ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Pengunduran diri



Setelah bercinta dan bersiap untuk berangkat kerja, Adam menyempatkan menuruti permintaan Istrinya, Disya yang meminta Adam untuk membawanya ke penjual bubur ayam yang jualnya lumayan jauh dari kantor mereka berdua.


Sedangkan Adam bisa apa selain menuruti permintaan istirnya, pria itu rela menunggu Disya yang mengantri hanya demi bubur yang diinginkan.


"Uhhh, pasti enak banget." Disya menggosok kedua tangannya saat melihat bubur yang panas dengan toping yang melimpah ruah, kedua matanya begitu berbinar setiap melihat makanan yang dia inginkan tersaji di depan mata.


Adam yang melihatnya tidak bisa berkata, melihat Disya yang bahagia sudah lebih cukup baginya.


"Markicop, mari kita coba." Disya begitu antusias ingin mencicipi bubur yang katanya best seller di daerah ini, dan Disya mendapat rekomendasi dari kedua sahabatnya yang memang juga pencinta makanan.


"Pelan-pelan panas." Adam meniup sendok yang berisikan bubur untuk Disya suapkan.


"Iya.." Disya ikut meniup juga membuat keduanya tertawa.


Hap


Suapan itu akhirnya masuk kedalam mulut Disya.


"Enak?" Tanya Adam yang melihat Disya begitu menikmati.


"Em, enak." Disya kembali mengambil suapan lagi, kali ini hanya dirinya yang meniup. "A, cobain." Tangannya terulur untuk menyuapi Adam, karena Adam memang tidak memesan, setelah tadi di apartemen meminta Disya untuk membuatkan sandwich untuknya.


Adam sepertinya lebih suka makan hasil tangan sang istri, dan dirinya mulai terbiasa.


"Em, aku tidak suka bubur sayang." Adam mendorong tangan Disya agar menjauh darinya.


"Kenapa?" tanya Disya yang baru tahu jika Adam tidak suka makan bubur. "Padahal ini enak banget." Setelah itu Disya menyuapkan sendiri kedalam mulutnya.


Adam tidak menjawab, melainkan mengusap bawah bibir Disya yang belepotan.


Disya hanya tersenyum mendapat perlakuan manis Adam, bahkan mereka berdua tidak sadar jika sejak pertama datang sudah menjadi perhatian pembeli disana.


Wajah tampan dengan membawa seorang wanita cantik, membuat orang-orang yang melihatnya merasa terpana.


Setelah menemani sarapan Disya yang sepetinya bisa dikatagorikan ngidam, karena setiap pagi Adam akan selalu Disya repotkan dengan keinginannya yang ingin makan ini dan itu.


Kini Disya sudah ada diruangannya, dengan Adam yang sudah kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor pusat.


Sampainya di kantor, seperti biasa Arfin sudah menunggu atasanya itu diruangannya.


"Kenapa?" tanya Adam yang melihat Arfin sudah berada diruangannya.


Adam membuka kancing jas nya sebelum duduk di kursi kebesarannya, pria itu menatap Arfin yang menyodorkan berkas.


"Dino mengundurkan diri." Ucapan Arfin membuat Adam mengernyit bingung.


"Buka saja." Arfin yang tahu arti tatapan Adam menyuruh Adam untuk membuka amplop coklat itu.


"Ini-"


"Dia mengundurkan diri, dan mengembalikan semua berkas penting yang ada ditanganya." Tutur Arfin.


Adam tersenyum menyeringai, "Bini gue." Gumam Adam dengan senyum yang mengambang.


Arfin memutar kedua matanya malas. "Bini lu yang nyadarin dia, dan lu yang dapat bonus nya."


Adam tertawa mendengar ucapan Arfin. "Makanya nikah, kasihan Tante Olive dan Om Ando yang Udah ubanan tapi belum gendong cucu." Ledek Adam pada sekertaris sekaligus sahabatnya itu.


"Tenang aja ponakan gue tar juga ada teman main."


Adam mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan Arfin.


"Maksudnya."


Arfin hanya mengangkat kedua bahunya, dan pergi meninggalkan ruangan Adam.


.


.


"Sya kamu sudah tahu kalau pak Dino mengundurkan diri?" Tanya Dimas yang duduk didepan dua wanita yang sedang menikmati makan siangnya di kantin perusahaan.


"Ya ampun Tika, pelan-pelan." Disya menepuk punggung Rantika dan sambil memberikan sekretaris direktur itu minum.


"Ehem, makasih Bu." Rantika mulai mengatur napasnya kembali.


"Kamu jangan asal bicara Dim, mana mungkin pak Dino mengundurkan diri dengan cara mendadak?" Tanya Disya dengan wajah bingung tidak percaya.


"Memang itu kenyataanya, tanya saja pada Tika, iyakan Tik?" Dimas mengalihkan tatapannya pada Rantika.


