
Keduanya menikmati makan siang, lebih tepatnya makan siang kembali untuk Disya. Sedangkan Adam pria itu begitu lahap makan. Bayangkan saja sejak jam dua belas Adam menunggu Disya kembali sampai pukul satu Disya baru kembali. Dan Adam yang sudah lapar memilih untuk menunggu sang Istri pulang untuk kembali makan bersamanya.
"Kamu lapar apa rasa makanannya memang enak?" tanya Disya yang melihat Adam begitu lahap makan. Adam seperti orang kelaparan.
"Lapar, tadi pagi hanya sarapan roti itupun tidak habis karena kamu pergi lebih dulu. Dan karena memikirkan masalah tadi pagi membuatku tidak fokus bekerja hingga aku datang kesini ingin makan siang bersama, tapi kamu juga tidak ada." Adam mengusap bibirnya menggunakan tisu, setelah selesai makan.
Disya memberikan Adam minum, dan Adam hanya memajukan wajahnya untuk minum dari tangan Disya.
Melihat kelakuan Adam semakin membuat Disya merasa bersalah. Dirinya kesal dengan suaminya karena hal sepele perkara Adam yang bicara kasar itupun karena kecerobohannya. Dan sekarang di tambah merasa bersalah mendengar penuturan Adam yang sudah menunggunya hampir 1 jam.
Disya menggenggam tangan Adam, membuat Adam menoleh dan menatap Disya.
"Maaf." Satu kata yang keluar dari bibir Disya. Wanita itu menarik napas dalam sebelum kembali bicara. "Maaf aku tadi tidak ada di kantor saat kamu datang, karena aku sedang makan siang diluar, kami bertiga aku, Dimas dan pak Dino." Lirih Disya di akhir kalimat. Dirinya ingat jika Adam tidak suka mendengar panggilan akrabnya untuk Dino, maka Disya memilih panggilan yang aman untuk Dino.
"Lalu?"
Disya malah bingung mendengar perkataan Adam. "Aku salah tidak minta ijin. Jadi aku minta maaf." Tutur Disya lagi dengan wajah memohon maaf.
Adam mengehela napas kasar. "Sebenarnya aku ingin marah, tapi aku mencoba untuk tidak melakukan itu. Selagi Dinosaurus tidak macam-macam dengan kamu. Tapi aku tidak akan diam jika dia berani menggoda mu untuk kembali padanya." Adam bicara dengan penuh penekanan di kalimat terakhirnya.
Disya mengaguk. "Terima kasih." Disya langsung memeluk tubuh Adam yang langsung menerima pelukannya, dia pikir Adam akan marah mendengar apa yang dia katakan tadi. Tapi tidak, Adam mulai bisa menahan amarahnya dan mencoba untuk melihat apa yang terjadi lebih dulu.
Adam mencium pucuk kepala Disya, tangannya mengusap punggung wanitanya yang memeluknya erat. "Aku melakukan itu untuk mu, jangan pernah kamu menghianati kepercayaan ku." bisik Adam dalam pelukan.
Setelah makan siang Adam tidak kembali ke kantor pusat, dirinya memilih berada di kantor cabang yang kebetulan ada rapat yang dadakan yang harus dia hadiri.
Adam dan Dino, serta petinggi dan staf lainnya berada dalam satu ruangan dengan meja besar yang kursinya diduduki para peserta rapat.
Adam mendengarkan apa yang sedang disampaikan Dino selaku wakil direktur diperusahaaan Adam.
Di sana juga ada Disya yang ikut serta, dan wanita itu duduk di samping Adam yang fokus mendengarkan Dino menyampaikan kendala pengiriman barang dan juga beberapa proyek yang mangkrak akibat investor yang menarik saham dari proyek itu.
Tatapan Adam tak lepas menatap Dino yang sedang menyampaikan kondisi perusahaan saat ini.
Disya melirik Adam yang duduk tenang, tapi Disya bisa melihat urat leher Adam yang menegang, itu berarti Adam sedang tidak baik-baik saja.
Disya mengulurkan tangannya untuk menyentuh paha Adam, reflek Adam melihat kebawah dan menoleh pada Disya yang menatapnya dengan senyum.
Adam meraih tangan Disya yang menyentuhnya, dan Adam membawa tangan Disya untuk dia kecup.
Perlakuan Adam tidak lepas dari tatapan Dino yang sempat menghentikan ucapannya didepan, pria itu menahan dadanya yang bergemuruh karena cemburu melihat interaksi suami istri itu.
"Kira-kira kendala seperti itu yang sedang di alami, dan disini kami ingin mendengar solusi dari tuan Adam." Ucapan Dino diakhir dengan mempersilahkan Adam untuk memberikan solusi masalah yang di hadapi.
Tangan Disya yang bebas kembali megengan tangan Adam yang sedang menggenggam tangannya. Disya seperti menyalurkan keyakinan jika semua akan baik-baik saja, dan Adam hanya tersenyum mengaguk.
Ehem
Adam berdehem sebelum mulai bicara. "Sebenarnya ini adalah masalah yang umum terjadi, tapi saya hanya tidak percaya masalah sebesar ini bisa terjadi, karena ini bukan pertama perusahaan mengirim barang keluar kota dan negeri, apalagi proyek. Saya tidak tahu apakah ada kecurangan yang terjadi dengan semua ini, dan mungkin saja ada kerja sama dengan orang yang ingin melihat perusahaan yang saya bangun hancur." Adam bicara sangat tegas dan menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan itu, seketika ruangan rapat itu menjadi dingin dan mencekam.
