ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Sya, apa kamu hamil?



Pagi hari matahari mulai menyingsing, Disya baru saja membuka matanya setelah merasa tidurnya terusik dengan cahaya matahari yang masuk.


Ketika membuka mata, Disya disuguhkan dengan siluet Adam yang sedang memakai pakaian kerja, pria itu sedang memakai kemeja dan mengancingkan perlahan.


Disya menarik bibirnya, dan seketika dia ingat sesuatu.


Cekrek


Satu foto Disya bidik tepat saat Adam mengangkat tangannya untuk memasang kancing di tangan, membuat senyum Disya mengembang.


"Bersiaplah, kau ikut denganku." Ucap Adam tanpa menoleh pada Disya.


Wanita yang masih duduk diatas ranjang itu menatap Adam bingung.


"Kemana?" tanya Disya sambil mengusap wajahnya.


Adam menoleh kepada wanita yang duduk diatas ranjang dengan penampilan acak-acakan setelah bangun tidur, tapi mata Adam justru termanjakan dengan penampilan Disya yang seperti itu.


Wanitanya memang cantik, Adam mengakuinya, hingga langkah kakinya perlahan mendekati Disya.


"Hari ini aku bertemu klien dan akan meninjau lokasi pembangunan. Jadi tugasmu hari ini mengantikan pekerjaan Arfin menjadi asistenku." Ucap Adam yang sudah berdiri sisi ranjang.


"Mana bisa begitu, aku tidak bisa menjadi asisten_"


Cup


"Tidak ada bantahan, karena kamu hanya punya jawaban 'Ya'." Adam meninggalkan Disya untuk duduk disofa, meneguk secangkir kopi yang sudah tersedia. "Lebih cepat lebih, baik kalau tidak maka malam ini kau."


"Kau apa!" Potong Disya lebih dulu. "Dasar pria menyebalkan." Disya berjalan masuk kedalam kamar mandi dengan perasaan dongkol, sudah semalam dirinya ditinggal, dan bangun-bangun dirinya harus melakukan apa yang bukan pekerjanya. Adam benar-benar pria kejam.


Adam menatap punggung Disya yang menghilang dibalik pintu kamar mandi, pria itu menghembuskan napas panjang. Disya tidak tahu apa yang Adam lakukan semalam, jika tahu pasti reputasi Adam akan hancur di depan Disya.


Adam menyewa kamar kosong dilantai itu, meskipun hotel miliknya, tapi Adam juga harus meminta ijin lebih dulu, dan mengikuti prosedur hotel yang berlaku.


Semalam Adam berusaha mengendalikan dirinya agar tidak memaksa Disya untuk melayaninya, Adam Sadar jika memang mereka belum menikah. Oleh karena itu Adam memilih untuk bermain solo di dalam kamar mandi yang kosong, di mana Adam yang bebas meneriakkan nama Disya sebagai fantasinya. Kejadian beberapa bulan setelah dari London kembali terulang, dan Adam merutuki kebodohannya yang tidak bisa menahan gairahnya jika sudah berdekatan dengan Disya.


Keduanya berjalan menuju tempat pembangunan seperti yang Adam katakan, setelah bertemu klien satu jam lamanya kini mereka kembali meninjau area pembangunan tempat hiburan yang letaknya jauh dari kota.


Adam sengaja membangun pusat hiburan di sana agar penduduk setempat bisa menikmati fasilitas yang dia buat tidak perlu pergi jauh-jauh.


"Semua berjalan dengan normal tuan, semua juga sudah terealisasi." Ucap pria yang Adam beri kepercayaan untuk pembangunan.


Adam melihat grafik pembangunan yang sudah enam puluh persen terlaksana, pria itu cukup puas dengan hasilnya nanti.


Disya yang sejak tadi berdiri disamping Adam merasa kepalanya pusing, wanita itu menutup mulutnya saat merasakan perutnya bergejolak.


Emph


Disya menutup mulutnya dan menjauh dari tempat Adam berdiri. Adam yang menyadari pergerakan Disya membuat pria itu ikut menghampiri Disya yang ternyata sedang muntah.


Huekkk..huekk...


