ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Hanya ingin mencicipi



Tidak ada yang paling bahagia selain suami istri yang baru saja mendapat kata 'Sah'.


Adam dan Disya mengembangkan senyum kepada setiap orang yang memberi mereka selamat.


Tak lupa mereka juga mendoakan keduanya agar selalu hidup bahagia dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Doa yang semua orang inginkan agar terkabul.


"Aduh, penganten baru tapi udah nggak malam pertama ini."


Adam mendelik menatap Hawa yang meledeknya.


Sedangkan Hawa hanya tertawa. "Selamat kak, aku ikut bahagia." Hawa memeluk Adam dengan erat.


Sebaliknya dengan Adam yang membalas pelukan Hawa. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat, sehingga Hawa bisa merasakan jika kakaknya benar-benar bahagia menikah dengan wanita yang dia inginkan.


"Hm, terima kasih." Adam mencium pipi Hawa. Kebiasaan Adam sejak dulu yang suka mencium Hawa.


Disya yang sejak tadi berdiri disamping Adam menelisik wanita yang usianya di atas nya berapa tahun, Disya belum mengenali saudara kembar Adam, mekipun dia tahu jika Adam memiliki saudara kembar.


"Selamat ya kak." Hawa langsung memeluk Disya setelah Adam. "Kakak wanita hebat yang bisa menaklukkan kanebo kaku itu." Bisik Hawa tapi masih didengar oleh Adam.


"Jangan mulai Awa kalau tidak mau aku-"


"Aku apa?" tantang Hawa. "Kak, asal kakak tahu, kak Adam itu takut dengan ke-emph."


Hawa tidak jadi melanjutkan ucapanya saat tiba-tiba bibirnya di bungkam oleh Adam. "Ck, ngak usah rusuh, sayang jangan dengarkan dia." Ucap Adam sambil menatap Hawa tajam.


Disya yang melihat interaksi mereka menjadi bingung, hingga tiba-tiba Ayana datang menghampiri mereka.


"Kalian ini kenapa sih, udah tua juga masih aja kayak anak kecil."


Adam langsung melepaskan tangannya dari mulut Hawa.


"Kak Adam mah, dia selalu cari gara-gara." Hawa menatap Adam sengit.


Sedangkan Adam hanya mengehela napas. "Mah, ajak setan kecil ini pergi, noh si princess nangis." Ucap Adam melirik Mario yang berjalan kearah mereka dengan membawa di cantik yang menangis.


"Pasti dia di godain sama si Twins." Ucap Hawa yang langsung pergi menyongsong putrinya yang menangis.


"Sayang, jangan kaget. Kelakuan Adam memang seperti itu dengan adiknya."


Disya hanya tersenyum. "Iya Mah, jadi itu tadi-"


"Princess nya pala yang udah tua." Kesal Adam sambil merangkul pinggang Disya.


"Ck, ngak boleh gitu sesama saudara, kalau dia tua kamu juga tua dong." Ucap Disya yang membuat kedua mata Adam membulat sempurna.


"Enak aja, ya ngak lah. Apa kamu lupa keperkasaan ku saat di atas ranj-"


"Sudah cukup, aku capek berdiri." Keluh Disya untuk mengalihkan perkataan Adam yang menjurus ke mesummanya.


"Istirahat saja di kamar, lagian juga sudah pada pulang, mereka hanya kelurga saja." Adam bicara dengan penuh perhatian, dia tidak ingin istrinya kelelahan dan berdampak pada bayi yang ada didalam kandungan Disya.


"Aku tinggal dulu, kamu istirahat saja." Adam mengecup kening Disya sebelum pergi.


"Hm," Disya hanya bergumam dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang dia pakai di acara tadi.


Disya menatap dirinya didepan cermin, menatap pantulan tubuhnya dengan hanya memakai pakaian dalam saja, tubuhnya berdiri menyamping, dan tatapannya turun pada perutnya yang sedikit berisi.


"Apa nanti aku akan gemuk?" Pikirnya sambil menggoyangkan tubuhnya ke kanan dari, tangannya mengusap-usap perutnya sendiri.


"Tapikan ibu hamil memang gemuk, kalau tidak gemuk nanti dikira cacingan." Ucapnya lagi pada diri sendiri.


Disya mengehela napas, bagaimana nanti jika postur tubuhnya berubah menjadi berisi semua, apalagi memiliki suami seperti Adam, pria nomor satu di tanah air yang digilai banyak wanita cantik. Sedangkan dirinya sebagai istri memiliki postur tubuh berisi karena hamil, memikirkannya membuat Disya merasa insecure.


"Ngak mungkin Adam akan berpaling hanya karena aku sedang dalam fase hamil dan memiliki tubuh berisi." Disya mencoba untuk berfikir positif thinking, tidak mungkin Adam akan selingkuh hanya karena dirinya yang hamil, rasanya itu tidak mungkin.


"Awas aja kalau sampai melirik wanita lain, jangan harap rudalnya akan bisa meledak lagi."


"Apanya yang meledak sayang?"


Disya yang terkejut langsung menoleh kebelakang dan mendapati Adam yang berdiri diambang pintu sambil bersandar.


Disya menutup kedua dadanya menggunakan tangan. "Nagapain kamu disini?" Tanya Disya yang sudah berbalik.


"Nyariin kamu." Adam berjalan mendekati Disya yang memunggunginya. "Kenapa di tutupi, aku suamimu bukan orang lain." Adam memeluk tubuh Disya dari belakang.


Adam masih menggunakan kemeja putih panjang yang lenganya sudah di gulung sampai siku. Disya terdiam saat mendapat pelukan dari Adam.


"Kenapa tidak istirahat, malah ngomongin rudal meledak." Ucapan Adam mampu membuat wajah Disya memerah seketika, Disya menunduk malu.


"Rudal meledak apa? kamu salah dengar." Elak Disya dengan suara gugup.


Adam tersenyum di balik tubuh Disya, "Ya mungkin aku salah dengar, dan sekarang bukan saatnya untuk bermain rudal, karena hari ini adalah hari bahagia kita." Bibir Adam mengecup bahu Disya yang polos, tangan Adam menyingkirkan tangan Disya yang menutupi aset gunung kembarnya.


"Ayo istirahat, aku tidak mau kamu pingsan saat acara nanti." Adam langsung mengendong tubuh Disya dan membawanya ke ranjang.


"Tapi aku belum pakai baju." Ucap Disya yang melihat pakaian gantinya masih dia gantungan.


"Tidak usah pakai apapun, bukanya aku pernah bilang jika kamu akan sangat cantik jika tidak memakai apapun." Adam tersenyum menyeringai.


Sebenarnya Adam ingin gabung dengan kelaurga dan sanak saudara, tapi para orang tua menyuruhnya untuk istirahat, karena 3 jam lagi tim rias akan datang untuk membantu Disya bersiap, dan Adam yang mengerti hanya menurut saja. Tapi siapa sangka jika di kamar Adam mendapat pemandangan menyejukkan mata dan jiwanya.


"Tidurlah, aku hanya ingin ini."


"Engh.."


.


.


Coba tebak, Adam mencicipi apa????🤣🤣🤣🤣