
Disya masih menatap benda pipih yang ada ditanganya, wanita itu tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Garis dua.
Benda pipih yang dia gunakan beberapa menit lalu, memiliki garis dua, itu berarti dirinya benar-benar hamil.
Bingung harus berekspresi apa, Disya hanya diam memikirkan banyak hal yang dirinya tidak tahu ujungnya.
"Kenapa hm."
Tiba-tiba Adam mendekat padanya dan mengecup bahunya.
Disya masih duduk diatas ranjang dengan mengunakan baltrobe. Antara syok dan terkejut, tapi Disya lebih tidak percaya jika di dalam rahimnya terdapat malaikat kecil yang tumbuh.
Perlahan Disya menyentuh perutnya yang masih rata, wanita itu menuduk dengan perasaan campur aduk. Senang karena memiliki malaikat kecil, sedih karena disaat ini dirinya belum memiliki ikatan yang sah, dan tanpa sadar Disya menjatuhkan air matanya.
Adam yang memperhatikan gerakan Disya hanya melihat apa yang akan Disya lakukan, tapi saat melihat air mata menetes Adam terkejut.
"Hey, kenapa kau menangis." Adam menangkup wajah Disya untuk menatapnya, dan benar saja kedua mata Disya mengeluarkan air mata.
"Kenapa?" Tanya Adam lagi, sambil mengusap pipi Disya yang basah. "Apa kamu tidak menyukai kabar ini." tanya Adam dengan tatapan intens.
Jantung Adam sudah berdebar melihat Disya yang menangis, Adam takut jika wanitanya akan menolak kehadiran malaikat kecil yang akan tumbuh.
"Bagaimana aku tidak sedih, jika aku belum menikah dan ternyata aku sudah hamil, nanti anak ku bagaimana nasibnya." Ucap Disya sambil menangis. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, jelas-jelas pria yang menghamilinya ada didepan matanya.
Adam melebarkan kedua matanya, "Kau tidak melihat aku disini." Pekik Adam frustasi. "Heh, apa kau tidak mengingat jika aku yang membuatnya di atas rooftop, apa kau melupakan siapa aku hah..!!" Nada suara Adam terkenal begitu kesal, pria itu kesal karena pemikiran Disya.
Sedangkan Disya begitu malu mendengar Adam yang mengingatkan kejadian di rooftof itu.
"Kenapa kamu malah membahas kejadian di rooftof, itu kan salahmu. Kau yang selalu memaksa." Ucap Disya menyalahkan Adam yang memang pria pemaksa.
"Apa kau lupa, jika saat itu kau juga kenikmatannya, bahkan kau juga mendesahh menyebut namaku." Adam semakin melebarkan seringainya saat melihat wajah Disya yang merah merona, dia tahu jika wanitanya merasa malu dan juga kesal.
"Kau itu memang menyebalkan." Disya memukul dada Adam dengan kesal.
Malu tentu saja, dirinya tidak tahu jika bercinta setelah sakit ternyata enak setelahnya, Ehhh.
"Ya sudah tidur, aku tidak ingin anakku stres karena Mamanya yang banyak pikiran." Tangan Adam mengusap perut Disya dari balik baltrobe yang dipakai, sehingga Disya bisa merasakan tangan hangat Adam menyentuh permukaan kulit perutnya.
Disya menatap wajah Adam lekat, saat pria itu tersenyum sambil mengusap perutnya, terlihat pancaran bahagia di wajah pria berwajah datar itu.
Tanpa Disya sadari, Adam sudah menarik kaitan tali baltrobe sehingga membuat Adam semakin leluasa menyentuhnya.
"Engh." Disya tersentak saat Adam mengecup perutnya begitu lama, dan saat itu Disya baru menyadari jika baltrobe yang dia pakai sudah tersingkap.
"Kau mau apa?" Tanya Disya sedikit mendorong lengan Adam.
Jantung Disya sudah berdebar, merasakan bibir Adam menyentuh kulitnya, bahkan gejolak dalam dirinya mulai terasa.
"Mau menyapanya, memangnya kenapa?" Tanya Adam sambil menatap Disya.
"Me-menyapanya bagaimana?" Disya yang terlihat bingung, malah membuat Adam tersenyum penuh arti.
"Menurut mu, disapa bagaimana Mama?"
