
"Sayang, kamu tidak bilang kalau mau kesini." Saat membuka pintu Adam langsung mendekati Disya yang duduk disofa dengan tubuh bersandar di sofa dan kedua tangan yang bersedakep.
"Kamu merindukanku?" Tanya Adam saat sudah ikut duduk di samping Disya dan mencium kening wanitanya.
"Ck, kau itu sekarang jadi pintar menggombal." Kesal Disya yang membenarkan posisi duduknya.
Disya meraih amplop coklat yang dia tadi ambil dari atas meja kerja Adam.
"Jadi benar dia mengundurkan diri?" Tanya Disya sambil mengulurkan amplop itu.
"Jadi kamu kesini hanya untuk bertanya soal ini." Adam mengambil amplop yang Disya sodorkan dan kembali menaruhnya di meja. "Aku pikir ada apa." Adam ingin beranjak dari duduknya, tapi Disya mencegah dengan menarik lengan Adam.
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara." Dengan terpaksa Adam kembali duduk lagi.
Wajah Adam terlihat malas jika Disya membahas pria lain.
"Jadi apa itu berarti kamu tidak menjadi melaporkan Dino ke polisi?" Tanya Disya sambil menatap Adam serius. Tangannya masih menyentuh lengan Adam.
"Sepetinya dia masih sangat penting untuk kamu." Sinis Adam dengan wajah datar.
Disya menghela napas, melihat ekpresi Adam dirinya tahu jika suaminya itu kesal dan mungkin cemburu, tapi bukan itu maksud tujuan Disya, dirinya hanya ingin semua baik-baik saja.
"Jangan pasang wajah seperti itu, aku tidak ingin anakku memiliki sifat menyebalkan mu itu." Ucap Disya.
Adam membulatkan kedua matanya, "Heh, dua juga anak ku sudah pasti memiliki sifat sepertiku." Jawab Adam dengan kesal.
Disya ingin tertawa, tapi dia tahan. "Kamu itu posesif, pencemburu dan gampang marah. Aku tidak mau anak ku menuruni sifat seperti kamu itu."
Adam yang kesal memilih berdiri, dan kembali duduk di kursinya.
Disya berdiri dan mengikuti Adam, wanita itu langsung duduk, setelah Adam duduk.
"Sya." Adam terkejut dan langsung menyentuh pinggang Disya.
Sedangkan Disya langsung mengalungkan tangannya dileher Adam.
"Tuan pemarah, aku tidak bermaksud untuk membuatmu kesal. Aku hanya ingin memastikan jika di antara kalian tidak ada masalah lagi, aku tidak ingin ada dendam di antara kalian."
Adam menatap wajah Disya seksama, begitu juga dengan Disya yang menatap Adam.
"Kamu suamiku, dan apapun yang terjadi aku akan selalu ada di samping mu." Disya mengusap wajah Adam lembut, bahkan Disya memajukan wajahnya untuk bisa menyentuh bibir Adam.
Mendapat ciuman lebih dulu dari Disya, tentu saja Adam begitu senang, ini pertama kali Disya yang lebih dulu memulai.
Keduanya saling merasakan betapa manis rasa yang selalu membuat keduanya candu, rasa bibir yang saling menyatu dengan penuh perasaan.
Tidak ada yang diharapkan kecuali ketenangan hidup, dan semua itu di mulai dari diri kita yang melakukanya, jika kita berlapang dada dan selalu bisa memaafkan, maka ketenangan yang akan kita dapatkan.
.
.
Beberapa bulan kemudian...
Adam membukakan pintu mobil untuk Disya, hari ini saatnya jadwal Disya periksa kandungan, tidak terasa kehamilan Disya sudah akan memasuki bulan ke empat.
"Hati-hati sayang." Adam mengulurkan tangannya untuk Disya pegang, keposesifpan Adam tidak pernah berkurang apalagi perhatian Adam yang semakin bertambah saja saat usian kandungan Disya semakin besar.
Disya yang sedang mengandung tentu saja merasa bahagia diperlakukan seperti ratu oleh suaminya. Siapa yang tahu jika di balik wajah datar dan kaku Adam terdapat sisi kelembutan yang hanya dirasakan oleh orang terdekatnya saja. Dan beruntungnya Disya adalah wanita pertama yang diperlakukan spesial oleh Adam, selain ibu dan saudari kembarnya.
Adam menggandeng tangan Disya untuk menuju ruangan periksa dokter yang menangani masa kehamilan Disya. Dan keduanya lebih dulu duduk diruangan tunggu karena masih harus menunggu pasien sebelumnya.
"Kira-kira mereka cewek apa cowok ya?" Ucap Disya sambil mengelus perutnya yang sudah semakin besar.
