ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Fitting baju



"Disya..!! kamu tidak apa-apa?" Adam langsung menolong Disya untuk berdiri.


Jantung Disya sudah berpacu dengan cepat, rasanya ingin lepas dari tempatnya, saat dirinya hampir jatuh tersungkur. Disya menoleh kesamping dan menatap wanita yang tadi menolongnya.


"Terima kasih sudah menolongku." Ucap Disya terseyum pada Bianca yang hanya tersenyum.


Disya mengabaikan Adam yang bertanya padanya. "Tidak apa-apa, lain kali hati-hati. Lihat kekasih anda sampai panik." Balas Bianca melirik Adam yang memang wajahnya terlihat panik.


Disya yang menyadari menoleh pada Adam. Menujukan mimik wajah bersalah Disya menatap Adam sambil mengucapkan kata maaf.


"Ya, ampun untuk ada Bianca. Kalau tidak pasti nona ini akan malu jatuh dilihat orang." Ucapan Desi seperti sebuah hinaan untuk Disya.


Dan Orang yang paling menyadari adalah Adam yang tidak suka dengan ucapan wanita di depannya itu.


"Apapun yang terjadi dengannya, tidak akan membuat anda rugi, jadi jaga ucapan anda tentangnya didepan saya." Ucap Adam dengan nada tegas tanpa menghilangkan rasa hormat.


Disya mendelik mendengar ucapan Adam, dan tanpa bisa menjawab, Adam malah menggendongnya menuju sofa tunggu bersama kedua pria yang sejak tadi ingin menghampiri tapi urung.


"Kamu tidak apa-apa nak?" tanya Frans yang juga kahawatir, apalagi Disya sedang mengandung cucunya.


"Em, tidak ayah." Disya sendiri merasa kikuk dengan perlakuan Adam.


Sedangkan Ayana dan Diana saling lirik melihat wajah Desi yang sudah menahan amarah.


"Jeng Desi, karena putri anda sudah menolong calon menantu saya, jadi saya berikan jeng Desi gratis memilih baju yang di mau." Ucap Ayana yang tidak ingin melihat banteng ngamuk di butiknya.


Seketika wajah geram tadi berubah menjadi binar bahagia mendengar apa yang Ayana katakan.


"Wahh, serius jeng." Tanya Desi dengan wajah senang.


"Iya, Bianca juga bisa pilih yang di mau." Ayana melirik wanita yang sejak tadi memperhatikan Adam, dan Ayana tidak suka cara wanita itu melirik Adam.


"Iya Tante, terima kasih." Balasnya dengan senyum.


Ayana menyuruh pelayan untuk menemani ibu dan anak itu memilih baju, sedangkan dirinya menghampiri Adam dan Disya bersama Diana.


"Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ayana dan Diana bersamaan.


"Tidak mah." Disya tidak berani melirik ke arah Adam yang sejak tadi terlihat merah padanya. Disya menyadari kecerobohannya yang tidak berhati-hati.


"Syukurlah, Mama khawatir kalau kamu kenapa-kenapa." Ayana bersyukur jika Disya tidak apa-apa.


"Ya sudah, ayo kita coba baju pengantin untuk kalian lusa, Mama rasa sih ukuranya sangat cocok untuk kamu." Ayana mengajak Disya untuk menuju ruang fitting baju.


Sedangkan Adam menatap punggung Disya yang menjauh, dirinya kesal melihat Disya yang suka ceroboh dengan apa yang Disya lakukan. Adam ingin marah tapi dia tahan karena tidak ingin membuat keributan di butik Mamanya.


Disya mencoba gaun untuk acara resepsi lusa, karena rencananya acara ijab akan dilakukan di kediaman Disya dengan dihadiri kerabat dan keluarga saja. Dan acara resepsi akan di laksanakan di gedung Adhitama Grub saat siang sampai malam.


Semua sudah Ayana dan Diana persiapkan, lebih tepatnya, Ayana yang menghandle semua, karena saat Hawa menikah Ayana tidak bisa melakukan hal seperti ini, dan sekarang dirinya ingin balas dendam membuat persiapan untuk Adam secara matang.


Disya mencoba gaun yang khusus di buatkan untuknya, gaun ini rancangan terakhir yang dibuat Indira, karena sebelum pergi Indira memberikan rancangan gaun itu pada Ayana untuk calon istri Adam. Dan sekarang barulah keinginan Indira terwujud. Lusa Adam akan mempersunting Disya untuk menjadi istrinya.


