
"Sya ayoo.." Dimas melongokan kepalanya di ruangan Disya, pria itu mengajak Disya untuk makan siang.
"Sebentar Dim." Disya merapikan meja kerjanya dan menyambar tas miliknya.
"Ayo.." Disya tersenyum sambil berjalan keluar ruanganya.
Didepan karyawan Disya bisa tersenyum dan menutupi kesedihan dan kekesalannya karena Adam, Disya tahu jika dirinya sudah menjadi pablik figur seorang istri dari Adam Malik Adhitama.
Semua yang dia lakukan mendapat sorotan, dan Disya tidak ingin ada berita miring untuk sang suami.
Ketiganya pergi mengunakan mobil Dino, Disya duduk di kursi penumpang belakang. Padahal Dino sudah membukakan pintu samping kemudi untuk Disya, tapi Dimas yang menjadi penengah menyuruh Disya untuk duduk dibelakang.
"Moon maaf pak, Bu Disya sudah menikah. Jadi tidak enak jika ada karyawan yang melihat." Tutur Dimas dengan sopan, agar Dino tidak tersinggung dengan ucapanya.
Dino meremat tangan yang sedang memegang pintu mobil, tapi sebisa mungkin wajahnya biasa saja didepan Dimas, meskipun hatinya geram dengan adanya Dimas.
"Mas ayo." Disya melongokan kepalanya di jendela ketika kedua pria tak kunjung masuk kedalam mobil.
Dimas langsung masuk dan duduk dengan Dino menutup pintu mobilnya dengan kesal.
Brak
Dimas hanya geleng kepala, sedangkan Disya yang tidak mengerti hanya duduk diam sambil melihat ponselnya yang tidak ada pesan atau apapun dari Adam.
"Mau makan di mana Sya?" tanya Dino yang melirik Disya dari kaca spion dalam. Disya yang sedang fokus dengan ponselnya mendongak dan tatapan mereka bertemu di spion itu.
"Yang dekat saja, biar tidak kelamaan di jalan pak." Bukan Disya, melainkan Dimas yang menjawab.
"Iya Mas, yang dekat saja. Didepan ada kafe yang enak juga kok." Disya ikut menimpali.
Dino hanya mengaguk, dan melirik Dimas. Kekesalannya bertambah saat Dimas ikut menjawab pertanyaan untuk Disya.
Setelah 15 menit berkendara akhirnya mobil Dino sampai di kafe yang Disya maksud.
"Stik setengah matang dengan saos asam manis 2." Ucap Dino yang memesan menu makanan pada pelayanan yang menghampiri mereka.
Disya yang belum fokus tidak mendengar apa yang Dino pesan, karena dirinya sibuk dengan ponselnya yang berbalas chat dengan kedua sahabatnya.
"Kamu pesan sendiri, Disya sudah saya pesankan." Ujar Dino pada Dimas yang ingin bertanya pada Disya.
"Ayam bakar madu saja deh mbak." Pesan Dimas pada pelayan.
"Baik pak, tunggu sebentar."
Dino dan Dimas saling menatap, entah tatapan bagaimana yang keduanya tunjukan, hanya saja Dino merasa kesal karena Dimas seperti lalat yang terus menempel pada Disya.
Tak lama pesanan mereka datang, dan para pramusaji menaruhnya di atas meja.
"Sya makan dulu." Ucap Dino yang melihat Disya sejak tadi fokus dengan ponselnya.
"Eh, Udah dateng ya." Disya yang sadar menaruh ponselnya di atas meja.
"Makanlah." Dino menyerahkan piringnya yang sudah ia potong kecil-kecil, sengaja untuk Disya.
"Ehh." Disya tertegun saat melihat makanan yang Dino kasih, dan Disya melirik pada piring Dimas yang terdapat ayam bakar madu dengan warna yang menggugah selera.
"Kenapa?" tanya Dimas yang merasa jika Disya melirik ke arah piringnya.
"Em, itu punya kamu sepertinya enak." Ucap Disya sambil mengigit bibir bawahnya.
Sontak Dimas langsung menutupi bawah perutnya meskipun berada di bawah meja, Dimas salah sangka.
"Heh, kamu bicara apa." Sentak Dimas dengan wajah syok mendengar ucapan Disya, apalagi melihat ekpresi Disya seperti itu.
"Sya, bukanya kamu suka makan stik?" Dino yang mengerti yang dimaksud Disya mencela obrolan mereka.
"Hm, iya. Tapi sepertinya aku ingin makan ayam punya Dimas." Tanpa minta ijin dan di ijinkan, Disya mengganti piring Dimas dengan miliknya.
"Kamu makan punyaku Dim, sepertinya punyamu ini enak." Disya terlihat begitu senang mendapat apa yang dia mau, sedangkan Dimas masih mencerna ucapan Disya yang 'punyamu'.
"Jadi yang dia maksud ayam bakar." gumam Dimas dalam hati.
