
Jalan hidup memang penuh cobaan dan rintangan semua manusia yang hidup di dunia semua mengalami cobaan, hanya saja cobaan itu tidaklah sama. Tuhan menguji hamba-nya tidak akan melebihi batas kemampuan umatnya sendiri.
Mekipun beban di pundaknya semakin berat, Adam tetap berusaha untuk melakukan hal yang terbaik. Tangung jawab yang dia pikul begitu besar, semua karyawan perusahaan bergantung hidup padanya.
Drt... Drt... Drt..
Ponselnya berdering tepat di jam makan siang, Adam yang masih sibuk dan banyak pekerjaan mengabaikan ponselnya. Adam Malik Adhitama jika sudah berurusan dengan pekerjaan maka pria itu akan melupakan dunianya, Adam akan fokus menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang.
Di tempat lain Disya tampak cemberut ketika teleponnya tidak di angkat oleh Adam, wanita itu yang jengkel memilih untuk pergi sendiri.
"Sya mau kemana?" Dimas yang kebetulan ingin keluar makan siang melihat Disya melewati ruangan Staf.
"Makan lah Dim, aku lapar." Jawab Disya dengan wajah kesal.
"Heh, aku punya salah apa? kenapa wajahmu tidak enak di pandang."
Disya mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin makan burger, tapi Adam tidak mengangkat telepon ku." Kesalnya yang sudah masuk kedalam lift.
Dimas mengikuti Disya masuk kedalam lift. "Ya sudah biar aku temani." Ucap Dimas sambil menekan tombol agar pintu tertutup, tapi belum sempat tertutup rapat, tiba-tiba sebuah kaki menahan pintu lift sehingga terbuka kembali.
"Maaf, apa aku boleh masuk?" Dino muncul didepan pintu lift, dan membuat Disya dan Dimas saling tatap.
"Masuk saja pak." Jawab Dimas seperti biasanya yang menghormati Dino sebagai atasanya.
Disya dan Dimas bergeser saat tiba-tiba Dino megambil posisi berdiri di tengah.
Pria itu tersenyum pada Disya, sedangkan Dimas menatap kesal karena atasanya itu mengambil kesempatan.
"Mau makan dimana Sya?" tanya Dino basa basi.
"Em, mau di B***er burger pak." Jawab Disya.
Dino hanya mengangguk saja. Dimas hanya sebagai pendengar yang baik tanpa mau ikut masuk kedalam obrolan mereka.
"Sepertinya kamu ingat tempat kita nongkrong waktu masih kuliah." Ucapan Dino seketika membuat Disya mengingat sesuatu.
Tempat yang baru saja dia sebutkan adalah salah satu tempat favorit mereka berdua saat menghabiskan waktu weekend.
"Kita kesana." Dino langsung menarik tangan Disya saat pintu lift terbuka.
Dan tentu saja hal itu menjadi pusat perhatian beberapa orang yang melihat.
Mereka tahu hubungan wakil direktur dan istri pemilik perusahaan saat ini. Dulu Dino sempat mengklaim Disya adalah miliknya sejak wanita itu masuk ke perusahaan. Tapi entah terjadi apa hingga wanita yang di klaim wakil direktur itu sekarang menjadi istri direktur utama atau pemilik perusahaan.
Dimas yang ingin ikut masuk kedalam mobil Dino, dicegah oleh pria itu.
"Kamu bisa pergi sendiri, dan tidak usah menjadi lalat yang terus menempel pada Disya." Kata Dino menatap Dimas tajam.
"Tapi saya suka menjadi lalat yang menempel pada ibu Disya, dari pada Anda yang akan menjadi duri di hubungan rumah tangga ibu Disya."
Dino mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras, pria itu menatap Dimas semakin tajam.
"So, anda tidak berhak menghalangi saya jika anda sendiri mengambil kesempatan itu."
Dimas langsung masuk kedalam mobil Dino yang tadi pintunya sudah dia buka, tapi saat ingin masuk Dino menghalangi nya.
"Pak Dino, apakah saya yang harus mengemudikan mobilnya." Dimas bicara dari dalam mobil samping kemudi.
Dino semakin mengeraskan rahangnya menahan kesal karena ada Disya di dalam sana.
Dimas terseyum miring saat Dino masuk dan duduk di balik kemudi.
Di dalam mobil tidak ada yang bersuara, Disya sedang sibuk dengan ponselnya yang sedang berbalas pesan dengan kedua sahabatnya di room chat.
