
"Sya..." Adam menepuk pipi Disya pelan saat pesawat sudah mendarat sempurna. Karena Disya tak kunjung bangun Adam kembali membangunkan Disya yang terlelap.
"Sya, sayang bangun." Adam mulai khawatir saat Disya tak kunjung bangun, dan tidak merespon panggilanya.
Adam segera mengendong tubuh Disya ala bridal, dan perlakuan Adam jelas saja mengundang semua penumpang yang hendak turun menatap Adam penuh tanda tanya.
"Tuan, ada apa?" tanya pramugari yang baru saja membuka pintu kabin pesawat.
"Tolong suruh siapkan ambulans secepatnya." Ucap Adam dengan panik.
Pramugari itu hanya mengagguk saja, karena pasti keadaan sedang ugren. Dengan alat komunikasi yang mereka miliki, pramugari itu mengubungi pihak bandara untuk menyiapkan mobil ambulans dibawah.
"Di mohon untuk bersabar, beliau sendang buru-buru." Pramugari itu mencoba untuk mengintrupsi penumpang di dalam.
Dibawah tangga Adam sudah di tunggu mobil ambulance untuk membawa Disya kerumah sakit, Adam membaringkan Disya diatas tempat tidur yang tersedia di dalam ambulans itu.
"Sya bangun." Adam begitu panik, dadanya bergemuruh melihat Disya yang tak kunjung membuka matanya.
Adam khawatir terjadi sesuatu kepada Disya dan juga calon bayinya, dan Adam menyadari jika semua adalah kesalahannya yang melibatkan Disya dalam pekerjaan, padahal wanita itu sedang hamil.
"Tenang tuan, saya akan memasangkan Infus." Ucap perawat yang ditugaskan untuk memantau kesehatan Disya.
"Sayang.." Adam menggenggam tangan Disya yang terbebas dari Infus, Adam merasakan dadanya seperti ditusuk sembilu, begitu sesak hanya sekedar untuk bernapas.
Hanya butuh waktu 15 menit mobil ambulans yang membawa Disya sampai dirumah sakit internasional milik keluarga besar Adhitama. (Adhitama, Bagaskara, Lewis).
Adam mengiringi brankar yang membawa Disya menuju ruang UGD untuk diperiksa.
"Tuan, tunggu diluar kami akan memeriksa pasien." Ucap suster yang menahan Adam agar tidak masuk.
"Tapi sus saya-"
"Percayalah tuan, kami akan melakukan yang terbaik." Cegah suster itu lagi saat Adam memaksa ingin masuk.
Dengan berat hati Adam mundur dan menunggu dokter memeriksa keadaan Disya. Adam benar-benar takut jika terjadi sesuatu dengan calon bayinya ataupun dengan Disya sendiri.
"Maafkan aku." Adam merutuki kebodohannya yang lalai menjaga Disya, justru dirinya yang membawa Disya kedalam masalah yang dia hadapi, Meskipun Adam sudah memperingati agar Disya tidak ikut terjun membantunya, tapi wanita hamil yang keras kepala itu kekeh ingin membantunya, dan Adam yang tidak bisa melihat Disya bersedih terpaksa mengiyakan.
Adam duduk tertunduk di kursi tunggu, pria itu menyangga keningnya dengan kedua tangan yang saling tertaut. Seketika bayangan buruk menghampirinya, membuat Adam rasanya tidak ingin melihat bayangan buruk yang terjadi.
Ini kali pertama dirinya meyukai seorang wanita, kali pertama Adam memiliki rasa nyaman dengan lawan jenis, kerena Adam tidak pernah yang namanya terlibat dengan mahluk hidup bernama wanita, tapi tidak dengan Disya, Adam tidak ingin berpisah dari Disya.
Ceklek
Setelah hampir satu jam, akhirnya rungan itu berbuka, dokter Ana spesialis kandungan keluar dari dalam ruangan itu.
"Bagaimana dok? apa mereka baik-baik saja?" Tanya Adam dengan wajah yang terlihat jelas khawatir.
Dokter Ana yang tadi dipanggil untuk memeriksa keadaan janin Disya segera datang, untuk memeriksa.
