
Disya berdiri didepan lemari besar dimana Adam tadi memakai baju disana. Setelah memastikan di kamar itu tidak ada Adam, Disya baru keluar. Dirinya yang tidak memiliki apapun di hotel membuatnya merutuki Adam yang memaksa membawanya untuk ikut keluar kota. Dan alhasil Disya tidak membawa apa-apa selain pakaian yang dia pakai tadi, dan sekarang sudah kotor karena seharian sudah dia pakai.
"Tidak ada baju untukku, ini semua baju pria menyebalkan itu." Disya terus ngedumel sambil mencari pakaian yang bisa dia pakai.
Tanpa pikir panjang Disya mengambil kemeja putih panjang milik Adam yang sangat kedodoran di tubuhnya.
"Bodo amat, salah siapa ngak beliin aku baju." Gerutu Disya yang kesal karena Adam tidak memberikannya pakaian dan sebagainya.
Disya kembali duduk di sofa untuk menyantap makanan yang belum sempat dia makan saat tadi malah berbicara dengan Adam. Wanita yang banyak makan itu memakan apa saja yang ada diatas meja. Perutnya yang lapar, tidak membuat Disya takut menghabiskan makanan yang ada, ataupun takut jika tubuhnya akan melar.
Ceklek
Adam kembali ke kamar setelah apa yang dia cari sudah didapat, pria itu membawa paper bag dua di tangannya.
"Eh, kamu dari mana?" tanya Disya yang masih duduk disofa.
Adam tidak menjawab melainkan menaruh barang yang dia bawa di atas ranjang.
"Kamu beli apa?" Tanya Disya lagi yang berjalan mendekati Adam.
Seeet
Disya menuduk dan mengambil apa yang Adam bawa, hingga kemeja yang dia pakai tanpa bawahan itu naik dan menpilkan dua bulatan bok*ong Disya.
Adam menahan penampilan wanitanya yang benar-benar seksi, Disya memakai kemeja kebesaran miliknya dan tanpa apapun di balik kemeja itu.
Plak
"Ahhh." Disya langsung berdiri tegak dan berbalik menatap Adam." Kenapa kau menampar bok*ong ku!" Pekik Disya dengan tatapan tajam.
Adam tersenyum tipis saat melihat wajah Disya yang marah, apalagi Disya sengaja tidak mengancingkan tiga kancing kemeja paling atas dan memperlihatkan belahan dadanya, entah sengaja atau tidak Disya sudah membangunkan singa yang sedang tidur.
"Kau sengaja ingin minta digarap." Ucap Adam dengan suara beratnya, tatapan Adam mengintai tubuh Disya dari atas sampai bawah.
Melihat tatapan Adam seperti itu, membuat Disya seperti di telanjangi oleh Adam, Disya segera berlari kearah kamar mandi dengan membawa pakaian yang ternyata miliknya baru saja di belikan Adam.
"Argh lepas..!! kau mau apa.." Disya meronta saat Adam berhasil menangkapnya sebelum sampai ke dalam kamar mandi.
Adam merangkul tubuh Disya dari belakang dan membawanya menuju ranjang, tenaga Disya yang berontak cukup membuat Adam kuwalahan, Disya sempat lepas dan ingin lari, tapi Adam kembali berhasil menangkapnya.
"Kau sudah membangunkan apa yang seharusnya tidak bangun, kau sungguh wanita penggoda." Adam bicara dengan suara dingin, napasnya sudah memburu melihat Disya yang sudah terlentang di atas tempat tidur karena ulahnya.
"Kau mau apa? kita belum menikah jangan mengajakku bercinta." Ketus Disya tanpa mengalihkan tatapannya pada Adam yang sudah diliputi gairah.
Disya bergerak mundur saat Adam sudah membuka kaos yang dia pakai, dan terlihat jelas dada bidang hingga bagian perut Adam yang sispeck.
"Kenapa harus menunggu menikah, jika kita saja sudah melakukanya dua kali." Ucap Adam dengan senyum meneyringai saat melihat Disya memalingkan wajahnya ketika dirinya melepaskan celana panjangnya.
"Walaupun kita belum menikah, kau akan tetap menjadi milikku." Adam bergerak merangkak naik keatas ranjang yang super besar itu, pria itu seperti singa yang kelaparan dan mendapat santapan yang lezat.
Tubuh Disya yang memakai kemeja putih dan tanpa dalaman apapun membuat Disya sangat seksi dan menggoda di mata Adam. Tanpa baju itupun bagi Adam, Disya sudah mampu membuatnya panas dingin.
"Ck, kau itu memang mesum." Disya sama sekali tidak takut akan keganasan Adam.
"Sepetinya dua kali kita bercinta sudah membuatmu terbiasa hm." Kini wajah Adam sudah sejajar dengan wajah Disya.
Keduanya saling menatap bola mata satu sama lainya, menyelami apa yang mereka rasakan saat ini, dan keduanya sama-sama merasakan getaran dalam hati masing-masing.
Cup
Melihat bibir ranum Disya membuat Adam tak kuasa untuk segera memangutnya dengan lembut, Adam melumatt dan menyesap bibir Disya seperti lolipop yang begitu terasa manis.
Hanya bibir Disya yang sudah membuatnya candu, hanya tubuh calon istrinya yang begitu membuatnya menggila.
"Ahh." Disya mendesaahh saat lidah Adam melesak mengapsen setiap inci rongga mulutnya, Disya yang ikut membalas belitan lidah Adam semakin membuat Adam bergairah.