"Apa kalian tidak melihat atasan kalian keluar makan siang?" tanya Disya didalam room chat yang hanya berisikan 3 anggota saja.
^^^Vivi cemot^^^
^^^"Tidak, kalau tidak salah hari ini asisten dan si bos begitu sibuk. mereka tidak keluar ruangan sama sekali."^^^
Disya menghela napas.
"Aku mengirim pesan dan bahkan menelponnya tapi tidak di angkat, aku hanya khawatir saja." Balas pesan Disya.
Tidak di pungkiri, Disya merasa khawatir dengan keadaan Adam meskipun hanya di kantor, tapi tidak biasanya Adam mengabaikan panggilanya berulang kali.
^^^Dina Dini..^^^
^^^"Sabar mungkin pak direktur lagi banyak dateline jadi tidak sempat mengangkat telepon."^^^
"Mungkin saja, kalau begitu aku kesana saj ya, dia ada di kantor kan?"
^^^Vivi Cemot^^^
^^^"Nah ide bagus, sekalian bawa makan siang untuk pak suami."^^^
Disya hanya membalas pesan dengan emot 'ok'.
"Dim aku ke kantor Adam saja, tolong Mas berhenti di restoran depan itu saja." Kata Disya pada kedua pria yang duduk di depan saling mengeluarkan aura dingin itu. Tapi Disya yang tidak peka tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
"Tapi Sya, bukankah kamu ingin makan burger?" Dino bertanya sambil menatap kaca spion atas yang mengarah kebelakang, dari sana Dino bisa melihat wajah Disya.
"Tidak Mas, aku mau bungkus makanan di restoran itu saja, tolong berhenti di sana." Kita Disya lagi yang minta tolong untuk kedua kali.
Dino tidak bisa memaksa lagi, pria itu memilih menuruti ucapan Disya dari pada harus berdebat.
"Aku temani Sya." Dimas langsung ikut keluar dari mobil sedangkan Dino hanya bisa mencekram erat setir kemudi dengan penuh kekesalan.
"Terus saja kau dahulukan dia, setelah ini aku jamin kalian tidak akan sama lagi." Dino menatap punggung Disya dan Dimas yang masuk ke dalam restoran, dan Dino kembali melajukan mobilnya.
"Dim, kamu kembali ke kantor saja ya, jika banyak pekerjaan yang harus kau periksa kamu kirim saja lewat email." Kata Disya sambil menenteng makanan yang dia pesan.
"Baik lah, kamu hati-hati." Dimas meninggalkan Disya setelah Disya naik taksi.
Sedangkan Dimas juga memesan taksi untuk kembali ke kantor, tidak jadi masalah baginya tidak jadi makan bersama Disya. Yang penting Dino tidak lagi bersama Disya.
Diperjalanan Disya hanya menatap luar jendela, wanita itu kembali fokus setelah taksi yang dia tumpangi berhenti di depan gedung Adhitama Grub.
"Terima kasih pak." Disya turun setelah membayar ongkos, dan berjalan masuk menemui resepsionis.
"Pak Adam nya ada di ruanganya?" Tanya Disya pada resepsionis wanita yang berjaga.
"Eh, ibu. Kebetulan pak Adam baru saja pergi dengan pak Arfin, baru saja buk."
Mendengar ucapan resepsionis itu, seketika momod Disya buruk.
"Baiklah, kira-kira kapan pak Adam kembali?" Tanya Disya lagi.
"Saya kurang tahu Bu, jika ibu mau menunggu mari saya antar keruagan beliau." Tawar resepsionis itu yang ingin mengantarkan Disya.
"Tidak usah, saya sendiri saja." Disya tersenyum sebelum pergi.
Wanita itu menggunakan lift khusus petinggi perusahaan. Selain Istri dari CEO mereka, Disya juga sudah dikenal sebagai direktur keuangan di kantor cabang, dan posisi Disya sama dengan posisi papanya di kantor ini.
Setelah lift terbuka di lantai 6, Disya keluar berjalan menuju ruangan staf keuangan, Disya memilih menemui di sahabatnya jika ada diruangan mereka.
"Eh, kok sepi." Disya melongokan kepalanya melihat kedalam, tapi tidak ada siapa-siapa karena ini memang masih jam makan siang.
Karena tidak ada orang Disya memilih menuju ruangan ayahnya Frans, dan disana Disya juga tidak menemukan ayahnya karena Frans sedang keluar kantor.
"Ayah juga ngak ada." Disya mengembuskan napas kasar.
