
Pagi hari Dino sudah bersiap untuk pergi ke kampung halaman Rantika, tidak ada yang dia bawa, kecuali kotak cincin yang sudah dia siapkan saat pulang dari kediaman Rantika.
Pukul 9 pagi Dino melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, perjalanan ke kampung Rantika hampir memakan waktu sampai tiga jam. Tapi demi calon anak dan calon Istrinya Dino begitu antusias untuk mengunjunginya.
Di dalam mobil Dino tersenyum kala mengingat Rantika, meskipun malam panas mereka saat didalam mobil tidak begitu dia ingat, tapi sepertinya rasa nikmat yang dia rasakan malam itu masih terasa. Apalagi Dino sempat melihat bercak merah di kemeja yang dia pakai malam itu. Tentu saja sebagai pria dewasa Dino tahu itu bercak apa.
"Kamu memang wanita yang Tuhan kirim." Ucapnya sambil menambah kecepatan mobil.
Di rumah, Rantika berkutat di dapur. Sebelum Dino berangkat, pria itu mengirim pesan padanya jika Dino akan datang ke kampung hari ini. Mengingat Dino yang tidak suka makanan yang manis Rantika berinisiatif untuk membuatkan cake yang tidak terlalu manis. Menjadi sekretaris Dino yang cukup lama, membuat Rantika tahu apa saja makanan yang disuka atau tidak di sukai Dino, karena jika di kantor Dino memilih dirinya untuk menyiapkan apa yang dia minta.
"Kamu buat apa?" Rahayu datang dan menaruh kantung belanjaan, setelah membeli sayuran dari warung.
"Buat kue Bu." Jawab Rantika sambil memasukkan cetakan kue ke dalam oven.
"Kapan pria itu datang kemari, semakin cepat semakin baik agar kamu tidak di gosipkan tetangga terus." Ucap Rahayu sambil duduk di kursi makan.
Rahayu mengambil sayuran untuk di bersihkan. "Memangnya siapa pria itu? apa ibu belum melihatnya?" Tanya Rahayu lagi.
Rantika hanya diam sambil menahan sesak dihatinya, dirinya tidak masalah di gosipkan. Tapi yang jelas ibunya yang akan mendapat omongan dari tetangga yang menggosipkannya.
Rantika mendekati ibunya, dan duduk di kursi samping Rahayu.
"Ibu mengenalnya, dia pak Dino." Jawab Rantika sambil menunduk.
Rahayu tidak bereaksi, dirinya sudah menduganya. Pria baik yang begitu perhatian dengan keluarganya saat terkena musibah, tapi Rahayu tidak menyangka jika mereka melakukan hal seperti itu.
Rantika menatap wajah ibunya yang biasa saja, seperti tidak terkejut jika pria yang menghamilinya adalah mantan bosnya dulu.
Ting
Bunyi suara oven listrik, bertanda jika kue yang Rantika buat sudah matang.
Keadaan di dapur kembali hening, jika Rahayu tidak lagi bertanya, Rantika masih merasa bersalah telah mengecewakan ibunya.
Dino berhenti di sebuah minimarket yang dia lewati, selain untuk istirahat sejenak, Dino juga ingin membeli sesuatu.
Saat ingin mencari minuman, tidak sengaja Dino melewati bagian rak susu, dan kakinya berhenti melangkah dan berbalik.
"Mungkin dia belum minum ini." Dino megambil beberapa kotak susu yang berbeda merk dan rasa, kontak susu untuk ibu hamil, dirinya ingin memberikan perhatian untuk calon anak dan juga Ibunya agar mereka semua sehat.
Tidak hentinya bibir Dino mengulas senyum, wajahnya terus berseri-seri mengingat betapa bahagianya jika dirinya memiliki keluarga, karena sejak dulu dirinya sudah mendambakan seperti itu, meskipun dengan wanita yang berbeda.
Setelah kembali menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mobil Dino sampai di perkarangan rumah Rantika, dan Dino tersenyum saat melihat wanita yang berdiri di teras rumah saat mobilnya sampai.
"Bawa apa pak?" tanya Rantika saat Dino menenteng dia kantung plastik dengan tulisan minimarket.
"Untuk kamu." Dino menyerahkan dua kantung kresek pada Rantika.
Rantika menerima pemberian Dino, dan tanpa di duga Dino langsung mengecup keningnya.
"Apa kabar?" Tanya Dino setelah memberi kecupan singkat di kening Rantika.
Rantika masih berdiri mematung belum menyadari apa yang Dino tanyakan.
"Hey, kenapa melamun." Ucapan Dino sontak membuat Rantika tersadar.
"Ah, iya tidak apa-apa. Ayo masuk." Rantika masuk lebih dulu, dan Dino mengikuti dari belakang.
"Saya buatkan minum dulu." Rantika pamit kedapur, dan Dino memilih untuk duduk di ruang tamu.