"Tapi bukan itu yang harus saya bahas, karena hal seperti itu saya sendiri yang akan mencari buktinya. Dan untuk masalah pengiriman-"
Adam bicara dengan lugas, menuangkan ide dan jalan keluar untuk mengatasi masalah perusahaan yang sedang mengalami kendala, karena memang harus cepat teratasi, jika tidak Adam akan kembali menanggung kerugian yang sangat besar.
Disya menatap Adam yang begitu berwibawa dan tegas saat memimpin rapat, dia baru pertama kali melihat Adam yang begitu mempesona dengan semua yang dia miliki. Benar kata orang di luaran sana, jika dirinya sangat beruntung memiliki suami seperti Adam, dan Disya menyadari hal itu.
"Saya rasa apa yang saya sampaikan cukup untuk kalian memperbaikinya." Kata Adam di akhir kata-kata yang di sampaikan panjang lebar tadi.
"Saya rasa disini ada konspirasi, tapi Arfin belum cukup bukti siapa dalang dibalik semua kekacauan ini." Tutur Adam dengan memijat pangkal hidungnya. Adam sudah lebih tahu keadaan perusahanya sebelum mereka membicarakan di rapat, dan Arfin sedang menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya.
"Sabar ya, semua pasti akan baik-baik saja." Disya mengusap lengan Adam.
Adam mengehela napas kasar dan memutar kursinya untuk menghadap Disya yang berdiri, Adam langsung memeluk pinggang Disya, menenggelamkan wajahnya di perut Disya.
"Aku sudah sering menghadapi masalah besar, tapi jika terus seperti ini, aku tidak tahu akan kuat atau tidak." Ucap Adam dengan posisi memeluk perut Disya.
Tangan Disya mengusap kepala Adam lembut, Disya tahu, tidak mudah untuk menjadi pewaris perusahaan nomor satu di Asia, mekipun Adam memilih adik laki-laki, tapi Adam mendapatkan tangung jawab yang begitu besar yang harus di pikul.
"Mungkin aku tidak bisa membantu dalam pekerjaan yang kamu hadapi, tapi aku tahu jika pria yang aku banggakan ini mampu melewati cobaan yang datang silih berganti, percayalah jika Tuhan tidak akan menguji hamba-nya melebihi batas kemampuan. Dan sekarang kamu sedang diuji untuk menaikkan derajat mu dalam tanggung jawab."
Adam semakin mengeratkan pelukannya, rasanya dirinya kembali mendapat semangat untuk menjalani semua yang terasa berat.
"Semangat Papa By, kami akan selalu bersamamu." Ucap Disya sambil menirukan suara anak kecil.
Adam yang mendengarnya langsung melonggarkan rengkuhannya dan mendongak, menatap Disya yang tersenyum manis untuknya.
"Papa By?" tanya Adam yang mengulang ucapan Disya tadi.
"Papa baby, papa By." Kata Disya dengan senyum semakin mengembang, saat melihat Adam ikut tersenyum lebar.
"Hem, Mama By." Keduanya malah tertawa mendengar kata receh mereka.
Adam menarik Disya untuk duduk dipangkunya dengan posisi kaki Adam dihimpit kedua kaki Disya, mereka saling berhadapan dengan Disya yang mengalungkan tangannya di leher Adam.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Disya sambil mengelus pipi Adam dengan satu jari telunjuknya.
Adam menatap wajah Disya yang memang begitu cantik, "Hm," Adam bergumam menyuruh Disya untuk bertanya.
"Jika aku mencintaimu, maka apa kau juga mencintaiku?" Disya menatap kedua mata Adam lekat, kedua bola mata yang begitu tajam saat menatapnya. Dan semakin lama Disya semakin menyukai bola mata Adam yang tajam.
"Jika aku tidak mencintaimu, maka apa kau tetap akan mencintaiku." Tanya Adam balik.
Bugh
Disya memukul dada Adam pelan. Bibir Disya cemberut. "Kalau seperti itu kamu jahat, aku tidak mau hidup sama orang seperti mu." Ucap Disya kesal karena pertanyaan Adam.
Adam malah terkekeh melihat wajah Disya yang kesal.
"Semua tidak harus dengan ucapan, jika tindakanku sudah cukup untuk menyakinkan mu, maka untuk apa kata cinta yang hanya sebuah ucapan, aku rasa kamu sudah bisa merasakan apa yang aku lakukan untuk mu." Adam mengecup bibir ranum Disya sekilas, bibir yang sejak tadi sudah menggodanya untuk di cicipi.
Mereka saling bicara di ruang rapat, tidak peduli dengan kedekatan mereka jika ada yang melihat, yang pasti ruangan itu tidak ada yang datang kecuali saat sedang di pakai, apalagi jam sudah menunjukan pulang kantor, Adam semakin merapatkan tubuh Disya.
"Emmh," Disya meleguh saat ciuman Adam semakin liar saat dirinya membalas pangutan Adam yang selalu membuat dirinya bergejolak.
Tangan Adam tidak tinggal diam, mencari benda favorit yang dia sukai.
"Enghh.."
Jika sudah seperti ini, Disya tidak mungkin bisa lolos dari Adam.
"I want you."
Emph