ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Pms hanya untuk wanita



Dino tersenyum, sambil berjalan mendekatinya meja Disya.


Dimas memilih menyingkir berdiri di belakang kursi Disya, entah apa yang pria itu lakukan tapi Dimas hanya merasa jika dirinya harus di sana.


"Sudah kembali bekerja, selamat datang kembali." Dino mengulurkan tangannya untuk Disya sebagai tanda selamat.


Disya membalas senyum Dino, dan Disya juga menerima uluran tangan Dino.


"Terima kasih pak." Jawab Disya yang mencoba untuk formal, karena memang sedang ada di kantor.


"Tidak usah berlebihan Sya, seharusnya saya yang lebih formal sama kamu. Karena selain direktur keuangan kamu juga adalah istri direktur kita." Dino menatap wajah Disya intens, sedangkan Dimas sudah kesal melihat tatapan Dino untuk Disya yang sepertinya kurang ajar. Karena Disya kini sudah menjadi istri bosnya. Bukan kekasih Dino lagi.


"Tidak apa, aku malah suka panggilan seperti biasa. Karena saat mengobrol santai panggilan formal itu sangat tidak cocok." Ucap Disya sambil tertawa.


Dino ikut tersenyum, melihat Disya yang tertawa Dino juga ikut bahagia.


"Nanti siang kita makan siang bareng, jika kamu tidak ada janji dengan suamimu." Kata Dino yang sudah duduk dikursi depan meja Disya.


"Boleh, lagi pula aku sebenarnya mau makan bareng Dimas. Kalau begitu kita bisa makan bertiga." Tutur Disya sambil melirik Dimas.


Dino tersenyum di balik tangannya yang ada di bibirnya, "Oke, kita bisa bertiga." Dino manatap Dimas yang hanya tersenyum saja, tanpa menjawab ucapan mereka.


"Dim, kamu masih menjadi pelapor untuk Adam?" Tanya Disya ketika Dino sudah pergi, dan Dimas yang juga sudah ingin pergi mengurungkan niatnya.


"Menurutmu?" Tanya Dimas balik.


Disya hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Mana ku tahu." Balasnya dengan cuek.


Dimas hanya geleng kepala dan pergi meninggalkan ruangan Disya.


Disya menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, matanya terpejam dan bayangan Adam saat membentaknya tiba-tiba hadir.


Disya membuka matanya, tiba-tiba air matanya menetes seketika.


Kesal dan juga marah karena di bentak membuat menangis, padahal jika dalam keadaan normal pasti wanita keras kepala itu akan melawan Adam.


Disya seperti anak kecil yang sedang bermain boneka, bicara sendiri dan menangis. Jika Adam melihatnya pasti pria itu sudah frustasi melihat kelakuan Disya.


Di kantor pusat, Adam melempar berkas yang menurutnya sangat mengganggu. Sejak tadi dirinya tidak fokus bekerja hanya karena memikirkan kejadian pagi tadi.


Ceklek


"Waduh, lu nagapain bro? ngamuk apa kesurupan?" Arfin masuk keruangan Adam dan melihat kertas berserakan di lantai.


"Berisik..!" Ketus Adam menatap Arfin malas.


"Lah, kok gue jadi sasaran juga. Santai bro jangan kaya wanita sedang Pms."


Bugh


Adam melempar berkas yang ada di depannya pada Arfin yang menganggu emosinya.


Arfin tertawa keras melihat wajah Adam yang sedang garang dan kesal.


"Singa jantan ngamuk, kabur ahh." Arfin melenggang pergi setelah meledek Adam yang semakin geram.


"Arfin sialan!!"


Adam mengusap wajahnya kasar melihat pukul setengah dua belas siang Adam memilih menyambar kunci dan pergi.


"Loh kok udah kabur aja, woy Dam ingat hanya wanita yang Pms!!" Teriak Arfin yang melihat Adam masuk kedalam lift dengan tergesa.


Adam hanya mengacungkan jari tengahnya, sebelum pintu lift benar-benar tertutup. Arfin yang melihatnya hanya tertawa.


.


.


Jengk-jeng..😴