
Setelah melalui acara yang cukup melelahkan, kini semua tamu sudah bubar dan yang memiliki hajat sudah kembali ke peristirahatan masing-masing.
Kelurga menginap di hotel bintang lima Adhitama, begitu juga sepasang pengantin yang menempati kamar VVIP hotel keluarga.
Acara resepsi yang berjalan lancar dan cukup menguras waktu dan tenaga, tapi mereka semua tampak menikmati dengan rasa bahagia. Acara yang diselenggarakan begitu menyita perhatian masyarakat yang tidak hadir, resepsi mewah itu disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi yang menyuguhkan berita bisnis. Dimana direktur Adhitama Grub seorang pebisnis muda dan sukses sudah melepas masa lajangnya. Bukan hanya itu saja, wajah Adam yang kerap kali menghiasi media cetak membuat para kaum Hawa yang mendambakanya merasa patah hati, mekipun terkenal dingin dan seperti alergi wanita, tapi karisma Adam tidak dapat dipungkiri.
Didalam kamar Adam baru saja selesai membersihkan diri. Adam baru saja masuk kamar hampir jam 12 malam, dirinya menemani Arfin dan beberapa sahabatnya yang lain. Mereka merayakan pesta pelepasan masa lajang Adam.
Melihat Disya yang sudah terlelap, Adam hanya tersenyum simpul, dirinya berdiri di sisi ranjang sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Ini adalah malam pertama setelah dirinya resmi menikahi Disya, mekipun bukan malam pertama untuk pengantin baru yang sesungguhnya, tapi bagi Adam sama saja, karena mulai malam ini dan seterusnya Adam akan di temani guling hidup saat tidur maupun kesehariannya nanti.
Adam melihat pergerakan Disya yang mengerjapkan kedua matanya. Wanita itu membuka mata dan melihat Adam yang berdiri di samping dirinya terbaring.
"Kamu baru mandi?" tanya Disya dengan suara serak khas bangun tidur.
Adam hanya mengaguk saja. "Kenapa bangun?" tanyanya dengan wajah datar tanpa ekspresi, tapi tangannya masih bergerak mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Disya bangun dan sedikit mundur kebelakang untuk duduk bersandar di bahu ranjang. "Em, aku lapar?" Ucapan Disya membuat Adam menghentikan pergerakan tangannya.
"Lapar?" tanya Adam.
"Hu'um, tapi aku tidak mau makanan hotel." Disya mengutarakan keinginannya sebelum Adam menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan.
"Terus?"
Hanya mendapat jawaban singkat dari Adam, membuat Disya mengehela napas. "Aku mau makan di-"
"Ini sudah malam, jangan aneh-aneh." Potong Adam lebih dulu sebelum Disya meyelesaikan ucapanya. "Aku pesankan makanan di hotel, kamu mau makan apa?" tanya Adam yang sudah menyambar ponselnya untuk menghubungi bagian restoran hotel.
Disya hanya diam tanpa ingin menjawab, dirinya malas untuk memakan makanan hotel.
"Nasi goreng saja." Jawabnya asal.
Adam memesan nasi goreng yang di minta Disya, tanpa tahu jika wanitanya hanya menjawab asal agar Adam tidak marah.
"Tunggu sebentar lagi, mereka akan membawa makanan yang kamu mau." Adam menepuk kepala Disya pelan, dan berlalu duduk disofa dengan ponselnya. Sepetinya Adam tengah mengecek perkejaan yang dia tinggalkan selama 2 hari lalu.
Disya hanya menatap dengan bibir cemberut, karena kesal Disya memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai keleher.
Lima belas menit bel pintu berbunyi, Adam yang masih fokus dengan gadget nya menatap Disya yang terbaring, Adam memilih beranjak dari duduknya untuk membuka pintu, dan memang seorang pelayan hotel yang membawakan pesanan Adam tadi.
"Sayang.." Adam mendekati Disya dan menaruh nampan berisikan nasi goreng di atas nakas, sambil memanggil Disya agar bangun.
"Sya, nasi gorengnya sudah datang." Panggilnya lagi, tapi tidak mendapatkan respon.
"Sya.." Adam menggoyangkan bahu Disya tapi lagi-lagi tidak mendapat respon. "Kamu tidur lagi." Gumamnya pelan dan menengok Disya yang memejamkan mata.
"Katanya lapar, kasihan baby kalau kelaparan." Ucap Adam yang berharap Disya bangun.
Sedangkan Disya hanya diam dengan menutup matanya, padahal telinganya mendengar apa yang Adam katakan, Disya hanya ingin makan diluar dengan suasana lesehan atau angkringan, namanya ibu hamil pasti kemauannya tidak terduga, dan perasaan yang sensitif membuat Disya menahan tangisnya. Adam yang tidak peka membuat Disya merasa sedih dan tidak dimengerti.
.
.
.
NEXT .... like, komen jangan lupa πππ