ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Keputusan Disya



Disya lebih dulu berjalan masuk ke gedung hotel, wanita itu berjalan di atas red karpet yang terbentang panjang. Disya tampak sedikit gugup, meskipun yang hadir adalah satu perusahaan cabang tapi tetap saja Disya menjadi gugup, ditambah didalam sana ada ayahnya yang sudah menatapinya dengan senyum, dibelakang ayahnya berdiri Dino yang juga tersenyum. Apa pria itu tidak marah ketika dirinya tidak ada dirumah saat Dino menjemput.


Disya akhirnya menampilkan senyum kakunya, mekipun terlihat manis, tapi tetap saja Disya terpaksa tersenyum.


"Ayah.." Disya menyapa Frans yang berdiri dengan pria yang lebih tua beberapa tahun dari ayahnya.


"Sayang, kamu baru sampai." Frans memeluk putrinya.


"Hm, maaf Sya terlambat." Ucap Disya berbohong. Karena dia tahu jika perayaanya belum di mulai.


"Tidak sayang, pestanya belum dimulai, dan sepertinya Adam juga belum datang." Ucap Frans yang langsung membuat Disya terdiam.


"Sayang kenalkan ini tuan Nathan, papanya Adam."


Deg


Disya yang tadinya gugup kini bertambah gugup mendengar pria paruh baya yang ada di depannya adalah papanya Adam.


"Putrimu cantik Frans." Ucap Nathan dengan suara khas tuanya.


Frans terkekeh, "Memiliki dia harus ektra ketat mejaga Tuan, jika tidak mungkin saya sudah memiliki cucu seperti kamu." Ucap Frans yang membuat Nathan juga tertawa.


Dino hanya menjadi pendengar, dia ingin bertanya pada Disya kemana wanita itu pergi, saat dia menjemputnya, tapi malah sekarang Disya baru datang.


Diaya hanya meringis, mendengar apa yang ayahnya katakan, kenapa ucapan ayahnya seolah sindiran baginya.


"Maaf Pah, Adam terlambat." Tiba-tiba suara yang sangat familiar terdengar.


Mereka menoleh dan Adam tetap menampilkan wajah datarnya tanpa senyum.


"Kenapa kamu bisa telat son, padahal Mama kamu sudah tidak sabar dengan apa yang akan kamu lakukan." Nathan menepuk bahu Adam, membuat Adam tersenyum mengerti maksud dari papanya. Tidak ada yang bisa lepas dari pantauan Nathan Adhitama, ketiga anaknya pasti dalam pantauan yang mereka tidak sadari.


"Maaf Pah." Adam menatap Disya yang yang langsung membuang wajah, bahkan wanita itu langsung mendekati Dino.


"Yasudah sebentar lagi acara dimulai, ayo kita kesana." Ajak Nathan pada Frans dan juga Adam.


Adam memilih berjalan di belakang kedua pria paruh baya itu, saat melawati Disya yang sedang berbincang dengan Dino, dengan sengaja Adam meremat bok*ong Disya.


"Aaahhk.." Disya memekik saat merasa terkejut.


Tanpa rasa dosa Adam tetap berjalan santai tanpa menoleh.


"Kamu kenapa Sya?" tanya Dino dengan khawatir saat mendengar Disya memekik.


"Em, t-tidak apa Mas." Jawab Disya menahan kesal melihat punggung Adam yang menjauh.


Tidak di sangka Adam bisa melakukan hal seperti itu ditempat umum, sungguh Disya tidak percaya jika Adam adalah pemimpin yang ditakuti semua orang karena sifatnya yang dingin dan licik. Bahkan Adam adalah pria pemaksa yang paling menyebalkan, bagi seorang Disya Fanesya.


Sambutan dari beberapa orang terpenting diperusahaaan pun sudah berjalan dengan baik. Kini pembawa acara mulai menuju ke inti acara mana akan di sampaikan oleh direktur utama langsung yaitu Adam Malik Adhitama.


Semua orang bertepuk tangan saat nama Adam disebut untuk naik keatas panggung.


Adam pun memberi sapaan lebih dulu kepada papa dan juga Calon papa mertua, itu sih maunya di Adam ya, tapi kayaknya reader juga mau🤫


Adam naik keatas panggung, penampilan Adam malam ini lebih berkharisma, entah apa yang membuat pria itu tampak berbeda padahal setiap harinya Adam berpenampilan seperti itu tanpa celah.


