
sampainya di apartemen Adam langsung masuk dan menaruh beberapa kantung kresek yang dia bawa. Sebenarnya Adam tidak bisa membawa semua makanan yang dia beli tadi, tapi saat di lobby Adam meminta bantuan untuk memberinya kresek.
"Sya.. kamu dimana!" panggil Adam saat memasuki dapur, tapi tidak melihat istrinya di sana.
"Disya, sayang..!" Adam kembali memanggil dan masuk ke dalam kamar.
Sama saja tidak ada di Disya di tempat tidur. Adam pun memilih keluar lagi dan menghubungi Disya lewat telepon, berdering dan suaranya terdengar dekat.
Adam menuju sumber suara, dan ternyata ponsel Disya ada di sofa.
"Kemana sih ni orang." Adam mulai khawatir melihat ponsel Disya yang tertinggal, dan Adam kembali masuk kedalam kamar untuk mencari Istrinya.
"Sya, kamu di dalam!" Adam mengetuk pintu kamar mandi. "Sya..!"
Ceklek
Adam melongokan kepalanya ke dalam dan di sana dia melihat Disya yang berada di balthup.
Adam menghela napas, dan melangkahkan kakinya masuk kedalam, selain itu Adam juga melepaskan pakaian yang dia kenakan.
Melihat Disya yang ternyata terlelap membuat Adam mengembangkan senyum, pria itu ikut masuk kedalam balthup perlahan agar Disya tidak terbangun.
Adam duduk diantara kedua kaki Disya. Memandang wajah terlelap Disya yang begitu damai. Tidurnya tidak terganggu meskipun Adam sudah duduk didepannya dengan kaki bersila dan kaki Disya barada di atas kakinya.
"Kenapa kamu suka sekali tidur di balthup." Adam mengusap kaki Disya bagian bawah dan memijatnya lembut.
Engh...
Disya meleguh saat merasakan sentuhan pijatan di telapak kakinya yang memang terasa pegal.
"Enak.." Ucap Adam dengan suara lembut.
Disya hanya mengagguk dengan kedua mata terpejam, wanita itu seperti bermimpi sedang berada di salon spa.
"Ahh iya disitu." Ucapnya memberi aba-aba tanpa membuka matanya.
Adam meryeringai saat tangannya memijat bagian kaki atas Disya, bahkan tangan Adam sudah naik sampai paha Disya.
"Bagaimana jika disini?" Adam mengusap lembut paha Disya naik turun, sentuhan Adam malah membuat tubuh Disya meremang.
Tapi karena dirinya merasa sedang ada di salon spa, Disya hanya diam menikmati apa yang dia rasakan.
"Emphh Iyah di situ ahh." Disya mengintrupsi sambil mendesahh, merasakan sesuatu yang membuatnya semakin ingin melakukan lebih.
"Di mana? apa kah di sini." Adam mengigit bibirnya saat jarinya menyentuh bagian inti Disya, bahkan kedua kaki Disya didalam air sudah terbuka karena merasakan sentuhan yang semakin membuatnya terjebak dalam kenikmatan.
"Ahhkk." Disya langsung membuka matanya saat miliknya tiba-tiba terasa di mainkan, dan betapa terkejutnya saat matanya menangkap sosok wajah suaminya yang tersenyum mesum didepan matanya.
"Menikmati heh." Adam terseyum menyeringai sambil menjilat bibirnya yang bawah melihat reaksi Disya yang begitu menggairahkan.
"Ahhh..." Disya menatap Adam dengan sayu, kedua tangannya mencekram erat pinggiran balthub dengan tubuh yang menggeliat terasa nikmat.
"Enghh.. lebih cepat sayang Ugh.." Disya merancau saat tusukan jari Adam semakin pelan.
"No, tidak semudah itu sayang, aku tidak akan menggunakan jariku untuk membuatmu meledak." Adam menarik kedua kaki Disya membuat Disya langsung merapat ke tubuh Adam.
"Sudah tidak mual lagi?" Tanya Adam sambil mengisap wajah Disya yang terlihat kesal.
Disya cemberut, tangannya mengalung di leher Adam. "Kamu tega." Ucap Disya sambil cemberut.
Adam terkekeh, dia tahu apa yang di maksud 'tega' sama istrinya.
"Aku hanya ingin memuaskan mu, dengan rudalku."
Bugh
Disya memukul dada Adam. "Hem kamu mau minta jatah, memangnya bawa apa?" tanya Disya yang di maksud adalah makanan.
"Apa yang kamu inginkan aku bawa semua." Kata Adam sambil mengecup dada Disya.
Disya tersenyum senang mendengarnya. "Terima kasih papa, papa Twins terbaik." Disya mengecup pipi Adam kanan dan kiri.
Adam sendiri tertawa melihat tingkah manja istrinya. "Ini belum." Adam memonyongkan bibirnya kedepan agar Disya mau menciumnya.
Cup
Disya pun mengecup bibir Adam sekilas, dan saat dirinya ingin menjauh, Adam malah menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
"Emph.." Disya meleguh saat bibirnya di ku*lum dan disesap Adam dengan rakus.
