ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Tanpa komunikasi



Sejak satu Minggu kejadian kebakaran yang menimpa gudang, Disya sudah kembali aktif bekerja. Satu hari dirinya ijin lantaran kakinya yang terkilir, dan satu hari itu juga dirinya di sidang oleh ayah dan juga bundanya.


Disya tidak bisa berbohong kepada kedua orang tuanya, Disya memilih jujur meskipun melihat kedua orang tuanya kecewa.


Walaupun begitu Disya hanya bercerita saat di London saja, selebihnya hanya dirinya dan Adam yang tahu.


"Sya ini laporan yang harus kamu periksa untuk anggaran yang harus dikeluarkan." Dimas memberikan berkas pada Disya agar di teliti lagi.


Pemuda itu masih menjadi mata-mata Adam, tapi sudah hampir seminggu ini, Adam sama sekali tidak merespon laporan yang Dimas kirim. Mekipun sudah dibaca.


"Iya Dim terima kasih." Disya tersenyum pada Dimas.


"Oke, kalau sudah aku kembali ya." Dimas ingin berbalik tapi ditahan oleh Disya.


"Dim?" Panggil Disya membuat Dimas menoleh.


"Ya, kenapa?" Dimas berbalik.


"Em, itu. Apa kamu masih memberi informasi untuk Adam?" Tanya Disya hati-hati.


"Masih, tapi beliau tidak meresponnya sama sekali, sudah satu minggu ini." Tutur Dimas.


Disya menggaguk dan menghela napas. "Ya udah, terima kasih ya Dim." Ucap Disya.


"Oke." Dimas pergi meninggalkan ruangan direktur keuangan yang baru seminggu ini di tempati Disya.


Sudah seminggu pula Disya tidak bertemu Adam, pria itu entah menghilang kemana, dan kenapa? karena biasanya Adam muncul seperti jelangkung. Mengingat Adam membuat Disya kesal sendiri.


Pekerjaannya yang banyak membuatnya tidak bisa leluasa untuk kemana-mana, apalagi banyak data yang harus dirubah setelah penangkapan atasan yang lama. Dan kini Disya yang harus memperbaiki kecacatan yang dibuat mereka.


Untuk Dino, entah mengapa Disya tidak memikirkan pria itu lagi, tapi saat tidak sengaja mereka bertemu di lain kesempatan membuat Disya masih merasa bersalah.


Apalagi Dino sudah berbeda dengan yang dia kenal dulu, Dino yang dulu humoris kini berubah menjadi pendiam. Apalagi jika berpapasan pria itu hanya senyum tanpa mau menyapa. Dan semua itu membuat Disya merasa bersalah sudah mengecewakan pria baik seperti Dino.


Dikantor pusat, Adam barus tiba bersama Arfin setelah menghadiri jamuan bersama klien untuk membahas kerja sama.


Mereka baru saja masuk keruangan Adam dengan Arfin yang duduk disofa.


"Jangan lupa nanti sore pesawat take off jam empat sore." Ucap Arfin yang mengingatkan Adam.


"Gue inget." Jawab Adam tanpa melihat Arfin.


"Gue kira lupa." Ledek Arfin melirik Adam yang fokus bekerja dengan berkas kembali.


"Ngak ada niat buat ketemu Calon bini?" tanya Arfin.


Adam melirik Arfin sekilas. "Ngak usah ganggu gue, pergi sana." Adam mengusir Arfin yang membuat kupingnya panas.


"Dih, sensi bener. Kalau lu ngak mau, yaudah gue aja yang apel. Mayan janur kuning belum melengkung."


Bugh


Brak


"Sialan..!" Arfin mengumpat saat Adam melemparnya dengan telpon yang ada dimeja.


Karena tidak sempat menghindar, akhirnya kepala Arfin yang menjadi sasaran.


Arfin kembali mengumpat melihat Adam yang cuek. "Gue sumpahin Disya bakalan ninggalin lu, dan jadi milik gue..!"


Brakkk


Arfin langsung menutup pintu kuat dan kabur sebelum Adam kembali ngamuk.


"Sialan Arfin.!" Adam menghempaskan berkas yang dia pegang dengan kasar, pria itu begitu kesal dan juga geram dengan ucapan Arfin.


Seminggu ini Adam memang sibuk, selain kasus kebakaran yang belum menemui titik terang, dan kerugian yang di alami Adam begitu banyak dan besar. Hingga membuat Adam harus merasakan kerugian untuk pertama kali.


Kesibukannya yang memang benar-benar padat membuatnya pulang selalu larut malam, Adam dan Arfin melakukan hal yang sama. Keduanya akan pulang di jam 11 malam setelah pekerjaan mereka berkurang.


Nanti Adam harus keluar kota untuk melihat proyek besar yang akan berlangsung, dan mungkin bisa satu minggu Adam berada di sana.


"Disya.." Adam memijat keningnya yang terasa berat. Dirinya mengingat kembali terakhir mereka bertemu di gudang yang terbakar.


Adam masih ingat bagaimana dirinya berlaku pada Disya, bahkan Adam meninggalkan Disya sendiri dan di antar Arfin.


Saat itu dirinya yang sedang kalut dan emosi melihat barang terbakar habis dan mengalami kerugian besar, dan disana Adam yang tidak bisa melupakan rasa marahnya memilih untuk memarahi Disya saat wanita itu terjatuh. Dan Adam melampiaskan dengan Disya tanpa ada niatan.


Jam setengah empat sore Disya mulai berkemas, wanita itu merapikan meja kerjanya. Hari ini Disya ingin pulang cepat lantaran ingin berbelanja kebutuhannya yang habis, dan kebetulan pekerjaannya sudah selesai siang tadi.


Keluar dari kantor keadaan masih ramai karena masih ada kurang lebih 15 menit karyawan pulang. Disya keluar lebih dulu dan menyapa siapa saja yang dia lewati.


Sampainya diparkiran Disya tertegun melihat seorang pria yang bersandar di kap mobilnya. Mobil sport pemberian Adam waktu itu.


Disya berjalan kembali menuju pria yang sudah berdiri tegak saat melihatnya.


Adam menatap Disya yang mendekat, dari balik kaca mata hitamnya.


"Kamu disini?" Tanya Disya basa-basi.


"Hm, mau naik. tapi Dimas bilang kamu sudah turun." Jawab Adam, sambil melepaskan kaca mata hitamnya.


Disya hanya mengaguk. " Aku mau pulang, jadi minggir lah." Ucap Disya dengan wajah acuh tak acuh.


"Mau kemana? ini belum jam pulang." Adam menahan pintu mobil Disya yang akan tertutup .


"Pekerjaanku sudah selesai dan aku ingin_"


"Naik dari samping." Ucap Adam memotong ucapan Disya.


Disya masih mencerna ucapan Adam. "Apa?"


"Ck, buru naik sana, atau aku cium kamu disini." Ancam Adam membuat Disya mengalah.


"Dasar pria pemaksa." Gerutu Disya yang mau tida mau ikut naik.


Bukan Adam namanya jika tidak memaksa.


.


.


Bismillah,,, mulai besok otor Udah aktif untuk carzy up 🤗 dukung author terus ya sayang..,🥰🥰🥰