ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Milikmu membuat ku candu



Adam baru saja selesai bertemu Klien di sebuah kafe Mall tempat klienya janjikan. Pria itu melangkahkan kaki jenjangnya dengan Arfin yang mengikutinya. Sebentar lagi jam makan siang Adam ingin pulang untuk bertemu istrinya.


"Dam, tunggu dulu." Arfin menyentuh bahu Adam agar berhenti.


"Ada apa?" Adam menoleh kebelakang, dan Arfin menunjuk sebuah toko yang terlihat dari luar.


"Bini lu." Ucap Arfin membuat Adam semakin menajamkan penglihatannya.


Adam yang juga meyakini jika wanita yang mengobrol itu Disya, memilih untuk mendatangi toko perlengkapan bayi itu.


"Sayang.." Adam menghampiri Istrinya yang masih duduk.


"Eh, sayang kamu disini?" Disya yang tadinya syok kini berubah menjadi terkejut saat melihat Adam tiba-tiba datang.


"Sir Adam." Rantika menyapa mantan atasannya itu.


Adam menatap Rantika lalu turun melihat perut mantan sekretarisnya itu buncit, dan Adam mengalihkan tatapannya pada pria yang masih berdiri.


"Sayang, ternyata mereka sudah menikah." Ucap Disya sambil menyentuh lengan suaminya.


"Menikah?"


Disya mengagguk. "Jahat mereka tidak mengundang kita." Kata Disya lagi.


"Kami tidak mengadakan resepsi mbak, dan pernikahan kami di kampung." Kata Rantika menjelaskan.


Sejak kejadian Dino mengundurkan diri, keduanya memang belum pernah bertemu. Dan ini kali pertama mereka bertemu dalam keadaan yang berbeda. Tidak menyangka jika Dino akan menikahi sekertarisnya.


"Jadi kamu resign karena ingin menikah?" Bukan Adam melainkan Disya yang bertanya.


Keempatnya sudah berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari toko perlengkapan bayi tadi, dan ini kali pertama kedua pria itu dalam satu bangku.


Meskipun begitu keduanya belum ada yang menyapa, Adam yang memang cuek dengan orang lain, dan Dino yang merasa tidak enak dalam posisi seperti ini.


Rantika yang mendapat pertanyaan seperti itu menatap suaminya, bingung ingin jujur atau tidak.


"Tidak Sya, tapi karena memang dia yang ingin resign waktu itu." Dino membantu memberi jawaban. Disya hanya mengaguk saja.


Disya dan Rantika yang lebih banyak bercerita, semua yang mereka bicarakan tidak luput dari masalah kehamilan.


Sedangkan Adam hanya diam mendengarnya tanpa ingin mecela apa yang istrinya katakan, karena Disya seperti begitu senang bercerita begitu juga dengan Rantika.


"Apa kabar." Tiba-tiba suara Dino terdengar di telinga Adam, pria itu menyapanya lebih dulu.


"Baik." Jawab Adam apa adanya.


Dino mengangguk. "Mungkin semua yang pernah gue lakuin belum bisa lu maafin, dan sekarang gue minta maaf langsung sama lu." Pria itu melupakan dendam masa lalu dan memilih untuk menjalani kehidupan yang tenang. Dino mengakui kesalahannya saat itu dan kini dirinya baru berkesempatan meminta maaf langsung pada Adam.


"It's oke, lupakan saja." Jawab Adam dengan senyum tipis.


Dino pun ikut tersenyum. "Ngomong-ngomong selamat dengan kehamilan anak kembar kalian." Dino mencoba mencairkan suasana yang tadinya canggung dan dingin diantara keduanya.


"Ya, kau juga. Selamat atas pernikahan dan kehamilan Tika."


Mereka akhirnya saling mengobrol meskipun Adam memang masih sedikit cuek, setidaknya diantara kedua pria itu tidak ada lagi dendam yang pernah ada di antara keduanya.


Setelah menghabiskan waktu di Mall, mereka berpisah. Adam dan Disya yang masih bersama kedua orang tuanya, sedangkan Dino dan Rantika memilih untuk pulang.


"Bukankah jam 3 mas Dino ada rapat?" Tanya Rantika yang sudah duduk di samping kursi kemudi.


Dino yang fokus menatap lurus kedepan kini menoleh pada istrinya sebentar. "Sudah di handel oleh Tio, lagi pula tidak terlalu penting dan Tio bisa mengurusnya." Dino tersenyum sekilas.


Rantika hanya mengangguk saja, meskipun memiliki kesibukan sebagai bos diperusahaaan, tapi Dino selalu bisa menyempatkan waktu untuk istrinya.


Setelah sampai di apartemen, Rantika memilih untuk mengganti pakaiannya dengan daster yang biasa dirinya pakai saat di apartemen. Pakaian yang paling nyaman dalam keadaan apapun terutama dalam keadaan hamil.


"Mas mau aku bikinkan kopi?" Rantika mendekati Dino yang sedang duduk disofa depan telivisi sambil mengucek pekerja.


"Boleh sayang." Tanpa menoleh Dino menjawab.


Selain bikin kopi Rantika yang merasa gerah setelah dari luar memilih membuat jus untuknya, semenjak hamil bawaannya terasa gerah dan tidak betah memakai pakaian rapih, karena sejak di bawa ke Jakarta Rantika hanya berada di apartemen.


"Ini Mas." Rantika menaruh secangkir kopi untuk Dino di atas meja, dan dirinya mengambil duduk di samping suaminya.


