
"Silahkan Nona, kami akan melayani anda. Jika butuh sesuatu anda bisa menghubungi kami." Pelayan itu pamit undur diri.
Disya menghela napas, dirinya membuka pintu rooftof, dan Disya bisa melihat pemandangan langit biru yang sepertinya dekat dengannya. Hembusan angin membuat Disya terseyum merasakan sapuan diwajahnya.
Melihat sekeliling Disya tidak melihat siapa-siapa. Dirinya berjalan menuju pinggir pembatas rooftof. Melihat kebawah, terlihat begitu kecil. Dari sini dirinya bisa melihat pemandangan yang indah, sejenak dirinya bisa melupakan apa yang baru saja terjadi dengan dirinya.
Tangannya mencekram pembatas besi di pagar, Disya rasanya ingin berteriak meluapkan kekesalannya.
"Arrghh..!!! pria menyebalkan..! pria pemaksa..!! aku benci padamu..!!!!"
Disya berteriak sekuat tenaga untuk meluapkan kemarahannya, wanita itu tidak perduli jika suaranya mengganggu orang lain, yang penting dirinya bisa melupakan kekesalannya.
"Hah..hah.." dadanya naik turun. "Pria sialan, beruntung sekali kau mendapatkan milikku.." Kesal Disya mengingat bagaimana malam panas mereka di London, itupun hanya samar-samar.
Tidak disangka dirinya bertemu pria yang sudah menghabiskan satu malam denganya, Disya pikir pria asing itu bule dan tinggal di sana, tapi takdir berkata lain, ternyata pria asing itu adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Hish rasanya aku ingin mencabik-cabik wajah menyebalkan itu." Omel Disya yang terdengar begitu kesal, tangan dan wajahnya mengekpresikan bagaimana dirinya yang kesal.
Disya tidak tahu jika dibelakangnya, sejak tadi ada yang mendengarkan dirinya berteriak bahkan melihat bagaimana Disya menunjukan mimik wajahnya yang kesal.
Grep
Disya terkejut merasakan tubuhnya terkunci dari belakang.
"Hah lepas..! siapa kau..!" Disya ingin membalikkan tubuhnya tapi tidak bisa tubuh pria itu begitu menempel padanya, hingga aroma parfum maskulin mahal menyeruak kedalam indera penciumannya.
"Sepertinya kita jodoh."
Deg
Disya mematung, suara berat yang terdengar menyebalkan itu kembali menyapanya.
"Kau, ish lepas!!" Lagi-lagi Disya berontak.
"Untuk apa aku lepas, jika kau saja yang datang sendiri kepadaku." Ucap Adam disamping telinga Disya.
Ya orang yang sedang berada di rooftof itu adalah Adam, niatnya ingin kembali ke kantor dia urungkan lantaran ingin menikmati suasana sinar pagi ditempat yang menurutnya nyaman. Tidak tahu kebetulan atau takdir yang membuat mereka berada di satu tempat, tapi yang jelas Adam begitu senang, sedangkan Disya begitu muak dan kesal.
"Kalau begitu aku yang pergi." Ucap Disya masih mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Adam.
Kesal karena Disya tidak bisa diam, Adam pun memilih memeluk Disya dari belakang, menghirup aroma wangi yang menguar dari rambut dan juga tubuh Disya, seolah menjadi candu baginya.
"Kau tahu, aku tidak pernah menyangka jika wanita yang aku dapatkan mahkotanya itu adalah kau." Adam bicara dengan tangan tetap mendekap tubuh Disya dari belakang, hingga Disya yang tadinya terus berontak kini hanya diam karena lelah dan tidak ada hasil.
"Jujur saja aku tidak pernah melakukan Ons pada siapapun, dan malam itu adalah malam pertama bagiku." Tutur Adam dengan tetap memeluk Disya, bahkan dagu Adam bersandar di bahu Disya.
Sesungguhnya mereka berdua sedang menikmati, sinar matahari pagi berdua, posisi Adam yang memeluk Disya dari belakang terlihat begitu romantis.
Disya tertegun mendengar ucapan Adam yang terdengar tidak mungkin.
"Aku pun tidak menyangka jika wanita yang aku tiduri juga masih perawan, saat itu aku bertemu dengan klien di London, dan tanpa rasa curiga aku meminum apa yang dia beri yang ternyata minuman itu diberi obat perangsang." Adam menceritakan apa yang dia alami malam itu, dia tidak ingin Disya memandangnya sebagai pria jahat.
