepat berlalu semau berubah seiring waktu. Kehidupan tak lagi sama seperti sebelumnya.
Adam masih dengan kesibukannya di bantu dengan asisten barunya, dan Arfin yang sudah mendidik bagaimana asisten baru itu harus bekerja dan menjadi partner yang solid. Bukan sembarang orang yang Arfin pilih untuk mengantikan posisinya, karena posisi asisten pribadi sangatlah memiliki peran penting dalam tanggung jawab dan menjaga rahasia perusahaan dengan menanamkan kejujuran dan kepercayaan.
"Leo keruangan saya." Adam memanggil asisten barunya yang sudah satu bulan bekerja.
"Saya tuan." Leo sudah berdiri di depan Adam.
"Jadwal saya hari ini apa lagi?" tanya Adam tanpa menatap wajah asistennya.
"Setelah makan siang ada pertemuan dengan wakil perusahaan industri, dan setelah itu hanya tidak ada lagi." Jawab Leo sambil melihat agenda Adam.
"Baiklah, kamu boleh siapkan berkasnya sepuluh menit lagi kita berangkat."
Leo hanya mengaguk patuh, mekipun irit bicara tapi pekerjaan Leo cukup cekatan dan bisa diandalkan.
"Kenapa tidak bisa dihubungi." Adam yang melakukan penggilan telepon untuk istrinya tapi tidak bisa tersambung, padahal dirinya hanya ingin melihat wajah Disya yang selalu membuatnya kembali bersemangat untuk kembali beraktifitas.
"Ck, kebiasaan." Adam yang kesal memilih untuk langsung pergi.
Sedangkan Disya dirumah ibunya Diana sedang membantu membuat kue. Kue yang Disya sendiri membuatnya.
"Apa begini sudah bagus Mah?" Tanya Disya yang selesai mendekor kue buatannya.
Tidak menyangka jika putri kecilnya yang dulu begitu manja kini sudah menjadi putri yang tubuh dewasa dan akan menjadi seorang ibu.
"Nah selesai." Disya tersenyum puas melihat hasil kue yang dia hias dengan sepenuh hati.
Bibirnya mengembangkan senyum, ini kali pertama dirinya membuatkan kue untuk sang suami.
"Cantik kayak yang buat." Diana memuji hasil karya putrinya.
"Ish Mama, bikin aku berbunga-bunga." Disya tertawa.
Diana juga menyiapkan makan malam untuk kekurga, Adam. Malam ini mereka akan merayakan ulang tahun Adam di kediaman Frans.
"Jagan lupa kamu kabari Mama dan papa kamu." Ucap Diana yang dimaksud Ayana dan Nathan.
"Iya mah, aku pinjam ponsel Mama ya." Disya langsung menghubungi ibu mertuanya, memberikan kabar jika dirinya membuatkan pesta kecil-kecilan untuk sang suami.
Sedangkan Adam sejak tadi mulai gelisah saat nomor sang Istri tidak bisa dihubungi, apalagi orang rumah juga tidak tahu dimana Istrinya sekarang.
"Ada apa tuan." Tanya Leo yang melihat bosnya gelisah.
"Tidak apa." Adam kembali fokus pada rencana awal dengan klien nya, cukup lama mereka berdiskusi hingga memakan waktu yang tidak sebentar.
Kesepakan terjadi setelah melakukan perundingan yang lama, Adam pun pamit pergi tanpa menunggu lama.
"Leo antarkan saya pulang." Titah Adam setelah masuk kedalam mobil.
"Baik tuan." Leo pun mengendarai mobilnya menuju ke kediaman Adhitama.
"Tolong berhenti di toko bunga itu." Pinta Adam pada Leo sopirnya.
Leo pun menghentikan mobilnya depan toko bunga pinggir jalan.
"Tolong berikan saya bunga mawar putih." Ucap Adam pada penjaga toko.
"Tunggu sebentar tuan." Pelayan toko itu pun membuatkan pesanan Adam.
Adam menatap layar ponselnya, pesan yang dia kirim belum juga terkirim pada Disya, mekipun hatinya gelisah tapi entah mengapa dirinya ingin membeli bunga untuk sang Istri.
"Ini tuan." Pelayan itupun memberikan bunga pesanan Adam.
"Terima kasih." Ucap Adam setelah menerima dan membayar buket yang dia pesan.
Adam melangkahkan kakinya keluar dengan senyum mengambang. Melihat bunga yang ada ditanganya.
Leo menatap atasanya dari kaca spion dalam, terlihat senyum Adam yang belum pernah Leo lihat. Hanya saja dirinya tahu sedikit tentang bagaimana atasanya itu.
Ting
Pesan masuk di ponsel Adam, pria itu melihat pesan dari sang istri.
"Aku menunggu mu di rumah Mama, love you.."
Adam tersenyum melihat pesan yang istrinya kirim. "Putra balik Leo, kerumah papa Frans."
Leo hanya bisa menurut tanpa membantah perintah atasannya.
Lima belas menit kemudian mobil yang dikendarai Leo sampai di perkarangan rumah Frans Handoko, rumah kediaman orang tua Disya.
Adam keluar dari dalam mobil dan langsung masuk kedalam rumah setelah pelayan rumah membukakan pintu.
"Dimana istri saya bik?" tanya Adam sambil melangkah masuk.
"Di belakang den."
Adam hanya mengangguk dan langsung menuju taman belakang.
"Happy birthday..." Suara riuh tepuk tangan menyambut kedatangan Adam.
Adam menatap kelurganya yang berkumpul menjadi satu, bibirnya menyunggingkan senyum, saat melihat wanita yang selalu membuat jantungnya berdebar.
"Happy birthday papa.." Ucap Disya yang sudah berdiri didepan suaminya dengan kue yang tertancap lilin 29.
Adam terseyum melihat kue yang istrinya bawa, kue yang menurutnya memiliki hiasan unik.
"Kenapa? ayo ucapkan doa." Ucap Disya yang melihat suaminya hanya diam.
Adam menurut pria itu memejamkan mata dan mengucapkan doa dalam hati.
"Tuhan, terima kasih engkau telah memberiku kesempatan sampai saat ini untuk bersama keluargaku, terima kasih engkau telah mengirimkan wanita yang begitu hamba cint hanya satu yang aku inginkan berikan aku kesempatan untuk hidup lebih lama bersama keluargaku, dan jangan kau ambil istriku lebih dulu dariku. Karena aku sangat mencintainya."
Adam membuka matanya, dan meniup lilin dengan angka 29.
"Yeeeyyy...."
Semua bersorak dan tepuk tangan, "Terima kasih sayang." Adam memeluk dan mencium kening Disya.
"Sama-sama, aku mencintaimu." Ucap Disya dengan tatapan penuh cinta.
Adam tersenyum mengembang. "Aku juga sangat mencintaimu, dan anak kita." Adam memberikan buket bunga yang dia bawa.
"Terima kasih." Disya begitu senang.
Adam mendapatkan ucapan selamat dari semua kelurganya, suasana senang bercampur haru saat sambungan Vidio call dari saudari kembarnya yang juga merayakan di negara lain. Mereka semua tampak begitu bahagia, Adam tidak melepaskan tangannya memeluk istrinya dari belakang.
"I love you." Bisik Adam disamping telinga Disya.
"Love you more papa." Tangan Disya mengusap pipi Adam dari samping, kebahagiaan mereka tidak bisa diukur oleh apapun, kebersamaan adalah hal yang begitu membahagiakan.