
Adam menyelesaikan pekerjaannya yang dikirim Arfin disela waktunya, pria itu duduk di dalam mobil bersama Disya yang ada di sampingnya. Disya hanya diam melihat pemandangan luar dari jendela kaca, entah apa yang dia pikirkan.
"Halo..." Adam menerima telepon membuat Disya menoleh sejenak.
"Apa? bagaimana bisa?" Tanya Adam yang sedikit keras dan terkejut.
Disya bisa melihat wajah Adam yang panik dan juga marah.
"Kalian bekerja tidak pecus." Umpat Adam segera mematikan sambungan ponselnya.
"Jay berhenti." Ucap Adam tiba-tiba.
Jayadi segera menghentikan mobilnya dipinggir jalan, padahal bandara sudah terlihat.
"Kamu mau kemana? ada apa?" tanya Disya yang khawatir melihat wajah Adam yang panik.
"Maaf aku tidak bisa pulang sekarang, proyek pembangunan mengalami masalah yang cukup serius." Adam menatap Disya dengan tatapan sendu. "Kamu pulang lebih dulu. Hati-hati dan selalu berikan kabar untukku." Adam mengecup kening Disya dan segera keluar dari dalam mobil, sebelum sempat Disya menjawab.
"Jay, pastikan Disya berangkat, dan jaga dia." ucap Adam pada Jayadi dari samping kaca mobil.
"Baik tuan." Jayadi tidak menanyakan lebih lanjut karena melihat wajah Adam yang panik.
Disya menatap Adam yang menyetop taksi dan pergi meninggalkannya.
"Ada apa dengan dia?" Tanya Disya pada Jayadi.
"Tidak ada apa-apa nona, tuan hanya ada masalah di proyek." pria muda itu hanya tersenyum sekilas.
Disya mengaguk dengan perasaan yang masih khawatir. Dirinya ingin menemani Adam dan berada di samping pria itu tapi mengingat ucapan Adam Disya tidak bisa membantah.
Akhirnya Disya pulang ke Jakarta sendiri, wanita itu termenung menatap awan putih yang ada di balik kaca pesawat yang dia tumpangi, kursi disebelahnya kosong, seharusnya ada Adam yang mengisi di sana.
Entah kenapa perasaanya tidak enak, Disya memikirkan Adam tanpa sebab.
"Bagaimana ini bisa terjadi! apa kalian tidak pecus bekerja!" Amarah Adam meluap saat melihat bangunan yang seharusnya segera selesai kini kembali luruh lantah rata dengan tanah.
Pria yang sudah Adam berikan kepercayaan menundukkan kepala, tidak berani melihat wajah Adam yang begitu marah dan mengerikan.
Adam mengusap wajahnya kasar, dirinya marah dengan kejadian kali kedua seperti ini.
"Kumpulkan para kontraktor itu, saya ingin bertemu." Ucap Adam begitu dingin.
Pak Imron semakin bergetar mendengar suara Adam yang membuatnya membeku.
"M-mereka sudah tidak ada di penginapan sejak semalam tuan." Imron berkata sambil memejamkan matanya karena takut.
"Arrghh, sial..!!!" Adam memukul udara untuk meluapkan amarahnya.
Jelas ini sudah mereka rencanakan, penipuan yang mereka lakukan berhasil membuat seorang Adam Malik Adhitama murka.
"Akan aku kejar kalian sampai ketemu." Kedua mata Adam begitu memancarkan kemarahan.
Penipuan yang mereka lakukan tidak sedikit, dan Adam pastikan mereka semua akan mendekam didi penjara.
"Aku sudah sampai, apa kamu sudah makan?"
Disya menatap pesan yang dia kirim satu jam yang lalu saat keluar bandara. Wanita itu melihat pesan yang belum dibaca oleh Adam.
"Dia kemanan." Disya tampak gelisah sambil berdiri di depan balkon kamarnya.
Hari sudah terlihat gelap dan Adam belum membaca pesannya.
"Kenapa aku jadi gelisah begini, apa aku sudah_" Disya memejamkan matanya, bayangan Adam tiba-tiba muncul, wajah merah, kesal dan bibirnya yang tersenyum tiba-tiba muncul disaat dirinya memejamkan mata.
Disya membuka matanya dan tersenyum. "Kamu membawa papamu kedalam kehidupan kita." Disya mengusap perutnya, dirinya tidak menyangka akan secepat itu pikiranya teralihkan oleh Adam.