"Alhamdulillah, kandungan beliau cukup kuat, sehingga tidak terjadi hal yang fatal, hanya saja nona Disya sangat kelelahan, hingga membuat daya tubuhnya menurun. Tapi beruntung janinnya begitu kuat sehingga tidak terjadi hal yang serius."
Penjelasan dokter itu sanggup membuat sudut bibir Adam terseyum, dirinya benar-benar merasa lega dan bahagia, seolah beban berat dipundaknya hilang begitu saja.
"Tapi untuk seminggu kedepan, Nona Disya harus bed rest untuk pemulihan." Ucap dokter itu lagi.
Adam hanya mengagguk. "Tarima kasih dok."
"Mau makan?" Tanya Adam yang melihat Disya ingin duduk bersandar, Adam membantu Disya dan menaruh bantal di belakang punggung Disya agar nyaman untuk duduk.
"Aku mau makan buah saja." Disya melirik buah yang ada diatas nakas.
Dengan segera Adam mengambil buah jeruk yang Disya inginkan, mengupasnya hingga membersihkan serabut di bagian jeruk itu.
Disya tersenyum melihat perlakuan Adam yang manis, meskipun hanya perhatian kecil tapi Disya menyukainya.
"A." Adam menyuapkan satu ruas jeruk pada bibir Disya, dengan senang hati Disya membuka mulutnya.
"Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini." Ucap Adam sambil bersihkan jeruk yang terdapat serabut halus. "Tidak seharusnya aku melibatkan mu dengan urusanku dan akhirnya kamu menjadi kelelahan." Adam kembali menyuapkan jeruk lagi, dan Disya menerima dengan membuka mulutnya.
Disya tak lepas menatap wajah Adam yang sejak tadi seperti menghindari tatapannya.
"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu tak sadarkan diri, rasanya tiba-tiba duniaku terhenti, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kalian-"
Adam tidak lagi melanjutkan ucapanya karena dadanya terasa begitu sesak, rasa bersalah begitu besar dalam dirinya. Beruntung tuhan masih meyelamatkan kedua orang berharga dalam hidupnya.
"Dan kami sekarang baik-baik saja, tidak terjadi apapun." Tangan Disya meraih tangan Adam untuk di genggam. Adam masih mengalihkan tatapan matanya.
"Papa kami tidak apa-apa." Ucap Disya dengan suara manja, dan tangan kanannya meraih wajah Adam untuk menatapnya.
Dan betapa terkejutnya Disya saat melihat kedua mata Adam yang berkaca-kaca. Disya merasa terharu hingga dirinya menjadi ikut sedih.
"Maaf." Adam mengucapkan kata maaf dengan suara bergetar, dan tatapannya tertuju pada perut Disya. "Maafkan papa sayang, sudah membuat kalian seperti ini." Tangan Adam mengusap perut Disya dari balik baju pasien.
Betapa terharunya Disya melihat sisi kelembutan Adam dan sifat perhatiannya dibalik sifat dingin dan pemaksa pria itu, Disya sungguh tidak menyangka jika Adam memilki sisi lain dibalik sifat dinginnya.
"Tidak apa, lagi pula aku juga yang ingin, semua bukan kesalahanmu." Disya berkata agar Adam tidak terus menyalahkan dirinya.
"Hm, terima kasih." Adam mengecup kening Disya lembut.
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah memberi tahu Mama dan papa?" Tanya Disya yang di maksud kedua orang tuanya.
"Hem, sudah. Mungkin mereka sedang didalam perjalanan kemari." Ujar Adam.
Disya tampak diam memikirkan sesuatu, dan Adam yang menyadari bertanya.
"Kenapa? apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Adam dengan menatap Disya yang juga sedang menatapnya.
"Dam, bagaimana jika mereka tahu aku hamil?" Tanya Disya dengan wajah yang begitu murung, dirinya melupakan orang tuanya disaat dirinya dan Adam bahagia menerima calon bayi mereka.
Adam terdiam sejenak, melihat wajah murung Disya membuat Adam tidak tega.
"Tidak usah khawatir, aku akan bicara sama Om Frans dan Tante Diana." Ucap Adam dengan senyum tipis agar Disya tidak terlalu tegang.
"Bicara apa?!"
Deg
.
.
Ngak bosen-bosen ator minta LIKE..KOMEN kalian sayang..ππ Karena jejak kalian adalah semangat untuk author π₯°π₯°