"Ada apa Sya, kamu membawaku kesini?" Dino sedikit heran, kenapa Disya membawanya ketempat sepi jika harus bicara.


"Em, aku_" Disya bingung ingin mulai dari mana, dirinya benar-benar tidak tega dengan pria sebaik Dino yang mengerti dirinya.


"Mas, sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak tahu jika semua akan seperti ini." Ucap Disya pada akhirnya, mencoba untuk berani menceritakan dan keputusan apa yang harus dia ambil, dirinya tidak ingin terbayang-bayang oleh rasa bersalah.


"Maksud kamu apa sayang? kamu melakukan kesalahan?" Tanya Dino dengan bingung.


"Maksud aku_" Disya menarik napasnya dalam dan menghembuskan perlahan. "Maaf mungkin ini yang terbaik untuk kita Mas, aku minta maaf jika aku membuatmu kecewa, dan mungkin kamu akan membenciku aku tidak apa Mas. Tapi aku ingin hubungan kita sampai disini_"


"Sya, kamu bicara apa sih!" Dino menungging suaranya, apalagi dirinya saja belum mendapat jawaban kemana wanita itu pergi tadi.


"Kamu tadi kemana? aku menjemputmu tapi Tante bilang kamu sudah pergi sejak sore, tapi sampai sini acara akan dimulai." Tanya Dino yang mengalihkan perkataan Disya tadi, dia tidak menganggap ucapan Disya tadi sungguhan.


"Mas aku tidak ingin membahas yang lain, aku hanya mau hubungan kita selesai sampai disini." Tekan Disya yang mulai kesal saat di Dino membahas hal lain.


Deg


Dino diam terpaku, dirinya tidak salah dengar kan. "Kamu jangan bercanda Sya, kamu pasti sedang_"


"Aku serius Mas, aku bukan wanita yang baik untuk mu, aku wanita yang sudah kotor." Kedua mata Disya berkaca-kaca.


"Tapi Sya, kita sudah bicarakan ini. Dan aku menerima kekuranganmu di masa lalu. Dan sekarang kamu membahasnya lagi." Dino tidak percaya dengan alasan yang Disya katakan.


"Aku_" Disya menatap Dino dengan air mata yang sudah menetes, dan kedua tangan Dino berada di kedua bahunya.


"Percayalah aku akan menerima kekuranganmu, karena aku mencintaimu Sya, aku mencintaimu." Dino menangkup pipi Disya, dan mengusap air mata Disya yang jatuh dipipi.


"Aku tidak bisa Mas, karena aku melakukan kesalahan itu lagi."


Jederr


Bagaikan di sambar petir, Dino terpaku dengan apa yang Disya katakan. 'Melakukan lagi' itu berarti.


"Apa? katakan yang jelas." Ucap Dino mengguncang kedua bahu Disya. "Katakan Sya, siapa pria itu, katakan..!" Dino tidak menyangkal jika Disya akan melakukan ini lagi padanya, padahal Dino sudah berlapang dada untuk menerima kekurangan Disya meskipun menyakitkan, tapi ternyata wanita itu kembali menyakiti hatinya lagi.


Disya menggeleng, dan dengan terpaksa Disya mendorong bahu Dino agar menyingkir.


"Sudah Mas, mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku harap kamu akan menemukan wanita yang lebih baik dari aku, dan tidak seperti aku yang menyakitimu." Tatapan Disya begitu nanar, dirinya merasa berat tapi mau bagaimana lagi, Disya tidak ingin Dino menanggung kesalahannya, dan Disya tidak ingin dihantui rasa bersalah.


Disya meninggalkan Dino yang berdiri mematung, dirinya meninggalkan pria yang begitu terpukul dengan pengakuannya barusan.


sakit dan perih itulah yang dirasakan Dino, karena wanita yang dicintainya kembali melukainya. Berbeda dengan Disya yang merasa lega, entah apa yang terjadi pada perasaanya yang jelas Disya merasa lega dan terbebas dari rasa bersalah yang dirinya lakukan untuk Dino.


Mengusap air matanya sebelum masuk ke aula, Disya tiba-tiba terkejut saat namanya yang di panggil.


.


.


Semangat kembang kopi sayang 😘😘