ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Boncap 1



"Apa baby sudah tidur?"


Adam tiba-tiba muncul saat Disya sedang membereskan alat-alat main baby J.


"Sudah, baru saja setelah minum asi. kenapa sayang?" Tanya Disya sambil menaruh bok berisikan mainan anak nya di pojok kamar.


Adam mendekati box bayi yang terdapat Twins tertidur.


"Kenapa mereka cepat sekali besar." Gumam Adam yang melihat kedua malaikatnya sudah bisa tidur tengkurap.


"Mereka aku beri makan, jadi cepat besar." Kata Disya yang ikut berdiri disamping Adam untuk memandang twins yang terlelap.


Adam menarik pinggang Disya dan memeluknya dari belakang, berpindah posisi untuk bisa memeluk sang istri.


"Hm, Maher dan Mahira begitu tumbuh dengan cepat, aku sampai tidak menyadari hal itu, padahal kemarin mereka masih enggan untuk membuka matanya dan selalu tidur. Tapi kini usia mereka sudah tiga bulan." Ucap Adam disamping telinga sang istri.


Adam menyiapkan nama untuk sang buah hati, Maher Malik Adhitama, Mahira Kanya Adhitama. Nama yang dia berikan untuk kedua anaknya.


Dagunya berada di pundak Disya, sedangkan tangannya memeluk erat perut sang istri, dan Disya ikut memeluk kedua tangan Adam yang melingkar di perutnya.


Mereka tinggal di rumah yang sudah Adam siapkan untuk keluarga kecilnya.


"Bagaimana?" tanya Adam setelah keduanya sudah duduk diatas ranjang dan bersandar pada bahu ranjang.


"Bagaimana apa nya?" Tanya Disya yang tidak mengerti dengan ucapan suaminya.


"Progam bikin adik buat Twins."


Bugh


"Kamu keterlaluan ih." Disya memukul lengan Adam.


Adam tertawa, dan merangkul lengan sang istri agar Disya jatuh ke pelukannya.


"Hanya bercanda sayang, aku belum bisa melupakan yang terjadi saat twins lahir." Ucap Adam sambil mendekap tubuh sang istri.


Katakan saja Adam trauma dengan kejadian yang menimpa Disya saat melahirkan Twins, Adam takut jika Istrinya akan mengalami hal itu lagi. Dirinya sudah merasakan dunianya hancur tapi Tuhan kembali memberikan kehidupannya lagi dengan mengembalikan sang istri.


"Kamu sudah menyuruh dokter untuk memasang alat kontrasepsi dalam jangka waktu yang lama, dan aku tidak tahu hal itu." Tutur Disya yang mengingat bagaimana Adam bercerita.


Adam menyuruh dokter untuk memasang alat kontrasepsi yang akurat dan dalam jangka lama, setelah Disya sadar. Dan saat itu Disya yang masih dalam masa pemulihan hanya menurut apa yang dokter katakan.


Rasa takutnya tidak akan pernah hilang, apalagi bayangan Disya dalam keadaan seperti itu, Adam tidak akan lagi melakukan hal yang akan membahayakan sang istri. Walaupun dulu kepinginnya ingin memiliki banyak anak, tapi sekarang keinginannya tidak akan dia kabulkan.


"Em, maaf." Ucap Disya yang ingat jika semua terjadi karena kecerobohannya.


"It's oke, semua sudah baik-baik saja." Adam meraup wajah Disya dengan kedua tangannya, dan Adam mendekatkan wajahnya untuk menyentuh bibir Disya.


"Emmh.." Disya meleguh menerima sentuhan bibir Adam yang menyesap dan melumatt nya dengan rakus.


Lidah Adam menerobos masuk untuk mengabsen setiap inci mulut sang istri.


Keduanya saling berpangutan dengan deru napas yang semakin naik, Adam semakin dalam mencubu bibir Disya hingga beberapa kali meleguh.


"Ahh." Kepala Disya mendongak saat Adam menyusuri bagian leher dan juga tulang selangka dan menyesapnya hingga meninggalkan bekas di sana.


"Ouh sayang " Disya meremat lembut rambut Adam saat pria itu bermain dikedua buah dadanya.


Walupun sering melakukanya, tapi tetap saja rangsangan yang Adam berikan selalu membuatnya mabuk kepayang.


"Tubuh Disya setengah duduk tanpa sehelai apapun, dan Adam yang sudah merasakan sesak dibawah sana segera membebaskan rudalnya untuk mencari tempat menembak yang aman.


Adam menatap Disya yang sudah terlihat begitu pasrah dan sayu, tangannya mengurut rudalnya didepan goa yang selalu menjadi candunya dan dia gilai.


"Kita mulai sayang."


Disya sudah pasrah dengan membuka kedua pahanya, tangan Adam menyentuh paha Disya dengan perlahan memasukkan rudalnya yang sudah siap untuk bekerja.


"Uhh.."


Keduanya mendesahh bersama saat rudalnya melesak masuk sepenuhnya, lenguhan dan desahaan keluar dari bibir Disya saat Adam menggoyangkan pinggulnya maju mundur.


"Enghh, rasanya tidak pernah berubah sayang." Adam mengerang dan kembali menyambar bibir Disya untuk di lahap.


Keduanya saling bergelung dibawah gairah yang selalu memabukkan, desahann dan erangan silih berganti bersahut-sahutan bertanda betapa nikmatnya percintaan yang mereka lakukan.


Penyatuan keduanya melebur menjadi satu dengan saling berpelukan, rasa lega dan bahagia membuat mereka tidak ingin berakhir begitu cepat.


"One more round."


Dan Disya tidak bisa menolak saat Adam kembali membuatnya terangsang.