ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Rantika 3



Dino mengantar Rantika lebih dulu ke apartemennya, untuk mengambil barang yang menurut wanita itu penting.


Rantika masuk kedalam kamar, sedangkan Dino menunggu di ruang tamu. Pria itu menatap sekeliling apartemen yang ditinggali Rantika, cukup rapi dengan apartemen ukuran sedang.


Ceklek


Rantika keluar dari dalam kamar dengan wajah yang sembab habis menangis.


"Sudah?" Dino bertanya saat Rantika sudah sampai di depannya.


Rantika hanya mengaguk dengan kedua mata yang masih menggenang air mata.


"Jangan sedih, doakan saja tidak terjadi apapun." Dino yang merasa tidak tega dan iba menarik Rantika kedalam pelukannya, dan Rantika langsung menangis dalam dekapan Dino.


Wanita itu menumpahkan kesedihan yang dia alami, kesedihan yang dia rasakan selama ini dan sekarang kesedihan itu bertambah saat mendengar kabar dari ibunya.


Tanpa menunggu lama, mobil Dino yang dikendarai Tio, dengan Dino dan Rantika yang duduk di kursi penumpang belakang, Rantika menatap pemandangan luar dibalik kaca jendela mobil. Sejak satu jam perjalanan hanya ada keheningan yang melingkupi keduanya. Rantika yang memikirkan keadaan bapaknya, sedangkan Dino yang tidak tahu ingin bicara apa.


"Minumlah." Tiba-tiba Dino memberikan botol minum untuk Rantika, pria itu menyodorkan tepat di samping wajah Rantika. "Agar kamu bisa lebih tenang." Ucap Dino lagi ketika melihat reaksi Rantika yang hanya diam.


"Terima kasih pak." Rantika menerima botol minum yang Dino berikan.


Dino hanya mengagguk. "Tidak usah panggil pak, karena saya bukan atasan kamu lagi." Tutur Dino yang merasa tidak nyaman dengan panggilan Rantika seperti saat di kantor, saat mereka menjadi atasan dan sekertaris.


Rantika hanya menoleh sebentar, tidak menjawab perkataan Dino.


Dino sendiri tidak kembali bicara, pria itu kembali fokus pada ponselnya.


Semakin lama rasanya semakin berat, rasa sesak yang Rantika rasakan begitu menyiksa dirinya, apalagi sekarang dirinya berada didekat pria yang menitipkan benihnya padanya, mobil yang pernah mereka lakukan untuk bercinta.


Rantika bisa mengingat jelas bagaimana mereka malam itu meraih kenikmatan yang tiada tara, pertama kali merasakan penyatuan yang memabukkan dengan tubuh yang basah oleh peluh.


Kilasan suara desahann dan erangan Dino begitu jelas di telinga Rantika, dirinya mengabadikan percintaan itu dalam ingatannya.


Bagaimana dirinya bisa melupakan sesuatu yang terlihat begitu mempesona, dimana saat Dino begitu bergairah dengan terus merancau kenikmatan, meskipun malam itu nama Disya yang Dino sebut, tapi bagi Rantika tidak masalah, karena saat itu Dino mungkin masih patah hati oleh mantan kekasihnya.


Dan Rantika tidak mempermasalahkan hal itu, wanita itu menerima takdirnya yang tidak pernah dilihat oleh Dino, pria yang diam-diam dia cintai.


Membayangkan semua itu, tidak sadar membuat kedua matanya terpejam, Rantika tertidur dengan kepala bersandar di kaca jendela mobil.


Dino yang menyadari jika Rantika tertidur, tangannya terulur untuk menyadarkan kepalanya di bahunya.


"Ssstt, tidurlah." Dino mengusap kepala Rantika, saat wanita itu bergerak gelisah, dan setelah itu kembali tenang dengan tangan Dino yang mengelusnya.


Entah karena apa, Dino merasa tidak tega meninggalkan Rantika sendiri, tidak tega melihat wanita itu menangis.


"Kenapa denganku." Gumamnya sambil terus mengusap kepala Rantika.


"Tika..." Dino membangunkan Rantika dengan mengusap kepalanya. "Sudah sampai, ayo bangun." Ucap Dino di depan wajah Rantika yang bersandar di bahunya.


Perlahan Rantika membuka matanya, bulu mata lentiknya mengerjap beberapa kali.


Dino memperhatikan setiap pergerakan Rantika, untuk pertama kali dirinya dekat dengan wanita seperti ini setelah Disya.


"Em, sudah sampai." Ucap Rantika dengan suara serak, khas bangun tidur.


"Tidur mu terlalu nyenyak, seperti orang yang tidak pernah tidur." Ucap Dino sambil mengusap pundaknya yang lumayan kebas saat Rantika bersandar satu jam lebih du bahunya.


Rantika hanya mecebikkan bibirnya, dan keluar dari dalam mobil untuk segera menemui ibunya.


"Tio saya ikut masuk kedalam, kamu tunggu disini." Ucap Dino pada asistennya.


"Baik tuan." Tio pun pasti hanya bisa menurut tanpa bisa membantah.


Dino mengikuti Rantika yang sudah berjalan jauh, pria itu mengikuti dan mencermati tubuh Rantika dari belakang.


"Apa dia wanita itu?" Batin Dino dalam hati.


Tapi rasanya tidak mungkin jika asistennya yang bernama Rantika yang dia kenal wanita baik-baik sampai bisa masuk bar eklusif seperti itu. Tidak mungkin rasanya jika Rantika suka mengabiskan waktu di bar.


Apalagi jika sampai Rantika melayani dirinya didalam mobil, rasanya itu tidak mungkin jika wanita yang sudah bercinta dengannya adalah Rantika.


"Ibu...!!"


Rantika langsung memeluk ibunya, saat dirinya melihat sang ibu yang sedang menangis sambil memeluk adiknya seorang pria.


"Ranti.." Keduanya langsung berpelukan dengan suara tangis yang memenuhi lorong ruangan UGD itu. Rantika dan ibunya saling menangis melupakan kesedihannya.


"Bagaimana keadaan bapak Bu." Rantika mengusap air mata ibunya yang mengalir deras, meskipun air matanya sendiri luruh tanpa bisa berhenti.


"Bapak-mu-" Ibunya menjawab dengan suara tersendat, dan kepalanya menggeleng. "Bapak mu sudah tiada."


Seketika tubuh Rantika menegang dengan pandangan yang semakin kabur hingga tiba-tiba menggelap dengan tubuhnya yang terasa jatuh dan terdengar suara teriakan terakhir kali.


"Ranti..!"


"Tika...!!"


.


.


Beberapa part kedepan masih part Rantika dan Dino. OKE..πŸ‘ŒπŸ‘Œ