"Emh, iya pak." Rantika menjawab apa adanya', padahal dia sendiri baru tahu dari Dimas jika atasanya mengundurkan diri, Rantika pikir Dino tidak masuk mungkin ada keperluan lain, tapi siapa sangka jika pria yang menjadi atasanya bahkan Rantika kagumi dan cintai dalam diam mengundurkan diri. Meskipun hatinya terasa sesak dan perasaanya tidak menentu Rantika tetap akan menjalani hari-harinya seperti biasa.


Karena memang dirinya menginginkan kejadian di dalam mobil itu, Rantika ingin memberikan miliknya yang berharga untuk pria yang dia cintai.


Setelah sampai diruangannya Disya langsung menghubungi Adam untuk memastikan kabar yang dia dengar.


Tapi di seberang sana Adam, tidak mengangkat panggilanya, apa suaminya itu sedang rapat.


Karena rasa penasarannya, Disya memilih untuk datang ke kantor Adam.


"Dim, nitip kerjaan ya. Tar aku kasih bonus." Disya bicara di ambang pintu ruangan staf sebelum dirinya pergi.


"Eh, kamu mau kemana Sya!"


"Ngapel suami, kayaknya bayi aku kangen sama bapaknya." Jawab Disya sambil nyengir dan belalu dari sana.


"Hah! Bu Disya hamil?" Di ruangan staf saling bertanya untuk memastikan jika Disya benar-benar hamil. Dan Dimas sebagai orang terdekat Disya menjadi sasaran para netizen dengan kabar bahagia itu.


Di tempat yang jauh dari keramaian Dino sedang duduk gazebo taman yang begitu sejuk udaranya, pemandangan kolam yang menyejukkan membuat pria itu memilih menenangkan pikiranya sejenak setelah melepaskan apa yang selama ini membelenggu dirinya.


Terbelenggu dalam sebuah dendam yang tidak berarti, hanya karena cintanya yang tidak bisa dia gapai, Dino hampir saja membuat kesalahan terbesar. Pagi tadi dirinya memang menyerahkan surat pengunduran dirinya langsung ke ke kantor pusat, bukan hanya itu. Dino juga mengembalikan apa saja yang dia ambil untuk menjatuhkan Adam, semua sudah dia kembalikan dan kini dirinya hanya ingin hidup damai tanpa ada dendam yang akan mengikatnya untuk menjadi orang jahat, apalagi wanita yang dia cintai akan membenci dirinya jika tahu apa yang dia perbuat.


Kepulan asap mengepul di udara, Dino mamang bukan penikmat aktif, tapi sering kali mengisi keadaanya yang menyedihkan pria itu jadi sering penikmat tembakau itu.


"Apa kamu bodoh! bagaimana bisa kamu melepaskan apa yang sudah ada di tangan kamu, hanya karena cinta kau begitu bodoh Dino! bodoh !!"


Dino mengingat jelas apa yang papanya katakan, Hendro murka dengan apa yang Dino lalukan. Meskipun begitu Dino tidak merasa bersalah, justru dirinya bisa tenang dan kembali melajukan hidupnya.


Selama ini dirinya sadar, jika sang ayah yang sudah mendoktrin dirinya untuk melakukan hal yang membuatnya merasa tersakiti, hingga Dino sampai memilki dendam. Sang ayah yang selalu berambisi tentang kesuksesan dan sebuah ketenaran, membuat Hendro menjadikan Dino untuk mempermudah jalannya.


Drt...Drt...Drt...


Ponsel Dino berdering dengan panggilan masuk, pria itu melihat nama siapa yang memanggil.


"Bagaimana?" Tanya Dino setelah mengangkat panggilan dari orang suruhannya.


"Maaf bos, kami mendapatkan rekaman cctv nya, tapi wajah wanita itu tidak terlihat."


Ucap seseorang dari seberang telepon.


Dino kembali mengepulkan asap di udara. "Cari tahu lagi, sampai ketemu." Titahnya dengan tegas.


Setelah mendapatkan jawaban dari seberang sana, Dino mematikan sambungan telponnya, pria itu mengambil sesuatu benda yang dia bawa.


"Siapa dia sebenarnya?" Dino menatap sebuah anting yang berada di tangannya. Dino menemukan anting itu yang jatuh didalam mobilnya, tepatnya di jok penumpang belakang.


Bukan hanya itu saja, Dino juga merasakan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan, dan itu cukup membuatnya bingung.


Flashback


Setelah dua jam terlelap di dalam mobil, karena merasa gerah, Dino pun akhirnya membuka matanya perlahan, mekipun masih terasa berat dan kepalanya yang terasa pusing, tapi Dino tetap mengembalikan kesadarannya.


"Shhh, kenapa kepalaku sakit sekali." Gumamnya sambil memegang kepalanya yang terasa berat.


Dino sadar jika dirinya berada di dalam mobil, tapi siapa yang membawanya masuk ke mobil?


Ketika ingin turun, Dino menemukan sebuah anting, dan saat dirinya mencoba mencium sesuatu yang terasa asing di dalam mobilnya, Dino seperti mencium aroma percintaan di dalam sana.


Dan hal itu membuat Dino yakin jika dirinya sudah melakukan hal yang belum pernah dia lakukan, dan Dino tidak tahu dengan siapa dia melakukanya.


flashback off