"Bagaimana sayang." Ayana muncul dari belakang dan membuka gorden tempat mencoba gaun, dan Ayana tampak takjub melihat gaun yang begitu sempurna saat Disya yang memakai.


"Mama tidak menyangka akan sebagus ini saat kamu pakai." Ayana tidak bisa membendung rasa harusnya, melihat gaun dan Disya yang begitu sempurna memakainya.


"Aku suka Mah, ini sangat indah." Disya terseyum senang sambil mengusap gaun yang dia pakai, gaun terindah yang pernah Disya lihat, dan tidak di sangka dirinya akan memakai gaun seindah ini.


"Hem, Mama juga suka." Ayana ikut senang, karena ternyata Disya menyukainya.


"Tunggu di sini biar Mama panggil Adam." Ayana mengusap pipi Disya dan berlalu pergi memanggil Adam yang menunggu bersama para orang tua.


Disya kambali menghadap cermin, wanita itu terlihat jelas begitu senang memakai gaun yang dia kenakan.


Dari luar Disya melihat gorden terbuka, dan terlihat Adam yang berjalan mendekat kearahnya dari kaca besar di depannya.



Adam menatap Disya dari pantulan cermin di depan wanitanya, melihat Disya yang sedang tersenyum senang di balik cermin.


"Apa aku cocok memakainya." Tanya Disya saat merasakan tubuh Adam sudah berdiri dibelakang tubuhnya. Dan tak lama Disya merasakan tangan Adam melingkar di perutnya.


"Hem, kenapa kamu begitu cantik memakainya


" Ucap Adam disamping telinga Disya sambil berbisik.


"Aku cantik?" tanya Disya sambil tertawa.


"Hm, sangat cantik. tapi kamu lebih cantik jika tidak memakai apapun didepan ku."


Bugh


Disya menyikut perut Adam dengan sikunya, dan Adam pura-pura mengaduh.


"Auwss sayang kok di sikut sih." Ucap Adam pura-pura, menyentuh perutnya.


Disya membalikkan tubuhnya dan menatap Adam kesal.


"Kenapa aku dipertemukan dengan pria kaku, menyebalkan dan pemaksa seperti kamu, di tambah ternyata yang ada di pikiran kamu hanya otak mesum." Kesal Disya malah mengomel.


Adam malah terkekeh. "Karena memang semua pria akan memuji kecantikan istrinya saat tidak memakai apapun."


Bugh


"Kamu nyebelin tuan Adam." Kesal Disya lagi sambil memukul dada Adam pelan.


Adam tertawa, dan menarik pinggang Disya untuk merapat padanya.


"Kenapa kamu begitu cerewet hm, aku tidak mau anak kita cerewet seperti kamu."


Disya semakin mendelikkan matanya. "Dia anak aku, ya wajarlah mirip aku." Kesalnya yang semakin menjadi.


Adam semakin gencar menggoda Disya, dan membuat wajah wanitanya semakin ditekuk, karena menurut Adam Disya semakin menggemaskan ketika berekspresi seperti itu.


"Kamu bikin aku tidak tahan Sya." Ucap Adam sambil menatap bibir ranum Disya dengan penuh minat, sudah dua hari Adam tidak merasakan amunisi dari Disya, karena sejak pulang dari rumah sakit mereka tidak bertemu.


Disya menelan ludah ketika tahu apa yang Adam inginkan, tanpa bertanya Adam sudah menyatukan bibirnya untuk meraup rasa manis yang sudah membuatnya candu.


Melupakan keberadaan mereka ada dimana, Adam terus memangut bibir Disya penuh rindu. Keduanya saling melumatt seperti menyalurkan sesuatu dalam diri keduanya yang bergejolak, hingga Adam lupa tidak menutup kembali gorden saat dirinya masuk.


Bianca yang ingin masuk ke ruang ganti tidak sengaja melewati ruangan Adam dan Disya yang sedang bercumbu, Bianca hanya tersenyum melihat betapa intens cumbuan keduanya.


.


UNDANGAN TERBUKA UNTUK LUSA πŸ€—πŸ€—


KIRIM BANYAK" HADIAH KALIAN UNTUK MENGHADIRI PESTA 🀣🀣



LIKE


KOMEN


JANGAN LUPA πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