ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Tidak menyukai panggilan



Suara bel berbunyi, Disya beranjak dari duduknya dan membuka pintu hotel.


Ternyata seorang pelayan hotel yang membawakan makan malam untuk mereka. Dua orang masuk mendorong troli setelah Disya mempersilahkan.


"Ya ampun kenapa makanannya banyak seperti ini." Ucapnya yang melihat banyak makanan di atas meja troli itu.


Disya berkacak pinggang hingga dirinya tidak sadar jika Adam sudah keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa hanya berkacak pinggang, katanya lapar." Ucap Adam yang berjalan melewati Disya dan dduki di sofa langsung menghadap makanan dan Disya yang berdiri.


saya memalingkan wajah saat tiba-tiba Adam duduk di sofa di depannya, wanita itu reflek membuang wajahnya karena melihat penampilan Adam yang hanya menggunakan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Meskipun sudah pernah melihat tapi rasanya saat dirinya benar-benar sadar menjadi malu.


"Apa kamu tidak bisa pakaian lebih dulu." Ketus Disya yang masih memalingkan wajah.


Adam yang baru saja meminum jus melirik Disya dengan kening berkerut.


"Apa aku belum pernah bertelanjang di depanmu?" Tanya Adam balik, seketika membuat Disya kesal.


"Apa maksudmu, kita ini sedang mau makan, bukan mau bercinta." Ucap Disya yang menatap Adam tajam.


Adam tersenyum simpul, pria itu dengan santai mengambil makanan untuk dia makan.


"Jika kamu menginginkannya aku sih tidak keberatan." Suara Adam terdengar santai, tapi semakin membuat Disya geram. "Sudah duduk disini jika ingin makan, aku tau kalau kau itu kelaparan." Lanjutnya sambil melirik samping kanannya agar Disya duduk di sana.


Disya yang memang sudah lapar tidak punya pilihan lain, wanita itu memilih duduk disamping Adam mekipun dirinya merasa risih melihat tubuh Adam bagian atas.


Disya masih mengingat bagaimana rasanya dada bidang dan tubuh atletis itu mengungkungnya diatas, dan Disya masih mengingat rasanya bercinta di rooftof kafe menjelang siang hari.


Buru-buru Disya menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotor itu, lama-lama dirinya bisa gila.


Adam melirik Disya yang sepertinya tengah berpikir, hingga Adam melihat gelengan kepala Disya yang membuatnya merasa aneh.


"Tidak udah di bayangkan jika kamu saja bisa melakukanya lagi."


Bugh


"Bisa diam tidak, otakmu itu hanya ada kemesuman." Ucap Disya yang memukul lengan Adam.


Adam terkekeh. "Kamu bisa melakukan untuk mengabiskan makanan ini semua, apanya yang mesum." Ucap Adam dengan wajah datar. "Tapi kalau pikiran kamu seperti itu, sepertinya akan terkabul, setelah kamu selesai makan ini, maka giliran aku yang akan memakanmu."


"Adam..!! kau itu pria mesum gila yang menyebalkan..!!"


Bugh


Bugh


Bugh


Disya memukuli Adam yang sudah membuatnya malu dan bercampur kesal, Disya melupakan kekesalannya dengan memukuli Adam yang tidak seberapa tenaganya bagi Adam.


"Kau pria menyebalkan, kau pria pemaksa yang aku benci."


"Cinta Sya, bukan benci." Sanggah Adam yang masih mengahalau pukulan Disya di tubuhnya.


"Cih, sampai kapan pun aku tidak akan cinta dengan pria pemaksa seperti kamu, ingat aku tidak akan cinta dengan kamu Adam mesum, rasakan ini."


Bugh


Arrghh


Adam mengerang kesakitan saat tangan Disya tanpa sengaja ingin memukul perut Adam, malah mengenai senjata Adam di bawah sana.


Melihat Adam yang kesakitan dengan wajah memerah, membuat Disya terdiam dengan wajah panik dan merasa bersalah.


"Masa depan apa? aku tidak sengaja." Cicit Disya merasa bersalah dan juga takut jika Adam kenapa-kenapa.