"Sya, kamu kenapa?" Adam ikut berjongkok di belakang Disya, pria itu memijat pangkal leher Disya agar mengurangi rasa yang membuat Disya pusing.


"Emm, tidak tahu." Disya menggeleng dengan kedua matanya yang berair, tidak biasanya dirinya mual dan muntah seperti ini.


"Kamu sakit?" tanya Adam cemas, melihat wajah Disya yang pucat.


"Kepala ku pusing, perutku tiba-tiba mual." Disya berkata dengan lirih.


Adam menyeka bibir Disya menggunakan sapu tangannya. "Kita pulang ke hotel."


Disya hanya mengaguk saja. Saat berdiri tubuh Disya tiba-tiba melayang, dan ternyata Adam sudah menggendongnya.


"Baik tuan, semoga nona cepat sembuh."


Adam membawa Disya menuju mobil yang membawa mereka dari hotel, karena Adam memang tidak mau membawa mobil sendiri.


"Kita kerumah sakit ya." Ucap Adam yang melihat wajah Disya terlihat sedikit pucat dan sayu.


"Ngak papa, aku hanya ingin istirahat." Disya menggeleng, tidak mau Adam membawanya kerumah sakit.


"Tapi wajah kamu pucat, aku takut kamu kenapa-kenapa." Seketika wajah Adam yang datar tanpa ekspresi berubah menjadi wajah yang begitu khawatir.


Disya yang melihatnya menjadi terseyum. "Kamu kahawatir sama Aku?" Tanya Disya dengan masih menatap wajah Adam.


"Bodoh, jelas saja aku khawatir. kau itu calon istriku." Kesal Adam yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Disya.


"Ya, kawannya jangan kesal begitu, kenapa kamu itu tidak bisa manis jika bicara denganku." Cicit Disya yang merebahkan kepalanya di dada bidang Adam.


Posisi Disya masih duduk dipangkuan Adam, pria itu tidak membiarkan Disya duduk sendiri, dan kini Disya malah merasa begitu nyaman bersandar di dada Adam, mengatakan detak jantung Adam yang seperti alunan musik yang merdu.


Adam tidak menjawab, pria itu memilih untuk memeluk Disya yang bersandar di dadanya, jarang-jarang Disya bersikap manis seperti ini, yang ada Disya selalu menyebalkan dan keras kepala.


"Apa kamu salah makan?" Tanya Adam yang mengingat tadi Disya banyak makan saat direstoran bertemu klien.


Tidak biasanya Disya menghabiskan banyak makanan, padahal saat dihotel mereka sudah memakan sandwich, bahkan Disya menghabiskan dua.


"Emm.." Disya hanya bergumam.


Adam pun melihat wajah Disya, dan ternyata wanita itu sudah memejamkan matanya terlelap.


"Astaga Sya." Adam tidak habis pikir.


Baru saja di ajak bicara, dan tiba-tiba sudah terlelap.


Sampainya di hotel Adam merebahkan Disya ditempat tidur, Adam merenggangkan otot tanganya yang kaku, sepanjang perjalanan dia memangku tubuh Disya, membuat ototnya terasa kaku.


"Mau kemana?"


Adam menoleh kebelakang saat terdengar suara Disya. "Kenapa bangun?" Tanya Adam balik yang sekarang sudah duduk ditepi ranjang.


"Mau kemana? aku mau ditemani." Rengek Disya terdengar manja.


Adam semakin dibuat bingung, kenapa wanitanya berubah seratus delapan puluh derajat setelah muntah.


"Sya, kamu sakit?" Adam menempelkan punggung tangannya di kening Disya.


Disya menggeleng, "Aku cuma mau tidur ditemani." Ucapnya lagi dengan suara rengekan, tapi kedua mata Disya sudah berkaca-kaca.


"Hey, kenapa menagis. Oke fine, aku temani kamu." Adam pun akhirnya mengalah, dan ikut berbaring di samping Disya setelah melepaskan jas dan juga sepatu yang dia pakai.


Adam berbaring dan memeluk tubuh Disya, tangannya mengusap rambut Disya lembut.


"Kenapa sifatmu berubah, bikin aku bingung." Adam bicara lirih.


"Sya apa kamu hamil?"


.


.


Hayoooo lohh, cucu online coming soon 🤣