Tidak lama Rahayu yang baru pulang dari bekerja buruh setrika melihat kendaraan yang tidak asing, dan Rahayu tahu itu milik siapa.
"Assalamualaikum.." Rahayu mengucap salam saat masuk rumah, dan di dalam Dino yang menjawab langsung berdiri.
"Ibu.." Dino langsung meraih tangan Rahayu.
"Sudah dari tadi nak?" Tanya Rahayu.
"Baru saja Bu." Jawab Dino sambil duduk kembali.
Rahayu ikut duduk, sedangkan Dino sudah menyiapkan apa yang akan dia katakan pada calon ibu mertuanya itu.
Jantungnya berdebar, dirinya akan mengakui kesalahan yang sudah mereka lakukan.
Dan Rantika muncul sambil membawakan minum, lalu duduk di samping Dino, saat pria itu memberinya kode.
"Bu kedatangan saya kemari sebelum untuk meminta maaf sudah membuat keadaan Tika seperti ini." ucap Dino dengan tulus meminta maaf,
"Dan yang kedua saya meminta ijin untuk menikahi anak ibu, jika boleh malam ini saya akan menikahi Tika."
Rantika dan Rahayu sontak menatap Dino tidak percaya.
"Pak.."Cicit Rantika.
Dino menoleh dan menggenggam tangan Rantika. "Tidak ada yang bisa saya berikan untuk anak ibu, tapi saya akan berusaha untuk membahagiakan anak ibu. Saya tahu kehidupan Tika tidak sebaik kehidupan sebelumnya setelah apa yang terjadi, dan saya juga meminta maaf jika membuat ibu juga tidak tenang mendengar omongan tetangga."
Bukan tanpa alasan Dino mengatakan hal itu, Dino sendiri mendengar bagaimana ibu-ibu saat bertakjiah membicarakan Rantika, dan Dino yang mendengarnya merasa geram, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam.
Air mata Rantika sudah berlinang, tidak menyangka dirinya hamil anak mantan bos-nya dulu, dan tidak di sangka jika pria yang dia cintai kini akan menjadi suaminya.
Seperti yang Dino minta, malam ini dirinya akan menikahi Rantika. Dino menyuruh Tio untuk datang, dan di bantu Radit semua persiapan sudah selesai.
Pukul delapan malam kediaman Rantika sudah kedatangan penghulu dan tetangga terdekat saja. Tidak banyak yang mereka datangkan hanya wali dan saksi saja.
Tio dari kerabat Dino, dan Radit wali dari Rantika, tapi karena usia Radit yang belum genap 19 tahun maka wali dari Rantika di gantikan dengan penghulu.
Acara inti segera dimulai, Rantika sudah duduk di samping Dino, wanita itu tidak memakai kebaya atau riasan pengantin, Rantika hanya memakai pakaian sopan. keduanya sudah duduk didepan penghulu, Dino mulai mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan penghulu, dengan satu tarikan napas Dino mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
Rantika mencium punggung tangan Dino untuk pertama kali, begitu juga dengan Dino yang mencium kening Rantika.
Acara berjalan lancar, kini keduanya sudah sah menjadi pasangan suami istri walaupun masih status dalam agama, karena sampainya di kota nanti Dino yang akan mengurusnya.
Ucapan selamat mereka dapatkan dari orang-orang yang datang, dan Rantika memeluk Ibunya dengan linangan air mata.
"Maafin Ranti Bu, Ranti belum bisa membahagiakan ibu." keduanya berpelukan, Rahayu mengusap punggung Rantika.
"Semoga kalian selalu bahagia, ibu akan bahagia jika anak ibu bahagia." Ucap Rahayu sambil tersenyum.
Rantika tersenyum, bahagia mendapatkan doa tulus dari ibunya.
"Ranti sayang ibu."
Doa seorang ibu tidak akan putus sepanjang masa, tidak ada ibu yang tega mendoakan buruk anaknya, walaupun sudah di buat kecewa, tapi hati seorang ibu tidak akan tega.
Setelah semua pulang, dan jam sudah menunjukan pukul 11 malam, semua sudah kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Tio menginap di penginapan yang disewakan, karena besok pagi asisten Tio baru akan pulang ke kota.
Dino masuk ke kamar Rantika sambil membawakan segelas susu yang dia buat sendiri, pria itu tersenyum saat melihat istrinya sudah berbaring di ranjang yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk dua orang.
Di dapur tadi Dino masih di temani Radit, dan pemuda itu pamit lebih dulu untuk beristirahat, karena besok harus sekolah.
"Hey.. Bagun." Dino mengusap pipi Rantika yang terlelap.
Membangunkan dengan pelan, wajak Rantika yang dilihat dari jarak dekat begitu mulus, walaupun tidak seputih Disya tapi kulit Rantika terlihat begitu eksotis. Alis mata yang tercetak rapih, bulu mata yang lentik serta hidung yang sedikit mancung, jangan lupakan bibir tebal nya yang terlihat ranum tanpa polesan, membuat Dino menjilat bibirnya sendiri.
