
Dibalik pintu rapat Dino mengepalkan tangannya kuat dengan dada bergemuruh melihat punggung Disya yang duduk di atas pangkuan Adam. Dan suara desahann Disya membuat Dino semakin terbakar api cemburu.
Bugh
Dino meninggalkan pintu rapat yang memang terbuka sedikit, dirinya berniat ingin mengambil berkas yang tertinggal, tapi malah mendapati pemandangan yang membuat dadanya terasa terbakar dengan rasa sakit di hatinya.
Arrghh
Kedua insan yang baru saja mencapai pelepasan bersama saling berpelukan, Disya menyembunyikan wajahnya di leher Adam dengan napas yang memburu.
"so delicious.
Bisik Adam di telinga Disya dengan deru napas yang masih memburu.
"Em, aku ngantuk." Lirih Disya dengan kedua mata yang terasa berat, selain itu Disya juga merasa lelah setelah percintaan mereka barusan.
"Bersihkan dulu milikmu, kita pulang bersama." Adam mengecup kening Disya dan menggendong wanitanya ke kamar kecil di ruang rapat itu setelah dirinya membenahi celananya.
Disya hanya menurut, matanya seperti terkena lem begitu berat untuk terbuka.
Arfin menunggu seseorang yang akan memberikan informasi untuknya, menurut orang suruhannya pria itu tahu sesuatu yang Arfin butuhkan.
Sudah satu jam lamanya Arfin menunggu tapi tidak ada tanda-tanda batang hidung pria itu terlihat.
Arfin menjatuhkan putung ro*kok yang sudah habis, dan menginjaknya sampai mati.
"Sepetinya dia tidak datang, kita pulang saja." Ucapnya pada bawahan nya yang menemaninya.
Bawahan Arfin hanya mengaguk saja, dan mereka kembali masuk kedalam mobil.
"Si tua itu memang susah di cari bos, karena dia penggila judi, dari satu tempat pindah ke tempat lain." Ucap pria bertato di kedua lengannya yang sedang mengemudikan mobil.
"Penjudi?" Tanya Arfin.
"Ya, kami mendapatkan informasi itu dari warga tempat tinggalnya. Dan dia juga punya dua anak, yang satu sakit-sakitan."
Arfin hanya diam tanpa mau memikirkan orang lain, dirinya hanya ingin menyelesaikan masalah yang sedang dia tangani atas perintah Adam.
Apa yang terjadi dengan pria itu bukan urusannya, dan Arfin tidak mau membuang waktu untuk mengurusi masalah orang lain.
"Antar saja ke apartemen." Pinta Arfin.
"Baik bos."
Arifin memejamkan matanya, hari ini pekerjaan di kantor begitu banyak, belum masalah kantor cabang yang Adam hadapi, sama saja itu adalah masalahnya juga.
Sekelebat bayangan wanita yang pernah menemaninya terlintas di ingatanya. Arfin membuka matanya saat telinganya merasa mendengar kata rintihan wanita itu.
"Sudah sampai bos."
Arfin yang masih melamun tersentak saat mendengar jika mobil yang dia tumpangi sampai di apartemen.
"Ck, kenapa bayangan wanita itu selalu hadir." Ucapnya sambil bergumam.
Mencari tahu keberadaan wanita itu Arfin kehilangan jejak. Bahkan saat dirinya bertanya pada pemilik club siapa wanita itu mereka juga tidak ada yang tahu.
Meskipun dirinya mengeluarkan uang demi sebuah keperawanan, tapi dirinya tidak tahu jika wanita itu masih perawan. Pantas saja dirinya tidak cukup sekali untuk bermain. Padahal malam keduanya sama-sama untuk pertama kali melakukanya.
Di tempat yang berbeda, seorang pria sedang berdiri di balkon kamarnya yang terlihat gelap, pria itu sedang memegang botol alkohol untuk dirinya minum.
