ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Kenyataan



Anggi malam semakin dingin menusuk kalbu, seorang wanita berjalan tergesa memasuki lobby hotel. Wanita yang beberapa jam lalu meninggalkan hotel, tapi kini sudah berada di hotel itu lagi.


"Mbak saya mau masuk ke kamar nomor xxx." Ucap Disya pada resepsionis yang berjaga.


"Sebentar ya Mbak." Wanita itu mengetikkan sesuatu di layar komputer didepannya.


"Ini Mbak cardlock kamar xxx." Resepsionis itu memberikan pada Disya.


Disya jelas terkejut, karena dirinya malah di kasih kunci candangan.


"Tuan Adam sudah mendaftarkan nama Anda nona Disya." Ucap resepsionis itu seolah menjawab kebingungan Disya.


"Terima kasih." Disya mengambilnya dan terseyum. Hatinya benar-benar tersentuh dengan apa yang Adam lakukan, padahal dirinya hanya orang asing yang terlibat satu malam dengan Adam, sampai hubungan mereka seperti ini.


Disya membuka pintu kamar yang Adam tempati menggunakan kartu yang dia bawa, dengan perlahan wanita itu masuk kedalam kamar presiden suite yang Adam tempati.


Disya melihat Adam yang sudah berbaring di atas ranjang dengan posisi telentang, pria itu sama sekali tidak mengganti pakaian yang Disya tahu pakaian saat dirinya pergi.


Langkah kaki Disya bergerak pelan mendekati Adam yang tertidur dengan wajah gelisah, Disya menatap sendu wajah Adam yang tertidur tidak tenang.


"Syaa." Entah sadar atau tidak Adam, menyebut nama Disya saat matanya terpejam.


"Hm, aku disini." Disya langsung duduk ditepi ranjang. Menggenggam tangan Adam yang terasa sangat panas.


"Kamu demam." Disya menyentuh kening Adam yang berkeringat tapi suhu tubuhnya begitu panas, kerutan dikening Adam terlihat begitu bergelombang seperti banyak beban berat yang sedang Adam pikirkan.


Disya mengeluarkan obat yang sudah dia beli di apotik sebelum sampai hotel, Disya tahu jika saat kelelahan pasti tubuh akan mengalami demam tunggi, karena dirinya sudah pernah merasakannya.


Setelah mengambil air, Disya membantu Adam untuk meminum obat.


"Buka mulut kamu, minum obat dulu." Disya membangunkan Adam, meskipun tidak membuka mata tapi Adam menuruti apa yang Disya katakan.


"Kenapa kamu bisa seperti ini." Disya menatap sendu wajah Adam yang pucat, pria tegas dan pemaksa itu kini seperti tak berdaya. "Cepat sembuh, jangan buat aku khawatir." Disya mengusap kepala Adam lembut, dirinya tidak tega melihat Adam yang lemah seperti ini.


Jam menunjukan pukul 3dini hari, Disya baru saja membereskan obat yang dia bawa, tumbuhnya juga merasa lelah setelah melakukan perjalanan udara pulang pergi. Beruntung bayi yang dia kandung begitu kuat, hingga membuatnya tidak mengalami kendala saat penembangan.


"Beri papa kekuatan sayang, biar papa kuat." Disya bicara pada buah hatinya di dalam perut, wanita itu begitu senang ketika bayi yang dia kandung tidak rewel saat di perjalanan.


Disya ikut merebahkan diri samping Adam, wanita itu sudah mengantikan pakaian Adam yang tadi masih memakai pakaian kerja.


"Cepat sembuh, jangan sakit." Disya memajukan wajahnya untuk mencium kening Adam, dirinya masuk kedalam dekapannya Adam yang begitu hangat. Berharap besok pagi suhu tubuh Adam sudah menurun.


Siapa sangka pertemuan satu malam di London membuat keduanya saling membutuhkan, kesalahan satu malam yang mereka lakukan membuat keduanya saling terikat satu sama lain. Jodoh, rezeki dan maut memang tidak ada yang tahu, hanya tuhan yang kuasa menentukan takdir umat manusia di dunia.


Di Jakarta Arfin tidak bisa menghubunginya nomor ponsel Adam. Pria itu hanya bisa mondar mandir di ruangannya dengan kesal.


"Sialan si Adam, apa dia sedang indehoy." Kesal Arfin yang mengingat ada Disya bersama Adam.


"Ck, enak banget dia." Gerutu Arfin lagi.


Hari memang jadwal Adam pulang ke Jakarta, dan hari ini Adam ada pertemuan penting dengan kolega bisnisnya yang dari London.


Dan sejak tadi Arfin tidak bisa menghubungi nomor Adam membuat Arfin uring-uringan sendiri.


