ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Dibalik rencana Ayana



Selama diperjalanan Disya tidak bicara, begitu juga Adam yang fokus menyetir. Pria datar dan kaku itu hanya diam tanpa suara. Disya juga malas karena kesal dengan kedatangan Adam yang tiba-tiba.


Tak lama mobil Adam berhenti ketika sudah sampai.


Disya semakin bingung dengan apa yang dia lihat. "Kenapa kita kesini?" Tanya Disya yang bingung.


Adam melepaskan sealbed miliknya, dan turun tanpa menjawab ucapan Disya.


"Argh, dosa apa yang aku buat sampai aku bisa bertemu dengan pria kaku itu." Disya meremat tangannya di udara dengan tatapan kesal pada Adam yang melewati kap depan mobilnya.


"Keluar." Ucap Adam yang sudah membukukan pintu untuk Disya yang masih kesal.


Disya menatap Adam tajam dengan wajah garang, sedangkan pria itu hanya meliriknya saja.


"Kau belum Jawab pertanyaan ku, kenapa kita ke bandara." Kata Disya lagi dengan suara ketus.


Adam menutup pintu mobil, dan tak lama Arfin datang.


"Kau itu merepotkan sekali Dam." kesal Arfin dengan wajah kesal.


"Mana?" Adam mengulurkan tangannya pada Arfin.


Arfin memberikan apa yang Adam minta. "Sudah lengkap. So gue pergi dan semoga kalian cepat dapat momongan." Ucap Arfin dengan melirik Disya sambil tersenyum culas.


Disya menatap Arfin kesal, apa pula ucapan pria itu.


"Ck, bawel. Gue serahin pekerjaan sama lu." Ucay Adam tanpa ekspresi.


"Beres, jangan lupa. Pulang gue dapet ponakan." Ucap balik Arfin.


Pria itupun pergi setelah pamit. Adam menarik tangan Disya untuk mengajak wanita itu masuk kedalam bandara dan melakukan pemeriksaan tiket.


"Loh kita mau kemana sih?" Sejak tadi Disya dibuat kesal oleh Adam.


Pertanyaannya tidak ada yang di jawab oleh pria menyebalkan itu.


"Keluar kota selama tiga hari." Jawab Adam sambil menerima tiketnya kembali setelah di periksa dan menarik tangan Disya untuk mengikutinya lagi.


"Lepas..!" Disya menghentakkan tangannya agar terlepas dari Adam. "Maksud kamu apa? aku tidak mau pergi sama kamu." Disya menatap Adam tajam dengan kekesalan yang begitu ketara.


Adam memang tidak bisa lembut kepada wanita, pria itu selalu pemaksa.


Adam menatap Disya yang menatapnya marah. "Memangnya kenapa? kau ini tunanganku, jadi aku bebas mengajakmu kemana saja karena ayahmu sudah memberiku ijin."


Hah..


Mata Disya semakin melotot tidak percaya. Apa katanya? tidak mungkin papanya memberikan ijin semudah itu untuk Adam, apalagi Disya tahu jika papanya begitu kecewa dengan apa yang sudah dia alami dengan Adam.


"Tidak mungkin, kau_ arkh apa yang kau lakukan turunkan aku, Adam sialan turunkan aku..!!" Disya berteriak sambil memukuli punggung Adam mengunakan tangannya.


"Kau itu memang harus dipaksa. Dasar pembangkang." Suara Adam yang terdengar serak.


Disya masih saja berteriak dan meminta Adam untuk menurunkannya, hingga mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di bandara, tapi Adam tidak perduli.


.


.


Dikediaman Adhitama Nathan baru saja keluar dari kamar mandi, pria yang masih memiliki tubuh gagah tapi dadanya tak sebidang dulu itu menatap istrinya yang sedang asik dengan ponselnya sambil senyum-senyum.


Tubuh Nathan sudah tidak sekekar dulu, tapi perutnya masih rata dengan rambut yang sudah sedikit memutih.


"Kamu kenapa senyum-senyum begitu sayang." Nathan naik keatas ranjang dan ikut duduk disamping Istrinya, melihat apa yang sedang dilakukan Ayana.


"Semua persiapan sudah sembilan puluh persen siap, dan mereka nanti tinggal fiting baju saja di butik." Ucap Ayana sambil tersenyum lebar.


"Apa mereka nanti tidak akan syok melihatnya." Ucap Nathan yang mengingat putranya.


"Biarkan saja anak nakal itu terkejut, karena ini kejutan untuk mereka yang sudah melakukan hal yang membuatku syok." Ucap Ayana dengan nada kesal.


Padahal Adam melakukan pertunangan mendadak itu karena Adam merasa harus bertanggung jawab. Dan tanpa Adam sadari Nathan dan Ayana sudah bertemu dengan Frans dan Diana secara kekeluargaan, dan mereka meminta maaf atas perbuatan Adam.


Diana menceritakan bagaimana mereka bertemu hingga menjadi satu malam kesalahan di London, Diana bercerita sesuai dengan apa yang Disya katakan, padahal itu hanya sepenggal belum banyak apa yang sudah Adam lakukan pada Disya.


