ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Fakta



Diruangan yang sepi, Rantika masih memejamkan matanya, Dino duduk disamping Rantika yang belum sadar.


"Kondisi pasien sangat lemah, dan mengalami dehidrasi. Untung saja janin yang ada di kandungan pasien tidak apa-apa."


Ucapan dokter yang memeriksa Rantika cukup membuat Dino berpikir keras, bagaimana bisa Rantika yang tahu adalah wanita baik-baik sedang hamil 6 Minggu dan bahkan belum menikah. Rantika hamil anak siapa?


Dino menatap wajah Rantika yang sudah berwarna tidak sepucat tadi. Pria itu sudah menunggu Rantika hampir satu jam yang belum sadarkan diri.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu? siapa pria yang sudah membuatmu hamil." Ingin rasanya Dino langsung bertanya pada Rantika, siapa pria yang sudah membuatnya hamil.


Tapi melihat kedua mata Rantika yang tertutup rapat membuat Dino begitu merasa iba. Dirinya yang cukup lama menjadi wakil direktur membuat Dino mengenal lama Rantika, karena Rantika sudah lebih dulu mengabdi di perusahaan Adam sebelum Dino bergabung.


Sebagai sekretaris dan Dino tipe pria humoris, mereka saling mengobrol dan bertukar pikiran, apalagi saat meeting di luar keduanya banyak mengabiskan waktu berdua sebelum Disya hadir.


Tapi sayangnya hati Dino sudah ada satu nama, dan Rantika hanya berani mencintai Dino dalam diam, bukankah cinta tidak harus memiliki? itulah yang Rantika lakukan.


Ibu dan adik Rantika sudah pulang lebih dulu setelah jenazah bapak Rantika sudah siap di bawa pulang, dan Dino menyuruh Tio untuk membantu keluarga Rantika mengurus pemakaman dan sebagainya, karena Dino ingin menjaga Rantika di yang belum sadarkan diri.


Dino menelan ludah saat ingin menyentuh perut Rantika, entah kenapa dirinya benar-benar ingin menyentuh atau mengusapnya saja.


Keinginan yang mendesaknya membuat tangannya terulur untuk mengusap perut Rantika yang masih begitu rata, tapi belum sempat tanganya menyentuh tiba-tiba rintihan Rantika terdengar.


"Engh.." Rantika meleguh dengan memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing setelah membuka matanya.


"Kamu sudah bangun." Dino membantu Rantika untuk setengah duduk, ketika wanita ingin berusaha duduk. "Minum dulu." Dino menyodorkan gelas air putih pada Rantika dan langsung di terima.


"Bapak.." Air matanya kembali mengalir mengingat kabar yang terakhir dia dengar tadi.


"Mau kemana?" Dino menahan Rantika saat hendak turun dari ranjang.


"Aku mau mau pulang, lepas pak..!!" Rantika berontak saat Dino mencoba menahannya.


"Tunggu dokter sebentar lagi, kamu tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayimu kan."


Deg


Tubuhnya kembali menegang mendengar kata 'bayi' dari bibir Dino. Rantika menatap Dino dengan linangan air mata.


Dino yang melihatnya pun tidak tega, ingin memeluk Rantika, tapi wanita itu menolak. "Bapak boleh pergi, untuk apa menunggu saya disini." Ucapnya tanpa mau menatap wajah Dino.


"Katakan siapa pria yang sudah membuatmu hamil?" Tanya Dino yang sejak tadi penasaran.


Penasaran karena Rantika bisa terlibat pergaulan bebas sampai menyebutnya hamil, sebagai atasan yang akrab dan dekat Dino merasa prihatin.


Seketika tatapan Rantika mengarah pada wajah Dino yang begitu penasaran. Rantika menatap kedua bola mata Dino yang terakhir kali dirinya lihat berkabut gairah.


"Bukan urusan bapak, lagi pula jika ini anak bapak tidak mungkin juga bapak mau bertanggung jawab." Ucap Rantika dengan tegas.


"Maksud kamu apa!" Dino kembali mencekal tangan Rantika yang ingin pergi. "Katakan apa maksud kamu bilang begitu?" Dada Dino semakin bergemuruh dengan tatapan tajam menatap Rantika.


"Tidak ada apa-apa, saya mau pulang." Rantika mengentakkan tangannya agar terlepas dari cengkraman tangan Dino, dan berlalu pergi untuk pulang kerumahnya.


Dino mengusap wajahnya kasar, dirinya memikirkan ucapan Rantika. "Apa mungkin dia wanita itu." Ucapnya sambil membuang wajah kesamping, dan di sana Dino melihat tas Rantika yang masih berada di atas meja.


Dino meraih tas Rantika dan duduk, di tepi ranjang pasien. Dino membuka tas Rantika dan mengeluarkan isinya di atas ranjang pasien.


Satu persatu barang Rantika di dalam tas itu jatuh, dan Dino membuka dompet kecil Rantika saat melihatnya.


Satu persatu dia lihat isi dompet itu, sebuah foto USG hitam putih Rantika taruh di barisan paling depan.


Jemari Dino mengusap foto itu, entah kenapa hatinya tergerak untuk mengusap foto itu.


"Ini.."


Dino menagmbil sebuah kartu vip seperti miliknya, kartu pelanggan bar yang dirinya sering datangi.


