ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Pria pemaksa 2



"Emh.." Disya memukul dada Adam saat dirinya kehabisan napas.


Merasa wanitanya kehabisan napas, Adam melepaskan cumbuannya meskipun dengan rasa terpaksa, karena dirinya masih ingin menikmati bibir manis wanitanya, tapi terpaksa harus dia lepaskan.


Napas Disya memburu dengan dada naik turun, wanita itu menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga mulutnya.


Adam yang melihatnya tersenyum, dia tahu wanitanya bukan good kising.


"Manis, sama seperti saat pertama aku mencicipinya." Ucap Adam dengan suara serak.


Hanya mencium bibir Disya, gairahnya mulai naik dan Adam rasanya ingin sekali melempar Disya keatas ranjang dan mengungkungnya.


Disya hanya diam dengan napas yang masih memburu, merutuki kebodohannya yang tadi sempat terlena dengan ciuman Adam.


"Lepas..!!"


Disya berontak setelah berhasil menguasai dirinya, wanita itu ingin melepaskan diri dari cengkraman Adam.


Adam hanya tersenyum tipis, melihat Disya yang terus berontak tapi tak berarti apa-apa.


"Jangan sakiti dirimu sendiri hanya karena ingin lepas dariku."


Hap


Adam melepaskan rangkulan dipinggang Disya, membuat wanita itu sedikit terhuyung kebelakang.


Melihat wajah kesal dan marah Disya, membuat Adam tersenyum menyeringai.


"Dasar pria pemaksa..!!" Kesal Disya menatap tajam Adam.


Rasanya Disya ingin mencabik-cabik wajah Adam yang menyebalkan dan tersenyum padanya itu, sungguh menyebalkan.


"Karena memaksa adalah keahlianku." Jawab Adam sambil mengulum senyum.


Disya semakin mendelik mendengar ucapan Adam barusan.


"Dasar pria nyebelin..! pemaksa..!" Disya mengentakkan kakinya kesal dengan kedua tangan mengepal, dirinya kesal dan juga ingin marah memukuli Adam, tapi dirinya tidak berani melakukan itu. Disya lebih memilih pergi meninggalkan Adam yang begitu menyebalkan.


Sampainya diluar wajah Disya masih menyimpan kekesalan, hingga Dimas yang ingin menyapa saja menjadi takut sendiri melihat wajah Disya yang garang.


"Dasar pria arogan, nyebelin pemaksa." Gerutu Disya tidak berhenti mengomel sampai wanita itu duduk di kursi kerjanya.


"Sya kamu kenapa?" Tanya Dimas yang memberanikan diri bertanya pada rubah betina itu.


Disya hanya melirik Dimas tajam, tanpa mau menjawab pertanyaan pria itu.


Dimas menelan ludah kasar, untuk pertama kali melihat wajah garang Disya.


"Lagi mood singa kek nya." Gumam Dimas sendiri.


Berkutat dengan pekerjaannya Disya masih dengan rasa kesal, hingga pekerjaan yang dia kerjakan terasa salah semua.


"Arrghh." Disya meremat rambutnya karena frustasi. "Pria sialan." Umpatnya yang merasa serba salah, bekerja pun otaknya sama sekali tidak bisa bekerja.


"Heh mau kemana? belum jam istirahat." Ucap Dimas yang melihat Disya beranjak dari kursinya dengan membawa tasnya.


Biarkan saja dirinya mendapat teguran, tidak perduli yang jelas dirinya ingin merilekskan pikirnya yang penuh dengan pria pemaksa itu.


Setelah Disya masuk kedalam mobil dan menjalankannya, Adam baru saja keluar dari lobby. Pria itu hanya geleng kepala melihat mobil Disya, tepatnya mobil yang dia berikan untuk hadiah melintas pergi.


"Jangan harap bisa hidup tenang Disya calon Adhitama." Ucap Adam dengan tawa bahagia didalam hati.


Adam masuk kedalam mobilnya, dirinya akan kembali ke kantor pusat setelah mendapat amunisi dari wanitanya, jika setiap pagi Adam bisa mencicipi bibir Disya terus, maka Adam rela datang kekantor cabang lebih dulu.


Disya melajukan mobilnya entah kemana, tidak ada tujuan, hanya saja dirinya ingin menghilang rasa kesalnya yang masih bersarang di benaknya.


Drt... Drt.. Drt..


Saat pikirnya sedang rumit, tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama Dino di layar ponsel itu.


"Halo Mas?" Jawab Disya setelah memasang alat komunikasi ditelinganya.


"Kamu dimana Sya?" tanya Dino dari seberang telepon.


"Aku ada di_" Disya bingung ingin menjawab, apa dirinya saat ini benar-benar butuh menenangkan pikirannya yang stress akibat pria pemaksa tadi.


"Kamu dimana Sya? aku ingin mengajakmu untuk bertemu pemilik katering untuk acara kantor besok, Tapi kamu tidak ada? apa sedang ada tugas diluar?" Tanya Dino lagi.


"I-Iya Kak, aku ada pekerjaan diluar, jadi maaf tidak bisa membantu." Disya mengigit bibir bawahnya, dirinya memang tidak bisa untuk saat ini. Pikirnya benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


"Yasudah kalau begitu biar aku sama Tika saja kalau begitu."


Tika adalah sekretaris Dino membantunya selama menjadi direktur diperusahaaan.


"Iya kak, maaf sekali lagi."


Disya menghela nafas, setelah sambungan telepon terputus, wanita itu tidak bisa berbohong, tapi untuk sekarang Disya benar-benar ingin sendiri.


Disya membelokkan mobilnya ke sebuah kafe yang menyediakan rooftof dibagian atas gedung. Disya ingin menenangkan pikirnya untuk saat ini dari kejadian yang baru saja membuatnya begitu bergejolak.


"Saya pakai rooftof diatas, kalau bisa saya ingin sewa untuk sendiri." Ucap Disya pada penjaga kafe itu.


Jam masih pagi, jadi belum banyak pengunjung yang datang.


"Bisa nona, tapi diatas ada pelanggan kami yang biasa mengunakan rooftof, dan kami tidak bisa mengusirnya." Ucap penjaga kafe dibagian kasir itu.


"Apa dia berpasangan, maksudnya dengan pasangannya?" Tanya Disya.


"Tidak beliau hanya sendiri, tapi saya rasa beliau tidak akan menganggu anda Nona." Tutur wanita itu lagi.


Disya tampak berpikir dan dirinya memutuskan untuk menagmbil saja, toh orang itu hanya sendiri bukan.


"Baiklah saya ambil."


.


.


Next... kembang kopi sayang πŸ’‹ πŸ’‹