"Enghh.." Pangutan Adam semakin menuntut dan kasar seiring berjalanya waktu, mereka cukup lama berperang dengan bibir keduanya hingga bibir tipis Disya kini menjadi sedikit bengkak.
Tautan bibir keduanya terlepas saat Disya kehabisan napas, dada Disya naik turun seiring dirinya menghirup napas untuk mengisi paru-parunya.
"The better to return the kiss."
Seketika wajah Disya merona, dengan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"You're beautiful."
Seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan di perut Disya, wanita itu hanya bisa mengigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa senangnya karena ucapan Adam.
"Ck, gombal.." Disya yang benar-benar malu malah semakin malu dengan ucapanya barusan.
'Apa-apaan sih.' Disya merutuki kebodohannya, tapi karena sudah terlanjur malu Disya mencoba untuk biasa saja menghadapi Adam yang sedang bergairah.
Tiba-tiba kedua tangan Disya melingkar di leher Adam, wanita itu berdehem untuk mengurangi tenggorokannya yang terasa kering, Disya menatap wajah Adam dengan seksama, untuk sedikit lama Disya benar-benar mengakui ketampanan Adam yang mampu menghipnotis semua kaum Hawa.
"Kenapa melihatku seperti itu." Tanya Adam.
Tangannya bergerak untuk membuka kancing kemeja yang Disya pakai, dan Disya menyadarinya.
"Kita buat permainan." Ucapan Disya sontak membuat tangan Adam berhenti.
Adam menatap Disya dengan kening mengerut, Disya yang gugup mencoba menjelaskan.
"Siapa yang kalah lebih dulu, maka dia yang akan menjadi pemimpin." Ucap Disya dengan menelan ludahnya kasar. Apa yang dia katakan?
"Dengan cara?" Adam menatap lekat wajah Disya yang gugup.
"Dengan cara_" Disya tampak berpikir hingga dirinya menemukan ide untuk membuat Adam kalah.
"Seperti ini." Disya mendorong bahu Adam dan langsung membuat Adam terlentang kesamping. Disya langsung naik ke atas tubuh Adam dengan duduk diatas perut Adam.
"Ohh ayolah sayang, jangan menyiksaku seperti itu." Adam yang merasakan kulitnya terasa basah membuatnya semakin terpancing gairah.
"Memancing apa? aku belum melakukan apapun." Sentak Disya yang sebal mendengar ucapan Adam.
Adam malah terkekeh. "Kau banyak aturan, bilang saja jika kau sudah ingin." Ucap Adam dengan suara serak.
"Apa? ingin apa?" lagi-lagi Disya belum sadar dengan posisinya.
"Milikmu sudah basah sayang, aku merasakannya." Bisik Adam yang sudah dalam posisi duduk merangkul tubuh Disya di pangkuannya.
"Adamm..!! kau membuatku_ emph.."
Sia-sia apa yang ada di dalam bayangan Disya jika Adam akan kalah dan menyerah, dan semua berbalik padanya dengan Adam yang kembali menguasainya. Adam menyentuh setiap inci tubuh Disya dengan tangan besarannya, membuat bulu kuduk Disya kembali meremang. Entah sudah merasakan nyaman atau enaknya bercinta, kini Disya sudah pasrah dengan apa yang Adam lakukan, tidak di sangkal jika Disya terkadang juga merindukan sentuhan Adam ditubuhnya. Apalagi saat lelah melanda Disya bisa membayangkan dirinya menyatu dengan Adam.
"Engh,, geli ah." Disya mendesaahh saat Adam memilih pucuk kelembutan miliknya dari balik kemeja putih yang sudah tranparan karena permainan lidah Adam yang membuat bulatan kecil itu tampak jelas di mata Adam. Pria itu terus memainkan area sensitif Disya tanpa jeda, Adam menyukai suara Disya yang mendesaahh kuat dan menjerit memanggil namanya, entah kenapa Adam semakin menggila mendengar suara merdu wanitanya yang sedang bergairah.
Hingga Adam merasakan tubuh Disya yang bergetar.
"Kau puas." Adam menyeringai menatap wajah Disya yang sudah bercucuran keringat, Adam menyukai ekpresi Disya yang begitu seksi.
"Aku capek." Disya ingin beranjak dari Kungkungan Adam, tapi Adam tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Kau capek tapi sudah merasakan enak, lalu aku merasakan apa?" Pertanyaan Adam selalu membuat Disya malu sendiri.
"Ya..ya terserah." Disya memalingkan wajah saat Adam mulai menunjukan wajah kesalnya.
"Kau tidak ingin melayaniku?" Tanya Adam dengan suara beratnya.
Disya hanya menggeleng tanpa suara, membuat Adam mengepalkan keduanya tangannya kuat.
"Shitt..!!"
Adam segera berlalu dari atas ranjang dan kembali memakai pakaiannya lengkap lalu pergi dalam kamar.
Disya yang menatap kepergian Adam tertegun, kenapa tiba-tiba Adam pergi.
"Kenapa lagi, tidak biasanya dia seperti itu." Ucap Disya.
Entah kenapa hatinya merasa kecewa melihat Adam yang pergi meninggalkannya, padahal Disya sendiri yang tidak mau bercinta dengan Adam.
.
Sedikit Oleng, setelah ini Udah normal 🤣🤣🤣