ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Memaksa menerima



Adam yang bersimpuh didepan Disya dengan satu kaki dia tekuk, dan satunya lagi bertumpu di lantai. Bahkan podium yang tadinya ada, kini menjadi tidak ada.


Bagaimana Disya dan semua orang disana tidak terkejut melihat aksi Adam ketika lampu menyala terang, dan kini keduanya menjadi sorotan para tamu acara. Sungguh aksi Adam sangat membuat semua orang terkejut, bahkan Nathan sendiri sebagai papanya terkejut melihat Adam yang begitu berani berbuat seperti itu. Padahal Adam terkenal kaku dan cuek, tapi lihatlah dia ternyata begitu romantis.


Adam membuka kotak hitam yang dia pegang, disana Disya melihat sebuah cincin berlian yang berkilau indah, kecil bentuknya tapi Disya bisa melihat jika setengah lingkaran cincin itu dikelilingi berlian.


"Disya Fanesya, aku Adam Malik Adhitama. Memintamu dengan sungguh-sungguh untuk menerima lamaran dariku." Ucap Adam menatap Disya dengan intens, mekipun jantungnya sedang maraton, tapi entah mengapa Adam ingin menujukan jika wanita didepanya adalah miliknya. Biarkan saja semua tahu, karena tujuannya memang itu.


Disya berdiri mematung, dirinya tidak menyangka jika Adam malakukan hal seperti ini, pria menyebalkan dan pemaksa ternyata bisa membuat jantungnya berdebar kencang.


Dino mengepalkan kedua tangannya dengan dada bergemuruh, terlalu sakit melihat apa yang terjadi didepan sana. tatapan mata Dino penuh kekecewaan dan rasa sakit yang dia rasakan, hingga satu tetesan air matanya jatuh saat Adam menyematkan cincin dijari Disya.


"Eh, aku kan belum_"


"Tidak ada penolakan kecuali 'iya' jadi jangan banyak protes." Bisik Adam dengan nada penuh penekanan.


Disya menatap Adam kesal, awalnya dia terharu melihat kegigihan Adam, tapi ternyata pria itu tetap menyebalkan dan pemaksa. Buktinya dirinya belum menjawab mau atau tidak, Adam sudah berdiri dan memasangkan cincin di jari manisnya.


"Kau menyebalkan.!" Ucap Disya kesal dengan nada pelan.


Adam menatap wajah Disya, pria itu terlihat datar dan cuek.


"Tersenyumlah, karena kamu dilihat banyak orang, bila perlu senyum yang lebar biar kamu terlihat sangat bahagia.


Grep Adam langsung menarik pinggang Disya, dan keduanya berdekatan tanpa jarak menghadap para tamu undangan.


Frans tidak bisa berkata-kata melihat dua anak manusia diatas sana, sedangkan Nathan sudah melebarkan senyum.


"Selamat Frans, kau mendapatkan menantu bibit unggul." Ucap Nathan yang narsis, sambil merangkul bahu Frans.


Frans melirik Nathan. "Yang ada putriku akan tertekan hidup dengan putramu yang kaku itu." balas Frans.


"Jangan khawatir anak kaku dan cuek itu akan meleleh seperti coklat jika bertemu dengan pasangan yang tepat." Nathan terkekeh.


"Cih, itulah keturunan kamu dari pria yang sama-sama dingin lalu menjadi bucin." Ledek Frans.


Nathan tertawa pelan, dirinya tidak menyangkal apa yang Frans katakan, memang dirinya yang dulu dingin dan cuek menjadi manis dan bucin setelah menikah dengan Ayana.


Semua bertepuk tangan dan banyak mengucapkan selamat tanpa berjabat tangan dengan kedua orang yang baru saja melakukan kehebohan dan banyak kasak-kusuk. Khususnya banyak kaum wanita yang menyayangkan Adam sudah memilih wanita sebagai pendampingnya, padahal mereka semua sangat ingin menjadi salah satunya, tapi apa mau dikata, jika Adam saja tidak melirik mereka sama sekali.


"Gila tu anak, liat bening dan berkelas langsung tancap gass, gue seperti bukan melihat Adam si pria anti wanita." Arfin geleng kepala melihat dari belakang betapa posesifnya Adam saat merangkul Disya. Dan baru ini Arfin melihat Adam mau berdekatan dengan wanita, padahal Arfin sendiri ingin mendekati Disya anak dari direktur keuangan itu, tapi malah keduluan Adam yang sudah melangkah lebih jauh.


Dirumah besar, Ayana tidak percaya dengan apa yang dia lihat, bagaimana bisa Adam yang menyebalkan itu bersikap romantis. Mereka hanya melihat saja tidak tahu jika di balik itu sifat pemaksa Adam adalah hak paten.


Drt...Drt...Drt...


Ponsel Adam berdering saat dirinya ingin menuruni panggung. Adam merogoh saku jas nya dan mengangkat panggilan.


"Halo.."


Disya yang di tatap menjadi salah tingkah, apalagi disekitarnya ada bodyguard yang berdiri.


"Saya kesana."


Tut


Adam mematikan panggilanya langsung. Pria itu terlihat khawatir, Disya bisa melihatnya.


"Ada apa?" entah kenapa kata-kata itu langsung meluncur dari bibir Disya.


"Gudang penyimpanan barang yang akan di expor kebakaran." Ucap Adam terdengar panik.


Gudang yang letaknya tidak jauh dari kantor cabang, karena kantor yang Disya naungi bergerak di bidang expor.


"Kamu sama siapa?" Tanya Disya yang ikut panik.


"Aku dan Arfin akan kesana, tim pemadam juga sudah menuju kesana." Ucap Adam yang ingin segera pergi, tapi lagi-lagi ditahan oleh Disya.


"Apalagi?" Tanya Adam sedikit kesal karena ditahan Disya.


"Aku ikut." Ucap Disya yang awalnya ragu, tapi dirinya tetap mengutarakannya.


"Sya ini bahaya, aku bukan mau ke pesta." Ucap Adam semakin kesal, mana mungkin dia membawa Disya ke tempat bahaya.


"Pokoknya aku ikut, aku bisa jaga diri." Disya kekeh, bahkan tanganya sudah memegang lengan Adam.


Adam yang melihatnya menarik napas panjang. "Baiklah, tapi tidak akan menyusahkan." Ucap Adam.


"Iya...iya..dasar bawel."


"Lah mau kemana mereka?" Nathan dan Frans yang sudah menunggu untuk meminta penjelasan, malah melihat keduanya pergi tanpa pamit.


"Lihat itu kelakuan putramu, padahal dia belum meminta ijin padaku." Frans kesal karena dirinya tidak sabaran untuk mengintrogasi kedua anak nakal tadi. Padahal jiwa keponya sudah meronta-ronta.


"Biarkan sajalah, mungkin mereka ingin membuatkan kita cucu cepat." Upacapan Nathan seketika membuat Frans melotot tajam.


.


.


Telat up sayang.... maaf bocil emak lagi demam, dan minta di sayang, jadi Mak otor belum bisa lancar update πŸ™πŸ™πŸ™


.


.


Tengok karya Mak di Paijoooo sayang, bantu Mak naikin tayangan yuk.. judul "Ameer untuk Gwen" πŸ’‹