ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Insiden



Setelah mendapat perawatan intensif agar segera pulih, kini Disya tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya menurut saja.


Bagaimana tidak jika pernikahannya dan Adam akan dilakukan lusa, bahkan Disya yang ingin kembali bekerja di tolak mentah-mentah oleh Adam dan keluarganya karena menjalang pernikahan. Padahal Disya sudah rindu dengan kantor yang hampir 2 Minggu dia tinggalkan.


Pukul 2 siang, Adam datang untuk menjemput Disya datang kebutik mendiang Oma Indira dan opa Allanaro.


Yap, Indira meninggal dunia setelah Allanaro beberapa bulan, dan mereka meninggal setelah Hawa memilki anak, mereka sempat mengendong cicit pertama mereka dengan penuh haru, dan setelah beberapa bulan Allanaro lebih dulu dipanggil sang maha kuasa, karena cinta keduanya begitu besar hingga Indira yang yang yang tidak sakit tapi enggan untuk menjalani hidupnya sendiri, memilih mengikuti sang suami yang sudah lebih dulu pergi. Indira tidak dinyatakan sakit, hanya saja daya tahan tubuhnya yang semakin menurun membuat wanita sebatang kara itu memilih untuk mengakhiri semua. Dan disana cinta mereka bersama sampai mati.


"Kamu sudah sampai?" Disya menuruni tangga dan melihat Adam sudah duduk di sofa tamu.


"Kamu tidak suka menunggu lama kan." Ucap Adam yang berdiri menyambut Disya yang datang menghampiri.


"Hem, kalau kamu aku kesal kalau suruh menunggu." Jawab Disya sambil menggandeng lengan Adam.


"Jangan bilang bawaan bayi." Adam menatap Disya yang malah nyengir.


"Hem, mungkin iya. Karena anak kamu tidak mau jauh-jauh dari mu."


Adam tersenyum dan mengusap pucuk kepala Disya.


"Tante dan mama udah menunggu di butik, setelah dari butik, aku ajak kamu berkenalan dengan Oma dan opa."


Disya hanya mengagguk, dirinya memang tidak terlalu tahu siapa kelurga besar Adam, dan Disya juga ingin tahu masa lalu Adam yang Disya tidak ketahui, karena yang Disya tahu pemimpin Adhitama Grub tidak pernah dekat dengan seorang wanita manapun. Dan Disya tidak percaya seorang Adam yang begitu banyak digilai wanita sama sekali tidak pernah berkencan dengan wanita.


Keduanya keluar dari rumah, dan saat sampai diteras Disya melihat mobilnya pemberian dari Adam sudah lama tidak dia pakai, dan entah mengapa, Disya ingin mengemudikan sendiri mobilnya.


"Dam aku ingin membawa mobilku sendiri." Ucap Disya tiba-tiba saat Adam sudah membukakan pintu mobilnya untuk Disya.


"Ck, apalagi. jangan aneh-aneh Sya." Ucap Adam dengan rasa frustasi, frustasi karena permintaan Disya untuk mengendarai mobilnya sendiri.


"Aku hanya ingin membawa si putih, kamu naik mobilmu saja." Disya tidak menggubris apa yang Adam katakan, wanita hamil yang maunya banyak itu memilih meninggalkan Adam dan berjalan menuju mobilnya di garasi.


"Sya, kamu sedang hamil. Aku sudah siapkan supir untuk kamu." Ucap Adam sambil memberi tahu rencananya untuk Disya.


"Ck, untuk apa. Aku masih bisa sendiri." Kesal Disya karena Adam melakukannya tanpa bertanya padanya.


"Aku bukan penyakitan, lagi pula aku juga tidak-" Disya berbalik badan saat Adam menarik lengannya.


Tatapan Adam berubah menjadi tajam, dan Disya tahu jika Adam sedang marah.


"Aku tidak akan melakukan kesalahan yang tidak aku inginkan, aku melakukanya untuk kebaikan mu dan anak kita. Jadi tolong jangan buat aku merasa bersalah untuk kedua kali." Ucap Adam dengan suara penuh penekanan disetiap katanya.


Adam mengingat beberapa hari yang lalu, saat Disya masuk rumah sakit, dan itu karena Adam yang lalai memperhatikan Disya.


"Tapi aku ingin naik mobilku." Ucap Disya dengan wajah sendu.


"Ya sudah aku yang bawa mobil." Adam membukakan pintu penumpang depan untuk Disya, tapi wanita itu belum juga mau beranjak.


