
Setelah selesai fiting baju, Adam membawa Disya ketempat yang Adam janjikan, dimana Adam akan memperkenalkan Disya dengan kedua Opa dan Omanya. Dan sekarang Disya dan Adam sedang duduk di samping makam kedua Opa dan Omanya. Disya mengusap nisan yang bertuliskan Indira Cahaya Putri dan disebelah ada Allanaro Putra Adhitama. Nama keluarga besar yang akan Disya gunakan di belakang namanya.
"Opa, Oma ini calon istri Adam." Ucap Adam yang duduk di samping Disya. "Yang Oma inginkan sudah Disya laksanakan, dia begitu cantik memakai gaun rancangan Oma yang terakhir kali." Tutur Adam dengan senyum pilu.
Disya hanya bisa tersenyum haru, tidak menyangka dengan apa yang Adam katakan. Ternyata gaun indah yang dia pakai hasil rancangan Oma Indira terakhir kali.
"Adam tidak menyangka jika akan menikah secepat ini, bahkan Adam akan memberikan kalian cicit seperti Hawa." Adam menarik sudut bibirnya saat mengatakan itu, tangannya meraih tangan Disya dan mengecup punggung tangan Disya.
"Bagaimana? pilihan Adam cantik bukan." Ucapan Adam spontan membuat Disya tertawa.
"Kenapa kamu memujiku didepan Oma dan Opa?" Tanya Disya dengan bibir yang masih tersenyum.
"Karena sejak remaja aku selalu disuruh mencari wanita yang cantik. Bukan hanya cantik wajah, tapi juga cantik hatinya."
Disya semakin terharu mendengar ucapan Adam. "Pasti Opa dan Oma adalah orang baik. Dan sayangnya aku tidak bisa bertemu dengan-nya." Kata Disya sambil tersenyum menatap dua nisan yang saling berjejer.
"Hm, sangat baik. Sampai aku tidak bisa menghilangkan semua memori yang penuh dengan kenangan Opa dan Oma."
Adam menatap sendu gundukan tanah di depannya.
"Hm, kamu beruntung sayang." Ucap Disya dengan satu kalimat akhir yang membuat Adam senang.
"Apa? katakan lagi?" Ucap Adam yang ingin Disya mengulangi panggilnya.
"Kamu beruntung, apa lagi?" tanya Disya balik.
"Ck, bukan itu." Decak Adam. " Oma lihat, cucu menantu Oma tidak membuat Adam kenyang." Adam mengadu pada nisan Oma Indira.
"Lah kok kamu ngadu sih." Ucap Disya yang tidak terima jika Adam mengadukannya.
"Tidak, siapa yang ngadu. Aku lagi bercerita." Ucapan Adam yang menyangkal.
Adan dan Disya pamit pergi setelah menabur bunga dan air doa. Keduanya kembali memasuki mobil untuk pulang.
Diperjalanan arah mata Disya melirik keluar jendela, dan Adam yang mengerti langsung bertanya.
"Kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Adam yang sepertinya mulai belajar peka.
"Aku mau eskrim." Jawab Disya dengan wajah berbinar saat membayangkan eskrim.
Adam yang melihatnya hanya tersenyum dan geleng kepala. "Baiklah untuk tuan putri, pangeran akan membawa tuan putri ke istana eskrim."
Disya tertawa. "Kamu bisa aja, aku pikir hidup berdampingan dengan kamu hidupku akan monoton dan kaku, tapi ternyata kamu memiliki sifat yang tidak orang lain ketahui." Ucapan Disya membuat Adam hanya melirik sekilas.
"Jadi bagaimana kamu menilai ku hm?" tanya Adam sambil fokus menyetir.
"Menyebalkan dan pemaksa, itu tidak bisa diganggu gugat." Jawab Disya sambil tertawa melihat reaksi wajah Adam yang berubah seketika.
Adam memang menyebalkan dan pemaksa Disya akui itu. Tapi siapa sangka di balik wajah datar dan dingin dengan sifat pemaksa itu, ternyata Adam memiliki sifat perhatian dan juga hangat. Bahkan jiwa sosial Adam dengan orang lain begitu tinggi, hingga Adam terkenal di banyak negara dengan bisnisnya yang sangat maju pesat.
"Dasar, tapi kamu suka kan kalau aku paksa. Apalagi di paksa buat muasin rudal yang sudah lama tidak di pakai." Tutur Adam tanpa beban, dengan Disya yang sudah melotot garang dengan apa yang Adam katakan.
"Jika kamu tidak bisa diam, jangan salahkan aku jika sepatuku yang akan mendiamkan bibir mesum mu itu."Ancam Disya dengan wajah garang.
Disya malah tertawa, melihat ekspresi Disya yang kesal seperti itu. Keduanya seperti Tom and Jerry, tapi ada kalanya mereka bersifat romantis, semoga keduanya selalu bahagia.
.
.
Teman bobok 🤗🤗