
Disya terpaku mendengar syarat dari Adam. Adam yang melihat Disya yang diam gemas.
Cup
"Kenapa diam hm?"
Disya mendelik dengan apa yang Adam lakukan, menciumnya tiba-tiba.
"Tidak, aku tidak bisa." Jawab Disya dengan tegas. Kini tatapan Disya berubah menjadi tegas, meksipun masih berada dibawah kungkungan Adam.
"Tidak ada penolakan, pilihanya hanya mau dan iya."
Disya kembali melotot. "Pilihan macam apa itu, sampai kapan pun aku tidak akan mau menikah denganmu." Disya menolak syarat dari Adam.
Adam Tersenyum smirik. "Kalau begitu kau siap untuk mengulang malam panas kita waktu itu."
Jantung Disya kembali berdebar, dia melupakan apa tujuan Adam yang pertama sebelum memberi syarat.
"Tidak, aku tidak mau semua." Disya menggeleng dan mencoba memberontak agar Adam melepaskannya.
"Heh, kau itu memang rubah betina, tidak bisa mendapat perlakukan lembut." Adam kembali menelkan tubuhnya mengunci pergerakan Disya, dan Adam kembali melancarkan aksinya untuk tetap melakukan apa yang dia inginkan. Yang jelas Adam akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk Disya yang dia inginkan.
"Ah, jangan." Disya mencoba mendorong bahu Adam agar pria itu menjauh dari dadanya.
Disya sudah tidak bisa mengendalikan dirinya saat Adam menyerang bagian dadanya. Mekipun dalam dirinya Disya juga sangat menginginkan sentuhan Adam, tapi otak Disya masih berfikir sehat untuk tidak mengulangi kesalahannya yang kedua kali.
"Engh, jangan digigit." Suara Disya memenuhi gendang telinga Adam, kini Disya lebih ekspresif saat dirinya sentuh, berbeda dengan malam itu karena Disya dalam keadaan mabuk.
"Sebut namaku sayang." Pinta Adam saat melihat wajah Disya yang sudah bercucuran keringat, terlihat semakin seksi dan menggoda, apalagi bibir Disya yang sedikit terbuka dan tertutup bergantian.
"T-tidak ahh." Disya menatap Adam dengan tatapan yang begitu sayu.
"Sebut namaku Dear."
Pinta Adam lagi, dengan masih berusaha keras untuk membuat Disya kalah darinya.
Tekatnya sudah bulat, setelah ini Disya tidak akan lagi bisa lari darinya, mekipun caranya salah. Tapi Adam tidak perduli, karena Disya adalah wanita keras kepala dan susah untuk di tahlukkan.
Biarkan saja dirinya berurusan dengan ayahnya, Frans. Adam tidak perduli.
"Shh tid_ahh Adamm.!" Disya menjerit lantaran Adam yang sengaja malakukan.
Adam terseyum lebar, dirinya semakin bersemangat untuk membuat Disya menjeritkan namanya berulang kali.
Pagi menjelang siang, Adam membuktikan jika dirinya tidak akan main-main dengan ucapanya, pria itu tidak pernah gagal untuk memiliki apa yang dia inginkan. Termasuk memaksa Disya untuk menikah dengannya.
Entah dari mana sifat pemaksa Adam, yang jelas pria itu memilih jalannya sendiri. Papanya tidak sebejad Adam, apalagi ibunya. Ayana juga tidak senakal seperti Adam.
Kalau saja mereka tahu kelakuan putranya, entah apa yang akan terjadi pada Adam, bisa-bisa dirinya akan di kirim ke kutub Utara.
Setelah hampir satu jam Adam melampiaskan hasratnya, kini Disya sudah kembali memakai pakaian kembali.
Meksipun masih merasa nyeri tapi rasanya tidak sesakit waktu pertama saat itu.
Disya hanya diam, isi kepalanya berkecamuk entah apa yang dia pikirkan. Kenapa dirinya tidak bisa menolak perlakuan Adam padanya, kenapa tubuhnya seolah menerima perlakuan pria itu hingga membuat dirinya pasrah dibawah kuasa seorang Adam Malik Adhitama.