"Apa lagi." tanya Adam mencoba untuk bersabar, karena Adam tahu jika mood ibu hamil tidak bisa di prediksi, dan jika Disya kembali ke mood singa galak, Adam juga yang susah.


"Aku yang bawa, kamu duduk disitu aja." Disya tersenyum mengatakan itu, dan Disya langsung berjalan memutar belakang mobil untuk duduk di kursi balik kemudi.


Adam yang geregetan sampai meremat tangannya di udara. Tapi dia sadar jika dirinya harus sabar menghadapi mood menyebalkan calon isterinya itu, dan dengan terpaksa Adam duduk santai di kursi penumpang dengan Disya yang sedang menampilkan senyum bahagia.


"Semoga kamu tidak menurun menyebalkan seperti Mamamu." Gumam Adam dalam hati tanpa berkaca dengan dirinya sendiri.


.


.


.


"Sejak Mama Indira pergi aku ikut mengurus butik ini, dan juga harus berbagi waktu untuk yayasan." Ucap Ayana, yang bercerita pada Diana.


"Sebenarnya aku ingin mempercayakan ini pada indah, karyawan lama yang mengabdi di butik ini, tapi indah tidak mau karena dia merasa tidak mampu." Ayana menghela napas, dirinya merasa lelah dengan rutinitas yang dia jalani.


Kesibukannya di panti sudah dia serahkan kepada Nesya teman saat sekolah yang sudah seperti saudara sendiri. Dan Ayana juga masih ada kesibukan lain yang membuatnya terkadang merasa lelah.


"Kamu beruntung mbak punya anak 3, sedangkan aku hanya punya Disya." Ucap Diana.


"Punya 3 serasa punya satu mbak, Hawa berada di Swiss, baru pulang besok. Sedangkan Daniel masih senang-senangnya mengejar impian di dunia sepak bola." Ayana merasakan kesepian, meskipun memiliki 3 anak tapi dirinya tidak bisa menikmati kebersamaan dengan anak-anak nya setiap hari.


"Semoga kita selalu diberikan kesehatan mbak, agar kita bisa melihat anak dan cucu kita bahagia." Diana mengusap punggung tangan Ayana dan tersenyum.


Tak lama suara seseorang masuk kebutik membuat mereka yang sedang mengobrol teralihkan.


"Jeng Ayana apa kabar?" seorang wanita yang lebih sedikit tua dari Ayana, tiba-tiba masuk dan langsung menyapa Ayana.


"Jeng Desi, tumben ke butik saya." Entah ledekan atau sindiran, Ayana membalas pelukan wanita itu.


"Duh, jeng ini. Aku kan memang sering kemari tapi tidak pernah bertemu jeng Ayana." Ucap wanita bernama Desi dengan gayanya ala-ala sosialita.


"Mbak, kenalin ini jeng Desi teman Arisan." Ucap Ayana memperkenalkan Desi kepada Diana.


"Desi teman Arisan sosialita jeng Ayana." Wanita itu begitu angkuh memperkenalkan geng Arisan sosialita.


Em, saya Diana."


"Jeng Diana ikut Grub sosialita mana? saya banyak loh kenalan ibu-ibu sosialita di Jakarta ini." Dengan bangganya Desi membawa nama sosialita.


Diana hanya tersenyum kikuk, sedangkan Ayana hanya geleng kepala melihat kelakuan Desi yang memang lebih menjujung status sosial.


"Jeng Desi, ada perlu apa datang kemari?" Tanya Ayana untuk mengalihkan pembicaraan tentang status sosialita yang ujung-ujungnya akan memamerkan kekayaan.


"Ini loh, aku mau cariin gaun untuk putriku yang paling bagus limited edition."


Ayana melirik dibelakang tubuh Desi yang berdiri wanita cantik.


"Oh ya. Siapa namanya jeng, kok ngak dikenalin." Tanya Ayana sambil tersenyum melirik gadis yang sejak tadi berdiri sambil memainkan ponselnya.


"Namanya Bianca, putri ku satu-satunya."


Ayana hanya menggangguk. Tak lama keduanya kembali menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar.


"Mama." Disya menghampiri Diana dengan senyum dan berlari kecil.


Adam yang berada di belakangnya langsung bereaksi.


"Sayang, jangan lari!" Perkataan Adam cukup keras hingga membuat Nathan dan Frans ikut berdiri.


Karena tidak mendengar apa yang Adam katakan, Disya yang tidak hati-hati tersandung kakinya sendiri.


Brugh


"Disya..!"


.


.


Kembang, kopi, vote, Like, komen... 🤣