
Pesta tetap berlanjut hingga satu jam kedepan, mereka masih menikamati pesta yang dibuat cuma-cuma. Meskipun tidak ada yang punya hajat, setidaknya masih ada tetua disana yaitu Nathan Adhitama. Sengaja tidak ada yang memberi tahu pria itu karena takut jika darah tingginya naik, nanti saja kalau keadaan sudah membaik Adam yang akan memberitahu.
Disepanjang jalan, tidak ada obrolan antara keduanya, Adam fokus menyetir dan menatap kedepan, sedangkan Disya mengeratkan pegangannya di sabuk pengaman miliknya. Disya menatap lurus kedepan sambil terus berdoa agar mereka selamat sampai tujuan. Bagaimana tidak jika Adam membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan ditambah wajah dinginnya.
Hingga hanya butuh waktu 15 menit mereka sampai di gudang penyimpanan yang terbakar.
Adam langsung keluar di ikuti Disya yang masih mengatur napas, untung saja kemampuan menyetir Adam begitu lihai hingga mereka tiba dengan selamat, pikir Disya.
"Bagaimana?" Tanya Adam menghampiri Arfin yang sudah disana lebih dulu.
"Tidak ada korban jiwa, tapi_"
Adam menoleh pada Arfin dan kembali menatap kobaran api yang masih dipadamkan oleh Tim. "Semua barang habis dan perusahaan mengalmi rugi besar." Geram Adam dengan tatapan tajam kedepan.
Disya mendengar apa yang Adam katakan, dirinya tahu persis berapa nilai yang hangus dilahap jago merah itu.
"Ya dan polisi sendang menyelidiki penyebabnya setelah api padam." Lanjut Ando.
Kedua pria itu berkacak pinggang dengan wajah tegang dan kepanikan yang masih ketara. Gudang dan perusahaan cabang ini adalah usaha Adam dari nol dan ditemani Arfin, mekipun baru beberapa tahun tapi dengan menggaet nama besar kantor pusat, sangat mudah untuk Adam memperbesar usaha ini. Sungguh Adam sangat menyayangkan kejadian ini, tidak sedikit nilai uang di dalam sana, apalagi saat barang akan keluar itu adalah pundi uang perbulan.
Adam mengusap wajahnya kasar, "Shitt!!" Adam mengumpat dengan perasaan marah, tapi pada siapa dirinya akan melampiaskannya, Adam tidak tahu.
"Sabar, mungkin ini ujian."
Tiba-tiba sebuah tangan mengusap lenganya, Adam menoleh kesamping dan ternyata dirinya melupakan keberadaan wanitanya yang beberapa menit lalu menjadi tunangannya.
Disya tersenyum saat Adam menatap ke arahnya, wajah pria menyebalkan itu terlihat kacau dengan rasa sedih.
"Besok pasti Tuhan akan menggantinya, katanya jika kita mendapat cobaan yang berat itu berarti kita akan naik kelas." Lanjutnya dengan mimik wajah yang sama, entah mengapa Disya ikut sedih menatap wajah Adam yang sedih.
"Hm, semoga." hanya itu yang Adam katakan, bahkan kini Adam menjadi dingin, dan Disya menyadari perubahan itu.
Arfin mulai membantu kepolisian untuk mencari bukti saat api' sudah sepenuhnya padam, butuh waktu hampir dua jam tim memadamkan api.
Adam ikut melangkah maju mendekati Arfin, melihat Adam yang berjalan Disya pun ikut maju ke depan. Wanita yang menggunakan gaun dan high heels itu sedikit kesusahan saat berjalan melewati puing yang sudah menjadi arang, Disya sangat berhati-hati meskipun dirinya sedikit takut jika jatuh.
"Untuk sementara kami menduga ada listrik yang konslet, hingga menyebabkan kebakaran. Tapi kami akan terus menindak lanjuti kasus ini sampai selesai." Ucap polisi yang bicara pada Adam dan Arfin.
"Baik, kami ingin segera tahu penyebab yang sebenarnya. Dan semoga saja tidak ada sabotase kajaadian ini." Ucap Arfin mewakili Adam.
Akhh.
Adam dan Arfin terkejut melihat Disya yang jatuh di antara sisa puing yang terbakar.
"Ya Tuhan.." Adam mengusap wajahnya kasar, dengan tangan satunya berkacak pinggang melihat Disya yang terlihat begitu ceroboh dan tidak hati-hati.
"Kamu tidak apa-apa?" Arfin menghampiri Disya dan membantu wanita yang sudah dimiliki Adam.
"Ahhk, sakit.." Disya meringis saat dirinya berdiri dibantu arfin.
"Kakimu terkilir." Ucap Arfin yang langsung memapah Disya.
"Ahh, iya sepertinya." Disya masih kesakitan.
Saat ingin melangkah tidak sengaja kakinya menginjak bagian yang tidak rata, hingga saat berpijak alas kaki yang dia pakai meleset dan membuat kakinya terkilir.
Adam berkacak pinggang menghampiri keduanya. "Sudah aku katakan, jangan menyusahkan tapi kau tidak dengar! dan lihat sekarang kau menyusahkan kami akibat kecerobohan kamu!" Sarkas Adam dengan nada kesal memarahi.
Disya diam menatap Adam yang begitu marah, pria itu sama sekali tidak kasihan padanya yang statusnya adalah tunangannya?
Dada Disya seketika seperti diremas, kenapa ucapan Adam sangat membuatnya kecewa.
"Ck, kenapa lu marah sama dia, seharusnya lu yang_"
"Diam!, kau tidak usah ikut campur." Adam menatap Arfin tajam.
Pria itu pun pergi meninggalkan keduanya yang menatap Adam heran, terutama Disya yang tidak terima mendengar ucapan Adam tadi. Memang salahnya, tapi tidak seharusnya Adam membentaknya seperti tadi.
"Sudah tidak perlu dipikirkan, dia begitu karena sendang kacau dengan kejadian ini." Ucap Arfin. *Masih ada pria tampan sepertiku yang akan melihatmu, jadi jangan tunjukkan wajah masammu itu padaku." Ucap Arfin dengan senyum khasnya.
Arfin mengajak Disya masuk kedalam mobilnya, karena Adam sudah pergi lebih dulu meninggalkan Disya yang harusnya pulang denganya.
Entah kenapa Disya merasa jika dirinya belum bisa mengerti sifat Adam, pria itu banyak memiliki perubahan sikap hingga membuat Disya pusing untuk mengerti.
.
.
Dukung karya author terus ya sayang πππ