ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Kejujuran Adam



Adam duduk di sofa single, bersama kedua pria paruh baya yang baru saja mendapatkan kejutan.


Kejutan dengan apa yang mereka dengar jika Disya sedang hamil anak Adam. Bahkan mereka tahu dari dokter yang baru saja memeriksa Disya, dan tanpa sengaja dokter itu memberi tahu jika cucu mereka baik-baik saja.


Dan hal itu tentu mengejutkan untuk kedua pasangan paruh baya itu. Hingga kini Adam seperti terdakwa yang melakukan kejahatan.


"Sebelumya saya minta maaf Om." Ucap Adam menatap Frans tanpa rasa takut. Meskipun tahu jika wajah Frans sudah menahan amarah tapi Adam tetap akan melanjutkan niatnya.


"Maafkan saya jika sudah membuat Disya hamil sebelum-"


Plak


"Ayah..!" Disya yang sejak tadi hanya memeperhatikan mereka dari atas ranjang pasien bereaksi ketika Adam mendapat pukulan dari ayahnya.


"Apa kau tidak berpikir sebelum melakukannya, hah!" Frans menatap Adam penuh kemarahan. Sebagai seorang ayah yang menjaga Disya dari kecil, Frans cukup kecewa dengan apa yang Adam lakukan pada putrinya. "Apa kau tidak memikirkan saya sebagai orang tua yang menjaganya dari kecil." Ucap Frans dengan suara parau.


Adam hanya diam dengan tatapan yang masih sama, tidak ada rasa takut yang Adam tunjukan.


Sedangkan Disya sudah menangis karena melihat kemarahan ayahnya, dan dua kali Disya membuat ayahnya kecewa. Galuh merangkul tubuh Disya yang sedang menangis, meskipun kecewa tapi Galuh tidak tega melihat keadaan Disya sekarang.


"Frans, tenangkan dirimu. Kita tahu apa yang dilakukan Adam salah, tapi mereka sudah besar dan tidak bisa memantau mereka selama 24 jam." Ucap Nathan yang mencoba untuk menenangkan Frans.


"Kau tentu saja membela anak brengsekk itu." Ucap Frans dengan kesal.


"Ck." Nathan berdecak. "Aku tidak membela Adam, hanya saja kita tidak sepantasnya menghakimi mereka, toh mereka juga pernah melakukannya dan mungkin saat itu mereka merasakan enak hingga keduanya kembali terlena untuk melakukanya lagi, bukankah begitu Adam." Nathan bergantian menatap Adam yang membulatkan kedua matanya, mendengar ucapan papanya.


Sedangkan Frans ingin sekali memukul kepala Nathan jika saja Nathan bukan atasan di kantor.


"Hubby, apa yang kau katakan." Ayana menggeleng tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan, sedangkan Disya antara sedih dan malu, wanita itu bersembunyi di balik pelukan sang ibu.


"Gila kau itu Nat." Ucap Frans yang kesal dengan ucapan Nathan.


Adam sudah menunduk malu mendengar apa yang papanya katakan.


"Loh, memang begitu, buktinya mau saja masih suka minta jatah sama istrimu."


"Hubby..!"


"Nathan..!"


Mereka malah saling berseteru, gara-gara jatah. Adam yang menjadi tersangka malah bingung menghadapi kedua orang tua yang tidak mau mengalah.


Dirinya memilih melipir untuk menghampiri Disya yang sendiri, karena para istri menghampiri para suami yang masih saling mengejek.


"Sakit?" Tanya Disya sambil menyentuh pipi Adam.


Adam menggeleng. "Tidak, hanya saja-" Adam menjeda ucapanya saat mengingat sesuatu untuk menjahili Disya.


"Hanya saja apa?" Tanya Disya yang penasaran.


"Hanya saja kepala bagian bawah yang sakit, udah mau satu minggu belum dapat jat- Auwss... sayang kok dicubit sih." Adam mengaduh kesakitan saat Disya mencubit, bahkan suara Adam mengalihkan kedua orang tua yang sedang berdebat.


