
Perkiraan hanya tiga hari di luar kota, nyatanya mereka butuh satu minggu untuk menyelesaikan problem di sana. Adam kembali bersemangat didampingi Disya yang membantunya.
Meskipun hamil muda, Disya mengalami ngidam yang berlebih, hanya saja saat tertentu Disya akan mengalami morning sickness.
Hari ini keduanya selesai menyelesaikan masalah yang Adam hadapi, tidak ada yang tahu masalah apa yang menimpa Adam. Karena memang proyek ini adalah investasi Adam sendiri.
"Sayang sudah biar aku saja." Adam menghampiri Disya yang sedang merapikan tempat tidur. Pagi ini mereka akan pulang ke kota karena semua sudah berjalan dengan baik.
"Tidak apa, ini perkejaan wanita." Jawab Disya yang masih membereskan tempat tidur.
"Ini dihotel, tidak usah melakukan itu." Pinta Adam lagi yang kini sudah menarik tangan Disya untuk duduk disofa.
Adam mendudukkan Disya di pangkuannya, dan Disya langsung mengalungkan tangannya dileher Adam.
"Sepertinya aku tidak bisa jauh-jauh dari kalian lagi." Adam mendongak untuk menatap wajah Disya.
Disya tersenyum. "Kenapa kamu jadi menggemaskan begini, mana Adam di pemaksa dan menyebalkan itu." Disya tertawa. "Apa karena cinta kamu berubah menjadi pria romantis, Hem." Tanya Disya sambil menangkup wajah Adam dan menggoyangkanya ke kanan dan kiri.
Adam tersenyum. "Singa saja akan jinak jika menemukan pawang yang tepat."
"Jadi kamu mengakui bahwa dirimu adalah singa?" Tanya Disya dengan senyum.
"Hm, dan kamu pawangnya singa."
Keduanya tertawa. "Apa setelah pulang kita akan menikah?" tanya Disya dengan menatap kedua bola mata Adam.
Jemari Adam menyelipkan rambut Disya kebelakang telinga dan berkata. "Pasti, karena mama sudah menyiapkan semua."
Disya mengerutkan kening. "Mama? maksud kamu Tante Ayana?" Tanya Disya lagi.
"Hm, siapa lagi. Ratu dirumah hanya ada Mama, semua yang dia katakan pasti akan menjadi kenyataan."
Di Ballroom hotel Adhitama sudah disulap begitu mewah dan megah. Semua sudah tertata rapih dengan konsep yang begitu indah.
Ini pertama kali Nathan menggelar pesta pernikahan anaknya dengan megah, berbeda dengan putrinya dulu yang hanya sederhana karena Hawa menikah masih sekolah. Dan saat itu Nathan berserta Mario menantunya sepakat untuk menikahi dihadiri keluarga dan kerabat saja, hingga sampai sekarang mereka tidak mau melakukan resepsi untuk pernikahan mereka.
Adam dan Disya sudah dibandara, sepuluh menit lagi Pesawat yang mereka tumpangi akan lepas landas.
Disya duduk disamping jendela, wanita itu bersandar pada lengan Adam yang duduk di sampingnya. Sejak naik pesawat Disya hanya diam tanpa membuka suara, membuat Adam merasa bingung.
"Sya, kamu kenapa?" Tanya Adam sambil menundukan kepalanya melihat wajah Disya.
Adam menggesek lenganya agar Disya bisa bersandar didadanya. Pria itu mengusap rambut Disya dengan lembut.
"Katakan jika kamu tidak nyaman." Adam mencium pucuk kepala Disya.
"Hu'um." Disya hanya bergumam dengan mata terpejam.
Perjalanan udara yang tidak lama, tapi cukup melelahkan karena kondisinya yang sedang hamil muda, apalagi dua hari kemarin dirinya menemani Adam untuk menyelesaikan masalah di proyek. Bisa dibilang Disya kelelahan.
.
.
.
Di rumah keluarga Adhitama, Ayana tampak sibuk dengan beberapa undangan yang yang tinggal antar, undangan kerabat dan saudara yang nantinya akan dia antarkan sendiri.
"By, kira-kira sudah tidak ada yang terlewat kan?" tanya Ayana pada Nathan yang baru saja duduk disebelahnya.
"Sepertinya tidak." Jawab Nathan setelah mengecek undangan yang istrinya siapkan.
"Besok biar aku di antar pak Husein, kamu datang saja kantor, kasihan Arfin sendiri ditinggal Adam." Usul Ayana.
"Hm, tadi aku juga ke kantor. Dan Arfin ngeluh karena pulang malam selalu di omeli Olive." Curhat Nathan.
"Ck, dia itu hanya tidak mau kalau Arfin seperti kak Ando, padahal kan Arfin tidak seperti itu, mungkin Olive hanya trauma dengan masa lalu kak Ando yang suka celap-celup."
Nathan yang mendengar perkataan Istrinya tertawa. "Namanya buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya sayang, anak kamu saja seperti itu. Hawa menikah saat usianya 16 tahun. Kamu juga dulu seperti itu." Nathan bicara sambil terkekeh.
"Ish, kamu itu by. bikin aku kesal." Ayana memukul lengan Nathan, dan setelah itu pergi meninggalkan Nathan dengan kesal.
"Itu kenyataan sayang!" Teriak Nathan karena Ayana sudah menaiki tangga meninggalnya.
"Hanya Adam yang tidak seperti ku." Gumam Nathan sambil menatap undangan yang ada diatas meja.
.
.
Masih semangat dong kasih dukungan author π Like...komen... jangan lupa sayang, tinggalkan jejak kalian πππ