.


.


Sedangkan di kota yang berbeda, orang yang Arfin kesal masih bergelung di bawah selimut. Matahari sudah begitu bersinar hingga cahaya silau yang begitu terang membuat tidur Adam terusik.


Adam mengerjapkan kedua matanya dengan berat. pria itu mengusap wajahnya saat masih merasakan sedikit pusing.


Adam sedikit menundukkan kepalanya melihat siapa yang tidur beralaskan tangannya.


Deg


Jantung Adam berdebar, melihat Disya yang terlelap dalam dekapannya, wanita itu masih begitu terlelap hingga Disya tidak sadar jika Adam sudah bangun.


Tangannya terulur mengelus pipi Disya, posisi Disya tidur menghadap dada bidang Adam Bahkan hidung Disya menempel pada dadanya.


"Maaf sudah membuatmu kahawatir." Ucap Adam dengan senyum tipis.


Melihat Disya yang berada di pelukannya hatinya begitu terasa hangat. Ada perasaan bahagia yang Adam rasakan, meskipun sedikit rasa khawatir ada.


"Seharusnya kamu tidak melakukan ini, bagaimana jika bayi kita kenapa-napa." Tiba-tiba Adam merasa cemas.


Karena merasa terganggu dengan pergerakan tangan Adam di pipinya. Disya perlahan merubah posisi tidurnya. wanita itu tidur terlentang, tapi masih mengunakan tangan Adam sebagai batalnya.


Disya mengerjap melihat jika dirinya di kamar hotel Adam. "Huff, aku pikir cuma mimpi." gumam Disya yang belum menyadari jika Adam ada di sampingnya.


"Mimpi apa Hm." Suara berat Adam membuat Disya tersadar dan menoleh kesamping.


"Kamu sudah bangun." Disya langsung menyentuh kening dan leher Adam dengan tangannya, wanita itu terlihat lega dengan senyum yang terlihat jelas dia bibirnya.


"Syukurlah, demamnya sudah turun." Disya menatap Adam yang juga menatapnya.


Keduanya saling tatapan hingga Adam lebih dulu tergoda untuk mencicipi bibir Disya.


Adam mencium bibir Disya dan memangutnya sebentar, "Kenapa kau nekat kesini, aku tidak apa-apa." Tangan Adam yang bebas, menyelipkan rambut Disya kebelakang telinga. "Justru aku yang takut jika terjadi apa-apa pada kalian." Lanjutnya dengan menatap wajah Disya lekat.


"Aku kuat papa, seperti Mama." Jawab Disya dengan menirukan suara anak kecil.


Adam teekekeh mendengar suara Disya yang terdengar menggelitik hatinya, dan Disya hanya tersenyum melihat Adam yang sudah seperti sedia kala.


"Terima kasih." Ucap Adam. "Terima kasih sudah mau merawatku semalam." Adam menatap lekat wajah Disya, perasaanya tidak bisa dibohongi jika dirinya membutuhkan wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya ini. Melihat Disya rasanya Adam kembali bersemangat.


Disya menunduk sebentar dan kembali mengangkat kepalanya sambil menatap intens wajah Adam. Disya hanya ingin memastikan perasaanya, dan saat tatapan mereka bertemu jantung Disya berdebar kencang.


Sesuatu yang pernah Disya rasakan dahulu kepada Dino, sesuatu yang pernah Disya berikan hatinya kepada Dino, tapi sekarang perasaan itu semakin kuat dan Disya merasa jika dirinya sudah jatuh ke dalam pesona Adam Malik Adhitama.


Adam yang melihat tatapan Disya hanya tersenyum, pria itu mencubit Unjung hidung Disya gemas.


"Kenapa melihatku seperti itu, apa kau baru tahu kalau calon suamimu ini tampan." Ucap Adam sambil terkekeh.


Disya tersenyum tipis. "Ya, kau memang tampan


" Jawaban Disya membuat Adam melunturkan senyumnya, tatapan menatap lekat Disya yang juga menatapnya. "Sampai-sampai aku terjerumus kedalam kehidupanmu yang menyebalkan." Lanjut Disya. "Aku tidak tahu apa yang aku katakan ini benar atau tidak, yang pasti aku hanya mengikuti kata hatiku, jika aku-"


Tatapan Adam tak lepas dari wajah Disya yang sedang berbicara, entah kenapa jantungnya berdebar mendengar apa yang Disya katakan.


"Jika aku apa?" Tanya Adam dengan perasaan bergejolak.


"Aku-" Disya menjeda ucapanya. "Aku mencintaimu Adam."


.


.


Jangan lupa hadiah jempol dan komen author 😍😍😍😍