"Tika, bangun.." Bisik Dino di samping telinga Rantika langsung, bahkan Dino sambil mengecup lembut daun telinganya membuat Rantika merasa terusik.
"Enghh, bapak!" Rantika yang terkejut karena melihat wajah Dino begitu dekat dengan wajahnya, sampai membuatnya langsung duduk.
Dino malah tersenyum melihat tingkah Rantika. "Minum susu dulu." Ucap Dino sambil menyodorkan gelas susu yang dia bawa.
"Susu?" Tanya Rantika sambil menatap gelas susu yang Dino pengang.
"Susu hamil, aku buatkan untuk kamu." Kata Dino lagi karena Rantika tidak juga segera mengambilnya.
Rantika hanya ber 'Oh' saja, dan langsung mengambil gelas yang Dino pegang, lalu meminumnya.
"Enak?" tanya Dino yang melihat isi gelas sudah tandas di minum Rantika.
"Hm, aku suka. Rasanya pas." Jawab Rantika "Terima p-."
"Sayang, panggil aku sayang." Potong Dino lebih dulu, karena Rantika akan memanggilnya bapak.
Rantika menunduk malu, "Aku suamimu, bukan bapak mu."
Sontak Rantika langsung mendongak mendengar ucapan Dino. "Tapi kan-"
"Panggilan macam apa bapak itu, aku tidak mau." Ucap Dino sambil berdiri.
Dino membuka kemeja yang dia kenakan saat acara tadi, dan pria itu hanya bertelanjang dada di depan Rantika.
"Emm, M-mas kenapa tidak pakai baju." Cicit Rantika gugup saat Dino melepaskan kemejanya.
"Apa?" Tanya Dino balik.
"Kenapa lepas baju." Jawab Rantika lagi.
"Bukan, bukan itu. Kamu tadi panggil aku apa?" tanya Dino sambil mendekati Rantika yang duduk di atas ranjang dengan memakai daster yang ternyata memiliki belahan dada rendah.
"Em, apa? M-mas?" Ucap Rantika dengan wajah bingung, tapi terlihat begitu lucu di mata Dino.
"Sebenarnya aku lebih suka dipanggil sayang, tapi dari pada kamu panggil aku bapak, itu jauh lebih buruk." Ucap Dino sambil berdiri didepan Rantika yang duduk di atas ranjang.
Dino ikut duduk di atas ranjang, disamping Rantika dan menggenggam tangannya.
"Aku tahu mungkin masa laluku sudah kamu ketahui, dengan siapa aku berhubungan. Tapi bagiku masa lalu hanya menjadi kenangan, dan sekarang masa depanku adalah kamu dan anak kita." Tutur Dino sambil menatap dalam kedua mata Rantika.
"Cinta akan ada seiring berjalanya waktu. Dan aku akan percaya itu. Hanya saja aku ingin kita berkomitmen untuk memulai semua dari awal, tidak ada yang harus kita sembunyikan, karena kita sudah menjadi suami Istri." Tangan Dino mengusap pipi Rantika lembut. "Kalian tangung jawabku, begitu juga keluargamu."
Rantika yang mendengarnya seketika air matanya jatuh, membasahi ibu jari Dino yang masih di pipinya.
"Maaf mungkin aku bukan pria yang kamu inginkan, tapi aku akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab, hadirnya dia membuatku merasa bahagia." Dino menyentuh perut rata Rantika.
"Terima kasih Mas, terima kasih sudah menerima kami." Ucap Rantika dengan isak tangisnya.
"Ssstt, sudah menjadi takdir kita untuk memiliki hidup seperti ini." Dino tersenyum dan kembali mengusap wajah istrinya yang basah. Dan melihat bibir yang dia lupakan bagaimana rasanya, Dino ingin sekali mencicipinya.
Wajah Dino semakin mendekat, Rantika yang mengerti pergerakan Dino jantungnya tidak berhenti berdetak kencang, meskipun bukan pertama kali, tapi saat itu Dino dalam keadaan mabuk, dan pasti pria itu tidak sadar seperti sekarang.
Rantika memejamkan matanya saat bibirnya terasa di kecup, kecupan lembut membuat hatinya semakin berdesir hebat.
Karena tidak ada penolakan, Dino kembali menempelkan bibirnya dan meraup rasa manis yang baru dia rasakan. Dino menyesap dam melumatt bibir tebal Rantika dengan penuh tuntutan.
Keduanya saling memanggut dalam keadaan yang sudah sah dalam agama, tidak ada larangan untuk keduanya melakukan hal yang lebih.
"Enghh.."
.
.
Beberapa part lagi ONE NIGHT IN LONDON akan selesai 😩