Menatap makanan yang dia bawa, Disya memilih kembali masuk ke dalam lift untuk menuju ruangan Adam.
Setelah sampai, Disya menaruh makanan yang dia bawa di meja sofa, karena lapar Disya memilih makan lebih dulu dan menyisakan milik Adam jika nanti pria itu kembali.
Tiga puluh menit Disya selesai makan dan sudah menunggu Adam, tapi pria itu juga belum kembali. Karena merasa ngantuk Disya memilih merebahkan tubuhnya di sofa.
"Setelah kenyang pasti penyakitnya ngantuk." Disya sudah menguap beberapa kali dan tak lama akhirnya dirinya terlelap juga.
Adam dan Arfin bertemu Klien yang akan bekerja sama dengan kantor cabang, karena selain Dino yang memegang Adam juga mengikuti apa saja yang berjalan di perusahanya, dan Adam juga mendapatkan data keluar masuk di jam yang sama yang Dino dapat.
"Selamat siang Mr. Adam." Pria paruh baya itu menyambut kedatangan Adam dengan berjabat tangan.
"Siang juga Mr. Endrew." Adam menerima jabat tangan itu.
Mereka berdua ditambah asisten jadi mereka berempat duduk di meja yang sama.
"Saya ingin menawarkan kerja sama untuk perusahaan anda yang bergerak di bidang ekspor, ini adalah rincian yang kami tawarkan." klien Adam memeberikan berkas untuk Adam dan Arfin pelajari.
Dan saat membacanya dengan seksama, Adam dan Arfin saling tatap.
"Apakah anda yakin ingin menyuntikkan dana sebesar ini di proyek baru kami yang terbengkalai?" tanya Arfin mewakili Adam.
"Ya, karena saya lihat dari segi-"
Klien Adam menjelaskan apa saja yang menjadi pertimbangan mereka untuk memberikan investasinya pada proyek Adam yang sedang terjadi kendala, dan Adam cukup mengerti dengan apa yang kliennya mau. Karena memang sejatinya tidak nada kerja sama jika tidak meraih keuntungan yang maksimal.
"Baiklah kita sepakat."
Keduanya saling bertukar berkas untuk di tanda tangani, dan setelah hampir dua jam lebih Adam baru saja keluar dari restoran.
"Setelah ini kita kelokasi proyek sana Fin." Kata Adam sambil fokus pada Ipad-nya.
"Tapi Dam, kamu belum makan?" Kata Arfin sambil mengemudi.
Adam tidak menjawab, pria itu hanya fokus pada Ipad-nya.
Arfin hanya geleng kepala melihat Adam di sampingnya yang fokus bekerja.
Memang keadaan tidak sedang baik-baik saja, dan Arfin cukup mengerti kerja keras Adam yang tidak bisa digantikan apapun. Adam seperti kembali pada Adam remaja dulu, tidak kenal lelah dan waktu bahkan sampai melupakan makan sangking sibuknya.
Setelah hampir dua jam lebih perjalanan yang menempuh jalur bebas hambatan, Arfin akhirnya sampai di proyek pembangunan yang kembali berjalan meskipun tidak kondusif.
Letak pembangunan proyek berada diluar kota Jakarta, sehingga mereka cukup memakan waktu untuk sampai di sana.
"Sepetinya sudah lebih baik dari sebelumnya." Ucap Arfin menatap lurus kedepan.
Disana ada 10 alat berat untuk beroperasi, tapi hanya ada 4 yang bergerak, dan yang lain tidak bisa di gunakan karena kondisi yang sedang tidak kondusif.
Adam mengusap wajahnya kasar, baru ini dirinya begitu terpuruk untuk menghadapi perusahaannya sendiri, dirinya tidak pernah selemah ini meskipun harus memeras keringatnya sendiri.
"Kenapa tidak menggunakan Adhitama Grub, dengan begitu pasti-"
"Aku tidak ingin melakukanya, karena aku merasa mampu. Tapi jika melihat keadaan seperti ini, rasanya aku tidak bisa lagi untuk-"
"Pasti ada jalan keluar, aku yakin itu." Arfin menepuk pundak Adam, kedua pria itu bertekad untuk mengembalikan kesejahteraan perusahaan yang mereka bangun.
Memang sulit, tapi usaha tidak akan menghianati hasil, jika kita bersungguh-sungguh.
.
.
Panjang kali lebar..awas aja kalau ngak tinggalin LIKE 🤣🤣🤣