"Besok akan ada pesta perusahaan, sengaja aku buat untuk memberimu penghargaan, selain itu juga aku akan mengumumkan jika kamu milik seorang Adam Malik Adhitama."
Dan untuk Dino, Disya bingung harus menjelaskan bagaimana, apalagi pria itu begitu baik menunggunya hingga saat ini. Disya benar-benar pusing mengingat hal itu, kepalanya ingin meledak jika memikirkannya.
Adam yang melihat Disya hanya diam saja, menarik wanita itu kepelukkanya. "Apa yang kau pikirkan?" Tanya Adam sambil mengecup pucuk kepala Disya.
Entah apa yang Adam rasa, hanya saja berdekatan seperti ini, rasanya begitu nyaman.
Disya tidak menjawab, wanita itu hanya diam dan malas untuk bicara pada pria yang tidak punya perasaan seperti Adam, yang bisanya hanya memaksa.
Disya bergerak, hendak berdiri dari sofa. Tapi kakinya yang masih lemas membuatnya sedikit limbung.
"Mau kemana?" Ucap Adam yang menangkap tubuh Disya.
"Mau pulang." Jawabnya dengan ketus tapi terdengar lemah. Lelah itulah yang dirasakan Disya.
"Aku antar, lagi pula tidak ada pekerjaan yang pulang sepagi ini, yang ada pasti Mama mu akan mengintrogasi mu."
"Peduli apa kau, bukankah kau hanya memikirkan dirimu saja. Dasar pria pemaksa.!! aku membencimu..!" Tumpah sudah air mata Disya yang sejak tadi dia tahan, kedua tangannya memukuli dada Adam dengan sekuat tenaga yang tersisa.
Disya hancur, dirinya benar-benar hancur setelah apa yang baru saja Adam lakukan. Kemarin dirinya masih bisa bertahan tanpa menangis, tapi sekarang dirinya begitu hancur dengan kehidupan yang menimpa dirinya.
Adam mengahalau tangan Disya yang memukulinya, meskipun tidak terasa apapun, tapi melihat Disya yang kacau membuat Adam juga tidak tega.
"Hey dengarkan aku." Adam mencekram kedua tangan Disya yang masih terus ingin memukulnya. "Tidak ada gunanya kau menangis, sekarang apa yang ada dalam dirimu adalah milikku." Tegas Adam dengan suara penuh penekanan. "Jadi untuk apa kau menangis, jika aku pria yang sudah menodaimu saja mau bertanggung jawab hah."
"Brengsekk..!! pria bajingann..!!" Disya kembali mengamuk, Adam yang jengah memilih menggendong wanitanya dan membawa pergi.
"Diam atau aku cium kau sepanjang jalan." Ucap Adam sebelum jarak dekat dengan para pengunjung kafe.
Disya yang mendapat ancaman hanya diam tanpa bersuara lagi, dirinya memilih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adam.
Meskipun saat turun dari rooftof dirinya menjadi pusat perhatian, tapi Adam tidak perduli meskipun harus menanggung malu. Dirinya pria yang memiliki nama, apa jadinya jika media memuat berita dirinya yang menggendong seorang wanita.
"Eh itu kan mbak-mbak yang tadi pesan room rooftof privat, dan tuan Adam? kenapa bisa mengendong wanita itu." Pikir pelayan yang tadi mengantarkan Disya.
Adam mendudukkan Disya kursi mobilnya, pria itu membawa Disya menggunakan mobilnya.
Disya yang baru tersadar ingin keluar, tapi pintu lebih dulu dikunci oleh Adam.
"Duduklah yang tenang untuk menjadi wanita menurut." Ucap Adam dingin.
Disya mendengus kesal, kenapa sifat pria itu berubah-rubah, tapi sifat pemaksa dan menyebalkan selalu dominan.
Adam melajukan mobilnya di tengah jalanan yang ramai, mengikuti arus kendaraan lainnya yang lumayan ramai.
Disya menatap nanar jalanan lewat kaca mobil sampingan, tak terasa air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.
Untuk sekarang dirinya rapuh.
.
.
Mas Adam main gasak-gasak aja. takut kalau mbak Disya kabur.🤣