ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Bahagia dan kesedihan



Waktu terus berjalan begitu cepat, tidak terasa semua sudah berjalan dengan semestinya. Pertemuan yang awalnya adalah sebuah kesalahan yang tidak terduga, pertemuan yang membawa dua manusia kedalam sebuah bahtera rumah tangga. Tidak di sangka berawal dari sebuah kesalahan kini menjadi sebuah kebahagiaan. Dimana kedua insan yang sedang menikmati kebersamaan dalam mengarungi rumah tangga.


Kesalahan satu malam di London membuat dua insan saling menyatu dalam ikatan pernikahan dengan sebuah kata cinta. Cinta yang mereka miliki seiring berjalanya waktu. Kesalahan yang membawa keduanya dalam kebahagiaan rumah tangga.


Hari perkiraan kelahiran sang buah hati sudah dijadwalkan, Adam meminta dokter untuk menggunakan cara operasi untuk membantu persalinan sang istri. Adam tidak mau mengambil resiko meskipun Disya kondisinya memungkinkan untuk persalinan normal.


Karena yang dia tahu melahirkan itu sangat meyakinkan, apalagi melahirkan dia malaikat sekaligus, Adam tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang akan di alami sang Istri, walaupun itu sudah jalanya yang dirasakan jika seorang wanita melahirkan.


Mendekati jadwal yang di perkirakan, Adam memilih untuk bekerja dari rumah, dirinya tidak ingin meninggalkan sang Istri meskipun ada Mamanya yang menjaga.


"Mau di bawa kemana bik?" Tanya Disya saat melihat pelayan rumah membawa tanaman bunga.


"Taman belakang non, mau di pindahkan." Jawab bibik.


"Boleh aku ikut?" tanya Disya dengan bibir tersenyum.


"Tidak usah non, nanti saya dimarah den Adam." Tolak bibik yang merasa tidak enak.


"Ngak papa bik, suami saya sedang sibuk. Saya hanya melihat saja."


Si bibik tampak berpikir, wanita itu masih merasa tidak enak.


"Tidak apa, aku yang mau kok. Ayo kebelakang." Disya malah menggandeng lengan si bibik untuk kembali berjalan ke taman belakang.


Ternyata tanaman yang dari depan akan di gantikan dengan tanaman baru, dan Disya baru tau jika setiap minggunya tanaman di ganti.


"Non, jangan angkat pot itu. Taruh saja." Ucap si bibik yang merasa risan dengan Disya saat melihat majikanya ikut membantu.


"Tidak berat bik, lagian cuma disini." Disya menaruh pot yang dia pegang disamping pot bunga yang lain.


"Jangan non, nanti den Adam marah kalau tau non bantu." Si bibik benar-benar merasa takut jika Adam melihat kegiatan sang istri, karena mereka semua tahu jika Adam begitu posesif dengan pergerakan istrinya.


"Jangan khawatir bik." Disya yang memang keras kepala dan tidak mau diam tetap memaksa ikut membantu pelayan merapikan tanaman bunga di taman belakang.


Karena tidak memperhatikan ada selang air di bawahnya, Disya yang sedang membawa pot bunga berukuran sedang itu kakinya tidak sengaja terjerat selang di bawahnya.


"Akkhhh..!!"


Prank...!!


Hanya ada rintihan disepanjang jalan menuju rumah sakit, Disya tidak henti-hentinya merintih dengan air mata yang bercucuran. Tidak hanya itu Adam yang memangku tubuh Istrinya yang sudah bersimbah darah bagian kakinya terasa begitu lemas dengan wajah pucat.


"Sabar sayang sebentar lagi sampai." Adam tak kuasa menahan cairan kristal yang menggenang di pelupuk matanya, air mata itu jatuh begitu saja tanpa permisi.


Saat dirinya keluar dari ruang kerja dan mendengar teriakan, Adam langsung berlari menuju ke sumber suara, dimana saat dirinya melihat sang istri yang kesakitan dengan memegangi perutnya, apalagi kedua kaki Disya yang sudah bersimbah darah, sungguh saat itu juga dunianya terasa berhenti berputar.


Mobil yang dikendarai Leo sampai di depan rumah sakit internasional. Leo yang memang sengaja datang untuk mengantar berkas tidak menyangka akan mendapati insiden dirumah bos-nya.


"Dokter...!!! tolong dokter..!!"