"Sakit Sya, kau harus bertanggung jawab." Ucap Adam menatap Disya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Disya yang melihat tatapan Adam menjadi takut, wanita itu takut jika dirinya benar-benar di makan singa ganas didepanya ini.


"Aku mau mandi." Disya beranjak dari duduknya dan ingin pergi, tapi belum sempat pergi tangannya sudah ditarik Adam membuatnya jatuh di atas pangkuan pria itu.


"Lepas, aku mau mandi." ucap Disya yang berontak diatas pangkuan Adam.


Adam tidak menggubris ucapan Disya, pria itu memeluk erat pinggang Disya yang duduk di pangkuannya. Tatapan Adam begitu intens membuat Disya yang ditatap menjadi diam.


"K-kenapa menatapku seperti itu." Ucapanya dengan terbata.


Adam menatap lekat kedua bola mata coklat Disya, bola mata yang dia sukai sejak menatap mata Disya pertama kali.


"Entah takdir apa yang membuat kita menjadi seperti ini, tapi aku hanya ingin menjalani kehidupan pernikahan satu kali." Adam menatap wajah Disya begitu intens saat mengatakannya, Disya yang mendengar ucapan Adam terpaku. "Meksipun pertemuan kita hanya karena melakukan kesalahan, tapi aku berharap pernikahan kita bukan suatu kesalahan, aku ingin kita memulainya dari awal, mungkin dari untuk belajar terbuka satu sama lain." Lanjutnya lagi.


Disya terpaku melihat tatapan mata Adam yang begitu tajam, entah mengapa Disya menyukai bola mata dingin dan selalu menatap datar dirinya itu.


"Diantara kita tidak ada cinta, bahkan kita dua orang asing yang dipertemukan dalam kesalahan semalam jadi_"


"Tidak ada yang tidak mungkin terjadi jika Tuhan sudah menghendaki, aku percaya jika Tuhan memiliki rencana dibalik kejadian satu malam itu." Ucap Adam membuat jantung Disya berdebar kencang.


Tidak menyangka jika Adam akan bicara seperti ini padanya, bahkan setelah pria itu merasakan sakit karena dirinya.


"Dan aku harap kamu juga berpikir sepertiku, menikah hanya cukup sekali."


"Kamu pikir aku wanita apa." Ketus Disya.


"Sudah aku katakan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, apalagi aku tahu kalau kamu mencintai Dinosaurus itu." Kesal Adam mengingat Dino matan Disya.


"Namanya Mas Dino, bukan Dinosaurus." Kesal Disya, karena Adam mengganti nama orang seenaknya.


"Apa? katakan sekali lagi." Ucap Adam yang semakin kesal, mendengar panggilan Disya.


"Ya namanya Mas Dino, kamu seenaknya saja_ Emph."


Belum sempat menyelesaikan ucapannya bibir Disya sudah di bungkam dengan ciuman Adam yang kasar.


"Katakan sekali lagi?" Adam Menatap Disya tajam.


Dada Disya naik turun, karena ciuman kasar Adam, Wanita itu hampir kehabisan napas.


"Aku tidak suka kau memanggilnya seperti itu." Adam menggeser tubuhnya Disya untuk berdiri. Dan pria itu ikut berdiri pergi dari sofa.


Disya melihat punggung Adam yang menuju lemari besar yang ada di sisi ranjang. Perasaan pria itu tadi tidak membawa koper, tapi kenapa banyak pakaian di lemari itu.


Tapi bukan itu yang membuat Disya menatap Adam dengan tatapan bingung.


"Kenapa dia tiba-tiba marah, memangnya aku salah panggil Mas Dino, dengan sebutan Mas, aneh." Ucapnya tanpa memikirkan Adam yang terserang penyakit cemburu.


Disya pun segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. dirinya tidak peduli dengan Adam yang sepertinya marah dengannya, karena memang Disya tidak salah menyebut panggilan untuk Dino, tapi bagi Adam panggilan Disya untuk Dino adalah panggilan yang spesial.


.


.


Jangan lupa kembang kopi Bestie πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