"Terima kasih sayang." Dino menaruh ponsel miliknya, dan mengambil secangkir kopi yang istrinya buat.


Dino menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap panas setelah dia tiup. "Untuk apa sayang, tugas kamu hanya melayaniku dan tugasku adalah menafkahi mu." Jawab Dino sambil menaruh cangkir kopinya.


"Tapi aku bosan, tidak melakukan apapun, kalau boleh aku juga mau bekerja lagi." Tutur Rantika dengan wajah berharap.


Dino menarik tangan Rantika agar wanita itu berdiri dan duduk dipangkuannya. "Kenapa harus menyusahkan diri sendiri, di luar sana banyak wanita yang senang di manjakan tapi kamu sepertinya tidak." Dino mengecup dagu Rantika.


"Entahlah, mungkin aku yang terbiasa bekerja sejak dulu. Jadi merasa bosan jika hanya duduk diam dirumah." Rantika menjawab dengan suara manja, tangannya yang aktif membuka kancing kemeja Dino satu persatu tanpa sadar.


"Memangnya kamu tidak lelah jika harus bekerja, kamu sedang hamil loh." Dino yang sadar terus memancing gerakan tangan istrinya.


"Tapi setidaknya aku punya kesibukan, apa aku boleh bekerja." Rantika menatap wajah Dino dengan wajah penuh keinginan. Sedangkan Dino menatap Rantika penuh damba.


"Hm, bekerja untuk ku." Ucap Dino ambigu.


"Jadi aku boleh bekerja Mas?" Ulang Rantika dengan sangat antusias.


"Bekerja seperti ini." Dino memajukan wajahnya untuk meraup bibir tebal Rantika. Melumatt dan menyesapnya penuh dengan gairah.


Rantika yang mendapat serangan mencoba untuk mengimbangi permainan lidah Dino yang sudah mengabsen rongga mulutnya.


"Emph."


Rantika meleguh saat Dino begitu buas melahab bibirnya bergantian, bahkan tangan Dino yang juga aktif sudah mendapatkan dua gundukan di balik baju tanpa penghalang.


Posisi Rantika yang duduk diantara kedua paha Dino membuat pria itu semakin mudah memainkan dua benda kenyal yang padat dan semakin besar.


"Ahhh Mas." Rantika mendongak dengan mata terpejam saat pucuk dadanya dilahab habis oleh Dino, pria itu seperti bayi besar yang kehausan.


"Ah, pelan mas jangan kuat-kuat shh." Hormon kehamilan membuat Rantika begitu mudah terpancing, apalagi sentuhan Dino yang selalu membuat dirinya cepat terangsang, jika sudah tersentuh Rantika tidak akan menolak.


"Emmh.."


Lenguhan dan desahann Rantika terdengar merdu di telinga Dino, pria itu masih memainkan dua benda favoritnya yang selalu menggoda.


"Em, gemas sayang." Dino meduselkan wajahnya di tengah-tengah dua buah kelembutan Rantika yang bulat dan kenyal.


Tangan Dino melepaskan pakaian yang Rantika pakai, kini hanya tinggal segitiga pengaman yang Rantika pakai.


"Boleh aku jenguk baby." Tanya Dino yang sudah dikuasai kabut gairah.


Rantika mengigit bibirnya sembilan menatap wajah suaminya yang terlihat seperti menahan sesuatu.


"Emh.." Rantika mengangguk saat jemari Dino kembali memainkan dua pucuk kelembutannya.


Senyum mengembang tercetak jelas di bibir Dino, pria itu kembali mencium bibir Rantika kembali dengan penuh kelembutan.


"Ahhh Masss.."


"Ah, yes sayang milikmu benar-benar nikmat." Tangan Dino berada dipinggang Rantika, sedangkan kedua tangan Rantika berada di bahu Dino.


Keduanya melakukan penyatuan di sofa, dengan Rantika berada di atas. Posisi yang paling disukai ibu hamil dan paling nyaman.


Tubuh Rantika bergerak naik turun dengan buah dadanya yang mengayun seirama dengan gerakan tubuhnya, Dino menatap wajah Rantika yang begitu seksi dengan bercucuran keringat.


"Ah mas aku tidak tahan." Rantika merancau saat memiliknya merasakan sesuatu yang hendak meledek.


"Keluarkan sayang, ahh jangan di tahan." Dino tersenyum saat melihat wajah cantik istrinya yang semakin menggairahkan saat akan mencapai pelepasan. Keringat yang mengalir ditubuhnya begitu terlihat seksi di matanya.


"Ah mas jangan kuat-kuat akh.." Rantika merancau ketika Dino menggerakkan miliknya dari bawah, memberikan gerakan berlawanan membuat Rantika semakin keras menjerit.


"Uhh ini nikmat sayang, sungguh aku juga tidak tahan lagi ahh.."


Rantika tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya saat Dino megambil alih, wanita itu hanya bisa mendesahh dan mengerang nikmat saat pelepasan diujung tanduk.


"Arrghh..!!"


Erangan panjang keduanya menandakan berakhirnya penyatuan keduanya yang menguras tenaga dan keringat yang semakin bercucuran.


Rantika ambruk dan memeluk Dino dengan tubuh yang lemas. Dino memeluk tubuh istrinya dengan erat tapi masih dengan melindungi perut Rantika agar tidak tertekan.


"Terima kasih sayang, milikmu selalu membuatku candu." Dino mengecup bahu Rantika.