Suara Adam begitu menggelegar di lobby rumah sakit, hingga secepat kilat Disya langsung mendapat penanganan langsung di ruangan tindakan.


"Maaf tuan anda tidak boleh masuk." Suster menahan tubuh Adam saat pria itu ingin menerobos masuk.


"Tapi istri saya-."


"Kami akan berusaha yang terbaik, anda tunggu diluar dan berdoa untuk istri dan calon anak anda."


Adam bersandar pada dinding dengan keadaan berantakan.


"Sabar tuan, nyonya akan baik-baik saja." Leo berdiri dibelakang Adam yang bersandar di dinding dengan kening menempel pada dinding. Pria itu begitu terpukul dengan keadaan yang terjadi.


Melihat atasanya yang kalut dan terpukul, Leo segera menghubungi keluarga atasanya. Karena tidak mungkin Adam akan memberi kabar melihat Adam sendiri begitu kacau.


Hampir satu jam lampu di atas pintu menyala, hingga mereka semua yang menunggu di luar begitu terkejut saat mendengar suara tangisan bayi yang saling bersahutan.


"Alhamdulillah..." Diana memeluk Frans.


Sedangkan Ayana memeluk Adam dengan isak tangis. Nathan ikut memeluk istri dan anaknya, antara lega dan juga bahagia, tapi rasa khawatir lebih mendominasi untuk saat ini.


Bagaimana dengan keadaan Disya?


Apakah wanita itu baik-baik saja?


"Selamat sayang, kamu menjadi seorang ayah." Ayana mengecup kening Adam dengan penuh haru, tidak menyangka jika putranya akan mendapatkan momongan secepat ini.


Mereka pikir dengan sifat Adam yang kaku, Adam tidak akan pernah menjalani hubungan dengan seorang perempuan, tapi ternyata semua yang mereka pikirkan salah, kini Adam sudah menjadi pria yang memiliki tanggung jawab kepala keluarga.


Ceklek


Pintu yang sejak tadi tertutup akhirnya terbuka, Adam lebih dulu berlari menghampiri suster.


"Sus bagaimana keadaan istri saya." Adam bertanya istrinya lebih dulu, dirinya ingin mendengar jika istrinya baik-baik saja.


"Selamat tuan, sepasang bayi kembar anda selamat." Ucap suster itu membuat mereka kembali mengucapkan syukur.


"Istri saya sus bagaimana?" Tanya Adam lagi dengan tidak sabaran, karena begitu khawatir. Mekipun cukup senang mendengar kedua buah hatinya sehat, tapi baginya kesehatan sang istri yang lebih penting.


"Istri anda masih dalam keadaan kritis, dan-"


Belum sempat suster itu meyelesaikan ucapnya, Adam sudah menerobos masuk tidak perduli dengan teriakan kelurganya, yang sudah menangis histeris.


"Sya..." langkah kaki Adam terhenti saat melihat dokter yang sedang melakukan tindakan dengan alat kejut jantung atau di sebut AED.


"Kita coba sekali lagi." Dokter itupun kembali menggosokkan dua alat AED dan kembali menempelkan ke dada Disya, membuat tubuh Disya tersentak kembali hingga ke-tiga kali.


Dada Adam begitu terasa diremas, dengan tatapan kabur saat kedua matanya menggenang cairan bening yang akan jatuh. Tumbuhnya terasa lemas dengan dada yang semakin sesak, udara di paru-paru yang kian menipis.


"Tuan, putra dan putri anda sudah selesai di bersihkan." Seorang suster mendekati Adam sambil membawa sepasang bayi kembar yang begitu mungil dan masih berwarna merah.


"Sayang...hiks.." Tangis Adam langsung pecah saat melihat kedua bayinya, dua malaikat yang mereka tunggu kehadirannya.


Adam mengendong salah satu dari mereka dengan tangan gemetar, pria itu membawa bayinya mendekat pada sang Istri yang sudah tidak bisa lagi di selamatkan oleh dokter.


Kakinya begitu berat, dengan napas yang tersengal, Adam menatap dua dokter yang menangani istrinya.


"Maafkan kami tuan, pasien mengalami pendarahan hebat, kami sudah berusaha dan-" Para dokter dan perawat itu menunduk, mereka tidak lagi melanjutkan ucapnya.


"Sya... Anak kita."


END