"Lalu saat aku mencoba meredakan diriku sendiri, tiba-tiba kamu datang dan terlentang di atas ranjang milikku dengan pakaian yang_"
"Stop, jangan diteruskan." Potong Disya lebih dulu. dirinya malu mengingat malam itu yang mabuk.
Adam terseyum dibalik tubuh Disya. "Aku pikir setelah kejadian itu kamu hamil, tapi ternyata tidak?" Ucap Adam lagi.
"Heh, aku tidak akan membiarkan benih anda tubuh tuan." Balas Disya sinis.
"Kenapa?" Tanya Adam dengan suara dingin.
Disya mengernyit. "Kenapa? kenapa apanya?" Tanya Disya yang tidak mengerti ucapan Adam.
"Kenapa kamu tidak mau mengandung benihku?" Ucap Adam memaksa.
Disya tertawa geli mendengar pertanyaan Adam, sedangkan Adam seperti mendengar tawa Disya yang meremehkan.
"Yang benar saja, hanya sekali tanam langsung tubuh, dan bersyukurnya lagi saat itu aku tidak dalam masa subur, jadi tidak mungkin aku akan hamil." Disya masih tertawa, mengingat bagaimana Adam membawanya kerumah sakit hanya untuk memastikan dirinya hamil atau tidak, padahal kan Adam bisa bertanya pada dirinya saja.
"Lalu apa sekarang kau berada di masa subur?" Tanya Adam dengan maksud tertentu.
"Em, sepertinya iya, karena aku baru saja habis_ eh kenapa kau bertanya seperti itu." Ketus Disya yang sadar akan ucapanya, bisa-bisa dirinya dijebak pria menyebalkan ini.
Adam Tersenyum meryeringai. "Kalau begitu ayo kita ulangi, seperti malam itu dan pasti kau akan menjadi milikku." Adam langsung membalikkan tubuh Disya menghadapnya.
Tatapan kedua bertemu dengan manik mata yang saling bertabrakan, Adam memandang lekat wajah Disya yang cantik. Sedangkan Disya jantungnya berdebar kencang merasakan sapuan nafas Adam diwajahnya.
"Kau milikku Disya Fanesya, tidak akan aku melepaskan mu untuk siapa pun."
Adam kembali mendekatkan wajahnya, hingga bibir keduanya bertabrakan, Disya yang diam membuat Adam tidak kehilangan akal untuk membuka bibir wanitanya, dan benar saja saat Adam mengigit bibir Disya wanita itu membuka bibirnya dan membalas cumbuan Adam.
Disya menggerang dalam hati, kenapa dirinya begitu lemah dengan sentuhan Adam, akal sehatnya tindak berkerja. Logikanya ingin berontak tapi tubuhnya malah bereaksi lain.
"Emph.." Disya meleguh dengan tangan yang sudah tidak bisa dikondisikan, wanita itu terbuai oleh sentuhan Adam hingga memancing gairah dalam dirinya naik.
"Ah.." Napasnya sudah tersengal, ketika Adam melepaskan cumbuannya.
Kali ini Adam tidak akan menyerah begitu saja, Disya miliknya, apapun acaranya Adam akan mendapatkannya.
Adam membawa tubuh Disya seperti koala menuju sofa tidur yang ada di atas roof top itu.
karena sudah disewa oleh desa maka tidak ada pengunjung ataupun pelayan cafe yang akan masuk ke roof top itu.
"Ah, mau apa?" Disya dengan tatapan sayu menatap Adam ketika pria itu membaringkannya disofa.
"Tidak usah khawatir, tidak akan ada orang yang masuk." Bisik Adam dengan suara serak menahan gairah yang sudah naik.
"Tidak jangan melakukan itu." Ucap Disya yang menekan gejolak dalam dirinya untuk tetap waras, dia tidak ingin mengulang malam itu. Disya tidak ingin.
Adam menatap lekat wajah Disya yang berubah menjadi memohon, padahal tadi wanita itu sudah bergairah.
"Tolong tuan, jangan lakukan lagi." Lagi-lagi Disya memohon dengan sungguh-sungguh. Dadanya naik turun dengan jantung berdetak cepat.
"Dengan satu syarat." Ucap Adam menatap kedua mata Disya yang teduh.
Disya tidak menjawab melainkan, menatap Adam menunggu syarat apa yang Adam minta.
"Menikahlah denganku."
.
.
Hola... apakah secepat itu mereka akan menikah????
Tinggalkan jejak, LIKE...KOMEN kalian sayang πππ