Adam mengendong Disya menuju sofa, dari jauh Disya sudah tersenyum saat melihat banyak bungkusan makanan di atas meja, wanita hamil empat bulan itu hanya menggunakan baltrobe ditubuhnya, dan Adam hanya melilitkan handuk di pinggang.
"Uhhh kamu banyak sekali beli makanannya?" Ucap Disya dengan sangat antusias membuka satu persatu bungkusan itu.
"Setiap penjual makanan yang aku lewati ku beli, bukankah itu mau mu." Adam duduk disamping Disya.
Disya melihat betapa banyaknya makanan yang Adam beli, dan rasanya dirinya ingin mencicipi semua.
Adam hanya tersenyum melihat istirnya menikamati sedikit-sedikit makanan itu, dan semua bahkan Disya cicipi.
"Habiskan jika enak." Kata Adam yang ingin beranjak untuk memakai pakaian.
"Eh, mau kemana?" Disya mencegah Adam yang berdiri.
"Pakai baju, kenapa? apa kamu ingin mengulangi di bathtub tadi." Adam menatap Disya dengan satu alis terangkat.
"Ish, yang ada di otakmu itu hanya batas sela*kang*an saja." Kesal Disya.
"Habis nagih, apalagi yang ada didalam lipatan itu, uhhh legit."
Disya membulatkan kedua matanya, ucapan Adam lama-lama bikin otaknya ngeres.
"Aku sudah mencicipi semua, dan sekarang giliran kamu yang menghabiskan." Disya menyuruh Adam untuk menghabiskan makanan yang tersedia banyak itu.
"What?"
Adam terkejut mendengar ucapan Disya yang seperti akan menyiksanya.
"Ini bukan mau ku sayang, tapi maunya anak kamu." Disya mengusap perutnya sambil menatap Adam dengan pupil matanya yang berkedip lucu, Bahkan ekspresi Disya dibuat seimut mungkin.
"Sya, jangan konyol." Adam menatap makanan banyak itu. "Jika tidak mau tidak usah meminta yang berlebihan, cukup kamu minta yang kamu makan. Jika seperti ini akan membuang makanan dan mubazir." Adam mengusap wajahnya. "Oke, aku bisa memakan 2-3 porsi, tapi sisanya akan di kemanakan." Adam tampak mulai habis kesabaran menghadapai kemauan Disya untuk kali ini.
Sedangkan Disya hanya menunduk dengan air mata yang menggenang.
"Seharusnya kamu bisa berpikir jika ini semua akan mubazir, aku tidak masalah membeli apapun dan berapa pun yang kamu inginkan, tapi jika kamu seperti ini aku bukan tong sampah Sya!"
Adam pun meninggalkan Disya yang menunduk, meksipun tahu ucapanya kasar, tapi Adam harus melakukan apa yang menurutnya berlebihan.
"Orang-orang diluar sana banyak yang tidak bisa makan, dan memang ibu hamil suka meminta yang aneh-aneh dan harus dituruti, tapi tidak dengan seperti ini Sya, kasihan banyak orang-orang yang tidak bisa makan di luar sana." Adam masih bicara tanpa melihat ke arah Disya, dirinya hanya ingin melupakan kekesalannya, hanya itu saja.
Adam selesai memakai pakaiannya, pria itu kambali mendekati Disya dan duduk disamping wanita itu, tapi Adam tidak bicara ataupun melihat Disya. Dirinya memilih untuk mengambil salah satu makanan di atas meja dan memakannya.
Adam makan dalam diam, sedangkan Disya menatap Adam penuh dengan rasa bersalah sehingga membuat dadanya begitu sesak.
Ucapan Adam memang benar, dirinya yang terlalu berlebihan dalam meminta yang akhirnya menjadi seperti ini.
Adam merasakan perutnya sudah penuh, bahkan untuk bernapas saja rasanya sesak hanya memakan dua menu saja, dan di depannya masih banyak menu yang dia beli.
"Sudah.." Disya meraih tangan Adam saat pria itu ingin mengambil kembali makanan lain, tapi Disya yang melihat Adam sudah kenyang, membuat Disya tidak tega dan membuat hatinya semakin perih.
"Aku minta maaf, aku tidak akan mengulangi meminta seperti ini lagi." Ucap Disya dengan suara terisak.
Adam menarik napas panjang dan membuangnya kasar.
"Lain kali mintalah sesuai dengan porsi mu, jangan kau tamak karena ingin semua dan kau beli. Pada akhirnya tidak di makan dan itu sama saja kita tidak bersyukur."
Disya langsung memeluk Adam, dengan wajah yang sudah sembab, sedangkan Adam membalas pelukan Disya dan mengusap kepalanya.
"Bersyukur itu harus, karena dengan bersyukur hidup kita akan berkecukupan."
Adam mengecup pucuk kepala Disya dengan sayang, dirinya meminta maaf dalam hati tentang ucapanya tadi. Karena Adam tidak ingin Disya kembali mengulangi kesalahannya.
.
.
Jangan lupa jejak kalian yang semakin pelit 😩😩
.
.
.
JANGAN LUPA MAMPIR, MAK OTOR BAWA CERITA BAGUS DARI AUTHOR LIANA EL🤗🤗🤗 G