ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Diskusi dalam bercinta



Ahhh


Suara desahann Disya terdengar merdu di telinga Adam saat rudalnya masuk sepenuhnya.


"Enghh, mendesahlah aku menyukainya." Adam mengecup bibir Disya lembut dengan pelan dirinya mulai mengerakkan pusat tubuhnya yang sudah meronta untuk digerakkan.


"Enghh." Tubuh Disya semakin bergerak gelisah saat kenikmatan yang Adam berikan kian mendesaknya.


"Ah, lebih cepat." Disya mencekram lengan Adam yang menyentuh sisi pinggangnya untuk menahan tubuh Disya yang terhentak.


"Kau menyukainya heemm.." Adam menatap wajah Disya yang sudah begitu sayu, tatapan matanya begitu membuat Adam terlena.


Tubuh dan semua yang ada di diri wanitanya Adam begitu menggilainya, wanita pertama yang Adam sentuh sepenuhnya, Disya wanita pertama yang membuatnya begitu candu.


"Ough sayangg Arg." Adam mengerang saat pusat Disya menyembur dengan begitu hangat membasahi miliknya yang masih bekerja untuk mencari kepuasan.


"Hah, cukup perut ku ahh."


Mendengar rintihan Disya yang menyebut perutnya, seketika Adam menghentikan aktifitasnya yang akan mencapai pelepasan, tapi semua langsung sirna mendengar suara Disya yang merintih.


"Kamu kenapa? apa aku menyakitimu?" Adam tampak panik, dan langsung melepaskan penyatuan mereka meskipun rudalnya masih berdiri tegak menantang.


"Enghh.." Disya meleguh saat tiba-tiba Adam melepaskan penyatuan mereka, dan Disya merasakan kosong di dalam miliknya.


"Sya, mana yang sakit?" Adam mengusap perut Disya yang tadi bilangnya sakit, Adam bahkan mengecup perut Disya yang masih rata. "Maafkan papa." Bisik Adam pelan.


Disya yang mendengarnya menjadi terharu, dan memilih menarik tubuhnya yang masih polos untuk bersandar di bahu ranjang.


"Kemarilah." Disya menepuk sisi kanannya agar Adam mendekat dan duduk disebelahnya.


"Jangan bikin aku takut, mana yang sakit?" Adam masih mempertanyakan rasa sakit yang Disya alami karena Adam begitu khawatir.


"Hem, sudah lebih baik." Disya langsung naik ke atas tubuh Adam saat pria itu sudah duduk bersandar seperti yang Disya inginkan.


"Kau mau apa? jangan berbuat macam-macam." Adam menatap Disya bingung. Tadi merintih sakit, dan sekarang malah menggodanya dengan bergerak sensual di atas rudalnya yang setengah lemas.


"Katakan apa yang kamu lakukan untuk mendapatkan ramen tadi, engh." Disya mengalungkan tangannya di leher Adam, wanita itu dengan berani menggoda Adam untuk pertama kali.


"Aku? melakukan ap-ahh Syaaa.." Suara geraman Adam begitu terdengar seksi di telinga Disya. Apalagi melihat wajah sampai leher Adam menegang, terlihat urat-urat dileher Adam yang menonjol karena menahan hasrat yang kambali naik. "Kau menggodaku hm." Adam menatap wajah Disya yang malah tersenyum menggoda.


Kedua tangan Adam mencekram pinggang Disya, membuat Disya semakin kuat menekan pinggulnya.


"Emmh.." Disya mendongak saat Adam yang sudah tidak tahan meraup buah dadanya yang semakin menggoda untuk di jamah, Adam menyukai kegiatan yang membuatnya merasa puas.


"Ah jangan kuat-kuat." Disya mendesahh sambil menggigit bibir bawahnya saat Adam mengigit pucuk dadanya dan menariknya (Pikir sendiri). kedua tangannya bergantian meremat rambut Adam hingga menekan kepala Adam agar semakin dalam menyesap pucuk kelembutannya yang semakin sensitif.


"Sayang aku tidak tahan lagi." Adam menatap Disya dengan tatapan memohon, kedua mata Adam memancarkan gairah yang sudah menggebu-gebu.


"Em." Disya mengakat tubuhnya dengan Adam yang mengarahkan miliknya untuk masuk ke gua yang sudah siap untuk di huni, dan tanpa halangan apapun Adam masuk begitu saja dengan sensasi yang membuat kepalanya semakin ingin meledak.


