
Keesokannya...
Disya sudah sampai kantor seperti biasa, wanita itu berjalan menuju ruanganya ketika keluar dari pintu lift. Tapi saat ingin masuk Disya berpapasan dengan OB yang baru saja keluar dari ruangan Staf keamanan.
"Mbak Disya baru datang." Tanya OB itu.
"Iya pak." Jawab Disya tersenyum sopan sama OB yang sudah bapak-bapak.
"Tadi saya menaruh paket diatas meja Mbak Disya, tapi saya nggak tau dari siapa, saya hanya disuruh menaruh saja diatas meja Mbak Disya." Ucap OB itu.
"Paket?" Disya tampak berpikir. "Em, terima kasih kalau begitu pak." Ucap Disya yang lebih memilih penasaran dengan isi paket itu.
"Iya mbak sama-sama."
Disya kembali masuk dan segera mencapai meja kerjanya, Wanita itu melihat paper bag berwarna cokelat diatas mejanya.
"Dari siapa?" Gumamnya yang langsung mengeluarkan kotak dari paper bag itu.
desa membuka kotak berwarna hitam dan ternyata isinya sebuah gaun yang begitu indah berwarna hitam.
"Gaun.." Pikirnya bingung.
tidak ada tanda pengenal ataupun kartu ucapan di dalam kotak itu dan semakin membuat bisa bingung siapa yang mengirim gaun seindah ini.
Tak lama ponselnya berdering bisa menaruh gaun itu kembali ke kotak dan menutupnya lalu tangannya meraih ponsel yang ada di dalam tasnya.
Disya melihat nama seseorang yang menelpon dirinya, ingin mengangkat pun malas, tapi Disya penasaran siapa yang memberikan gaun itu padanya, apakah pria yang sedang menelponnya sekarang.
"Hal_"
"Kenapa lama sekali mengangkat panggilnya, kamu tahu semakin lama kamu menunda mengangkatnya, maka semakin banyak waktuku yang terbuang. " Sarkas suara seseorang dari seberang sana.
Disya memutar kedua matanya jengah, mendengar ucapan Adam yang menyebalkan.
"Katakan saja, ada apa kau menelpon?" Tanya Disya to the poin.
"Kau sudah menerima hadiah yang aku kirim?" Tanya Adam dengan sambil menatap jendela didalam ruanganya.
"Hm." Jawab Disya berdehem, Disya bisa mendengar diseberang sana Adam mengehela napas.
"Pakailah nanti malam, karena aku ingin mengenalkan calon istriku didepan publik." Ucap Adam terdengar serius.
Disya diam mematung, dirinya bingung untuk menjawab apa, dan bagaimana dengan Dino setelah ini.
Jika kemarin Dino bilang bisa menerimanya, tapi sekarang Disya yakin jika Dino tidak akan mau menerimanya lagi, dan bahkan menatapnya saja terasa jijik.
"Kau mendengarkan Ku." Panggil Adam dari seberang sana.
"Ya." Jawab Disya singkat.
"Yasudah, jangan lupa aku akan menyuruh supir untuk menjemputmu."
Setalah mengatakan itu sambungan telepon terputus, oleh Adam.
Disya menghela napas kasar dengan menatap gaun hitam yang Adam kirim.
"Bagaimana aku menjalani takdirku ini Tuhan, kenapa begitu tragis." Ucap Disya dengan sendu.
Dirinya tidak menyangka akan terjerat dalam kehidupan pria seperti Adam Malik Aditama, pria penguasa bisnis di negara Asia dengan sejuta pesona dan segudang prestasinya.
Mendengar pintu dibuka Disya buru-buru kembali menaruh gaun yang dia pegang ke dalam kotak dan memasukkannya ke dalam menaruh paper bag itu di bawah kakinya.
"Mas Dino." Disya tersenyum kaku melihat Dino berjalan ke arahnya dengan senyum.
"Kemarin aku menunggumu tapi kamu tidak kembali ke kantor. Memangnya kamu ke mana?" Tanya Dino yang sudah duduk didepan kubikel Disya.
