ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Pilihan hidup



Seperti biasa Adam akan mengantarkan Disya lebih dulu sebelum dirinya berangkat ke kantor, sebenarnya Adam tidak rela jika Disya bekerja di perusahaan yang sama dengan Dino, tapi mau bagaimana lagi Adam tidak ingin terlihat begitu egois meskipun dirinya ingin. Hanya saja Adam ingin membuktikan sesuatu.


"Sayang tunggu sebentar." Adam keluar lebih dulu sebelum Disya keluar.


"Ck, kau terlihat begitu manis kang Mas." Ucap Disya sambil tersenyum.


Adam memutar kedua bola matanya malas. "Simpan saja Kang Mas mu, aku tidak suka." Gerutu Adam sambil menutup pintu mobil.


Disya tertawa melihat wajah jutek Adam karena tidak suka di panggil Kang Mas.


Adam menggenggam tangan Disya untuk masuk ke lobby dan menuju lift khusus petinggi. Mereka yang di lewati Adam menyapa pemilik perusahaan dan istrinya.


"Sebenernya aku tidak nyaman setiap kali mereka menyapaku dengan hormat." Tutur Disya saat keduanya masuk ke dalam lift.


Adam menekan tombol angka lima, lantai ruangan kerja Disya.


"Kenapa? itu memang sudah tugas mereka menghormati mu sebagai istriku." Adam menatap Disya yang berdiri di sampingnya.


Tangan Adam di masukkan kedalam saku celana, dan satunya merengkuh pinggang Disya.


"Ya memang, tapi aku tidak terbiasa." Katanya lagi.


Ting


Pintu lift terbuka, dan saat itu bersamaan dengan pintu lift karyawan di sebelahnya terbuka.


Disya dan Adam keluar bersamaan dengan Dino dan dua karyawan lainnya keluar.


Dino melihat Adam yang menggenggam tangan Disya.


"Pagi tuan, nyonya." Sapa dua karyawan yang bersama Dino.


"Pagi." Bukan Adam melainkan Disya yang membalas sapaan mereka dengan senyum, apalagi ada Dino juga di sana membuat Disya menatapnya sekilas dan tersenyum sebagai sapaan.


Adam menatap tajam Dino yang kebetulan juga menatapnya, rasanya Adam ingin menelan hidup-hidup pria itu jika berani mendekati istrinya.


Adam menarik tangan Disya untuk meninggalkan ketiga orang itu lebih dulu, sedangkan Dino selalu terbakar api cemburu jika melihat mereka berdua.


"Pak Dino, kami duluan." 2 pegawai itu memilih pergi lebih dulu karena melihat Dino yang tidak beranjak dari tempatnya, sepertinya Dino terlihat begitu cemburu melihat kedekatan suami istri itu.


Siapa yang salah, ku tak tahu. Cinta memang tidak memandang status, tapi terkadang cinta yang salah bisa membuat diri sendiri hancur. Dan cinta Dino untuk Disya masih begitu dalam. Tapi semua sudah karam bersamaan dengan Disya yang sudah menjadi milik orang lain.


Adam mengantarkan Disya sampai masuk keruangan istrinya. Pria itu berhenti didepan pintu dengan Disya yang sudah masuk dibibir pintu, jika dari luar hanya Adam yang terlihat berdiri di ambang pintu.


"Hati-hati, kalau ke kantor." Disya membenarkan jas yang Adam pakai. Adam selalu sempurna menggunakan jas yang melekat di tubuhnya. Dibalik jas itu hanya Disya satu-satunya wanita yang melihat isi didalamnya betapa beruntungnya Disya.


"Hm, kamu juga."


Adam menarik tengkuk Disya untuk di cium, Adam melumatt bibir Disya dengan rakus, dan menyesapnya bergantian.


Sedangkan Dino yang ingin berbalik menuju ruanganya, tidak sengaja melihat Adam yang berdiri diambang pintu ruangan Disya dengan kedua tangan seperti menahan wajah Disya.


Tangannya mengepal kuat, dengan dada yang bertambah panas, Dino bukan anak kecil yang tidak tahu apa yang mereka lakukan.


"Shitt...!!"


Dengan kesal dan menahan rasa sesak di dada. Dino masuk kedalam ruanganya.


"Emph.." Disya menghirup oksigen banyak-banyak setelah Adam melepaskan tautan bibir mereka.


"Em, ini selalu manis." Jemari Adam mengusap bibir Disya yang basah sisa saliva yang dia tinggalkan.


"Pasti lipstik ku berantakan." Kesal Disya dengan bibir mengerucut.


Cup


Adam mengecup bibir Disya sekilas, dengan senyum Adam berkata. "Tidak memakai pewarna bibir saja kau sudah terlihat cantik."


Bluss


Wajah Disya langsung merona di depan Adam


"Ish, apaan sih. Bikin aku salting tau nggak." Disya memukul dada Adam pelan membuat Adam terkekeh.


"Apapun keadaanmu, aku tetap menyukai ini." Jari Adam kembali menyentuh bibir Disya. "Selain manis, dia juga enak."


Bugh


"Dasar mesum, sana pergi." Disya mendorong dada Adam agar pergi dari hadapannya. "Ini sudah siang, dan kau akan telat ke kantor." Ucapnya lagi sambil masih mendorong dada Adam.


"Huh, dasar sombong." Ketus Disya.


"Ck, kau seharusnya bersyukur punya suami kaya seperti ku."


Disya malah mencebikkan bibirnya dan mundur untuk masuk ke dalam ruanganya, meninggalkan Adam yang tersenyum sambil berkacak pinggang.