Di kota yang berbeda, penampilan adam sangat kacau. Wajah pria itu begitu terlihat kusut dan lelah. apalagi pakaian kerja yang sudah berantakan membuat Adam seperti bukan Adam yang seperti biasanya.
"Brengsekk sekali mereka yang sudah menipu." Umpat Adam setelah sampai di dalam kamar kamar hotel.
Seharian Adam harus bekerja mengeluarkan tenaga dan otak yang ekstra terkuras, mencari sumber dana untuk kembali membangun proyek dari nol. Proyek yang sebelumnya milik pribadi Adam. Dan semua biaya Adam yang mengcover. Tapi apa musibah yang terjadi sungguh membuat Adam merasa frustasi dan terpukul, apalagi musibah yang dia alami begitu berturut-turut.
Adam menjatuhkan tubuhnya di sofa, pria itu memejamkan matanya merasakan kepalanya yang berdenyut nyeri.
Drt... Drt... Drt...
Ponselnya berdering, Adam yang seharian fokus bekerja sama sekali tidak memperhatikan ponselnya.
Deringan pertama Adam bairkan, tanpa mau mengangkatnya, hingga ponselnya kembali berdering membuat Adam terasa terganggu.
"Disya." Gumamnya dengan kepala yang terasa berat.
Adam bangkit untuk menegakkan tubuhnya, dengan menahan rasa sakit dikepalanya.
"Hay.."
Muncul wajah Disya yang tersenyum saat Adam menggeser tombol hijau miliknya.
"Kenapa wajah kamu pucat sekali?!"
Wajah Disya langsung terlihat panik, wanita itu menatap Adam dengan rasa cemas.
"Tidak apa-apa, hanya kecepekan." jawab Adam sambil mengusap punggung lehernya yang terasa berat.
"Tapi wajah kamu pucat Dam, apa kamu bekerja seharian dan lupa makan?"
Mendengar perhatian Disya membuat Adam menarik sudut bibirnya tipis. Dia senang mendengar ibu dari anaknya mengkhawatirkan dirinya.
"Hm, sepertinya aku lupa jika harus makan." Jawab Adam santai. "Bagaimana kabar baby, apa kalian baik-baik saja." Tatapan Adam begitu sayu, kedua matanya berkaca-kaca terlihat Adam yang sedang menahan rasa ditubuhnya.
"Baby baik, aku juga baik." Disya menyunggingkan senyum tipis, Adam begitu perhatian.
"Syukurlah aku senang mendengarnya, jangan lupa makan yang teratur, jaga diri baik-baik."
Disya menatap wajah Adam begitu lekat dari layar ponselnya, pria itu seperti menanggung beban berat, Disya tidak tega melihat wajah Adam yang terlihat begitu lelah. Tanpa sadar air matanya menetes tanpa di sadari.
"Hey kenapa menangis." Suara Adam terdengar begitu serak.
Disya mengusap pipinya yang basah. "Kenapa kamu tidak makan, kamu pasti sedang sakit." Ucap Disya dengan suara parau. "Kenapa kamu menyuruhku pulang, jika keadaan kamu seperti itu." Disya terlihat kahawatir melihat Adam yang seperti itu. Entah karena hormon kehamilan atau memang hatinya yang sudah terpaut, Disya begitu terlihat sedih.
"Aku tidak apa-apa, jangan sedih. Kasihan baby kalau Mamanya sedih, nanti dia ikut sedih." Adam tersenyum tipis setelah mengucapkannya. "Ya sudah, ini sudah malam, kamu istirahat ya." Setelah mengatakan itu Adam mematikan sambungan teleponnya.
Disya sudah tidak lagi berbuat apa-apa melihat ponselnya sudah diputus oleh Adam.
Rasa khawatir dan cemas, masih menyelimuti hatinya, Disya yang memilki perasaan sensitif tidak berpikir panjang untuk melakukan sesuatu hal.
Dirinya kembali keluar dari dalam kamar dan menuruni tangga dengan pelan, Disya ingat jika dirinya sedang mengandung.
"Sya, mau kemana malam-malam?" Tanya Frans saat keluar dari ruang kerjanya.
"Aku_" Disya yang ditanya bingung ingin menjawab apa.
.
.
Hadiah sekebon, losss ngak mau tau 🤣🤣🤣 MODE MALAK INI MAH 🤫