"Cewek cowok sama saja, yang penting kalian semua sehat." Jawab Adam sambil mengusap perut Disya.
"Hm, ngak nyangka aku hamil anak kembar." Senyum Disya begitu bahagia.
"Bibit unggul di cetak saat dirooftop."
Bugh
Keduanya terkekeh pelan, karena sadar berada di tempat umum. Setelah memasuki kehamilan dua bulan Disya dinyatakan hamil anak kembar, karena saat pemeriksaan pertama belum terlihat jelas jika ada dua kantung rahim yang terisi. Tapi saat bulan kedua periksa keduanya begitu terkejut dan terharu saat dokter mengatakan ada dua kantung janin yang hidup di rahim Disya.
"Nyonya Malik Adhitama!" Suara suster memanggil nama Disya yang memang menggunakan nama sang suami, Adam sendiri yang mendaftarkan pemeriksaan untuk Disya.
Keduanya berdiri dan menuju ruangan dokter yang sudah menunggu pasiennya.
"Selamat pagi, tuan dan nyonya Adhitama." Dokter wanita yang menangani Disya saat pertama kali masuk kerumah sakit, karena mengalami dehidrasi.
"Pagi Dok." Disya dan Adam membalas sapaan dokter.
"Baiklah kita langsung periksa saja ya tuan dan nyonya, pasti kalian tidak sabar ingin melihat perkembangan si kecil lagi."
Disya dan Adam tersenyum dan mengangguk antusias.
Disya di bantu suster dan Adam untuk naik ke atas ranjang pasien, Disya merebahkan tubuhnya.
"Maaf ya nyonya." suster itu membuka baju Disya sampai atas perut dan kakinya ditutupi oleh selimut.
Dokter mulai menggerakkan alat transducer kebagian perut Disya yang diberikan jel.
"Alhamdulillah jantungnya sehat, tidak kekurangan suatu apapun, tapi sayangnya si kecil malu untuk memperlihatkan jenis kelaminnya." Ucap dokter itu yang yang masih menggerakkan alatnya.
Disya begitu terharu melihat malaikat kecilnya yang terlihat begitu mungil di usianya yang masih empat bulan.
Sedangkan Adam sejak tadi tidak bisa berkedip melihat layar monitor yang menampilkan dua malaikatnya yang begitu menakjubkan.
"Semua baik, tidak ada yang bermasalah. Ini resep vitamin yang harus rutin untuk meminumnya." Jelas sang dokter.
Keduanya berterima kasih dan pamit pulang. Sampainya di luar Adam dan Disya masih menunggu untuk menebus resep dari dokter.
"Rantika.." Ucap Disya yang melihat bayangan Rantika.
"Kenapa?" tanya Adam yang melihat Disya seperti melihat seseorang.
"Itu tadi sepertinya sekertaris kamu Tika." Jawab Disya.
"Tika sudah mengundurkan diri dua hari lalu, dia sering ijin dan mengambil cuti akhir-akhir ini. Katanya dia sedang sakit. Tapi kemarin Tika malah menyerahkan surat pengunduran dirinya." Tutur Adam.
"Sakit? jadi Rantika sakit?" Tanya Disya yang terkejut.
"Tidak tahu, mungkin iya."
.
.
Sedangkan wanita yang mereka bicarakan baru saja keluar dari pintu toilet setelah keadaanya sudah lebih baik.
"Ya Tuhan, kenapa menyiksa seperti ini." Rantika mengusap bibirnya dengan tisu, menyentuh perutnya yang terasa mual di kala pagi hari. "Kamu jangan buat Mama terisa nak, kita harus kuat bersama." Rantika mengusap perutnya yang masih rata.
dua bulan lalu, Rantika sempat pingsan di apartemen miliknya, untung saja tetangga Rantika yang bersebalahan begitu akrab bahkan tahu kode password kamar Rantika karena memang mereka cukup dekat.
Dan saat pagi itu Rantika pingsan setelah mual dan muntah hebat, dan dari sana Rantika mulai berpikir jika dirinya telat datang bulan, apalagi saat dirinya berhubungan dengan Dino sudah satu bukan lebih.
Rantika yang penasaran memilih untuk membeli tespeck dan betapa terkejutnya dirinya melihat garis dua yang tidak pernah terfikir.
Hingga saat ini Rantika tidak pernah bertemu kembali dengan Dino, hanya saja Rantika selalu melihat wajah Dino menghiasi layar televisi bisnis.
Dan hal itu cukup untuk mengobati rasa rindunya pada ayah yang anaknya baru tumbuh dirahimnya.
Rantika memilih resign dari pada menanggung malu, karena hamil di luar nikah.
.
.
Jangan lupa sajen buat author semangat 🤣🤣