Adam memilih pergi untuk menuju kantornya, benar kata Disya jika dirinya terlambat untuk pergi ke kantor. Selain itu Adam juga tampak begitu puas melihat Dino yang sepertinya melihat kejadian dirinya mencium Disya tadi, dan itu cukup membuat Adam memberi peringatan jika Disya hanyalah miliknya.


Bukan tanpa alasan Adam mencium Disya dia ambang pintu, karena Adam tahu jika Dino ada di ujung lorong untuk menuju keruangannya. Dan Adam berhasil membuat Dino merasa marah karena terbakar api cemburu.


"Tuan.." Dimas berpapasan dengan Adam sebelum Adam masuk kedalam lift.


"Jaga dia, apapun yang dia lakukan beri tahu saya." Ucap Adam tegas pada Dimas.


Dimas hanya mengagguk patuh. "Baik."


Adam kembali melangkah dan masuk kedalam lift, meninggalkan Dimas yang tersenyum menatapnya.


Dimas seperti di kirim dewa penolong seperti Adam, pria itu seperti malaikat yang datang padanya di saat yang tepat.


"Sebisa mungkin saya akan menjaganya untuk anda dan saya sendiri tuan." Ucap Dimas.


Tidak di sangka tawaran Adam untuk menjadi mata-mata Disya berbuah manis untuk Dimas. Karena bantuan Adam, ibunya yang sakit bisa mendapat perawatan yang insentif dan sekarang ibunya Dimas sudah pulih seperti sedia kala. Dan Dimas juga bisa membiayai sekolah adiknya hingga nanti sampai kepenguruan tinggi.


Brak


Dino membanting telepon yang ada di atas mejanya, pria itu meluapkan amarahnya saat bayangan Disya tersenyum pada Adam dan terlihat begitu bahagia.


Dulu saat Disya bersamanya wanita itu juga terlihat bahagia dan dialah pria yang membuat Disya tersenyum.


Tapi sekarang Dino hanya bisa melihat senyum Disya dari jauh, senyum dan tawa yang bukan untuknya lagi.


"Kau akan membayar rasa sakit yang aku alami, kau juga akan merasakannya bahkan lebih dari yang aku rasakan." Dino menatap lurus kedepan dengan tatapan penuh kebencian.


Kebencian terhadap orang yang sudah merenggut kebahagiaannya yang sudah dia impikan.


"Disya, kau akan kembali menjadi milikku apa pun yang akan terjadi." Terdengar tawa menggelegar dari bibir Dino, tawa yang mengerikan jika ada orang yang mendengarnya.


Sampainya di kantor, Adam sudah ditunggu oleh Arfin, asisten sekaligus teman dan kerabat dari sang ayah itu kini menatap Adam dengan serius.


"Bagaimana? apa kita harus memasang umpan untuk membuatnya terlihat." Arfin duduk di depan meja Adam yang sedang membuka laporan yang Arfin berikan.


"Maksud kamu?" Asam menatap Arfin dengan serius.


"Ck, aku rasa kamu tahu siapa yang harus menjadi umpan."


"Tidak mungkin, aku tidak akan mengorbankan Disya dan juga anakku." Adam menolak tegas rencana apa yang akan Arfin lakukan.


"Oh, ayolah Dam. Ini hanya untuk pancingan saja, sementara untuk memperkuat dugaan kita." Ucap Arfin lagi untuk meyakinkan Adam.


"No Fin, aku tidak akan melakukan itu." Jawab Adam lemah.


"Itu berarti kau sudah siap untuk kehilangan aset-aset yang kau bangun dari nol satu persatu. Dan aku yakin kamu tidak akan rela kehilangan hasil kerja keras kita." Arfin mengehela napas berat mengingat perjuangan mereka membangun sebuah perusahaan yang mereka inginkan.


Kedua pria itu tampak membayangkan bagaimana mereka dulu bekerja keras tidak kenal lelah sedari remaja.


Karena kesuksesan tidak akan datang sendiri tanpa di cari dan usaha, karena kegigihan keduanya mereka mampu membangun perusahaan yang sekarang cukup besar.


"Pikirkan lagi, Dam. Ini hanya untuk memancing saja. Kita tidak akan melepaskan Disya begitu saja apalagi ada ponakan aku juga."


Arfin meninggalkan ruangan Adam setelah mengatakan itu. Sedangkan Adam tampak berpikir dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Bayangan kerja kerasnya dengan Arfin untuk membangun perusahaan yang dia mulai dari nol kembali muncul. Adam dan Arfin begitu giat tanpa kenal lelah saat melakukannya. Jiwa mudanya dulu begitu menggebu-gebu penuh dengan rasa penasaran. Hingga mereka mencapai kesuksesan dengan tangan keduanya yang kini perusahaan menjadi kantor cabang Adhitama.


Adam tersenyum kala membayangkan perjuangan mereka dulu, tapi senyum itu menghilang saat mengingat laporan perusahaan yang mulai goyah dan banyak proyek yang gagal beroperasi setelah mereka mengeluarkan banyak dana. Dan semua sudah ditelusuri tapi tidak ada jejak yang tertinggal dan Adam kesulitan untuk mencari siapa dalang di balik semua ini.


Tapi Arfin menemukan satu kejanggalan, dan Adam tidak percaya semua masalah yang datang hanya karena wanitanya.


"Aku tidak akan mengorbankan kalian apapun itu, tapi-"


Adam merasa dilema, dia tidak ingin kehilangan aset yang dia bangun, dia juga tidak ingin kehilangan wanita yang datang dan mengisi kehidupannya. Tapi Adam hanya manusia biasa yang diberi pilihan dan pilihan itu begitu sulit untuk Adam lakukan.


.


.


Jangan lupa, jempol kalian😩 Semakin lama kalian semakin pelit jempol 😤