
Hari kedua Adam masih dengan pekerjaannya yang akan diselesaikan secepat mungkin, dirinya meninggalkan Disya dihotel karena memang pekerjanya tidak bisa di tinggalkan.
Sejak tadi Adam tidak lepas dari ponselnya, dirinya selalu mengirim pesan lima menit sekali, sampai-sampai membuat Disya jengah dan kesal.
"Jangan lupa makan, tidak usah ke mana-mana dan ingat kamu sedang hamil."
Pesan yang dikirim Adam setiap lima menit sekali, dan jika Disya tidak membalas pesan yang Adam kirim, pria itu akan kembali mengirim pesan sampai Disya membalasnya.
Karena kesal harus membalas pesan, Disya memilih untuk masuk ke dalam balthup dan berendam air hangat, kebiasaanya yang terkadang tidak ada waktu karena sibuk bekerja, dan Disya berendam sambil memejamkan mata. Tanpa dia sadari sudah dua jam dirinya berada didalam balthup karena tertidur.
Disya tidak tahu bagaimana keadaan Adam diluar sana, pria itu uring-uringan dan gelisah karena dirinya tidak membalas pesan.
Rasanya Adam ingin segera meninggalkan pekerjaannya dan pulang ke hotel, tapi jika dia lakukan pasti mereka akan lebih lama di luar kota, dan Adam tidak ingin menunggu lama mengatakan niatnya untuk menikahi Disya, Adam meminta Disya kepada kedua orangtuanya. Adam tidak mau di bilang pria pengecut dan tidak bertanggung jawab, meskipun meskipun apa yang dia pikirkan belum tentu terjadi.
Berkutat dengan pekerjaan dan pikirkan tidak tenang, Adam berusaha untuk tetap fokus, besok dirinya ingin membawa Disya pulang, setelah dokter mengijinkan Disya untuk melakukan perjalanan udara.
"Pak ini juga berkas penting," Tiba-tiba seorang staf memberikan berkas lagi untuk Adam.
"Apa masih lagi, jika masih cepat bawa kemari." Titah Adam tanpa melihat orang yang membawa berkas itu.
"Sepetinya tidak pak, sudah semua." Jawaban yakin dari staf itu.
Adam tidak menjawab, dia hanya fokus pada pekerjanya, karena tidak ingin fokusnya terpecah belah lantaran memikirkan Disya. Adam berfikir mungkin saja Disya sedang tidur, karena sebelumnya Disya tertidur sangat lama.
Jam menunjukan hampir jam lima sore, Adam baru saja keluar dari ruangan yang khusus disediakan untuknya mengerjakan tugas penting. Adam akan mengunjungi kota ini satu bulan sekali.
"Langsung ke hotel." Ucap Adam pada supir yang sudah menunggunya.
Ting
Ponselnya bergetar tanda pesan masuk, Adam melihat ponselnya yang ternyata pesan dari Disya. Melihat itu Adam sedikit lega.
"Maaf, aku ketiduran." Balasan pesan Disya diikuti emot tertawa.
Belum sempat Adam membalas, pesan dari Disya kembali masuk.
"Aku ingin makanan berkuah dan panas, sepertinya baby menginginkan makanan itu."
Adam mengernyit bingung, tapi jari-jari tepat mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan dari Disya.
"Makanan berkuah apa? semua makanan ada namanya."
Balasan Adam langsung terkirim, bahkan langsung centang dua.
"Apa saja, akan aku makan. Bahkan jika kamu di kasih kuah aku juga akan memakanmu."
Adam melotot membaca pesan yang Disya kirim, "Memangnya aku ini makanan enak saja mau dimakan." Gumam Adam dengan kesal.
"Jay Carikan semua makanan yang berkuah." Ucap Adam pada supir didepan.
Jayadi melirik tuanya bingung lewat kaca spion.
"Makanan berkuah apa Tuan?" Tanya pria yang di panggil Jay itu.
"Apa saja penting berkuah, saya juga tidak tahu namanya." Balas Adam sambil masih membalas pesan dari Disya.
Dikamar hotel Disya menatap layar televisi yang menyuguhkan aneka masakan yang berkuah, dan saat itu juga Disya menginginkannya.
"Awas aja kalau ngak dapet, jangan harap bisa tidur nyenyak." Ucap Disya yang ditunjukan pada Adam.
Wanita hamil memang banyak maunya, dan Adam yang mencoba untuk menjadi calon papa sigap melakukan apa yang Disya inginkan.
