
Semua sudah tertata dengan sempurna, ballroom hotel terbesar milik Adhitama Grub disulap begitu mewah dan megah.
Semua tamu sudah memenuhi tempat-tempat yang disediakan, mereka hanya tinggal menunggu pengantin datang dan duduk diatas pelaminan sebagai raja dan ratu.
Tepat pada pukul 5 sore pintu ballroom dibuka lebar, dan masukkan kedua mempelai yang tersenyum bahagia dengan Disya yang menggandeng lengan Adam.
Dibelakang mereka ada sepasang anak laki-laki yang mengikuti, dan satu balita yang usianya baru 2tahun yang digandeng oleh wanita cantik dan seorang pria tampan yang semakin terlihat matang.
Hawa dan Mario berjalan di belakang mempelai sambil menggandeng tangan putrinya kanan dan kiri.
Disya yang baru melihat dekorasi pernikahan begitu megah membuatnya merasa takjub. Dirinya tidak menyangka akan mendapatkan resepsi pernikahan sesempurna ini, dirinya merasa seperti di negeri dongeng.
"Kenapa?" Tanya Adam sambil berbisik. disamping Disya.
Adam yang malas tersenyum terlalu lama, memilih bicara pada Disya yang sepertinya terkagum-kagum.
"Aku seperti mimpi berada di sini." jawab Disya masih dengan binar bahagianya. "Apa Mama yang menyiapkan ini semua?" tanya Disya tersenyum saat melihat kedua sahabatnya menaburkan bunga didepan saat dirinya dan Adam akan melintasi.
"Tentu saja, memangnya siapa lagi. Bahkan jika mau monas saja bisa Mama pindahkan dari kota ini." Ucap Adam yang malah membuat Disya memukul lenganya pelan.
"Kamu keterlaluan mengatai Mama mertuaku seperti itu." Sungut Disya yang kesal dengan ucapan Adam.
"Memang kenyataannya begitu." Adam membantu Disya untuk naik ke pelaminan perlahan, bahkan Adam sengaja menggiring Disya dengan memeluk pinggang wanitanya, karena mata Adam menangkap sosok pria yang sejak tadi menatap istrinya.
"Terima kasih." Ucap Disya dengan senyum saat sudah duduk di pelaminan.
Adam hanya menanggapinya dengan senyum, dan setelahnya wajah datar yang dia tunjukkan saat tatapannya lurus kedepan.
Satu persatu tamu undangan mulai memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai keduanya membalasnya dengan ucapan terima kasih dengan rasa syukur dan bahagia.
"Duduk saja, jika lelah." Adam bicara saat sedikit ada kelonggaran bergantian yang mengucapkan selamat.
"Kaki ku pegal, aku hanya ingin melepaskan alas kakiku." Ucap Disya menatap wajah Adam penuh harap.
"Kenapa tidak dari tadi." Tanpa menunggu lama, Adam langsung berjongkok di depan Disya untuk membantu melepaskan alas kaki Disya.
Perlakuan manis Adam menjadi sorotan para tamu undangan yang ada di sana, mereka menatap mereka penuh iri. Karena yang banyak khalayak pembisnis tahu, Adam adalah pria yang tidak bisa tersentuh oleh wanita. Tapi lihatlah di atas pelaminan sana, Adam terlihat begitu romantis dengan apa yang dia lakukan pada Disya istrinya yang beruntung menjadi pendamping Adam.
"Apa kamu tidak malu dilihat para undangan?" Tanya Disya sambil melirik mereka yang melihat kearahnya.
Adam melepaskan alas kaki Disya dan menyingkirkannya. "Kenapa malu, aku tidak sendang mencuri." Jawabnya yang sudah berdiri didepan Disya.
Disya hanya mengulum senyum mendengar ucapan Adam.
"Adu..du..du.. Pengantin baru yang bikin orang iri." Arfin datang untuk memberikan selamat.
"Ck, liat wajahmu bikin malas." Balas Adam datar.
"Sialan kau dude." Arfin meninju lengan Adam, membuat Adam tertawa.
"Selamat brother, kebagian lu udah didepan mata." Arfin memeluk Adam, begitu juga Adam yang membalas pelukannya.
"Thank, semoga lu juga segera menyusul." Balas Adam yang hanya dibalas Arfin dengan senyum, senyum penuh arti yang Adam tidak ketahui.
"Doakan saja."
Arfin bergantian ingin memberikan selamat untuk Disya, tapi tangan Adam lebih dulu meraih tangan Arfin yang akan mendapatkan tangan Disya.
"Ck, suami kamu posesif kelas gila, hati-hati." Ucap Arfin pada Disya, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Adam.
Arfin dan Disya hanya tertawa menanggapinya, apalagi melihat wajah Adam yang kesal.
Waktu semakin bergulir dan para tamu undangan sudah lebih dari setengah yang mengucapkan selamat, saat Disya sedang menerima ucapan tiba-tiba tubuhnya langsung merapat pada Adam.
Disya yang tidak mengerti ingin protes, tapi saat melihat seseorang yang berjalan mendekat membuat Disya tahu.
Dino berjalan mendekati Adam dan Disya yang mendapat tatapan berbeda dari kedua mempelai.
"Selamat tuan Adam, Anda beruntung sekali mendapatkan Disya." Dino mengulurkan tangannya pada Adam.
Adam melirik tangan Dino, dan Adam menerima uluran tangan itu.
"Thanks, tapi sepertinya anda tidak sopan memanggil nyonya muda Adhitama hanya dengan sebutan namanya saja." Tatapan Adam begitu dingin, cara bicara Adam seperti sedang berbicara pada lawan.
Disya hanya meremat kedua sisi gaun yang dia kenakan, sedangkan Dino sudah menahan amarahnya dengan rahang yang mengeras. Dirinya belum merelakan wanita yang dia cintai lepas begitu saja, meskipun Disya sudah menjadi istri seorang pria yang menjadi atasnya.
Dino kambali menetralkan suasana hatinya, bibirnya tertarik untuk terseyum.
"Maaf, saya terbiasa memanggil sebutan nama saja, bahkan saya juga memiliki panggilan sayang untuk istri anda, bukankah begitu Disya-yang." Dino terseyum untuk Disya yang menatapnya dengan senyum kikuk.
Seketika aura di sekitar tiga orang itu begitu dingin mencekam, Adam mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras. "Sebaiknya mulai sekarang anda harus menjaga ucapan Anda, karena saya tidak menyukai panggilan Anda untuk istri saya."
Disya hanya diam menatap kedua pria yang saling menatap tajam, dirinya yang ingin menyapa Dino pun diurungkan karena melihat wajah Adam yang sudah tidak bersahabat.
Sedangkan Adam menatap Dino dengan penuh peringatan jika dirinya tidak suka miliknya di ganggu, dan di Dino semakin menatap Adam dengan tatapan menantang, jika dirinya tidak akan menyerah untuk memiliki Disya kembali.
.
.
Hadian untuk pernikahan, ehh bukan Hadian, tapi kadoo🤣🤣🤣