"Yours is so delicious."


Suara rendah Adam membuat Disya bersemangat untuk menggerakkan tubuhnya naik turun, Adam mengigit bibirnya dengan tatapan penuh damba pada wanitanya yang sedang berpacu dengan kenikmatan.


"Apa dengan begini membuatnya merasa nyaman, hm." Tangan Adam mengusap perut Disya yang yang bergerak naik turun, napas Disya sudah tersengal.


"Hem, jawab pertanyaan ku Adam, ahh shh." Disya membuka bibirnya diiringi dengan desahann yang melesat begitu saja.


"Pertanyaan yang mana? ohh yess Baby ini enak sekali oug."


Adam merancau dengan tubuh yang menegang saat Disya sengaja mempermainkan titik kelemahan pria itu.


"Ramen, ah."


Mereka berdiskusi dengan gerakan tubuh yang memacu kenikmatan di ujung tanduk.


"Engh, demi kamu dan anak kita, ahh Sya pelan." Adam mengerang dengan wajah tertahan miliknya terasa semakin dijepit begitu kuat.


"Demi ap-ahh."


"Aku rela di cium dan di cubit pipiku hanya karena ramen, ibu-ibu itu menggunakan kesempatan untuk melakukan hal yang membuatku risih Ough." Adam menekan pinggang Disya saat wanita itu semakin liar bergerak, mekipun begitu Disya masih ingat jika dirinya sedang hamil.


"Dan kamu mau begitu saja, shh aku tidak tahan."


"Demi kalian aku akan melakukan apapun, meskipun menjadi bulanan ibu-ibu, ahh bersama sayang."


Disya tersenyum disela-sela desahann yang semakin menggila, "Engh, apa aku begitu berarti untuk hidupmu?"


Adam yang awalnya menunduk melihat pergerakan Disya, kini mendongak. Menatap wajah Disya yang tersenyum dan begitu sayu.


"Yang harus kamu tahu, jika sudah masuk kedalam hidupku maka tidak akan ada pintu untuk keluar begitu mudah. Sshh- dan kalian adalah bagian hidupku, Ough sayang."


Adam menyambar bibir Disya dan ********** begitu rakus. Disya yang merasakan desakan begitu hebat, membuatnya ikut membalas ciuman Adam yang sangat liar.


"Arrghh.."


Keduanya mengerang dalam cumbuan bibir yang menyatu, Disya merasakan tubuh Adam yang bergetar hebat, dengan suara erangan yang membuat Disya begitu bahagia. Dirinya berhasil memuaskan sang suami siang ini.


"Terima kasih sudah melakukan hal yang tidak pernah kamu lakukan hanya untuk menuruti permintaan ku." Disya mengecup bibir Adam lembut.


Mendapat kecupan pertama dari Disya Adam menyambutnya dengan senang hati, mekipun napas keduanya saling memburu tapi kedekatan mereka begitu intim.


"Hm, meskipun aku bukan pria yang baik. Tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian." Adam mengecup kening Disya, dan menyelipkan rambut Disya kebelakang telinga.


"My life is you, you are everything forever."


Adam kembali melumatt bibir Disya lembut sebelum keduanya kembali merengkuh kenikmatan ronde kedua.


Mendengar ungkapan persaan Adam yang begitu tulus, membuat Disya begitu bahagia. Dirinya tidak menayangkan akan sebahagia ini ketika mendengar ungkapan tulus Adam. Sebisa mungkin Disya memantapkan hatinya untuk berlabuh pada pria kaku dan dingin yang sedang menggagahinya ini, Disya akan menyerahkan hidupnya untuk Adam Malik Adhitama seorang, pria pertama yang menyentuhnya hingga sekarang mereka menjadi sepasang suami istri.


Adam Malik Adhitama, adalah pria keturunan Nathan Putra Adhitama. Pria yang memegang teguh janji suci dengan satu wanita yang bernama Ayana Malika Ifana. Dan semua adalah keturunan Adhitama yang hanya menjunjung dua wanita, yaitu Ibu yang melahirkan hingga istri yang menjadi pendamping hidupnya. Beruntungnya mereka yang menjadi pendamping pria keturunan Adhitama yang terkenal setia dalam urusan wanita. Dan otor juga mau titisan Adhitama untuk di jadikan calon mantu 😩