
Hari ini sudah satu Minggu Disya bekerja di kantor cabang pusat yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Disya membutuhkan waktu empat puluh lima menit menuju kantor dari rumahnya.
"Sya nanti siang kita makan di restoran depan yuk?" Ajak Dimas yang meja kerjanya berada depan pojok Disya.
Disya mendongak, karena gadis itu masih mengerjakan laporan yang diminta manager keuangan untuk menyelesaikan beberapa laporan yang menurut Disya tidak benar.
"Sorry Dim, aku banyak pekerjaan." Jawab Disya.
Dimas adalah pria yang bertemu Disya di lobby kantor pusat saat ingin interview.
Dan Dimas yang mendapat kesempatan untuk bekerja di kantor cabang bersama Disya, dibawah naungan Adhitama Grub.
"Yah, padahal aku ingin makan bareng kamu loh, sudah satu bulan kita kerja bareng tapi belum sempat." Keluh Dimas dengan wajah sedih.
"Sorry Dim," Disya hanya menyengir menanggapi ucapan Dimas.
Sejak kemarin dirinya mengerjakan laporan yang diberikan menager keuangan untuk Disya perbaiki, tapi sudah dua kali Disya merubahnya dan selalu mendapat kemarahan dari atasannya lantaran laporan yang Disya buat tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dan jika seperti ini Disya lah yang pusing.
Sebisa mungkin Disya memberikan rincian jumlah seperti yang atasanya minta, karena besok adalah sudah harus selesai dan diserahkan kekantor pusat.
"Kalau begini terus bisa-bisa kerugian semakin besar." Gumam Disya pelan.
Disya semakin berpikir untuk mengubah laporan keuangan yang memang angkanya melenceng, dan Disya yakin jika keadaan seperti ini sudah cukup lama terjadi.
Gadis itu berpikir keras untuk membongkar kecurangan yang mereka lakukan tanpa harus terlihat mencolok. Disya masih menimang bagaimana jika dirinya melakukan itu. Apakah karyawan baru seperti dirinya akan dipercaya?
Entahlah, yang jelas dirinya hanya ingin melakukan yang terbaik, dan jika harus dipecat setelah ini tidak apa-apa.
"Din laporan untuk besok, aku rasa sudah cocok, coba di cek." Vivi menyerahkan laporan keuangan bulanan yang diminta atasan mereka untuk diperbaiki dengan lebih terperinci.
"Oke, aku cek dulu." Dina menerima laporan yang Vivi berikan, mereka berdua bekerja dibawah kuasa Frans Handoko, tak lain adalah ayah dari Disya. Awalnya keduanya cukup terkejut saat melihat ayah sahabat mereka yang ternyata menjadi direktur keuangan, karena mereka tidak menyangka jika bekerja di bawah tangung jawab ayah Disya.
Dina dan Vivi tentu saja senang, mereka tidak akan canggung dengan orang yang sudah dikenal, meskipun didalam perusahaan tetap bersikap formal tapi dengan ayah Disya mereka sudah seperti anak bagi Frans sendiri.
"Moga aja besok Disya bisa menyelesaikan laporanya, karena mendengar apa yang diceritakan Disya, sepertinya mereka sudah lama memanipulasi laporan itu." Ucap Vivi mengingat sahabatnya yang sedang berjuang.
"Iya, kasihan Disya. Jangan lupa ingatkan dia siang ini makan bareng." Ucap Dina.
"Iya, udah aku ingetin barusan dia bilang otw kesini." Vivi melihat jam di tangganya tiga puluh menit lagi jam istirahat, dan Disya akan menghampiri mereka dikantor.
"Tumben dia bisa keluar cepat, apalagi jam istirahat," protes Dina.
"Kata Disya sogokan." Jawab Vivi sambil terkikik.
"Bisa aja tu si bos Disya, belum tahu aja siapa bawahannya."
Sedangkan di depan gedung yang menjulang tinggi, Disya baru saja turun dari mobilnya, dan berjalan masuk ke lobby untuk menemui dua sahabatnya, sepuluh menit lagi jam istirahat dan Disya sudah menenteng kantung makanan untuk mereka makan bersama.
"Siang mbak, ruangan mbak Dina dan mbak Vivi dilantai berapa ya?" Tanya Disya pada resepsionis.
"Maaf Mbak ada perlu apa?" tanya resepsionis wanita yang melihat penampilan Disya.
"Oh, hanya ingin mengantar pesanan." Jawab Disya.
"Dilantai 9 mbak."
"Terima kasih." Disya tersenyum dan berlalu untuk menuju lift yang aman membawa ke lantai sembilan.
Disya menekan angka 9 untuk mencapai tujuannya. Gadis itu menunggu sampai lift yang dia tumpangi sudah terbuka dilantai sembilan, Disya keluar dan belok ke kiri untuk sampai di ruangan kedua sahabatnya.
"Holaaa...!!"
"Widiiihh neng paket datang." Ucap Vivi senang.
Senyum di wajah Disya seketika menghilang berganti dengan wajah di buat kesal.
"Sialan kamu Vi." Disya mendelik tajam kearah Vivi.
"Jajar Sya, dia emang perlu di beri hadiah."
Ketiganya tertawa keras, hingga mengundang seorang yang baru saja keluar dari ruanganya penasaran.
Jam istirahat memang sepi, karena para karyawan sedang makan siang atau melakukan aktifitas lainnya, tapi tidak biasanya raungan Staf keuangan ramai dengan suara tawa seorang wanita.
Pria itu berjalan mendekati ruangan yang tampak ramai, merasa terganggu Adam memilih untuk mendatangi langsung.
Dan saat didepan pintu yang sudah terbuka Adam hanya bisa menatap tajam, ketiga Wanita yang sedang makan didalam ruangan kerja mereka.
"Kalian..!"