ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Jaga dia untukku, maka aku akan menjaga kalian



Rantika hanya bisa menunduk saat ibunya bertanya, makanan yang tadinya menggugah selera kini terasa tidak lagi semengiurkan tadi.


Sudah tidak bisa lagi dirinya untuk mengelak, karena memang selama dirumah dirinya sering mengalami muntah dan mual. Sebagai seorang wanita yang pernah mengandung dan melahirkan Ibunya pasti akan tahu gejala apa yang Rantika rasakan.


"Jawab Ranti, apa kamu hamil!"


Mendengar suara keras ibunya, Rantika langung beranjak dari kursinya dan bersimpuh dikaki ibunya.


"Ibu maafin Ranti." Rantika menangis terisak. "Ranti salah Bu, Ranti tidak bisa jaga diri." Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali meminta maaf pada wanita yang melahirkannya, menasehatinya untuk bisa mejaga diri.


Tapi apa yang sudah dia lakukan tidak bisa diperbaiki, nasi sudah menjadi bubur dan semua hanya tinggal melanjutkan apa yang sudah diperbuat.


Ibunya hanya diam tanpa suara, hanya air mata yang menggambarkan betapa kecewa dan hancurnya sebagai seorang ibu yang gagal mendidik anaknya.


Rantika masih bersimpuh dengan tangis terisak, dirinya tidak menyesal sudah melakukanya, tapi Rantika menyesal telah membuat ibunya kecewa dengan sikapnya.


"Ibu maafin Rantika, apapun hukuman yang ibu berikan, Rantika akan menerimanya."


Sudah tidak bisa diperbaiki, kenyataannya dirinya sudah hamil lebih dulu, dan sekarang hanya tinggal melanjutkan kehidupannya.


"Gugurkan.."


Deg


Rantika langung terdiam tanpa suara, satu kata yang mampu menyayat hatinya.


"Tidak Bu!" Rantika langsung berdiri dan menatap Ibunya dengan linangan air mata. "Ranti tidak akan menggugurkan kandungan Ranti, tidak mau!" Ranti menggeleng dan memeluk perutnya sendiri.


Baginya janin yang dia kandung adalah kehidupannya, separuh jiwa pria yang dia cintai bersemayam di rahimnya, Rantika bukan wanita kejam yang rela melenyapkan darah dagingnya sendiri. Meskipun berat cobaan hidup Rantika akan mempertahankannya.


Wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan terisak, bagaimana bisa putri yang dia banggakan dan cintai bisa melakukan hal keji seperti itu, apakah terlena dengan kenikmatan yang sementara.


"Kalau begitu, bawa pria itu kehadapan ibu." Setelah bicara seperti ibu, Rantika ditinggal sendiri dengan tangisnya yang pecah.


Rasa kecewa ibunya yang dia perbuat membuat Rantika semakin merasa bersalah.


"Maafin Ranti pak."


.


.


Di kafe yang tidak jauh dari kantor, Disya sudah duduk di meja yang sudah di pesan. Siang ini dirinya janji temu untuk dua sahabatnya karena memang sudah jarang sekali bertemu, karena kesibukan dua sahabatnya yang bekerja di bawah kuasa Adam. Jika Disya sendiri adalah wanita pekerja santai, karena memang Adam tidak membiarkan istrinya kecapean di kantor, dan pekerjaan Disya di bantu oleh Dimas, itupun atas perintah Adam tanpa sepengetahuan Disya.


Pintu kafe terbuka, munculah dua wanita yang Disya tunggu.


"Hey.." Disya melambaikan tangan saat melihat Dina dan Vivi, dan kedua wanita itu tersenyum senang menghampiri Disya.


"Ya ampun Sya..apa kabar?"


Dina lebih dulu menyapa sambil cipika-cipiki, bagitu juga dengan Vivi setelahnya.


"Aku baik, kalian apa kabar?" Disya begitu senang bisa kembali kumpul dengan sahabatnya lagi.


"Tentu baik dong, bahkan sangat baik." Dina tertawa diikuti Vivi.


"Ponakan onty, sehat-sehat ya sayang." Dina mengusap perut buncit Disya.


"Baik onty.." Disya menirukan suara anak kecil.


"Dih, sok imut banget..haha.." Dina tertawa.


Tak lama makanan yang sudah Disya pesan lebih dulu datang, makanan favorit mereka saat berkumpul.