Ayana dan Nathan sepakat untuk membuatkan pesta pernikahan untuk mereka.


Frans dan Diana awalnya keberatan karena terlalu mendadak, tapi mendengar penjelasan Ayana membuat Frans dan Diana akhirnya setuju.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka selanjutnya, apalagi aku tidak yakin jika putraku tidak akan melakukannya lagi karena putri anda memang sangat menarik, dan untuk menghindari hal yang mungkin saja Disya hamil lebih dulu, sebaiknya kita nikahkan saja mereka secepatnya."


Ucapan Ayana membuat Frans dan Diana saling berpikir, dan akhirnya kesepakatan terjadi diantara kedua orang tua itu, hanya saja Ayana meminta pada Frans untuk tidak memberikan maaf pada putranya itu agar Adam seperti mendapat hukuman.


Nathan menghela napas, "Kenapa Adam bisa berbuat seperti itu, padahal aku dulu kan tidak berbuat seperti itu sayang." Ucap Nathan yang merebahkan kepalanya di pangkuan sang Istri.


Ayana menaruh ponselnya di nakas, saat Nathan merebahkan kepalanya di pangkuannya, itu berarti Nathan ingin di perhatikan.


"Tidak semua anak menurun sifat dan kelakuannya dari kedua orang tuanya, karena mereka memiliki jalan sendiri saat sudah dewasa. Dan mungkin itu sudah takdir Adam bertemu dengan jodohnya." Ayana memijat kepala Nathan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan digenggam Nathan.


Keduanya larut dalam suasana yang begitu tenang, Ayana yang bercerita dan Nathan hanya menjadi pendengar dan itulah yang mereka lalui diusianya yang tak lagi muda, menghabiskan waktu berdua di rumah besar, karena putrinya tak lagi tinggal bersama mereka setelah ada yang memiliki.


Setelah melakukan perjalanan udara selama hampir 3 jam. Akhirnya Adam dan Disya sampai di hotel bintang lima di kota itu.


Hotel mewah dan terbesar di kota itu, siapa lagi jika bukan aset dari Adhitama. Disya saja sampai heran, berapa kekayaan milik keluarga Adhitama, hingga dimana-mana mereka memiliki usaha.


"Silahkan Sir." Pelayan hotel mengantarkan Adam dan Disya ke kamar presiden suite nomor satu di hotel itu.


"Terima kasih." Balas Adam sambil menggandeng tangan Disya untuk masuk ke dalam.


Bukanya apa-apa, Adam mulai risih saat masuk kedalam hotel, semua pria menatap ke arah Disya, entah apa yang membuat mereka menatap ke arah wanitanya, padahal Disya tidak berpakaian terbuka atau seksi, tapi mereka melirik Disya seakan menarik.


Disya menatap kamar hotel yang luas dan juga mewah, untuk kedua kali Disya melihat kamar hotel presiden suite seperti ini, pertama di London dan itupun dengan Adam juga, yang tak lain adalah kamar mereka malakukan Ons panas itu.


Mengingat itu wajah Disya tiba-tiba memerah dirinya merasa dejavu.


Adam yang berdiri tidak jauh dari Disya menatap wanitanya yang masih terpaku dengan kamar hotel miliknya. Dan Adam akui, wanitanya memang menarik dari segi penampilan dan terutama wajah, tanpa menggunakan pakaian seksi, Disya sudah terlihat menarik.


"Aku lapar."


Tiba-tiba Disya bersuara dan berjalan kearah ranjang melewati Adam yang berdiri sambil melepaskan jas dan juga kemeja putihnya.


Disya duduk di pinggiran ranjang sambil mengambil foto selfie untuk dirinya.


Adam selesai melepaskan pakainya dan hanya bertelanjang dada, pria itu mendekati Disya yang asik berselfie.


Cup


Cekrek


Disya membulatkan kedua matanya saat Adam mencium pipinya, dan saat itu juga kamera mode on, hingga jepretan itu begitu pas disaat Adam mencium pipinya, dengan wajah Disya yang terkejut.


"Bagus." Adam langsung menyambar ponsel Disya dan mengirim foto barusan ke ponselnya, sebelum Disya menghapusnya.


"Heh mau apa?" Disya merebut ponselnya kembali.


Adam hanya menatap Disya sekilas, dan berlalu pergi masuk kedalam kamar mandi.


Melihat sikap Adam membuat Disya semakin kesal. "Hihhh menyebalkan.." Omelnya yang melihat Adam masuk kedalam kamar mandi.


Disya melihat hasil foto yang katanya Adam bagus, "Bagus apanya, ekpresi ku saja terkejut bukanya senang." Dumelnya sambil menatap lekat foto itu.


Tanpa Disya sadari bibirnya tersenyum, dibalik sifat menyebalkan Adam ternyata pria itu juga terlihat manis dengan caranya sendiri, Disya ingat saat dibandara Adam membukakan pintu mobil untuknya, padahal dirinya sedang kesal karena Adam membawanya ke bandara, hanya saja Disya selalu kesal dan marah-marah jika bertemu Adam yang menyebalkan itu.


.


.


Semangat untuk kasih dukungan author sayang...πŸ’‹πŸ’‹