Mata Dino membulat saat melihat kartu itu, dirinya semakin tidak percaya jika wanita itu adalah Rantika, ketika melihat anting yang dia temukan di beberapa benda yang tergeletak di atas ranjang.


"Kenapa anda lancang sekali pak..!!"


Tiba-tiba Rantika masuk dan menyambar apa yang Dino sentuh, wanita itu kembali memasukkan barang-barang yang ada di tasnya yang berserakan di atas ranjang.


Dino menatap wajah Rantika yang kesal dan juga marah, tapi tersirat ketakutan yang begitu ketara.


Rantika menutup matanya saat Dino berteriak didepan wajahnya, jantungnya seperti ingin lepas dari tempatnya saat semua yang mereka lakukan ternyata Dino mengingatnya.


Air matanya kembali luruh ketika mengingat hal itu, mengingat bagaimana dirinya mengalami morning sickness selama hampir dua bulan ini.


Sedangkan Dino yang melihat Rantika menangis tak kuasa menahan kekesalannya, kenapa Rantika malah menghindar jika wanita itu adalah dirinya, dan bahkan sekarang Rantika tengah berbadan dua, dan itu faktanya yang selama ini menghantui pikirannya.


"Maaf pak, itu kesalahan saya yang tidak bisa menolak keinginan bapak. Saya salah sudah menuruti permintaan bapak saat mabuk, dan saya berjanji tidak akan mengganggu kehidupan bapak karena masalah ini."


Dino semakin mengetatkan rahangnya mendengar ucapan Rantika yang terdengar menusuk harga dirinya sebagai laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab.


"Maaf pak." Rantika menunduk dan pergi meninggalkan Dino yang masih mencoba menerima apa yang terjadi dengan mereka.


"Heh, katanya ini salahnya." Gumamnya sambil terkekeh miris. "Lalu apakah seorang pria mengahamili seorang wanita tidak melakukan kesalahan. Bodoh sekali kau Tika." Dino langsung melangkahkan kakinya dengan berlari kecil untuk mengejar Rantika yang sudah lebih dulu pergi dari rumah sakit.


.


.


Di Jakarta Adam baru saja mendapat kabar jika ayah dari mantan sekretarisnya yang beberapa hari lalu resign. Adam langsung menghubungi Disya dam memberikan kabar, ternyata di Grub perusahaan sudah tersebar berita duka tersebut.


"Dimas, dan yang lainya akan kesana. Tapi aku tidak bisa ikut padahal ingin." Ucap Disya diseberang telepon dengan suaminya.


"Kamu sedang hamil, tidak akan aku ijinkan." Titah Adam dengan tegas


Disya hanya bisa mengerucutkan bibirnya tanpa bisa di lihat Adam, wanita itu kesal tapi juga sadar dengan keadaan.


"Sebagai gantinya kamu harus membawakan makanan yang aku inginkan, tapi aku tidak mau memberi tahumu, jika kau salah membawa makanan, maka jangan harap akan mendapat jatah satu minggu kedepan."


"Hey, permintaan konyol apa itu, mana tahu aku- Sya Disya..!!"


Tut...Tut... Tut...


"****..!!" Adam mengumpat saat sambungan teleponnya terputus.


Adam memijat keningnya yang terasa nyeri, semakin lama Disya semakin membuatnya pusing karena permintaan anehnya. Mana dia tahu Disya inginkan makan apa, jika dirinya saja tidak diberi tahu, dan hal itu membuat Adam rasanya ingin berteriak didepan wanita yang sudah memberinya keturunan kembar.


"Sabar Dam, berfikir untuk merayu istrimu." Gumam Adam sambil berfikir untuk membawa Disya kemana, agar dirinya tidak pusing membawa makanan yang wanita itu inginkan.


Disya menghela napas. "Mari kita lihat, apa tuan pencemburu itu tahu apa yang aku inginkan." Ucapnya sambil tersenyum menyeringai membayangkan Adam yang pusing.


Jam makan siang pun tiba, Adam datang ke kantor untuk menemui istrinya, dirinya sudah menyuruh wakil karyawan untuk datang kerumah Rantika, selain Adam banyak perkejaan, jalan menuju kampung Rantika juga cukup jauh.


Dan Adam tidak ingin meninggalkan istrinya yang terkadang permintaanya banyak tanpa tahu waktu.


Ceklek


Adam membuka pintu ruangan Disya, dan wanita itu tersenyum lebar ketika menyebutnya, tapi saat melihat Adam yang sudah masuk, senyum lebar Disya luntur seketika.


"Loh mana makanan yang aku mau?" Tanya Disya yang melihat Adam tidak membawa apapun.


"Memangnya kamu minta apa?" tanya Adam balik.


"Basko kuah pedas, sama ayam bakar nasi liwet." Ucap Disya dengan polosnya.


Adam tersenyum menyeringai. "Nah kalau begitu ayo kita beli." Adam menarik tangan istrinya untuk mengikutinya.


"Eh, kan aku mau dibeliin kamu. Kok malah ngajak aku sih." Disya melepaskan genggaman tangan Adam dan menatapnya kesal.


"Kan aku ngak tau apa yang kamu mau, dan sekarang aku sudah tau. Ayo kita beli."


bugh


"Adam kau menyebalkan sekali..!!"


.


.


Kasih apa hayoo..🌽🌽🌽