Dino kembali menahan kesalnya untuk yang ketiga kali, niat hati ingin menunjukan kepada Dimas jika dirinya tahu semua tentang Disya, tapi malah Dino dibuat kesal lagi-lagi oleh Dimas.
Di kantor Adam baru saja masuk ke kantor, pria itu langsung menuju ruangan Disya.
Ceklek
Adam membuka pintu ruangan Disya, tapi pria itu tidak melihat wanitanya di dalam sana, Adam masuk dan duduk di kursi kerja Disya. pria itu akan menunggu Disya kembali ke kantor.
Adam memesan makanan yang biasa ibu hamil inginkan. Sebelum memesan Adam memilih searching lebih dulu, setelah itu dirinya baru memesan beberapa makanan yang mungkin Disya inginkan.
Pukul satu kurang sepuluh menit, Disya dan kedua pria yang sejak tadi saling diam baru saja sampai di kantor.
"Mas Dino terima kasih makan siangnya." Disya berucap sebelum sampai didepan ruangan Disya. Lebih tepatnya Dino mengantar Disya keruangannya.
"Sama-sama, jangan sungkan kita masih seperti dulu, sebelum semua berubah." ujar Dino menatap Disya dengan dalam.
Meskipun hatinya masih terasa sakit, dan belum menerima apa yang sudah terjadi, Dino sebisa mungkin terlihat biasa saja didepan Disya.
Disya masuk keruangannya, dan Dino yang kembali ke ruangannya sendiri. Untuk saat ini dirinya hanya bisa melihat Disya saja, tanpa bisa menyentuh wanita yang dia cintai itu.
Setelah menutup pintu, Disya berbalik dan alangkah terkejutnya dia melihat Adam yang duduk kursi kerjanya.
Sekelebat rasa bersalah hinggap di hatinya melihat Adam yang sedang memejamkan mata, apalagi Disya melihat banyak kotak makanan yang tertata di atas meja sofa.
Disya mendekati Adam yang sedang memejamkan mata, dengan posisi tubuh yang bersandar di kursi, melihat Adam memejamkan mata, bibir Disya tersenyum. Wajah tenang Adam begitu terlihat, pria itu terlihat sempurna saat memejamkan matanya, karena jika menatap hanya ada wajah datar dan dingin Adam yang terlihat jelas.
"Dam.." Disya menyentuh bahu Adam untuk membangunkan pria itu, dan Adam yang merasa terganggu langsung membuka matanya.
"Kamu dari mana?" pertanyaan Adam saat melihat Disya yang berdiri di samping kursinya.
Disya menggigit bibirnya bingung akan menjawab apa, dan Disya merasa tidak enak jika dirinya makan diluar, sedangkan Adam menunggunya di kantor dengan membawa makanan.
Adam memutar arah kursusnya untuk berhadapan dengan Disya, dan Adam langsung merangkul Disya untuk duduk di atas pangkuannya.
"Maafkan aku yang membentak mu tadi pagi."
Disya terpaku mendengar penuturan maaf Adam, pria menyebalkan dan pemaksa seperti Adam meminta maaf padanya.
Adam mencium pipi Disya. "Aku hanya ingin kamu hati-hati, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kalian." Adam mengusap perut rata Disya.
Sejak di kantor Adam sama sekali tidak fokus pada pekerjanya, dirinya seperti sudah masuk dalam kehidupan Disya yang menyita seluruh perhatiannya.
"Mau memaafkan ku?" Adam menatap lekat wajah Disya yang begitu dekat dengan wajahnya, Disya bisa melihat bagaimana tulusnya ucapan maaf Adam untuknya.
"Hm, maafkan aku juga. Aku janji akan lebih hati-hati."
Bibir Adam tertarik untuk tersenyum, dan Disya yang melihat senyum Adam begitu terpesona membuatnya ikut tersenyum.
"Sekarang makanlah, aku tidak ingin anakku kelaparan." Adam langsung mengendong tubuh Disya untuk menuju sofa dengan makanan yang dia pesan di atas meja.
"Kamu membeli semua ini untuk apa?" tanya Disya yang sudah Adam dudukkan disofa.
"Untuk kamu dan anak kita, aku tidak tahu makanan yang kamu inginkan, jadi aku memesan semua ini." Adam membuka satu persatu kotak makan yang dia beli.
"Aku mau itu." Disya menujuk gado-gado yang sepertinya kembali menggugah seleranya.
"Untuk Mama dan Baby." Adam menyerahkannya pada Disya.
Senyum binar Disya kembali hadir, membuat Adam tersenyum. Adam menyukai ekpresi Disya yang senang mendapatkan apa yang dia mau. Meskipun sejak tadi Adam menahan amarahnya saat tahu jika Istrinya makan diluar bersama mantan kekasihnya. Beruntung saja ada Dimas diantara mereka, dan menurut Adam dirinya tidak harus meluapkan kekesalannya saat ini, biarkan saja dirinya pura-pura tidak tahu.
Untuk sekarang Adam lebih baik diam, tapi jika Dino berlebihan ingin mendekati istrinya, tentu saja Adam tidak akan tinggal diam.