Berteman sejak di bangku SMA hingga kuliah, membuat mereka sudah seperti saudara, tidak ada yang yang saling menjatuhkan, melainkan mereka saling mendukung dengan apapun yang mereka lakukan, jika mereka di jalan yang benar.


"Nah berhubung kita lagi kumpul, aku mau kasih ini ke kalian." Dina menyodorkan sebuah undangan dan juga paper bag


Disya dan Vivi melihat undangan yang Dina kasih, berserta bahan pakaian untuk Bridesmaids mereka.


"OMG.. Dina!" pekik Vivi lebih dulu.


"Huwaa... selamat ya Din." Disya langsung menghabur memeluk sahabatnya.


Mereka tertawa sambil berpelukan bertiga, tak ayal suara mereka menimbun beberapa pengunjung memeperhatikan.


"Si Jino gercep juga." Disya tersenyum sambil mengusap sudut matanya yang basah karena terharu sangking senangnya.


"Iya eh, aku aja belum ada hilal." Vivi pura-pura sedih.


"Ish, bukan belum ada hilal. Kamunya aja yang belum mau." Kesal Dina.


Vivi hanya mengangkat kedua bahunya. Sedangkan Disya hanya geleng kepala. "Pilih-pilih,. awas tar kamu dapat duda."


Vivi membulatkan kedua matanya. "Enak aja kamu Sya, ogah."


Hahaha


Mereka kembali tertawa, keseruan seperti saat remaja dan kuliah mereka kembali mengulangi, masa-masa bebas dan bersenang-senang kembali mereka bicarakan.


Tidak mudah untuk menjadi orang dewasa, jika bisa memilih mereka ingin menjadi anak-anak kembali.


.


.


Di kantor Dino baru saja keluar dari ruang rapa, pria itu keluar setelah hampir dua jam. Dan saat melihat ponselnya, Dino melihat pesan masuk dari Rantika wanita yang sudah mengandung benihnya.


Tidak biasanya wanita itu mengirim pesan lebih dulu, biasanya Dino lah yang selalu mengirim pesan.


"Pak, ibu menyuruh anda datang kerumah."


Pesan yang Rantika kirim membuat Dino mengernyit bingung.


Sampainya di ruanganya, Dino langsung menghubungi nomor Rantika sambil duduk di kursi kebesarannya.


Deringan beberapa kali tidak Rantika angkat, hingga Dino harus kembali menghubunginya.


"Hallo.."


Dino tersenyum saat mendengar suara Rantika. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Ada apa Tika? kenapa ibumu menyuruhku ke sana?" Tanya Dino langsung.


Hening untuk beberapa saat, hingga Dino kembali mendengar suara Rantika.


"Ibu sudah tahu pak, dan ibu meminta pria yang menghamili saya datang." Ucap Rantika diseberang sana sambil mengigit bibir bawahnya, berharap air mata yang sudah menggenang tidak akan jatuh dengan suara Isak tangis. Bayangan kekecewaan ibunya masih terekam jelas di kepala Rantika.


"Maksud kamu, ibumu sudah tahu jika kamu sedang hamil?" tanya Dino memastikan, tumbuhnya kembali duduk tegak dan langsung berdiri, Dino berjalan menuju kaca besar di rumahnya.


Pemandangan sore yang terlihat terang. Dino menatap lurus kedepan dan melihat gedung-gedung pencakar langit.


Rantika hanya mengagguk tanpa suara, meskipun Dino tidak bisa melihat apa yang sedang dia lakukan.


"Baiklah, besok saya akan menemui ibu mu." Ucap Dino setelah cukup lama saling diam.


Rantika hanya bisa kembali mengangguk. "Apa kabar hari ini, apa dia merepotkan kamu lagi?" Tanya Dino sambil tersenyum mengingat dirinya ternyata akan memiliki anak.


"Em, seperti biasa. Dia selalu membuatku susah makan." Jawab Rantika.


Biasanya Rantika hanya akan menjawab pesan Dino saja, tapi saat ini dirinya sendiri yang bicara.


Dino tersenyum sambil menunduk, dan kembali mendongak menatap lurus kedepan, tangan kirinya Ia masukkan kedalam saku, rasanya Dino sudah tidak sabar untuk menemui mereka.


Ya mereka, karena ada dua orang yang akan melengkapi hidupnya.


"Dia nakal sekali, bikin ibunya menderita." Dino terkekeh, dan disana Rantika mendengarnya.


"Jaga dia untukku, dan aku akan menjaga kalian."


.


Semangat pagi...💪💪💪