Mendengar panggilan Adam, membuat bulu kuduk Disya merinding, tapi kenapa suara Adam terdengar begitu seksi.
Sedikit banyak Adam tahu, jika wanita hamil memiliki hormon yang tinggi soal kebutuhan hasratnya, dan Adam ingin mencoba dengan Disya yang sendang mengandung anaknya.
Posisi Disya duduk bersandar di dinding ranjang, wanita itu mengigit bibirnya saat Adam mulai menyentuh tubuhnya dengan tangan besarnya.
Disya merasakan gejolak dalam dirinya semakin kuat, saat Adam mengusap miliknya menggunakan jari.
Adam mendongak, melihat wajah Disya yang terlihat sayu dan pasrah, wanitanya benar-benar begitu cantik dan seksi.
"Shh, enghh." Akhirnya Adam mendengar suara merdu dari sang wanita, Adam menyukai lenguhan Disya yang seperti lagu untuknya.
"Boleh menjenguk baby?" Tanya Adam dengan suara serak, tatapannya sudah begitu bergairah melihat Disya yang duduk bersandar pasrah dengan apa yang dia lakukan, bahkan bathrobe yang menutupi tubuh indah Disya, sudah terbuka memperlihatkan bagaimana lekuk tubuh Disya yang membuat Adam semakin gila.
Tatapan Disya begitu sayu, satu hal yang mengganjal dalam benaknya. Dan Disya ingin mendengar jawaban dari Adam.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Adam menatap lekat wajah Disya, tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Disya dan turun ke bibir ranum wanitanya. "Katakanlah."
Disya mencoba untuk memberanikan diri melepaskan kaos yang Adam pakai, Adam pun hanya pasrah dengan apa yang di lakukan Disya padanya.
Jari lentik Disya menari di dada bidang dan turun ke perut, Adam menahan napas dengan gelora yang semakin meningkat, merasakan sentuhan jari Disya yang menari di area kulitnya.
"Apa kau tidak mau menikahi ku?" Pertanyaan Disya tidak membuat Adam mengalihkan tatapan matanya pada wanita yang juga sedang menatapnya.
"Menurutmu, apa aku akan melepaskan wanita yang sudah mengandung darah daging ku, tanpa kamu tanya aku pun sudah mengambil keputusan. Dan setelah kita sampai di kota aku yakin kau akan mendapat kejutan dari ibu mertuamu, jadi jangan banyak berfikir hal yang tidak penting, karena aku takut jika akan mempengaruhi dia." Adam kembali mengecup perut Disya, kali ini disertai dengan kecupan basah oleh Adam.
Jangan pikir Adam tidak tahu apa yang sudah orang tuanya lakukan, pria itu sudah mengenal bagaimana karakter kedua orang tuanya, apalagi Mamanya yang suka sekali membuatnya pusing, tapi dibalik itu Adam tahu jika Mamanya ingin yang terbaik untuknya.
"Ahh, Daamm.." Disya berpegang pada kedua kakinya yang terbuka lebar.
Kepalanya terasa pusing merasakan kegilaan Adam dibawah sana.
"Aku mauhh ahhh." Tubuhnya bergetar dengan mata terpejam, Disya melepaskan apa yang membuat kepalanya menjadi pusing.
Adam tersenyum menatap wajah Disya yang begitu seksi, menikmati pelepasan.
Disya menatap Adam semakin sayu, dadanya kembang kempis merasakan napasnya yang tersengal.
"Mau memimpin?" Tanya Adam sambil menanggalkan kain yang tersisa ditubuhnya.
Disya memalingkan wajahnya saat Adam memperlihatkan rudal miliknya yang siap tempur.
"Yang aku tahu, jika wanita hamil lebih nyaman menjadi pemimpin, jadi_" Adam tidak melanjutkan ucapanya saat tubuh Disya sudah Ia gulirkan ke atas pangkuannya, kini gantian Adam yang setengah duduk bersandar pada ranjang.
Keduanya saling menautkan bibir untuk meningkatkan gairah kembali, Adam melumatt bibir Disya dengan rakus, hingga perlahan Disya mengangkat pinggulnya dengan Adam yang menuntunnya untuk melakukan penyatuan tanpa melepaskan tautan bibir keduanya yang semakin ganas.
Ahhhh
.
.
Dahlah, kirim hadiah yang kalian punya.. biar otor tambah anu lagi 🤣🤣🤣