Permintaan tidak jelas Disya juga membuat Adam pusing, pria itu sudah satu jam berkeliling mencari apa saja makanan berkuah seperti yang Disya minta.
"Jay biar aku saja yang membawanya." Adam mengambilkan beberapa kantong kresek yang ada di jok belakang, bahkan dirinya harus pindah duduk di kursi penumpang depan.
"Tapi tuan, ini terlalu banyak."
Pria yang lebih muda dari Adam itu hanya menurut saja, meskipun melihat Adam kasihan membawa banyak kantong kresek ditanganya.
Sampainya di depan pintu hotel, Adam kesusahan untuk memasukan kartu yang dia bawa, pria itu hanya bisa menghela napas. Jika yang melihatnya pasti Adam adalah sosok pria idaman dan perhatian.
Adam menurunkan kantong kresek di tangan kanannya, agar bisa memasukkan kartu akses untuk membuka pintu.
"Tuan apa butuh bantuan?" Tanya petugas hotel yang kebetulan lewat setelah bersih di lantai itu.
"Em, tidak. Saya bisa sendiri." Jawab Adam yang memang sudah berhasil membuka pintu.
Adam masuk dan menutup pintu dengan menggunakan kakinya, pria itu bisa melihat Disya yang langsung beranjak dari atas ranjang dan menyambut kedatangannya.
"Kamu bawa apa yang aku minta.?" Tanya Disya dengan mata berbinar.
Adam yang melihat tatapan Disya, tiba-tiba hatinya menghangat.
"Lain kali minta sesuatu itu yang jelas, biar aku tidak disangka orang mau buka warung." Ucap Adam yang menaruh bawaan ditangannya diatas meja.
Disya sempat tertegun melihat berapa banyak makanan yang Adam bawa.
"Aku mau mandi, kamu makanlah apa yang kamu mau." Adam menarik kepala Disya untuk mengecup kening wanitanya, dan setelah itu dirinya berlaku masuk kedalam kamar mandi.
"Sepertinya di mau jualan." Gumam Disya melihat makanan yang ternyata banyak bungkusan.
Disya menguhungi pihak dapur hotel untuk membawakannya peralatan makan yang kosong, tidak lupa Disya meminta peralatan untuk menghangatkan makanan berkuah.
Pihak hotel tahu dari mana mereka mendapat pesanan, dan Tanpa menunggu lama pelayan hotel datang membawa apa yang Disya inginkan.
"Terima kasih." Disya menutup pintu, dan setelah itu dirinya menyiapkan apa yang Adam bawa.
Meskipun tidak Disya tidak selera dengan apa yang Adam bawa, tapi setidaknya egonya tidak mengalahkan perasaanya yang memikirkan usaha Adam memberikan apa yang dia minta.
Makanan yang Adam bawa memang berkuah semua, tapi yang Disya inginkan adalah makanan kuah seperti bakso, soto. Makanan khas jajanan pinggir jalan seperti yang terlihat di televisi tadi.
Adam keluar dari dalam kamar mandi dan sudah melihat Disya duduk disofa dengan meja yang sudah penuh dengan makanan. Pria itu merasa senang jika Disya menginginkan makanan apa yang dia bawa.
"Kenapa tidak di makan?" Tanya Adam yang melihat piring Disya yang masih kosong.
"Aku nungguin kamu, tidak enak jika makan sendiri." Jawab Disya sambil melihat kearah Adam.
Disya berdiri, tapi Adam malah menahannya. "Kamu mau kemana?" tanya Adam yang melihat Disya berdiri.
"Aku ambilkan pakaian ganti, aku tidak ingin mataku ternodai karena rudal mu yang terkadang tidak tahu sopan santun." Kata Disya dengan v
nada sindiran.
Bukannya terusan tersinggung, Adam justru tertawa.
"Rudalku juga milikmu, karena dia hanya tau goa mu saja."
Bugh
Disya melempar kaos untuk Adam pakai tepat mengenai wajah pria itu saat tertawa.
"Mulutmu saja tidak tahu aturan, pantas saja rudal mu itu juga tidak tahu sopan santun." Kesal Disya dengan menatap Adam sinis. Tapi Adam tetap kebalikan senyumnya yang membuat Disya memalingkan wajahnya.
Disya akui, jika keberadaan Adam di sekitarnya membuatnya menjadi lebih nyaman, entah karena faktor kehamilan atau memang hatinya yang menginginkan Disya hanya merasa nyaman.
.
.
Kalau BAB di atas belum tinggalin jejak, dimohon untuk balik lagi π€£π€£ minimal jempol sama komen kalian sayang, πππ