Disya yang sudah duduk, bingung ingin menjawab apa, karena jika berbohong Dino pasti tahu, karena dia menager disini.
"Em, aku sedikit tidak enak badan Mas kemarin, jadi aku pulang." Jawab Disya setengah bohong. Dia memang pulang dan sakit kepala, tapi pulang dengan direktur utama mereka yaitu Adam.
"Kamu sakit?" Wajah Dino langsung berubah panik. Dino langsung berdiri dan mendekati Disya. Menyentuh kening wanitanya.
"Sekarang sudah tidak apa-apa Mas." Ucap Disya yang secara halus menolak sentuhan tangan Dino, entah kenapa dirinya sudah merasa canggung berdekatan dengan Dino.
"Syukurlah kalau begitu." Dino merasa lega.
"Hm, iya Mas."
Berbincang sebentar Dino ingat acara kantor nanti malam.
"Sayang, nanti malam aku jemput ya." Ucap Dino yang berbalik saat ingin pergi.
"Eh, itu." Disya bingung ingin menjawab apa.
"Tidak ada alasan, aku jemput jam 7 malam." Dino mengedipkan matanya dan berlalu pergi.
Kedekatan Disya dan Dino pun sudah bukan lagi rahasia umum. Rata-rata mereka semua tahu kedekatan direktur dan staf keuangan itu.
Disya menatap Dimas dengan wajah memelas, "Dim," Ucap Disya pelan.
"Heee, sudah akau kirim." Dimas meringis menujukan deretan giginya, ditambah Dimas menunjukan layar ponselnya pada Disya.
Seketika mata Disya melotot ingin keluar dari tempatnya.
"Dim, kamu..!" Tenggorokan Disya rasanya begitu tercekat. "Kamu mata-mata Adam." Lanjut Disya menatap Dimas tak percaya.
"Hehe, maaf Sya. Demi 10jeti sebulan jadi mata-mata kamu." Dimas kembali menaikkan senyum Pepsodent nya.
Dan Disya tubuhnya lemas seketika. "Ya Tuhan apa yang akan pria itu lakukan." Disya sudah tidak lagi bisa berpikir Apa yang akan Anda lakukan padanya setelah ini, disayakin ada makan memberi hukuman kepada dirinya entah itu hukuman berbentuk apapun tapi dia sangat yakin jika Adam akan menghukumnya.
"Sialan si Dino." Adam meremat ponsel yang dia genggam.
Cuplikan video yang Dimas kirim cukup membuat Adam marah, apalagi saat Dino menyentuh kening Disya, membuat Adam tidak suka.
Adam memang menyuruh Dimas untuk memberi laporan kepada dirinya apapun yang dilakukan Disya di dalam ruangan kerjanya itu, karena Adam yakin jika Dimas akan menerima pekerjaan yang dia berikan mengingat Dimas memang membutuhkan uang untuk berobat adiknya ke rumah sakit. Dan Adam menggunakan kelemahan Dimas untuk membuat pria itu mau bekerja sama dengannya meskipun di awal Dimas sempat menolak karena merasa tidak enak dengan Disya tapi mengingat kembali Dimas yang butuh uang untuk berobat adiknya pun pria itu mau melakukan apa yang Adam suruh. Lagi pula Adam tidak menyuruhnya macam-macam hanya untuk memberi laporan apa yang Disya lakukan.
"Heh, mau bermain denganku. Kita lihat apa yang akan kamu lakukan jika wanita yang kau cintai saja memilihku." Ucap Adam dengan penuh percaya diri menatap Vidio yang masih berputar di layar ponselnya.
Adam bahkan baru mengetahui jika Dino dan Disya memiliki hubungan kekasih, karena selama ini yang Adam tahu Disya tidak dekat dengan pria lain tapi ternyata Disya dan Dino dipertemukan lagi di perusahaannya setelah mereka bertahun-tahun tidak bertemu.
.
.
Kembang kopi sayang💋💋