Malam yang sunyi dengan langit hitam tanpa bintang, pria itu begitu terlihat menyedihkan saat terdengar suara yang mewakili rasa sakit hatinya.
Dino seorang diri sedang menikmati sebotol alkohol yang dia minum, ditemani angin malam yang terasa menusuk ke tulangannya.
Bayangan kedekatannya dengan Disya selalu berputar di ingatanya. Empat tahun dirinya menunggu wanita yang di cintai, menunggu untuk menjadi miliknya dalam ikatan pernikahan. Tapi apa yang takdir gariskan untuknya, Dino begitu menyesali perbuatannya dulu saat Disya memintanya untuk menunggu.
"Mas Dino kejar impian mas Dino, dan aku akan mengejar impianku untuk mendapatkan nilai terbaik." Disya berucap dengan penuh keceriaan.
"Memangnya apa impian kamu Sya?" Tanya Dino yang sedang duduk didepan Disya.
Mereka berdua berada di sebuah kafe yang bernuansa anak muda, Disya kala itu yang masih tingkat 2 dan Dino yang sudah menyelesaikan sidang skripsi hanya menunggu wisuda.
"Ck, tapi itu kelamaan Sya. aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain." Ucap Dino dengan menatap Disya penuh kekhawatiran.
Disya Fanesya Handoko wanita cantik yang memiliki sifat ceria dan tidak gampang putus asa, tidak mungkin tidak ada pria yang menyukai wanita di depannya ini.
Di kampus saja, Disya sudah banyak menggoda dan Dino berusaha menjauhkan dirinya dari pria-pria yang menurutnya predator pemangsa.
Dino tidak rela jika kekasihnya disentuh pria lain.
"Tidak akan kak, aku memiliki prinsip. Kalau aku tidak akan menjalin hubungan serius sebelum aku lulus kuliah, dan untuk hubungan kita bukankah aku pernah bicara jika aku tidak mau diajak serius saat masih kuliah." Disya mengingatkan Dino kesepakan apa yang sudah mereka buat sebelum menjalin hubungan. Dan saat Disya membuat kesepakatan itu, Dino menyetujuinya.
Dino menunduk dan kembali mendongak, mengambil tangan Disya di atas meja dan menggenggamnya.
"Jika saat kita dipertemukan kembali, maka saat itu juga aku tidak akan melepaskan mu." Ucap Dino dengan nada serius. "Apapun keadaanku saat itu aku tidak peduli, yang harus kamu tahu aku tidak akan melepaskan mu kembali."
Disya hanya tersenyum mengaguk menuruti ucapan Dino kala itu.
Tapi ternyata semua sudah berubah saat mereka bertemu. Dimana Disya yang sudah melewati kesalahan hanya satu malam. Dan Dino yang sudah mencoba menerima kenyataan itu, tapi lagi-lagi dipatahkan kembali saat wanita yang dia cintai sepenuh jiwa kembali melakukan kesalahan.
Saat itu juga dunia Dino runtuh untuk kedua kali, dan dirinya tidak menyangka jika pria yang sudah menghancurkan masa depannya bersama Disya adalah atasanya sendiri di kantor. Dino begitu marah saat mengetahui hal itu, tapi dirinya tidak bisa melupakan amarahnya untuk memukuli Adam, Dino memilih cara lain untuk membuat Adam hancur, seperti impiannya bersama Disya.
Prang
Dino melepar botol yang sudah kosong ke lantai, pria itu hanya menatap nanar pecahan botol yang berserakan di lantai.
"Kau begitu kejam, merebut apa yang akan menjadi milikku!" Dino mengepalkan tangannya dengan tatapan penuh amarah.
"Mekipun takdir menyatukan kalian, tapi aku yang akan memisahkan kalian."
Tatapan mata di Dino terlihat penuh dendam, pria itu diselimuti dendam kebencian yang sudah membuatnya sakit hati.