"Sukurin, mulut kok nggak bisa dijaga kalau ngomong. Dasar mesum." Omel Disya yang kesal mendengar ucapan absure Adam.


"Ck, beneran Sya. Aku rindu memasuki mu." Adam malah menyandarkan keningnya di bahu Disya.


Mereka terlihat begitu romantis jika yang melihat sepasang orang tua mereka yang sejak tadi memperhatikan.


"Lihat sepertinya mereka memang sudah saling mencintai, pria kaku dan menyebalkan itu sudah seperti kucing yang ketemu induknya." Ucap Nathan sambil tersenyum melihat putranya yang menunjukan sifat mantanya, itu berarti Adam sudah menemukan wanita yang tepat untuknya.


Mekipun Frans juga senang mendapat menantu seperti Adam, tapi tetap saja cara Adam mendapatkan Disya tetap salah. Frans hanya meluapkan rasa kecewa dan marahnya seperti seorang ayah pada umumnya, Frans memang sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Mungkin takdir menyatukan mereka dengan cara seperti ini, apalagi melihat Disya dan Adam yang ternyata sudah begitu dekat, padahal yang Frans tahu, Disya masih memiliki hubungan dengan Dino.


Mereka tidak bisa menghindar dari takdir, dan semua sudah pada jalannya masing-masing, termasuk Disya dan Adam yang dipertemukan di London dengan satu kesalahan. Kesalahan yang membawa mereka akan dalam sebuah ikatan.


.


.


Arfin kembali pulang malam, pria itu mendatangai club yang tempo lalu dia datangi, Arfin memang bukan seperti Ando yang suka celap-celup seperti teh sosro, tapi karena sesuatu mengusik pikiranya membuat pria itu ingin kembali menemui seseorang.


Arfin masuk kedalam club dengan kaki jenjangnya, mata pria itu mengedar segala penjuru, dan saat arah matanya menemukan seseorang yang ingin dia temuin, Arfin segera menghampiri pria itu.


"Alex." Arfin memanggil pria yang bernama Alex yang sedang bermanja-manjaan dengan dua orang wanita seksi.


Pria yang bernama Alex itu menoleh kebelakang, dan melihat pria yang juga dia kenal.


"Arfiano.." Alex langsung berdiri dan menyambut Arfin dengan pelukan teman.


"Gue butuh bantuan lu." Ucap Arfin tho the poin pada Alex, pemilik club yang dia datangi.


"Suatu kehormatan, seorang Arfin butuh bantuan." Ucap Alex sambil tertawa.


Mereka berteman saat di bangku kuliah, tapi mereka memiliki hobi yang berbeda, dan Alex menyukai hobi yang menggeluti dunia malam.


"Ck, gue serius Lex." Ucap Arfin menatap Alex serius.


"Oke, ikut keruangan gue." Alex mengajak Arfin ke lantai dua, dimana Alex memiliki ruangan pribadi.


"Apa yang bisa gue bantu man." Alex memberikan segelas wine untuk Arfin, kedua pria itu duduk disofa.


"Ingat waktu gue kesini tempo hari?" tanya Arfin pada Alex.


Alex mengingat-ingat ucapan Arfin. "Kanaya?" Satu kata dari Alex mampu membuat Arfin terdiam.


"Kanaya, wanita yang saat itu baru datang dan meminta pekerjaan." Tutur Alex membuat Arfin serius mendengarnya. "Dia butuh uang, dan saat itu dia ingin menjual keperawanannya."


Deg


Arfin tertegun, bagaimana bisa seorang wanita menjual keperawanannya.


"Tapi kenapa?" tanya Arfin tidak habis pikir.


"Adiknya sedang berada dirumah sakit, dan saat itu sedang berada diruang operasi." Jelas Alex pada Arfin.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Arfin penasaran.


"Sudah tidak ada disini, karena dia sudah mendapatkan uang dari mu."


Arfin mengusap wajahnya kasar. Jadi karena itu wanita yang menemaninya masih memiliki kesucian. Arfin hanya ingin memastikan apa yang sudah dia lakukan, jika seperti ini Arfin sudah tidak penasaran.


.


.


Heh Arfin Lu nagapain 🤒